Harap bijak dalam memilih bacaan
Iblis Cinta Satu Malam, begitulah julukan yang diberikan oleh Rania pada pria playboy bernama Kaaran Dirga tersebut.
Dengan kekuasaannya, Kaaran bisa meniduri wanita mana pun yang dia mau dan dia tunjuk, tapi tidak dengan Rania. Karena penolakannya, gadis itu terpaksa harus berurusan dengan Kaaran dan para pengawalnya. Sampai-sampai Rania harus rela kehilangan pekerjaan yang sangat dia butuhkan karena gadis itu harus terus bersembunyi dan tidak ingin ditangkap oleh orang suruhan Kaaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Perjanjian
Sekarang aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh orang lain tentang si brengsyek itu, bahwa dia tidak pernah menjamah wanita yang sama lebih dari satu kali. Lalu yang tadi itu apa? Nyatanya, dia memaksa aku untuk melayaninya di dalam kamar mandi, atas dasar aku yang menggodanya. Padahal, dia sendiri yang sengaja menginjak ujung selimutku hingga selimutku itu melorot dan menampakkan penampakan polos tubuh bagian belakangku.
Dasar. Selain mesyum, brengsyek, dan pemaksa, ternyata dia juga suka berbuat seenaknya. Dasar menyebalkan.
Saat ini aku sedang duduk di pinggir tempat tidur, dan sudah lengkap dengan pakaian gantiku. Sekarang aku tidak lagi memakai hoodieku, melainkan baju ganti yang sudah disiapkan olehnya.
"Sekarang, kamu ingin cepat keluar dari sini, 'kan?" tanyanya seraya berjalan menghampiriku. Di tangannya sudah ada map yang baru saja dibawakan oleh bi Nining untuknya. Saat ini wanita paruh baya itu tengah berdiri tidak jauh di depan pintu lift.
"I-iya, Tuan. Saya ... saya sangat ingin keluar secepatnya dari sini," jawabku.
Aku ingin segera keluar dari sini karena aku sudah tidak sabar ingin segera menemui ibu di rumah sakit. Entah saat ini ibu sudah keluar dari ruang operasi ataukah masih belum. Aku sangat mengkhawatirkan keadaan beliau.
"Baguslah. Kalau begitu, cepat tanda tangani surat perjanjian ini," ucapnya seraya meletakkan map beserta pulpen di atas pangkuanku.
Apa? Ternyata ada surat perjanjian. Apa semua gadis yang pernah tidur dengannya harus menandatangani surat perjanjian seperti ini? Kira-kira surat perjanjian apa ini? Kenapa isinya tebal sekali? Aku jadi penasaran.
"Surat perjanjian apa ini, Tuan? Sebelumnya saya tidak tahu kalau ternyata ada surat perjanjian seperti ini," ucapku.
Dia tersenyum miring lalu berkata, "Baca saja sendiri. Aku baru akan setuju memberikan bayaranmu setelah kamu menandatangani surat perjanjian itu."
Kemudian setelah menjawab pertanyaanku dia mengambil tempat duduk di sofa, lalu menyilangkan kakinya layaknya gaya duduk seorang bos besar.
Aduh. Kenapa dia malah menyuruh aku membaca surat perjanjian ini? Apa susahnya sih menjelaskan garis besarnya saja? Kalau aku harus membaca surat perjanjian setebal kamus ini sampai habis, mau sampai kapan selesainya? Bisa-bisa aku baru keluar dari tempat ini besok lusa.
Ah, lebih baik aku langsung tanda tangani sajalah. Lagi pula, katanya dia tidak akan memberikan uangnya kalau aku tidak menandatangani surat perjanjian ini. Sepertinya tidak ada pilihan lain selain menandatangani surat perjanjian ini secepatnya.
Tanpa berpikir berlama-lama lagi, aku langsung membuka lembaran surat perjanjian itu lembar demi lembar. Setelah menemukan namaku tertera dibagian bawah kertas, bersanding dengan namanya, aku pun segera membubuhkan tanda tanganku di sana.
"Sudah, Tuan," ucapku seraya beranjak meletakkan surat perjanjian itu di atas meja, tepat di hadapannya.
"Kamu yakin menandatangani surat perjanjian ini tanpa membacanya terlebih dahulu?" tanyanya, dan aku menjawabnya dengan sekali anggukan.
"Baiklah. Kalau begitu, kamu bisa pergi sekarang. Mengenai bayaranmu, asisten Roy yang sudah mengurusnya. Kalian akan bertemu di bawah," jelasnya.
"Baik, Tuan. Terima kasih." Aku menunduk sopan lalu berjalan menghampiri bi Nining. Begitu kami masuk ke dalam lift, aku akhirnya bisa bernapas lega.
"Nona, apakah Anda akan langsung menjenguk ibu Anda di rumah sakit begitu Anda keluar dari sini," tanya bi Nining.
"Iya, Bi. Saya akan langsung ke sana setelah saya keluar dari sini," jawabku sembari tersenyum.
Ting. Dalam hitungan detik, kami akhirnya sampai di lantai bawah.
Ku lihat asisten Roy, sudah menungguku di depan lift sambil membungkukkan badannya dengan sopan. Aku menggaruk kepalaku kebingungan. Kenapa pria kaku ini terlihat sangat hormat padaku? Padahal, aku bukan siapa-siapa. Apa mungkin karena sekarang aku sudah jadi miliarder, makanya dia jadi hormat padaku.
Aku tersenyum sendiri membayangkan hal itu. Tadinya saat aku memasuki tempat ini, aku bukan siapa-siapa. Begitu keluar, aku langsung menjadi wanita yang kaya raya.
Sepertinya mulai sekarang aku harus menulis daftar barang-barang apa saja yang harus aku beli, seperti rumah, mobil, dan ... tunggu dulu. Sepertinya hal yang tidak kalah pentingnya adalah, aku harus menyewa bodyguard. Itu suatu hal yang wajib. Takut terjadi apa-apa padaku begitu aku keluar rumah.
"Nona, ini adalah bayaran Anda dari tuan Kaaran. Saya sudah menyimpannya ke dalam buku tabungan atas nama Anda," jelas asisten Roy seraya memberikan sebuah map padaku.
"Terima kasih," ucapku seraya menerima pemberiannya.
"Sebaiknya Anda periksa dulu buku tabungan Anda Nona sebelum Anda keluar dari tempat ini," ucap asisten Roy lagi.
Aku yang memang penasaran dengan bayaranku pun merasa sangat setuju dengan perkataan asisten Roy. Kira-kira berapa banyak ya bayaran yang dia berikan padaku? Apalagi tadi dia sempat menjamahku untuk yang kedua kalinya. Mungkin dia akan memberiku bayaran 200 M, mungkin.
Begitu aku membukanya, mataku langsung membulat. "What?! Apa dia sudah gila?!"
B e r s a m b u n g ...
...________________________________________...
...Guys, maaf ya baru sempat upload bab baru. Hape aku tadi siang tiba-tiba rusak dan harus dibawa ke tukang servis. (Bukan tukang servis versi Kaaran dan Rania loh ya, yang aku maksud disini adalah tukang servis hp😁) Jadi aku baru sempat ngetik sekitar 1 jam lebih yang lalu....
...Oh iya, jangan lupa untuk terus dukung karya ini ya, biar aku makin semangat nulis.😉...