"Ketika cinta datang disituasi yang salah"
Rieta Ervina tidak pernah menyangka, jika keputusannya untuk bekerja pada Arlan Avalon, pria yang menjadi paman dari suaminya justru membuat ia terjebak dalam lingkaran cinta yang seharusnya tidak ia masuki.
Pernikahan tanpa cinta yang awalnya ia terima setulus hati berubah menjadi perlawanan saat Rieta menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya bersama wanita yang menjadi rekan kerjanya. Dan di saat yang sama, paman dari suaminya justru menyatakan peraasaannya pada Rieta.
"Cinta ini adalah cinta yang salah, tapi aku tidak peduli." Arlan.
Apa yang akan Rieta lakukan setelahnya? Akankah ia menerima cinta yang datang? Atau tetap bertahan pada pernikahan bersama suami yang sudah mengkhianati dirinya?
Ikuti kisah mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Sakit.
"Di mana istrimu? Kenapa dia tidak turun untuk makan malam?"
Pertanyaan yang Arlan lontarkan membuat pandangan Tuan Marlan seketika tertuju pada putranya yang baru saja duduk di kursi meja makan, tetapi tidak bersama Rieta yang biasanya selalu berada di samping Evan. Dahinya berkerut, memberikan pertanyaan yang sama dengan yang Arlan tanyakan kepada sang putra.
"Rieta tidak makan malam, Pa. Dia sedang tidak enak badan," terang Evan.
"Tidak enak badan?" Nyonya Melani menyela.
Evan mengangguk, lalu mulai mengambil makan malam untuk dirinya sendiri tanpa menyadari Arlan sempat melirik sinis ke arahnya.
"Lalu, kanapa kau tidak memanggilkan dokter untuknya?" Arlan kembali berbicara, kali ini dengan nada sinis yang terdengar jelas. "Atau setidaknya, bawakan makan malam untuknya sebelum kau menikmati makan malammu. Hal sederhana itu saja tidak kau lakukan."
Suara sindiran dari Arlan praktis membuat gerakan tangan Evan saat akan menyuap makanan terhenti di udara. Kepalanya menoleh, hanya untuk mendapati Arlan berbicara tanpa menatap dirinya.
"Istrimu sakit, tapi kau terlihat tidak peduli sedikitpun," ucap Arlan lagi.
"Paman sendiri?" sambut Evan menatap Arlan dengan sorot tidak terima. "Kenapa Paman masih tinggal di sini? Kenapa Paman tidak tinggal di apartemen Paman saja?"
"Kau keberatan aku tinggal di sini?" Arlan menoleh, menatap keponakannya dengan seringai tipis di bibirnya. "Dan kau ingin aku pergi?"
"Ya."
"Boleh saja," Arlan melipat kedua tangannya. "Itu artinya, Rieta keluar dari kantorku."
"Tak masalah. Rieta bisa bekerja di kantor Papa bersamaku," jawab Evan setengah menantang.
"Hentikan kalian berdua," Tuan Marlan menengahi, menatap dua pria berbeda usia di depannya secara bergantian.
"Bukan kamu yang memutuskan di mana Rieta harus bekerja, Evan," ucap Tuan Marlan pada putranya. "Dan tolong jangan dianggap serius ucapan putraku," sambungnya beralih pada Arlan.
"Rieta istriku, Pa. Kenapa Papa justru meminta istriku bekerja di kantor Paman? Kenapa tidak bersamaku saja?" protes Evan.
Segera setelah Evan menyelesaikan kalimatnya, pria itu tertegun sejenak. Sejak kapan ia mengakui Rieta sebagai istri? Sebelum ini ia tak pernah peduli. Tapi kali ini, ia melakukannya bukan karena ingin berpura-pura di depan kedua orang tuanya, tetapi murni tidak terima istrinya bekerja untuk orang lain.
"Benar apa yang Evan katakan, Pa," Nyonya Melani turut angkat bicara, merasa perlu mendukung putranya.
"Kenapa Rieta tidak bekerja di perusahaan kita saja? Kalaupun mereka masih perlu belajar, mereka bisa belajar bersama. Bukankah wajar jika mereka bersama?"
"Karena Rieta masih perlu belajar, dan Evan tidak bisa mengajarinya begitupun dangan Papa," jawab Tuan Marlan.
"Tapi-..." Evan memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali, urung mengeluarkan protes yang sangat ingin ia keluarkan.
"Apa yang salah denganku? Kenapa aku harus keberatan jika Rieta tetap bekerja di kantor paman? Dan kenapa aku harus peduli?" batin Evan tak memahami dirinya sendiri.
"Mereka bisa belajar bersama, Pa," sahut Nyonya Melani. "Lagipula, mereka sudah menikah, apa salahnya mereka berada di kantor yang sama?"
"Menikah?" Arlan mencibir, lalu tergelak singkat disertai gelengan kepala. "Hanya kita yang berada di rumah ini saja yang tahu status mereka sebenarnya, kamu lupa?"
"Bahkan, di kantorku hanya Liam dan aku yang tahu siapa Rieta. Tidak ada yang tahu jika Rieta adalah bagian dari keluarga Larson. Itu yang kamu inginkan sejak awal bukan? Kakak..."
Suasana berubah hening. Setiap kata yang Arlan keluarkan diakhiri tekanan pada kata 'kakak' terasa memukul telak hati Nyonya Melani. Bukan hanya Nyonya Melani saja, tetapi juga Tuan Marlan beserta putranya. Mereka terdiam membisu.
"Aku kehilangan selera makanku, kalian lanjutkan saja. Aku ingin kembali ke kamar." ujar Arlan seraya berdiri, lalu pergi meninggalkan ruang makan begitu saja tanpa peduli pada makanannya yang baru berkurang sedikit. Ia juga tidak peduli suasana ruang makan berubah karena ucapannya.
.
.
Evan kembali ke kamar setelah acara makan malam selesai. Dan lagi-lagi, ia merasa sesuatu hilang dari dirinya begitu ia berada di dalam kamar.
"Aku sudah siapkan segelas air untukmu."
"Apakah kamu ingin berendam? Aku siapkan air hangannya."
"Ada yang kamu inginkan sebelum kamu tidur?"
"Ganti pakaianmu, piyama-mu sudah aku siapkan."
Berbagai kalimat yang senatiasa Rieta ucapkan kini tak ada satupun yang Evan dengar. Kamar itu sepi, Rieta tidak lagi mendekat padanya seperti biasa. Yang ia temukan ketika masuk ke dalam kamar justru sosok istrinya yang tetap berbaring di sofa dengan posisi membelakangi dirinya, sama seperti terakhir kali ia keluar kamar. Rieta seolah tak peduli dengan suara langkah yang sengaja Evan timbulkan.
Evan membawa langkahnya mendekat pada sang istri, menyentuh lembut bahu wanita itu. Hingga ia bisa merasakan suhu tubuh istrinya yang tidak biasa.
"Apakah kamu tidur, Rie?" tanya Evan lembut.
Rieta menggeliat pelan, merasakan tidak nyaman pada tubuhnya. Kepalanya terasa pening, kedua matanya terasa berat untuk ia buka, tetapi sentuhan di bahunya membuat ia ingin segera menyingkirkan tangan itu entah mengapa.
Dengan malas, Rieta menoleh. "Ada apa? Aku sudah bilang aku tidak ingin makan malam."
"Tidurlah di tempat tidur, Rie," ucap Evan.
"Tidak perlu, aku lebih nyaman di sini." jawab Rieta kembali memunggungi Evan. "Lagipula, aku tidak pantas berada di atas tempat tidurmu."
Kalimat sarkas yang baru saja Rieta lontarkan seakan menampar Evan dengan keras. Pria itu membeku di tempatnya berdiri, tangannya yang berada di baru Rieta terangkat.
"Aku minta bibi pelayan untuk membuatkan bubur untukmu ya?" tawar Evan setelah beberapa saat terdiam.
"Aku tidak lapar," jawab Rieta tanpa menoleh.
"Aku ambilkan obat?" tawar Evan lagi.
"Tidak perlu."
"Rie..."
Rieta terus menolak, wanita itu juga tidak menoleh lagi, bahkan tidak membuka mata sebanyak apapun Evan membujuk untuk pindah dari sofa ke tempat tidur. Hingga, saat malam semakin larut, Evan berbaring di tempat tidur seorang diri seperti malam-malam sebelumnya. Terlelap.
.
.
Entah sudah berapa lama Rieta terlelap, ia merasakan sentuhan lembut tangan seseorang membalik posisi tidurnya yang semula berbaring miring, sedikit mengangkat tubuhnya, dan dalam sekejap ia merasakan tubuhnya diangkat seseorang.
. . . .
. . ..
To be continued...