“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.
Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.
“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”
Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.
Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Ballroom semakin riuh oleh bisik-bisik yang tak lagi bisa dibendung.
“Bukankah seharusnya Nona Shasmita bertunangan dengan Tuan Arga?”
“Kenapa malah dengan Tuan Hans?” “Dan … itu Yura, kan?”
“Bukankah dia dulu pengantin pengganti Tuan Arga?”
Nama Yura kembali beredar, tetapi kali ini bukan dengan nada merendahkan melainkan penuh keterkejutan dan rasa tak percaya.
Orang-orang teringat jelas. Gadis yang dulu berdiri di altar sebagai pengganti, wanita yang dicibir karena dianggap rela menjual diri demi uang. Wanita yang ditinggalkan karena Arga memilih cinta lamanya, Shasmita.
Namun, malam ini, takdir berbalik dengan kejam dan indah sekaligus.
Di atas panggung, Sky menggenggam tangan Yura dengan mantap. Tak ada keraguan di wajahnya saat cincin disematkan ke jari manis Yura. Kilau berlian itu memantulkan cahaya lampu, membuat semua orang terdiam.
Yura menunduk sebentar. Bukan karena lemah, melainkan menahan gelombang emosi yang akhirnya menemukan muaranya. Tepuk tangan menggema, sebagian tulus dan sebagian terpaksa.
Di antara kerumunan, Arga benar-benar hancur. Dadanya naik turun, napasnya berat. Matanya merah, tatapannya liar. Begitu Shasmita dan Hans turun dari panggung, Arga melangkah cepat, nyaris berlari, dan,
“Bajingan!” teriaknya.
Tangan Arga hampir menghantam wajah Hans jika saja beberapa orang tak sigap menahan. Jas Hans tertarik kasar, tetapi wajah pria itu tetap dingin dan bahkan terlalu tenang.
“Kau pengkhianat!” Arga meraung. “Kau rebut wanitaku! Dan kau—” ia menoleh ke Shasmita, “kau berselingkuh di belakangku?!”
Shasmita justru tertawa. Bukan tawa histeris melainkan tawa penuh ejekan.
“Astaga, Tuan Arga,” katanya ringan. “Sejak kapan aku berselingkuh?”
Ia melangkah mendekat, menatap Arga dari ujung rambut sampai kaki, penuh penghinaan.
“Tuan Hans adalah tunanganku,” lanjutnya tenang. “Sudah tiga tahun.”
Arga membeku.
“Tiga … tahun?” suaranya melemah. “Kalau begitu ... kenapa kau tidak pernah bilang?”
Shasmita tersenyum miring.
“Karena,” katanya pelan namun menusuk, “kalau aku bilang sejak awal … kau tidak akan pernah melepaskan Yura.”
Wajah Arga berubah pucat.
“Jadi … semua ini—”
“Ya,” potong Shasmita. “Aku merencanakannya.”
Ia mengangguk kecil, bangga. Tak ada penyesalan di matanya.
Di sudut lain ruangan, Sheli berdiri gemetar. Air matanya jatuh saat ia melangkah mendekati Yura.
“Kak…” suaranya bergetar. “Kenapa Kakak melakukan ini?”
Yura menoleh wajah Sheli penuh luka bukan marah, melainkan kecewa.
“Kakak tahu perasaanku pada Kak Sky,” lanjut Sheli lirih.
“Kenapa Kakak merebutnya?”
Kata merebut itu menghantam Yura lebih keras daripada hinaan mana pun malam ini.
Dadanya terasa sesak.
“Sheli…” Yura berkata pelan. “Aku tidak pernah memilih.”
Sheli menatapnya tajam.
“Apa maksud Kakak?”
Yura menghela napas, suaranya tetap tenang meski hatinya bergolak.
“Aku hanya … dipilih.”
Kalimat itu membuat Sheli tersenyum pahit.
“Kakak bohong,” ucapnya lirih.
Lalu tanpa menunggu penjelasan, Sheli berbalik dan pergi, meninggalkan ballroom dan meninggalkan Yura dengan rasa bersalah yang tak sempat ia siapkan.
Di sisi lain ruangan, Tuan Pradipta dan Nyonya Arlin duduk membisu. Tak ada kemarahan dan tak ada kata-kata. Hanya kenyataan pahit yang menghantam telak, mereka telah meremehkan wanita yang kini berdiri paling tinggi di ruangan itu.
Dan malam itu, di bawah lampu kristal dan sorot kamera media Arga kehilangan segalanya.
Shasmita memenangkan permainannya. Hans mendapatkan kembali kehormatan keluarganya. Sementara Yura akhirnya berdiri di tempat yang seharusnya sejak awal, tak lama kemudian, suasana ballroom kembali bergetar oleh kedatangan dua sosok yang membuat banyak tamu spontan berdiri memberi hormat.
Tuan Wijaya Pramuda dan Nyonya Larasatri Wijaya melangkah masuk dengan wibawa khas keluarga besar Wijaya. Busana mereka elegan, sorot mata tajam namun tenang orang-orang yang terbiasa berdiri di puncak kekuasaan.
Namun, ada satu hal yang segera disadari banyak orang.
Putri tidak ada, Hans yang berdiri di sisi Shasmita langsung menyadarinya. Alisnya berkerut tipis. Tatapannya menyapu seluruh ruangan, dari barisan tamu hingga sudut-sudut tersembunyi ballroom.
'Ke mana Putri?'
Perasaan tak enak menjalar cepat di dadanya. Hans tahu betul sifat adik angkatnya emosional, posesif, dan berbahaya saat merasa kalah. Malam ini adalah malam yang tak boleh tercemar, terutama untuk Yura.
Hans melangkah maju menyambut kedua orang tuanya.
“Ayah, Ibu.”
Tuan Wijaya menepuk bahu putranya singkat, bangga namun penuh makna.
“Kau melakukannya dengan baik.”
Nyonya Larasatri tersenyum lembut, tetapi saat pandangannya tanpa sengaja jatuh pada Yura, senyum itu seketika meredup. Matanya bergetar, seolah melihat sesuatu yang lama hilang, sesuatu yang selama ini hanya hadir dalam mimpi.
Yura, yang berdiri di samping Sky, merasakan tatapan itu seperti sentuhan dingin di tengkuknya. Ada sesuatu dalam sorot mata wanita paruh baya itu bukan kebencian, bukan penilaian melainkan kerinduan.
Yura mengalihkan pandangan, merasa dadanya sesak tanpa sebab yang jelas. Sementara itu, Hans kembali melirik ke arah Yura.
Wanita itu tampak anggun dalam balutan gaun malam berwarna hitam. Wajahnya tenang, nyaris tanpa cela. Tak ada lagi bayangan gadis lemah yang dulu berada di bawah kendali Arga. Yang berdiri di sana adalah Nona Muda Lartika pemilik kuasa, pemegang kendali.
Ia belum menemukan saat yang tepat untuk mengatakan kebenaran itu pada Yura. Bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka sama. Bahwa keluarga yang selama ini Yura benci adalah keluarga yang kehilangannya selama bertahun-tahun.
Tatapan Hans terlalu lama tertuju pada Yura, Sky menyadarinya. Ia sedikit memiringkan tubuh, seolah memberi jarak antara Yura dan Hans, gerakan kecil namun protektif. Yura menangkap itu, merasa aneh dan tidak nyaman, seolah ada sesuatu yang dibicarakan orang-orang tentang dirinya tanpa ia ketahui.
'Kenapa Tuan Hans menatap ku seperti itu?'
Bukan tatapan pria pada wanita. Melainkan tatapan seseorang yang kehilangan dan akhirnya menemukan.
Yura menelan ludah.
Di saat yang sama, Tuan Wijaya bertanya pelan, namun cukup terdengar oleh Hans,
“Putri tidak datang?”
Hans menggeleng singkat. “Sepertinya tidak, Ayah.”
Sorot mata Tuan Wijaya mengeras.
“Pastikan dia tidak membuat keributan.”
Hans mengangguk. “Aku akan mengurusnya.”
Di sudut lain ballroom, Arga masih berdiri kaku, matanya merah menatap panggung yang kini terasa seperti altar kehancurannya. Semua yang ia anggap miliknya telah runtuh satu per satu dan pusat dari semua itu adalah Yura.
Jujur, baru kali ini, saya baca tanpa Skip ❤️😃😘
Jalan ceritanya sederhana tanpa banyak Drama yang bikin nampol😩🤣🤣🤣
Ceritanya bagus, karakter Yura bukan wanita lemah, lebay, plin plan, manja / jadi Goblok karna bucin. 👍👍
😭 kali ini bikin Arga + Putri menyesal sampai berdarah darah 😡
Harusnya kalau memang pemeran wanita nya pintar, uang 100M tidak ada artinya. Tapi ya gitu lah.. Terserah Author aja.. 😃
Palingan saya bacanya banyak di Skip aja.. 🙄🤔
apa yg di cari Yura selain donor untuk ayah nya sedangkan sebagai lartika dia org berpengaruh+ bergelimpangan
Karya Abian yng mana yak ?? 🙏
endingnya hepi semua
terima kasih