Xiao Nan pernah menjadi Godfather paling ditakuti di Bumi, membangun kerajaan kriminal sebelum tewas akibat pengkhianatan orang terdekat. Namun kematian bukan akhir. Jiwanya bereinkarnasi ke dunia kultivasi di Pulau Matahari Abadi, bangkit sebagai penguasa bayangan sebelum kembali dikhianati dan dijatuhkan ke Pulau Bulan Surga.
Di sana ia terlahir sebagai tuan muda Keluarga Xiao. Ibunya dibunuh, bakat Akar Naga dirampas ayahnya sendiri, dan ia dibuang ke Reruntuhan Dewa dan Iblis. Di neraka itulah Xiao Nan bangkit. Ia mewarisi Sutra Bayangan Naga dan Tulang Naga Dewa, memadukan insting mafia dengan hukum kultivasi. Bersama entitas misterius Finn, ia membentuk Fraksi Shadow Dragon, menghancurkan Keluarga Xiao dari dalam. Namanya mengguncang dunia dan menyeretnya ke Turnamen Jalan Langit Sepuluh Ribu Ras.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon King Nan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chap 9 - PENGADILAN DI AULA LELUHUR
Aula Leluhur Keluarga Xiao berdiri megah dengan pilar-pilar kayu cendani hitam yang menjulang. Aroma dupa yang pekat memenuhi udara, memberikan kesan magis sekaligus menekan. Biasanya, tempat ini sunyi, namun hari ini, ratusan murid keluarga berkumpul dengan wajah penuh antisipasi.
Di tengah aula, Xiao Yi berdiri dengan tangan bersedekap. Di sampingnya, Xiao Han dan Xiao Mei menatap ke arah pintu masuk dengan senyum sinis.
"Dia tidak akan berani datang," bisik Xiao Mei. "Sampah tetaplah sampah. Menghadapi Kakak Yi yang sudah mencapai ranah Pemadatan Qi tingkat Rendah sama saja dengan bunuh diri."
Tepat saat kata-kata itu terucap, sebuah bayangan muncul di ambang pintu. Xiao Nan melangkah masuk dengan tenang. Pakaian murid luarnya yang sederhana tampak kontras dengan kemewahan aula tersebut. Ia berjalan tanpa ragu, tangannya tersembunyi di balik lengan baju, sementara matanya menatap lurus ke depan, dingin dan tidak terbaca.
"Kau punya nyali juga, Xiao Nan," Xiao Yi melangkah maju, auranya meledak, menekan udara di sekitar. "Membunuh orang-orang kiriman keluarga adalah pengkhianatan berat. Berlututlah, dan mungkin aku hanya akan mematahkan kedua tanganmu."
Xiao Nan berhenti tepat lima langkah di depan Xiao Yi. Ia melirik sekilas ke arah deretan papan nama leluhur, lalu kembali menatap kakaknya. "Berlutut? Kepada siapa? Kepada seorang kakak yang mengirim pembunuh bayaran untuk menghabisi adiknya sendiri di tengah malam?" suara Xiao Nan terdengar jernih, bergema di seluruh aula.
Kerumunan murid mulai berbisik. Mengirim pembunuh bayaran kepada anggota keluarga sendiri adalah aib besar jika terungkap.
"Diam! Kau tidak punya bukti!" teriak Xiao Yi, wajahnya memerah karena malu. "Hari ini, aku akan memberimu pelajaran menggunakan teknik kebanggaan keluarga kita, Pedang Pemecah Langit (Tingkat 3)!"
Xiao Yi mencabut pedang peraknya. Bilah pedang itu bergetar, memancarkan energi putih yang tajam. Ia melesat maju, pedangnya menebas secara horizontal dengan kecepatan tinggi.
Sret!!
Bilah pedang itu membelah udara, namun Xiao Nan menghilang.
"Apa?!" Xiao Yi terkejut. Pedangnya hanya mengenai bayangan sisa.
Xiao Nan muncul tiga meter di samping kiri Xiao Yi. Ia tidak membalas serangan, hanya berdiri tegak dengan tangan di belakang punggung. "Gerakanmu terlalu lambat, Xiao Yi. Kau terlalu banyak memakan Pil Api Peningkat Darah murahan hingga energimu menjadi kasar dan tidak stabil."
"Bajingan! Rasakan ini! Tiga Belas Tebasan Pedang!"
Xiao Yi mengamuk. Ia melepaskan serangkaian tebasan berantai yang mengunci semua arah pelarian Xiao Nan. Namun, inilah saatnya Xiao Nan menunjukkan teknik yang ia asah dari memori dunianya yang dulu, Langkah Kekosongan.
Setiap kali pedang Xiao Yi hampir menyentuh pakaiannya, tubuh Xiao Nan seolah-olah menjadi hampa. Ia bergerak dengan ritme yang aneh, bergeser hanya beberapa milimeter dari mata pedang lawan. Bagi para penonton, Xiao Nan tampak seperti hantu yang menari di antara badai pedang.
"Tidakkah kau sadar?" Xiao Nan berbisik tepat saat ia melewati bahu Xiao Yi. "Semakin kau marah, semakin lebar celahmu."
Xiao Nan tidak menggunakan belati barunya. Ia ingin mempermalukan Xiao Yi dengan tangan kosong. Saat Xiao Yi melakukan tebasan vertikal yang kuat, Xiao Nan menggunakan Langkah Kekosongan untuk meluncur ke bawah jangkauan pedang lawan.
Tangan kanan Xiao Nan bergerak secepat kilat, menghantam pergelangan tangan Xiao Yi dengan ujung jari yang dialiri energi hitam Sutra Bayangan Naga.
Trak!!
Pedang perak Xiao Yi terlepas dari genggamannya dan tertancap di lantai aula.
"Ini belum selesai!" Xiao Yi berteriak frustrasi. Ia mencoba memukul Xiao Nan dengan tangan kirinya yang dialiri Telapak Petir Pembelah Langit.
Xiao Nan menangkap tinju itu dengan telapak tangannya. Suara benturan energi terdengar keras. Namun, bukannya Xiao Nan yang terlempar, justru tangan Xiao Yi yang mulai bergetar hebat. Energi hitam Xiao Nan mulai melahap energi petir Xiao Yi.
"Kau tahu apa perbedaan antara aku dan kau, Xiao Yi?" Xiao Nan mendekatkan wajahnya, matanya berkilat dengan kegelapan yang mengerikan. "Kau bertarung untuk mendapatkan pengakuan. Aku bertarung untuk memegang kendali. Dan sekarang, aku memegang nyawamu."
Xiao Nan memutar tangan Xiao Yi dan memberikan satu tendangan telak ke arah lututnya.
Krak!
"AAAGH!" Xiao Yi jatuh berlutut di depan Xiao Nan.
Aula Leluhur menjadi sunyi senyap. Semua orang terpaku. Jenius keluarga, Xiao Yi, kini berlutut di kaki seorang pria yang selama ini mereka sebut sampah. Xiao Nan memungut pedang Xiao Yi, menatap bilahnya sejenak, lalu mematahkannya menjadi dua hanya dengan tangan kosong. Trak!!
"Pedang ini, sama seperti pemiliknya... rapuh," ujar Xiao Nan dingin. Ia melemparkan patahan pedang itu ke depan kaki Xiao Han yang duduk di barisan depan. Xiao Han berdiri, wajahnya penuh amarah dan ketakutan yang tertahan. "Xiao Nan, kau berlebihan!"
"Berlebihan?" Xiao Nan berbalik, menatap seluruh anggota keluarga yang hadir. "Ingat hari ini. Siapa pun yang berani melangkah ke wilayahku, siapa pun yang berani menyentuh orang-orangku... akan berakhir lebih hina daripada pedang ini."
Xiao Nan melangkah pergi meninggalkan aula tanpa menoleh lagi. Di sudut aula, Xiao Ruoxi menatap punggung Xiao Nan dengan perasaan campur aduk. Ia menyadari bahwa naga yang selama ini mereka injak-injak telah terbangun, dan kali ini, seluruh Pulau Bulan Surga akan merasakan cengkeramannya.