Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Sihir Bulan dan Bayangan
Setelah pengungkapan pahit di Perpustakaan Kristal, istirahat malam Aethela terasa singkat dan penuh dengan mimpi buruk tentang api perak yang membakar sisik-sisik naga. Namun, pagi ini ia tidak punya waktu untuk merenung. Sesuai kesepakatan rahasia mereka, Valerius membawanya ke Ruang Resonansi—sebuah ruangan berbentuk kubah di titik terdalam Benteng Obsidian, tempat denyut nadi gunung bisa dirasakan secara fisik.
Aethela merasa tegang sekaligus bertekad. Kakinya terasa dingin saat menyentuh lantai batu yang bergetar lembut. Di tengah ruangan, terdapat sebuah altar kristal hitam yang memancarkan energi yang begitu kuat hingga membuat bulu kuduknya berdiri. Ia tahu ini adalah momen krusial. Jika mereka berhasil menyatukan sihir, kutukan mereka akan mereda. Jika gagal, sihir mereka akan saling bertabrakan dan meledakkan ruangan ini menjadi debu.
"Siap, Aethela?" suara Valerius terdengar, lebih lembut dari biasanya, namun tetap sarat dengan kewaspadaan.
Aethela menarik napas dalam, membiarkan udara dingin mengisi paru-parunya. "Siap. Beritahu aku apa yang harus kulakukan."
Valerius menatap Aethela. Di bawah cahaya biru redup Ruang Resonansi, kulit Aethela tampak hampir transparan, dan mata ungunya berkilau dengan keberanian yang membuat jantung Valerius berdenyut aneh.
Valerius merasakan cemas yang luar biasa. Ia belum pernah melakukan penyatuan sihir dengan manusia sebelumnya. Secara tradisional, ini hanya dilakukan antar naga yang memiliki ikatan jiwa. Melakukannya dengan Aethela berarti ia membuka pintu jiwanya pada seseorang yang secara historis adalah musuh bebuyutannya.
"Berdiri di seberangku," perintah Valerius. "Letakkan telapak tanganmu di atas altar, tapi jangan menyentuh tanganku. Kita akan menggunakan kristal ini sebagai perantara agar energi kita tidak langsung menghanguskan satu sama lain."
Valerius memejamkan mata. Ia mulai memanggil kegelapannya. Bayangan-bayangan keluar dari pori-pori kulitnya, merayap di atas meja kristal seperti tinta hitam yang kental. Ia bisa merasakan "lapar" yang luar biasa dari sihirnya—keinginan untuk menelan apa pun yang ada di depannya.
"Sekarang," bisiknya. "Lepaskan sihir bulanmu. Pelan-pelan."
Aethela menutup matanya. Ia membayangkan bulan purnama yang tergantung di atas danau yang tenang di Solaria. Ia merasakan energi dingin yang mulai mengalir dari perutnya, naik ke dadanya, dan keluar melalui telapak tangannya.
Cahaya perak yang murni mulai memancar, bertemu dengan bayangan Valerius di tengah altar kristal.
Seketika, Aethela merasakan sensasi yang luar biasa. Saat sihir mereka bertemu, rasanya seperti terjatuh ke dalam air es yang kemudian mendidih. Ia tidak lagi bisa membedakan mana energinya dan mana energi Valerius.
Tiba-tiba, sebuah penglihatan menghantamnya. Ia melihat memori Valerius—bukan sebagai pangeran perang, tapi sebagai anak kecil yang menangis karena tangannya mulai berubah menjadi sisik dan ia tidak bisa menyentuh ibunya tanpa melukainya. Ia merasakan kesepian pria itu yang begitu pekat hingga ia ingin menangis.
"Valerius..." desah Aethela, suaranya parau.
"Jangan lepaskan!" Valerius mengerang. Peluh membanjiri dahinya. "Fokus, Aethela! Tekan cahayamu ke dalam bayanganku. Jinakkan dia!"
Aethela memaksakan dirinya. Ia mengirimkan rasa damai, kelembutan, dan cahaya bulannya ke dalam pusaran hitam itu. Ia membayangkan dirinya sedang memeluk anak kecil dalam memori Valerius.
Seketika, kekacauan di atas altar mereda. Cahaya perak dan bayangan hitam tidak lagi saling menyerang; mereka mulai berputar bersama dalam harmoni yang indah, menciptakan pusaran warna nebula di dalam kristal obsidian.
Valerius tersentak. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, "lapar" di dalam darahnya berhenti. Rasa sakit kronis yang selalu menemaninya sejak kecil mendadak hilang, digantikan oleh kesejukan yang menenangkan.
Valerius bisa merasakan kehadiran Aethela di dalam pikirannya—lembut, bercahaya, dan penuh dengan empati yang belum pernah ia rasakan dari siapa pun. Ia membuka matanya dan menatap Aethela.
Wanita itu juga sedang menatapnya. Wajah mereka hanya terpisah oleh altar kristal yang kini bersinar terang.
"Kau merasakannya?" bisik Valerius, suaranya bergetar.
"Ya," jawab Aethela. Air mata mengalir di pipinya. "Sihirmu... dia tidak jahat, Valerius. Dia hanya kesepian. Dia butuh teman."
Mendengar kata-kata itu, sesuatu di dalam diri Valerius hancur. Dinding es yang ia bangun selama bertahun-tahun runtuh dalam sekejap. Tanpa berpikir panjang, ia menjangkau melintasi altar dan menarik tangan Aethela ke dalam genggamannya.
Kali ini tidak ada ledakan statis. Hanya ada kehangatan yang mendalam.
Valerius menyadari bahwa ia tidak lagi hanya membutuhkan Aethela sebagai alat. Ia menginginkannya. Ia menginginkan kehadiran wanita ini bukan hanya untuk sihirnya, tapi untuk jiwanya yang mampu melihat cahaya di dalam kegelapannya.
"Aethela," panggil Valerius rendah.
Tiba-tiba, pintu Ruang Resonansi terbuka dengan keras.
Aethela tersentak dan menarik tangannya. Sihir mereka terputus dengan bunyi denting kristal yang nyaring.
Di ambang pintu berdiri Raja Malakor bersama beberapa tetua dewan. Wajah sang Raja tampak murka, matanya yang emas tua berkilat penuh kecurigaan.
"Apa yang kalian lakukan?!" guntur suara Raja. "Melakukan ritual terlarang tanpa izin Dewan? Valerius, kau telah melanggar protokol paling suci kita!"
Ketakutan kembali menyergapnya. Ia melihat Valerius segera melangkah di depannya, melindunginya dari tatapan murka ayahnya.
"Aku melakukan apa yang perlu dilakukan untuk menyelamatkan kerajaan ini, Ayah," jawab Valerius dengan nada menantang. "Aethela bukan musuh. Dia adalah kunci, dan aku baru saja membuktikannya."
"Kunci atau racun?!" teriak salah satu tetua. "Lihatlah! Dia telah memikat Pangeran kita dengan sihir bulannya! Dia mencoba mengendalikan pewaris takhta kita!"
Aethela menyadari bahwa keberhasilan mereka justru menciptakan ancaman baru. Di Obsidiana, kemajuan emosional mereka dianggap sebagai pengkhianatan politik. Ia menatap punggung lebar Valerius, menyadari bahwa mulai saat ini, mereka tidak hanya berperang melawan kutukan, tapi juga melawan orang-orang yang seharusnya mereka pimpin.
Ia mengepalkan tangannya di balik jubah. Ia tidak akan membiarkan mereka memisahkan apa yang baru saja menyatu. Di bawah tanah yang gelap ini, sebuah aliansi yang lebih kuat dari pernikahan politik telah lahir—sebuah ikatan yang terikat oleh sihir bulan dan bayangan naga.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca📖
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️