Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA HARI YANG LALU
<<
Hujan badai malam itu seolah ingin meruntuhkan atap rumah kecil Melisa. Di meja makan, sepiring capcay dan ayam goreng mentega—makanan kesukaan Narendra—sudah mendingin, kaku tersentuh udara lembap. Jam dinding berdetak malas, menunjukkan pukul 23:30.
Biasanya, Narendra sudah pulang sejak jam delapan.
Ponsel Melisa yang tergeletak di atas taplak meja tiba-tiba menjerit. Sebuah nama asing tertera: RS Medika.
"Halo? Ibu Melisa?" Suara di seberang sana terdengar tergesa-gesa di antara kebisingan latar belakang. "Suami Ibu, Bapak Narendra, mengalami kecelakaan beruntun. Kondisinya kritis. Mohon segera ke Unit Gawat Darurat sekarang juga."
Dunia Melisa tidak sekadar runtuh; dunianya meledak menjadi kepingan tajam yang menghujam jantungnya. Tanpa alas kaki yang layak, ia menyambar payung dan berlari ke jalan raya yang banjir, mencegat taksi apa pun dengan tubuh gemetar hebat.
"Tolong, Pak... Medika... cepat," isaknya di kursi belakang, sementara napasnya tercekat seolah oksigen di dunia ini mendadak habis.
Lorong rumah sakit itu berbau karbol dan kematian. Melisa berlari dengan pakaian basah kuyup, langkahnya meninggalkan jejak air di lantai porselen yang dingin. Di balik tirai ruang tindakan, suasana tampak kacau. Perawat berlalu-lalang membawa kantong darah dan peralatan bedah.
"Dokter, tekanan darahnya terus turun!" teriak seorang perawat.
Di tengah kekacauan itu, seorang pria dengan jubah hijau bedah berdiri dengan tegak. Ia sedang memberikan instruksi cepat saat Melisa merangsek masuk. Mendengar suara isakan, sang dokter mendongak.
Mata tajam di balik masker bedah itu membelalak. Gerakan tangannya yang sedang memegang laporan medis terhenti seketika.
Melisa.
Nama itu bergaung di kepala Harvey seperti hantaman palu. Ingatannya terseret ke masa lima tahun lalu. Masa di mana Melisa meninggalkannya tanpa kata, hanya karena surat dari ibunda Harvey yang mengatakan bahwa "darah biru tidak akan pernah bercampur dengan air biasa." Harvey, sang pewaris tunggal rumah sakit ini, telah dibuang oleh gadis yang sekarang berdiri di hadapannya dengan wajah hancur.
Namun, Melisa tidak melihat Harvey. Ia hanya melihat sesosok tubuh yang tertutup kain penuh bercak merah di atas ranjang dorong.
"Dokter... tolong..." Melisa jatuh berlutut, mencengkeram ujung jubah hijau Harvey. "Tolong selamatkan suami saya. Saya mohon..."
Harvey menarik napas panjang, menekan gejolak amarah, rindu, dan sakit hati yang berbaur menjadi satu di dadanya. Ia sengaja memberatkan suaranya agar tak dikenali.
"Kami akan melakukan yang terbaik. Silakan tunggu di luar," jawabnya dingin, datar, profesional.
Beberapa jam kemudian, di meja administrasi, Melisa kembali dihantam kenyataan yang lebih dingin dari hujan di luar.
"Ibu Melisa, kondisi Pak Narendra sangat parah," petugas administrasi itu menjelaskan tanpa ekspresi. "Pendarahan otak dan robekan pembuluh darah jantung. Operasi harus dilakukan dua kali malam ini juga. Estimasi biayanya... sekitar 450 juta rupiah untuk tahap awal."
Melisa menatap angka-angka di kertas itu. Pandangannya kabur. "Empat ratus... lima puluh juta?"
"Itu belum termasuk ICU dan obat-obatan, Bu."
Melisa mundur perlahan, lalu luruh ke lantai koridor yang sunyi. Ia menangis tanpa suara, memeluk lututnya sendiri. Di mana ia bisa mencari uang sebanyak itu dalam semalam? Tabungan mereka bahkan tidak sampai sepersepuluh dari jumlah itu.
Dari balik pilar, Harvey memperhatikan. Ia telah melepaskan masker bedahnya, menampakkan rahang tegas dan wajah yang kini terlihat lebih dewasa—dan lebih dingin.
Pria inilah yang kau pilih setelah mencampakkanku? batin Harvey sinis. Pria yang bahkan tidak mampu membayar keselamatannya sendiri?
Ada rasa puas yang gelap di sudut hatinya melihat Melisa sehancur itu. Namun, saat melihat bahu wanita itu terguncang hebat karena tangis yang ditahan, sumpah medisnya seolah berbisik lebih keras daripada rasa bencinya.
"Bayu," panggil Harvey pada asistennya.
"Ya, Dokter Harvey?"
"Sampaikan ke administrasi. Pasien atas nama Narendra, semua biaya operasinya masukkan ke akun pribadi saya. Katakan pada istrinya bahwa ini adalah... dana darurat yayasan untuk korban kecelakaan."
Bayu mengerutkan kening. "Tapi Dok, akun pribadi Anda? Itu jumlah yang sangat besar. Lagipula, yayasan tidak punya kebijakan mendadak seperti itu malam ini."
"Lakukan saja, Bayu. Jangan banyak tanya," potong Harvey tegas. Matanya masih tertuju pada Melisa. "Aku ingin menyelamatkan pria itu. Aku ingin melihat sejauh mana wanita itu akan berjuang untuk lelaki pilihannya."
*
Pagi hari membawa aroma obat-obatan yang tajam di ruang ICU. Melisa duduk di samping ranjang Narendra, menggenggam tangan suaminya yang terpasang kabel-kabel rumit.
Pintu terbuka. Langkah sepatu yang tegas menggema di ruangan sunyi itu. Melisa berdiri, menghapus air matanya dengan cepat.
"Selamat pagi," suara itu. Berat dan berwibawa.
Melisa membeku. Pria yang berdiri di hadapannya kini tidak memakai masker. Jas putihnya tampak sangat kontras dengan latar belakang ICU yang suram.
"Harvey?" suara Melisa hampir menghilang di tenggorokan.
Harvey tidak menoleh. Ia sibuk membaca grafik di monitor. "Kondisi hemodinamik stabil. Respon motorik masih minimal, tapi tanda-tanda vital membaik."
"Kau..." Melisa melangkah maju, ragu-ragu. "Kau dokter yang mengoperasi suamiku semalam?"
Harvey akhirnya menatapnya. Pandangannya kosong, seolah Melisa hanyalah sepotong furnitur di ruangan itu. "Benar. Aku dokter penanggung jawabnya."
"Terima kasih," isak Melisa kembali pecah. "Terima kasih, Harvey. Dan soal biayanya... administrasi bilang ada dana yayasan. Aku sangat beruntung."
Harvey menyunggingkan senyum miring yang penuh luka. "Keberuntungan? Mungkin. Tapi jangan salah paham. Aku menyelamatkannya karena itu tugasku. Jangan berterima kasih padaku."
"Harvey, aku tidak tahu kau sekarang seorang ahli bedah sehebat ini..."
"Banyak hal yang berubah dalam lima tahun, Melisa," potong Harvey tajam. "Termasuk fakta bahwa aku sekarang adalah orang yang menentukan apakah suamimu bisa pulang dengan nyawa atau di dalam kantong plastik. Jadi, pastikan kau menjaganya dengan baik. Aku tidak suka melihat pekerjaanku sia-sia."
Harvey berbalik, jubah putihnya berkibar saat ia melangkah pergi tanpa memberikan ruang bagi Melisa untuk menjelaskan masa lalu mereka.
*
Sore harinya, masalah baru muncul. Meski biaya operasi "ajaibnya" selesai, biaya harian ICU dan obat-obatan penunjang terus membengkak. Melisa duduk di taman rumah sakit, menatap kartu debitnya yang kosong.
"Melisa? Benar-benar kau?"
Seorang wanita dengan gaun sutra merah darah dan kacamata hitam besar berdiri di hadapannya. Laluna. Teman sekolah Melisa yang kabarnya sekarang menjadi 'ratu' di dunia malam.
"Laluna... aku sedang kesulitan," Melisa langsung tumpah ruah. Ia menceritakan semuanya. "Aku butuh uang banyak. Sangat banyak. Apa saja... aku akan lakukan apa saja."
Laluna melepas kacamatanya, menatap Melisa dengan iba sekaligus penilaian bisnis. "Pekerjaanku bukan untuk orang yang berhati lemah, Mel. Kau harus siap membuang harga dirimu di pintu masuk."
"Berapa yang bisa kudapat?" tanya Melisa nekat.
"Di The Velvet Room, jika kau bisa mengambil hati tamu yang tepat? Dua ratus juta dalam semalam bukan hal mustahil. Tapi ingat, kau hanya menemani mereka minum dan tertawa. Sisanya? Tergantung seberapa jauh kau ingin menjual dirimu."
Laluna menyodorkan sebuah kartu nama berwarna hitam dengan tulisan emas. "Datanglah jam sembilan malam ini jika kau memang sudah putus asa. Pakai gaun terbaikmu, atau biar aku yang sediakan."
Melisa menatap kartu itu. Di dalam gedung ini, suaminya sekarat. Dan satu-satunya cara untuk membayarnya adalah dengan terjun ke dunia yang dulu sangat ia hindari. Takdir seolah sedang menertawakannya; ia diselamatkan oleh mantan kekasihnya yang kaya, hanya untuk berakhir menjadi pemuas dahaga pria-pria kaya lainnya demi tetap bertahan hidup.
Melisa meremas kartu itu. "Aku akan datang," bisiknya pada angin.
<<< flashback off>>>
***
Bersambung...
....................
......Sebelum lanjut, bantu author lebih semangat dengan memberikan Like, komen, vote, dan gift semampu kalian ya 🥰🥰🥰......