Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Patung Tampan
"Mama, Pie mau ke perpus, ya?"
Pagi sekali putrinya sudah mandi dan rapi keluar dari kamar menemuinya yang sedang menonton tv.
"Iya, hati-hati di jalan, Pie."
"Siap, Mama." Pie mengecup pipi Mama dan berlalu keluar.
Pie bersenandung riang selama berkendara, jalanan pagi ini sedikit ramai.
Sudah sebulan, Ato tak menghubunginya atau dirinya menghubungi Ato. Pie menganggap hubungannya sudah benar-benar berakhir.
Perlu waktu 45menit Pie menuju perpustakaan umum. Melintasi kawasan tertib, dan sedikit sepi karena masih pagi. Pie membelokkan motornya ke parkiran yang ada di sisi gedung bertingkat itu.
"Selamat datang, Kak. Ada yang bisa kami bantu?" Petugas perpustakaan menyapanya ketika masuk ke dalam gedung.
"Ingin mencari buku, Kak."
"Baik, Kak. Punya kartu anggota?"
"Punya, Kak. Ini."
"Baik, tinggal di sini ya, Kak. Silakan masuk."
"Iya."
Pie berjalan menuju ruangan yang ada di belakang ruang administrasi, ia masuk ke ruangan khusus dewasa. Suasana langsung senyap ketika Pie menutup kembali pintu ruangan, hanya ada dirinya dan suara pendingin ruangan. Pie segera berjalan mengitari rak-rak buku mencari bahan bacaan, Pie akan memuaskan dirinya untuk membaca hari ini.
Suara pintu terdengar dibuka dan ditutup kembali, Pie berpikir itu mungkin pengunjung lain atau petugas yang mengecek buku-buku.
Pie fokus membaca sinopsis cerita novel yang adadi sampul belakang buku, ia sudah mendapatkan buku yang akan dibacanya kali ini.
Membawa buku ke arah meja yang tersedia, ia memilih meja yang berada di ujung berdekatan dengan sofa besar. Ia enggan terkena pendingin ruangan yang biasanya sangat dingin.
Ia fokus membaca tiap halaman, menit berlalu.
Pie samar-samar mencium aroma parfum yang kemarin ia hirup saat membeli jajanan. Pandangannya terangkat lalu mengedar ke sekeliling, ia terkejut mendapati pria yang kemarin sedang duduk tepat di sisi mesin pendingin. Matanya fokus ke layar laptop, kedua alisnya berkerut dalam. Sejenak Pie hanyut memandang sosok yang begitu indah seperti patung pahatan yang sempurna. Kaos hitamnya seakan membuat kulitnya yang sawo matang semakin cerah.
Pria itu berdehem tanpa menyadari Pie yang sedang menatapnya.
"Mati aku!" Pie berkali-kali memaki di dalam hati ketika tersadar telah mengagumi pria yanga da di ruangan baca, hanya ada mereka berdua. Rasanya Pie enggan menelan ludah, ia khawatir suaranya terdengar jelas ke telinga pria itu.
Tak sengaja tatapan mereka bertemu, Pie langsung tersedak dan batuk-batuk ketika manik tajam itu menatapnya.
"Eh? Mbak yang kemarin, kan?"
Pie masih menetralkan batuknya, ia berdehem beberapa kali. Dan tersenyum kikuk.
"Ah, Mas yang kemarin, ya? Ketemu lagi." Pie berpura-pura baru menyadari kehadiran pria itu.
Jantung pie berdetak kencang ketika sosok tinggi itu berdiri sembari membawa laptop lalu menuju ke arahnya.
"Boleh, di sini kan, Mbak?" Wangi parfum pria itu langsung menyapa rongga hidung Pie.
Pie hanya mengangguk pelan.
"Lagi baca apa?"
"Novel."
"Oh, Siti Nurbaya? Cerita yang bagus."
"Mas sudah pernah baca?"
"Sudah, itu salah satu novel kesukaan saya." Tubuh tegap duduk ke arah Pie, membuat gadis itu grogi.
"Oh, ya. Boleh kenalan?" Tangan besar yang terjulur di depan dada Pie, ia menjabat dengan ragu-ragu.
"Tria." Jabatan tangan yang mantap dan hangat. Pie merasa nyaman, namun jabatan itu hanya sebentar membuat Pie sedikit kecewa.
"Pie."
"Pie? Nama yang unik." sepasang lesung pipi yang semakin membuat senyumannya menawan seketika menghipnotis Pie.
"Sendiri aja?"
"Iya, Mas."
"Oh, sama. Saya lagi di luar tapi tiba-tiba ada kerjaan jadi ngadem di sini."
Pie tak tahu harus menjawab apa selain ber-oh ria.
"Masih sekolah?"
"Sudah lulus."
"Berapa tahun?"
"tiga tahun."
"Oh, Umur 20-an?"
"Iya."
"Saya umur 26tahun, baru saja berulang tahun."
"Ah, begitu."
Pie sibuk dengan pikirannya.
"Kenapa seperti takut? Saya tidak akan macam-macam, tolong jangan berpikiran seperti itu."
"Tidak. Hanya.."
"Ya?"
"Tidak jadi." Pie menggeleng cepat lalu tersenyum.
"Oke, Saya mau lanjut ini dulu." Tria menunjuk laptopnya.
Pie mengangguk.
Mereka sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing. Pie sedikit tidak fokus dengan keberadaan Tria yang ada di sampingnya, ia berniat untuk menyudahi saja kegiatan membacanya.
Kursi didorong ke belakang, Tria mendongak menatap Pie yang berdiri.
"Mau ke mana?"
"Saya sudah selesai, Mas. Mau keluar."
"Oh ya?"
Pie berlalu mengembalikan buku ke rak sebelumnya.
Ia baru hendak membuka pintu namun namanya dipanggil dengan merdu.
"Pie?"
"Ya?" Pie terkesiap dengan suara jantan nan merdu, ia merasa kakinya lemas.
"Saya masih ingin mengobrol, apa boleh?"
Pie menatap tak percaya, ia mengangguk pelan.
"Saya keluar dulu."
"Tunggu di parkiran, Saya sebentar lagi selesai."
"Ya."
Pie mengambil kartu anggota yang ia titipkan pada petugas perpus, lalu keluar dari gedung.
"Astaga! Astaga! Tampan sekali!" Pie berkali-kali memekik mengekspresikan perasaannya yang membuncah bahagia.
"Suaranya! Suaranya seperti menarik setengah jiwaku! Rasanya ingin terjatuh! Aaaaa><" Pie berdiri menghentak-hentakkan kakinya karena terlalu bahagia.
"Tangannya besar dan hangat! Pie kau bermimpi apa semalam?" Pie berbicara sendiri dengan perasaan yang bahagia dan tak percaya.
"Astaga! Astaga! Apa aku terlihat cantik?" Pie bercermin melalu kaca spion motor yang terparkir. Ia beberapa kali merapikan rambutnya atau pakaiannya agar terlihat sempurna.
Pie melihat Tria berjalan dengan menenteng tas laptop menuju parkiran.
Pie menatap Tria dengan gugup, ia berkali-kali mengatur napas agar tidak pingsan ketika pria itu tiba di depannya.
Tria tersenyum manis menatap Pie yang tegang.
"Lama menunggu?"
"Tidak."
"Bisa kita bicara di tempat makan? Kebetulan saya belum sarapan."
Pie mengangguk.
"Kamu ke sini naik apa?"
"Motor."
"Kita naik mobil saya saja, motor kamu titip di sini dulu nanti saya antar ke sini lagi."
Pie terdiam sejenak, ia baru mengenal pria ini, dirinya sedikit takut apalagi Pie pernah mengalami hal yang buruk di masa lalu.
"Pie? Kalau kamu takut, kita bisa pakai opsi lain."
"Huh? Apa?"
"Kita berjalan ke taman depan, mungkin ada yang menjual makanan untuk saya sarapan." Tria menunjuk ke taman yang berada di seberang.
"Tidak ada yang berjualan di sana, Mas. Kita ke tempat makan saja."
"Kamu tidak apa-apa?"
"Tidak."
"Ini, pegang ini supaya kamu percaya." Tria memberikan dompetnya pada Pie.
"Ambil dan simpan sampai kita berpisah nanti."
Senyum Tria seakan menghipnotis Pie, gadis itu mau menerima saran Tria dan mengikuti pria itu ke mobilnya.
"Silakan masuk." Tria membukakan pintu untuk Pie dan menutup kembali saat memastikan Pie sudah duduk dengan nyaman.
Pie menghembuskan napas pelan ketika menatap Tria masuk dan menutup pintu mobil.
"Kamu ada rekomendasi tempat makan di sekitar sini?"
"Tidak. Saya jarang sekali ke daerah sini."
Tria menyalakan mobilnya dan menginjak gas.
Mobil perlahan berjalan meninggalkan area perpustakaan.
"Kamu bukan orang sini?"
"Bukan."
"Oh, begitu."
"Mas orang sini?"
"Bukan, saya tinggal di kota B. Saya di sini karena ada urusan."
"Jadi, yang kemarin itu..?"
"Iya, Saya baru datang kemarin, dan baru hari ini ke mari untuk menemui teman. Tapi batal."
Pie mengangguk paham.