Kakak readers tersayang, tolong jangan di boomlike ya! Budayakan kasih like setelah membaca. Terima kasih 🙏🏻
Saat dia dicampakkan oleh kekasihnya, dia bertemu dengan seorang lelaki yang kemudian menjadi suami sirinya.
"Dengar! Meski kita sudah menikah, tapi kamu jangan berharap banyak padaku, karena aku sudah memiliki seseorang yang aku cintai," Dave Sky Pradipta
"Aku tidak keberatan jika kamu menceraikanku sekarang juga. Lagipula pernikahan kita hanya siri," Sevia Kireina Dzakiya
Pernikahan yang awalnya dijalani tanpa cinta, tetapi saling menguntungkan untuk keduanya, mampu menumbuhkan benih-benih cinta tanpa disadari oleh Sevia dan Dave.
Sampai pada saat cinta semakin berkembang dalam pernikahan rahasia mereka. Keduanya sepakat untuk mengungkapkan perasaan di hari yang telah di tentukan. Namun ternyata, hari itu adalah awal dari perpisahan yang tidak mereka harapkan. Sementara tanpa Sevia ketahui, dia telah mengandung anaknya Dave. Mungkinkah cinta dapat menyatukan mereka kembali ataukah hanya menjadi sebuah kenangan yang tak akan terlupakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon thatya0316, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Gosip
Sepulang dari makan malam bersama dengan Dave dan rekan bisnisnya, Sevia menjadi murung. Hatinya mencelos dengan apa yang dikatakan oleh rekan bisnis Dave. Apalagi, selama mereka makan bersama, laki-laki itu terus berusaha menggodanya dengan tatapan mata genitnya. Sementara Dave, malah asyik mengobrol tentang investasi perusahaan laki-laki itu pada AP Technology.
Kenapa aku ingin menyerah saja ya? Meskipun Dave memberikan uang bulanan yang cukup banyak, tapi aku merasa jadi seorang pelacur yang menjual tubuhnya demi mendapatkan uang, batin Sevia.
"Via, kamu kenapa? Sedari tadi diam saja, biasanya suka ngoceh yang gak penting." Dave duduk di samping Sevia yang sedang duduk dengan tangan pura-pura memainkan ponselnya.
"Aku gak papa!"
Dave mendengus kasar mendengar jawaban ambigu dari Sevia. Dia sudah sangat hapal, saat seorang perempuan menjawab, aku gak papa dengan nada datar, itu berarti kebalikannya dari apa yang dikatakan oleh perempuan itu.
"Via, kalau kamu gak bilang apa masalahmu, aku gak akan ngerti kenapa kamu tiba-tiba mendiamkan aku." Dave menangkup kedua pipi Sevia dengan kedua tangannya. "Ayo katakan, kamu kenapa?"
"Meski aku kenapa-napa, itu gak ada hubungannya sama kamu. Jadi kamu gak perlu tahu." Sevia mencoba melepaskan tangan Dave yang sedang menangkup kedua pipinya.
"Via, lihat mata aku!" suruh Dave.
"Sudahlah Dave! Aku ngantuk, besok masih harus kerja," elak Sevia lalu dia berpura-pura menguap di depan Dave, sehingga Dave pun melepaskan tangannya dan membiarkan Sevia untuk tidur.
Perempuan memang membingungkan, ditanya baik-baik selalu jawabnya gak apa-apa. Giliran gak ditanya, pasti dibilang gak perhatian. Tapi aku yakin, kamu pasti sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Monolog hati Dave.
Merasa Sevia sudah terlelap tidur, Dave pun segera membaringkan tubuhnya di samping istri rahasianya. Tangan nakalnya langsung memegang bukit kembar Sevia seraya dia memeluk istrinya dari belakang.
Aku ingin melepaskan kamu Dave, tapi entah kenapa aku merasa nyaman dalam dekapanmu.
...***...
Keesokan harinya, Sevia pun bekerja seperti biasanya. Namun, terasa ada yang aneh dengan pandangan teman-teman kerjanya sehingga dia pun bertanya pada Elvira.
"Vira, kenapa aku merasa jadi tersangka ya?" bisik Sevia.
"Memang kamu tersangka utamanya, Via!" jelas Elvira.
"Maksud kamu apa? Kenapa aku jadi tersangka utama?" Sevia semakin bingung dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya.
"Coba deh kamu lihat grup WA! Dari semalam rame ngomongin kamu," cetus Widia.
Sevia langsung mengecek ponselnya dan membuka grup chat karyawan AP Technology. Dia melotot tak percaya melihat lebih dari seribu chat sedang membicarakannya karena semalam ada yang sengaja memotret dirinya saat sedang makan di Pujasera bersama Dave dan rekan bisnisnya. Namun yang membuat Sevia tidak habis pikir dengan kelakuan orang yang telah memfitnahnya, dia dituduh menjadi istri simpanan Mr. Arata yang usianya sudah mendekati angka 50 .
Ada banyak karyawan yang mencacinya di grup chat dengan mengatakan Sevia sebagai wanita murahan, matre, sok kecantikan, tapi yang membuat hatinya terasa perih saat ada yang mengatakan dia menjadi istri simpanan karena keperawanannya sudah diambil oleh mantan kekasihnya.
"Mereka sok tahu banget, belum tentu juga benar sudah main tuduh aja." Sevia terisak setelah membaca isi grup chat karyawan.
"Via, aku percaya sama kamu! Tapi aku juga penasaran, siapa laki-laki yang menikah dengan kamu saat digerebek di rumah kontrakan Mbak Ines?" tanya Elvira.
"Yang jelas, bukan laki-laki yang terlihat di foto. Suamiku, yang terlihat hanya punggungnya saja." Sevia pun terpaksa mengakui salah satu yang ada di foto itu suaminya.
"Kalau dilihat dari punggungnya, pasti orangnya tinggi gede. Apa pusaka dia juga gede, Via?" seloroh Elvira saat melihat mata Sevia berkaca-kaca.
"Kamu tuh! Anak gadis pikirannya sudah kesitu aja," gerutu Sevia.
Bel masuk kerja pun sudah berbunyi, semua karyawan langsung bersiap di posisi masing-masing sampai mereka pun terlarut dalam pekerjaannya. Begitupun dengan Sevia yang langsung fokus pada pekerjaan yang harus diselesaikan, hingga dia melupakan gosip tentangnya yang sedang beredar.
Saking fokusnya Sevia dengan pekerjaan, dia sampai tidak sadar kalau di belakangnya sudah berdiri Dave yang sedang memperhatikan cara Sevia bekerja. Sampai akhirnya Dave membisikkan sesuatu di telinganya, "Sevia, malam ini aku tak akan pulang. Tidak usah menungguku! Tidurlah dengan cepat dan jangan lupa makan!"
Dave langsung pergi setelah mengatakan hal itu pada Sevia. Karena dia harus bergegas ke kantor pusat untuk rapat penting bersama para petinggi perusahaan. Sementara Sevia hanya mematung di tempatnya.
Dave malah pergi di saat aku sedang jadi bahan gunjingan orang. Kenapa nasibku selalu tidak beruntung?
Setetes air mata tak sengaja jatuh dari pelupuk matanya. Secepat mungkin Sevia menghapusnya dengan kasar sebelum ada orang lain yang melihat dia sedang menangis. Benar saja, tak lama kemudian Andika datang menghampirinya.
"Via, aku pamit! Ini hari terakhir aku kerja. Suamimu memecat aku hanya karena kejadian kemarin. Kamu tahu Via, aku lagi butuh uang banyak untuk pesta pernikahanku dengan Ines. Harusnya kamu membantuku bicara pada suamimu untuk tidak memecat aku." Tanpa memberi Sevia kesempatan bicara, Andika terus saja bicara seperti radio butut yang berbunyi sendiri meski tidak ada yang mau mendengarkan.
"Itu salahmu sendiri! Kenapa kamu memberi minuman itu sampai aku mabuk? Aku gak mau tahu apapun tentang urusan kamu. Jadi aku minta, kamu gak usah lagi meminta bantuan atau bercerita tentang calon istrimu itu. Aku tidak peduli dengan urusanmu," cerocos Sevia.
"Oke, kalau kamu tidak mau peduli denganku lagi. Jangan salahkan aku jika nanti ada video kita yang sedang indehoy beredar di sosmed." Andika dengan tidak tahu malunya mengancam mantan kekasihnya itu.
"Kamu gila??!!!" teriak Sevia yang sukses membuat seisi ruangan itu menoleh padanya. Untung saja dia berada dalam ruang trial. Yang mana hanya beberapa orang saja yang ada di sana.
"Kamu pikirkan baik-baik! Aku pergi mau interview di perusahaan Jepang." Andika langsung berlalu pergi karena merasa semua orang kini memperhatikan mereka berdua hingga terdengar suara bisik-bisik yang sampai ke telinga Sevia.
"Bukankah Mas Andika calon suaminya Mbak Ines, ya? Kho bisa kenal dekat dengan Sevia?"
"Katanya Mas Andika mantan pacar Sevia yang direbut Mbak Ines."
"Aku gak percaya! Masa Mbak Ines merebut pacar sahabatnya sendiri. Lagipula Mbak Ines cantiknya paripurna, pasti banyak lelaki yang mau sama dia tanpa harus merebut pacar orang."
Rasanya Sevia ingin segera pergi jauh, dari pertama dia masuk sudah mendapat gunjingan, belum lagi dengan ancaman Andika yang membuat dia semakin ingin pergi. Ditambah lagi, teman kerjanya yang tak segan membicarakan tentang dia tepat di depan mata.
Ines memang cantik, sehingga dia dengan mudah merebut Andika dari tanganku. Mungkin aku juga harus bersiap diri saat nanti Dave juga meninggalkanku, karena wanita lain yang leih baik dariku.