"Mas kamu sudah pulang?" tanya itu sudah menjadi hal wajib ketika lelaki itu pulang dari mengajar.
Senyum wanita itu tak tersambut. Lelaki yang disambutnya dengan senyum manis justru pergi melewatinya begitu saja.
"Mas, tadi..."
Ucapan wanita itu terhenti mendapati tatapan mata tajam suaminya.
"Demi Allah aku lelah dengan semua ini. Bisakah barang sejenak kamu dan Ilyas pulang kerumah Abah."
Dinar tertegun mendengar ucapan suaminya.
Bukankah selama ini pernikahan mereka baik-baik saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan
Bagai tersangka yang menunggu vonis. Irham seolah mendengar hakim mengetuk palu dan menyatakan hukuman mati baginya. Irham menegang, tak mampu untuk sekedar menyangkal. Mata sang suami yang bergetar terpaku pada perempuan yang perlahan membalik badan menghadap padanya.
"Seandainya aku mampu memutar waktu. Aku ingin kembali pada empat tahun lalu saat kita dipertemukan. Ini salahku. Maaf ya, Mas. Seharusnya dulu aku berpikir, tidak mungkin laki-laki seperti kamu belum memiliki kekasih dan calon istri. Hingga aku menurut pada Abah ketika menjodohkan kita."
Tenggorokan Irham serasa terbakar.
"Kamu tidak perlu minta maaf seperti sekarang. Wajar jika kamu menemani mereka. Selain karena tanggung jawab, dia perempuan yang pernah kamu cintai. Aku dan dia berbeda. Aku bisa mengerti."
Dinar tidak menangis, wanita cantik itu hanya berucap tanpa melihat pada suaminya.
"Kamu tidak perlu meminta maaf dan merasa bersalah padaku jika terjadi hal yang sama seperti kemarin. Aku akan selalu bisa mengerti." ujar perempuan yang tak mendapatkan jawaban.
Irham tertawa sumbang. Setiap kata yang keluar dari mulut istrinya hari ini menyakiti hati dan perasaannya.
Mereka diam, menyelam dalam pikiran masing-masing. Bersamaan dengan matahari yang mulai mengintip dari ujung langit, lambat laun menyinari dan menghangatkan bumi. Namun tidak pada dua anak manusia yang masih dingin. Mereka menatap jauh ke luar sana dengan tatapan mata kosong. Duduk berdampingan tetapi terasa sangat jauh. Lebih jauh dibandingkan saat pertama kali bertemu dan tidak saling kenal.
"Sudah tiba waktunya subuh, Mas."
Irham menoleh, bersamaan dengan Dinar yang menatap ke arahnya. Mereka bertatap mata setelah berjam-jam lamanya berdiam diri.
"Kita shalat berjamaah, Ya."
Dinar tak langsung menjawab, menyunggingkan senyum tipis kemudian mengangguk pelan.
*******"
Usai shalat, Irham tidak beranjak dari duduknya, melihat pada istrinya yang khusyuk berdoa.
Usai mencium tangan suaminya, tubuh Dinar di tarik oleh Irham. Laki-laki itu mendekap istrinya dengan rasa bersalah yang tak berkurang sedikitpun.
"Mau di antar ke rumah Abah lagi?"
Di dalam dekapan suaminya Dinar tak bisa mencegah air mata yang merembes. Namun, buru-buru ia usap agar Irham tak tahu jika hatinya kembali patah.
"Ya, nanti setelah Ilyas bangun, Bu Lik Mina sudah datang, Dan Mas sudah berangkat ke pondok, kami pergi."
Irham memalingkan muka, kembali terdiam lama. Meski tak ingin berpisah dan tidak ingin Dinar pergi, dia merasa malu untuk melarang.
Laki-laki itu menoleh saat tangan Dinar yang hangat menyentuh dan melingkupi tangganya sendiri yang dingin. Dinar sedang menggenggam erat dengan senyuman kosong yang dipaksakan sebelum berkata,
"Mas, aku tidak bisa memaksamu menjadi sempurna karena kamu bukan malaikat. Aku juga tidak bisa selalu ikhlas menerima takdirku karena aku bukan bidadari, jikapun tidak keberatan bolehkah aku meminta sesuatu padamu?"
Irham mendongak.
"Katakan."
"Tolong talak aku."
Hati Irham terkoyak mendengar permintaan istrinya. Inikah akhirnya? Inikah buah dari keperduliannya pada orang lain? Membuatnya kehilangan keluarga kecilnya?
Adil kah?
*****
Sehari semalam penuh Irham tidak tidur. Dia menyandar pada jok mobil, setelah mengantar Dinar ke rumah mertuanya, selama beberapa waktu ia menghabiskan waktu di mobil. Bukan terjaga semalaman dan berkendara jauh yang membuat tubuhnya terasa amat lelah saat ini. Namun hati dan perasaannya yang terluka.
Ucapan Dinar membuatnya tak mampu berkata-kata.
"Jikapun kita masih bersama, aku tidak bisa menjadi Dinar yang sama, Dinar yang Mas nikahi empat tahun yang lalu. Semua telah berubah, juga aku yang pasti akan menjadi sosok yang berbeda. Karena itu, aku meminta Mas melepaskan ku."
Sekarang jangankan untuk pergi mengajar. Untuk mengistirahatkan tubuh saja Irham tak mampu.
Lagi-lagi senyum sendu Dinar terbayang. Yang semakin membuatnya menjadi serba salah.
Irham ingin berjuang, tapi yang di perjuangkan sudah tidak mau.
Irham merasa bersalah ketika Dinar mengatakan bahwa dia tak lebih penting dari pada Ratih. Terbukti berjam-jam dia di rumah sakit, tak mengingat janjinya pada sang istri. Itu membuktikan bahwa di hati Irham Ratih lebih unggul darinya.
Padahal Irham tak tahu, jika sejak Dinar datang ke restoran, diam-diam Ratih mengirimkan pesan melalui nomor Irham, pesan yang berisi tentang laki-laki itu yang tak akan pernah datang ke restoran yang sudah di janjikan.
Ratih menuliskan. Irham ketika bersamanya akan lupa waktu.
Tapi, Dinar sekali lagi percaya jika suaminya bukan tipe pria yang dengan mudahnya mengingkari janji, terlebih dia adalah istri dan ibu dari anaknya, rasanya tidak mungkin Irham memilih wanita yang tidak memiliki hubungan apapun selain cerita masa lalu.
Tapi sekali lagi harapan Dinar kalah dengan kenyataan. Ternyata kepercayaan diri Ratih benar adanya, suaminya lupa waktu dan datang hanya dengan kata maaf dan penyesalan.
Ternyata Ratih lebih mengenal sosok Irham ketimbang ia yang di nikahi karena sebuah perjodohan.
*******
Irham tidak jadi pergi, ia justru membawa mobilnya kembali ke rumah Kiai Ahmad Sulaiman.
Dinar yang tengah berbicara pada Hassan menoleh, bertepatan dengan suaminya yang mengangkat kepala dan menatapnya.
Hassan yang berada di samping memindai wajah Dinar yang ceria. Itu raut muka yang selalu Dinar tunjukkan selama ia kenal. Tak asing, masih secantik dulu tapi cukup membuat ia terus terkesima.
Bola mata Hassan berbinar-binar dan dengan setia mengikuti gerak kepala Dinar yang terantuk- antuk kecil karena sedang tertawa. Hassan menyukai itu, tanpa sadar tak dapat mengalihkan tatapan barang sedikitpun dari Dinar. Tangan laki-laki itu gatal ingin mengelus pipinya yang bersemu merah karena bahagia. Namun Hassan hanya mampu mengepal kuat-kuat, dalam hati mengingatkan diri agar sadar wanita itu tak bisa ia genggam sampai matipun.
Mereka berdiri di sana untuk waktu yang cukup lama, hingga kedatangan seseorang mampu membuat raut ceria Dinar berubah. Wanita itu mengalihkan pandanganya dari Ilyas yang tengah belajar berenang dengan Abahnya dan menatap pada pria yang menjadi suaminya.
Hassan hanya melihat kedatangan Irham yang membuat tawa Dinar berhenti. Pernikahan Dinar dan Irham seolah tidak memiliki masa depan.
Namun laki-laki itu tahu bahwa laki-laki di sana adalah pemilik hati wanita yang berada di sampingnya. Sungguh ironis, bukan. Karena dengan siapapun Dinar nantinya asal wanita itu bahagia ia akan mendukungnya.
"Abah, Irham ingin bicara." Suara Irham menyita perhatian semua orang, termasuk Kiai Ahmad Sulaiman yang langsung mendongak melihat kedatangan menantunya.
Tadi mereka tidak sempat bertemu. Dinar bilang sama Abah nya Irham sedang buru-buru ke pondok. Tapi, ternyata Irham datang lagi.
Hassan melihat mata laki-laki itu memerah, tampak sekali Irham baru selesai menangis.
Dinar juga tiba-tiba diserang gugup.
*******
Kiai Ahmad Sulaiman yang telah selesai dengan mandi, menemui Irham yang tengah bermain bersama Ilyas.
"Kata Dinar tadi kamu buru-buru ke pondok, Ham?" Irham tersenyum kaku.
"Mboten sios, Bah." suara Irham serak.
"Mau ngomong apa?" tanya Kiai Ahmad Sulaiman sambil menanggapi celoteh cucunya.
"Maksud Irham menemui Abah kesini, karena Kulo bade wangsulaken Dinar kalih panjenengan."
Deg!
Langkah Dinar berhenti di ambang pintu dengan nampan berisi teh di tangannya.
Dinar tidak menyangka, Irham setuju untuk berpisah secara baik-baik. Irham datang untuk memulangkan nya pada keluarganya.
Sedih. Tapi, mungkin ini yang lebih baik untuk Irham.
"Piye, Le?" Kiai Ahmad Sulaiman tak kalah kagetnya.
Note.
Mboten sios: tidak jadi.
######
Author ucapkan banyak terima kasih untuk kalian yang sudah support author dengan, like, komen dan bintang limanya.
Semoga pembaca selalu diberi kesehatan dan juga murah rejeki.
Happy reading...