ALVINA ....
Itu namaku. Gadis berumur 17tahun baru lulus SMA. Aku yatim piatu yang diasuh oleh seorang wanita berhati mulia bernama Ardhina Devi. Wanita yang rela menghabiskan seluruh hidupnya untuk membesarkanku, mengorbankan kebahagiaannya demi merawatku dan merelakan cintanya untuk menyayangiku.
Hidupku berubah setelah kepergiannya, ditinggal untuk selamanya oleh satu-satunya orang yang aku sayangi, membuatku seperti kehilangan sebagian diriku.
Ini bukan kisah tentang anak angkat yang mencari siapa dan darimana dia sebenarnya. Tapi ini tentang diriku dan cintaku.
Maaf, jika ada kesamaan nama, karakter dan penggambaran tokoh yang aku ambil. Semua hanya buat pelengkap saja. Semoga suka dan menarik kalian baca sampai akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sita Azzaky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
•"Cantik..."•
Aku lihat pantulan diriku di cermin. Mini dress biru model kemben dengan rompi pendek berbahan renda warna putih. Rambut keriting gantungku, kali ini aku biarkan terurai. Fathir bilang aku lebih cantik kalau rambut keritingku jatuh terurai. Terakhir sepatu, model bot nutup mata kaki dengan hak tujuh senti.
"MasyaAllah, cantik banget. Mau kemana Al?" Lilin yang pertama kali memujiku.
"Ke kampus, terus ke rumah Mas Rizal." Jawabku sambil berjalan ke kamar Kak Dhina.
"Kak, Alvi tinggal dulu ya ...." Aku cium punggung tangan Kak Dhina.
"Sertakan doamu di setiap langkahku Kak ...." mohonku. Kak Dhina mengecup kening, kedua mata dan pipi lalu bibirku.
"Pasti sayang." Melihatku dari atas sampai bawah. Lalu tersenyum dan membentuk 'o' dengan telunjuk dan jempolnya. Aku membalasnya dengan senyum.
"Kak Dhina istirahat ya ...." Aku keluar kamar Kak Dhina setelah mencium pipinya.
Dari ruang tamu, aku lihat Mas Rizal berdiri di bawah pohon mangga di halaman rumah. Tangan kirinya pegang ponsel di telinga, sedang tangan kanannya rokok yang masih menyala. Sedang Lilin duduk santai di sofa sambil main ponsel.
"Dia Rizal? Adiknya pak dokter itu kan ya?" Tanya Lilin dengan nada menebak. Aku ngangguk, mungkin Lilin tahu dari Kak Dhina.
"Aku pulang agak malam, aku titip Kak Dhina ya ...." Aku keluar menghampiri Mas Rizal. Aku berdiri di belakangnya, aku menunggu dia selesai dengan ponselnya.
"Oke." Mas Rizal masukkan ponsel ke dalam saku celananya.
"Ayo Mas!" Aku tepuk bahunya. Mas Rizal berbalik. Wajahnya berubah seperti orang syok, mata dan mulutnya terbuka secara bersamaan. Rokok yang hampir sampai ke mulutnya jatuh dari tangannya.
"Kenapa? Ada apa Mas?" Ku putar kepalaku mencari sebab kenapa Mas Rizal seperti melihat hantu.
"Nggak" jawabnya singkat. Dia terlihat salting.
"Ayo." Dia bukakan pintu depan di samping kemudinya. Aku sedikit ragu, tapi Mas Rizal mengisyaratkan tangannya untuk mempersilahkan aku masuk. Aku nggak mau mengulangi kesalahan yang sama seperti dengan Fathir, aku menurutinya.
"Cantik." Spontan aku melihat ke arah Mas Rizal. Nggak salah denger kan?
"Karna itu orang lain mudah mencintaimu." Tambahnya tanpa melihatku.
"Apa?"
"Apa? Kamu pengen aku mengulanginya sambil menatap wajahmu?"
"Nggak, jangan membuatku takut."
"Takut kenapa? Takut aku banting setir? Takut aku terpesona dan berpaling padamu?" Mas Rizal datar. Aku cuma gelengkan kepalaku berkali-kali dengan cepat, meskipun itu sebenarnya yang aku takutkan.
"Mungkin kalo semuanya nggak sampai sejauh ini aku akan terima apapun keputusan Ibu." Terdengar seperti ada sesal di nada bicaranya.
"Oh ya? Emang sejauh apa?"
"Aku udah terikat dengannya, aku nggak mungkin meninggalkannya. Tapi keluargaku benar-benar menolaknya"
"Lalu kamu datang dan memintaku buat meyakinkan keluargamu?" tanyaku. Mas Rizal ngangguk.
Ponselku bunyi, kenapa selalu ada saja yang membuat pembicaraan ini nggak tuntas.
Aku buka pesan dari Fathir.
'Nyampe mana?'
'Lagi on the way.' balasku.
'Aku baru keluar dari kantor. Aku udah nggak sabar pengen tau hasilnya.' balas Fathir.
'Yang ikut ujian kan aku bukan kamu. Berarti kamu bisa bayangin gimana perasaanku.' balasku.
Aku lirik Mas Rizal, dia membuka kaca jendela mobilnya lalu nyalain rokoknya.
'Kalo aku kan selalu buat ngertiin perasaan mu, kamu aja yang nggak pernah ngerti perasaanku.' Fathir.
'Aku masih belajar untuk itu' balasku.
'Oh ya? Pastikan itu, kalo udah pinter udah lulus, serahkan ijazahnya ke aku. Aku akan selalu sabar nunggu.' Fathir
Senyumku mengembang. Selalu ada saja gombalan manis yang membuatku merasa tak menginjakkan kaki di bumi lagi.
"Sering-seringlah tersenyum semanis itu!" Mendadak aku lipat bibirku. Mas Rizal ini, nggak tahu apa aku lagi di ajak Fathir melayang, kok tiba-tiba muncul dan membuatku jatuh.
Mobil Mas Rizal masuk area parkir kampus.
"Aku tunggu di kantin ya ... Kalau sudah selesai telpon aku. Apa ada formalitas yang harus di selesaikan hari ini?" Mas Rizal sambil sibuk dengan ponselnya.
Ponselku berdering, nomer baru.
"Itu nomerku!"
"Aku nggak tahu, ada formalitas atau nggak." Jawabku sambil nyimpen nomer Mas Rizal.
"Ya nggak papa kalo emang ada. Semoga hasilnya terbaik buatmu!" Aku ngangguk sambil tersenyum.
Sebelum pergi, seperti seorang kakak ke adiknya dia mengusap-usap rambutku. Aku tersenyum manis seperti seorang adik.
#######
HBD 😘😘🎉🎉🎂🎂🎁🎁🦀♋🦀♋🌷🌷💜💜😂😂
Welcome Cancer ♋🦀♋HBD Author 🎉🎉🎉🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎂🎂🎂🎉🎉🎁🎁🎁
HBD 🎂🎂🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎁♋♋♋♋♥️♥️♥️♥️🦀🦀🦀🦀💜💜💜💜🌷🌷🌷🌷🎂🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎉🎉🎉🎉
HBD
🎂🎂🎂💜💜💜♋♋♋🦀🦀🦀
🎂🎂🎂♥️♥️♥️🎁🎁🎁🌷🌷🌷
HBD ♋♋♋💜💜💜🎁🎁🎁♥️♥️♥️