kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMPURAN PERTAMA
"Baik, Master," sahut Von Gardo patuh. Segera ia mengambil kantong kulit yang melingkar di pelana bahunya. Ada tiga botol kulit kosong di sana. Ia mengisinya dengan perlahan di aliran sungai yang tenang, memastikan air yang masuk tetap jernih tanpa tercampur pasir.
Sementara itu, di desa yang baru saja mereka tinggalkan...
Derap kaki kuda yang berat menghantam tanah, berhenti tepat di depan Penginapan Valoria. Archduke Valerius duduk tegak di atas kuda hitamnya, menatap pintu penginapan dengan sorot mata setajam elang yang mengincar mangsa. Morgana turun dari kudanya, memberikan hormat pada sang Archduke yang masih memancarkan aura membunuh.
"Tuanku," bisiknya, menunggu perintah eksekusi.
"Cepat masuk! Seret pangeran dungu itu keluar ke hadapanku!" perintah Valerius dengan suara lantang yang membelah keheningan fajar.
"Baik, Yang Mulia." Morgana menoleh ke arah pasukan kavaleri yang mengikutinya. "Kalian, masuk! Geledah setiap sudut!" perintahnya.
Prajurit dalam jumlah besar itu melangkah kasar menaiki undakan batu teras penginapan. Tanpa basa-basi, Morgana menendang pintu depan hingga kayu tua itu terhempas terbuka lebar. Dua penjaga malam penginapan yang baru saja terbangun langsung melotot ketakutan saat melihat sekumpulan pria bersenjata lengkap merangsek masuk dengan pedang terhunus.
"Diam di tempat atau nyawa kalian melayang!" teriak salah satu prajurit, mengarahkan ujung mata pedangnya ke tenggorokan penjaga yang gemetar.
Para prajurit berlari menaiki anak tangga kayu yang berderit hebat. Mereka mendobrak pintu-pintu kamar tanpa peduli dengan teriakan ketakutan para penghuni penginapan yang terganggu tidurnya. Suasana seketika berubah menjadi kekacauan total.
"Lapor!" Salah seorang prajurit turun dengan tergesa-gesa, memberi hormat pada Morgana. "Target tidak ada di kamar mana pun. Kamar mereka sudah kosong."
"Ada penghuni di kamar sebelah yang mengatakan mereka melihat beberapa orang pergi lewat pintu belakang belum lama ini!" prajurit lain menyahut dengan napas tersengal.
"B**ebah!" umpat Morgana dengan sangat kesal. Ia mengepalkan tangannya hingga sarung tangan kulitnya berderit. "Mereka lebih licin dari belut!"
Archduke Valerius menarik tali kekang kudanya hingga hewan itu meringkik keras. Matanya berkilat menatap sisa-sisa jejak kaki di tanah yang masih basah.
"Mereka berjalan kaki, itu artinya mereka terbatas secara kecepatan. Tapi mereka menuju sungai," desis Valerius. Ia menoleh ke arah Morgana. "Nyalakan suar! Perintahkan pasukan kavaleri sayap kiri untuk memotong jalur di jembatan batu. Jangan biarkan mereka menyeberang!"
Sementara itu, di tepi Sungai Rhine yang berkabut, kelompok Vion baru saja selesai mengisi persediaan air. Suasana terasa sangat sunyi, namun keheningan itu justru terasa mencekam bagi Vion.
"Cepat, kita harus menyeberang sebelum matahari benar-benar naik," bisik Master Hephaestus.
Namun, saat mereka baru saja hendak melangkah menuju jembatan kayu tua yang tersembunyi di balik pepohonan, Von Gardo mendadak berhenti. Ia merentangkan tangannya, memberi isyarat agar semua orang merunduk.
Sring!
Sebuah anak panah dengan api menyala melesat dari arah kegelapan seberang sungai, namun bukan diarahkan kepada mereka. Panah itu mendarat tepat di tengah jembatan kayu yang kering. Dalam sekejap, api berkobar hebat, memutus satu-satunya jalan keluar mereka.
"Sial! Kita terjebak!" seru Lyra sembari menghunus pedang pendeknya.
Dari arah belakang, suara derap kaki kuda terdengar mendekat. Namun, bukan itu yang membuat wajah Master Hephaestus berubah pucat. Dari arah sungai, muncul beberapa perahu kecil yang membawa tentara dengan seragam berbeda—bukan pasukan Valerius, melainkan tentara bayaran dari Ordo Bayang Hitam, kelompok pembunuh paling ditakuti di tanah Eropa.
"Gardo, ini bukan pasukan Valerius. Seseorang telah menjual informasi keberadaan kita kepada pihak ketiga!" teriak Hephaestus.
Vion menatap ke sekeliling. Di depannya ada jembatan yang terbakar, di belakangnya ada pasukan Valerius yang mengejar, dan dari sungai muncul para pembunuh bayaran.
"Dengar," ucap Vion tiba-tiba dengan suara tenang yang membuat Lyra menoleh heran. "Mereka semua menginginkan aku, kan? Von Gardo, Lyra... kalian bawa Master Hephaestus lewat jalur bawah tebing. Aku akan memancing mereka ke arah hutan pinus."
"Kau gila?! Kau bahkan belum bisa menggunakan pedangmu dengan benar!" bentak Lyra.
"Aku punya rencana," ujar Vion sembari meraba saku jubahnya, tempat ia menyimpan beberapa botol kecil berisi bubuk mesiu eksperimen yang ia curi dari bengkel Hephaestus semalam. "Ini saatnya pengetahuan 'dunia lain' bekerja."
Vion menarik napas panjang, mencoba menstabilkan jantungnya yang berdegup kencang seperti genderang perang. Ia menatap Von Gardo dan Lyra dengan tatapan yang sangat asing bagi mereka—sebuah tatapan penuh otoritas yang belum pernah dimiliki Pangeran Alaric yang asli.
"Lakukan saja! Ini perintah!" tegas Vion.
Von Gardo ragu sejenak, namun melihat keseriusan di mata tuannya, ia akhirnya menarik Master Hephaestus menjauh menuju jalur tikus di bawah tebing. Lyra mendengus, namun ia tetap mengikuti dari belakang, meninggalkan Vion sendirian di tepi sungai yang kini mulai terkepung.
Vion melangkah maju ke area terbuka, sengaja membiarkan cahaya api dari jembatan yang terbakar menerangi d**anya yang mengenakan simbol kerajaan. "Wooi! Kalian mencariku, kan?!" teriaknya lantang.
Pasukan Ordo Bayang Hitam yang baru mendarat dari perahu tertegun sejenak. Pemimpin mereka, seorang pria bertopeng besi dengan kapak raksasa, tertawa parau. "Berani sekali kau, Pangeran Manja. Menyerahlah, maka kepalamu akan lepas dengan satu tebasan yang bersih."
"Maju dan coba saja kalau kau berani," tantang Vion dengan nada meremehkan.
Saat para pembunuh itu merangsek maju, Vion tidak menghunus pedangnya untuk menyerang. Sebaliknya, ia mengeluarkan botol-botol kecil berisi bubuk mesiu yang telah ia modifikasi dengan belerang dan minyak tanah. Ia melemparkannya ke arah tumpukan kayu kering dan sisa minyak di pinggir dermaga kecil dekat jembatan.
BOOM!
Ledakan beruntun terjadi, menciptakan dinding api raksasa yang memisahkan Vion dengan pasukan berkuda Valerius yang baru saja tiba di seberang jembatan. Asap hitam pekat membubung tinggi, mengaburkan pandangan semua orang.
Dalam kekacauan itu, Vion menggunakan teknik kecepatan yang diajarkan Hephaestus. Ia tidak lari menjauh, melainkan melompat ke arah pemimpin Ordo Bayang Hitam. Namun, bukan untuk menebasnya—Vion menyiramkan sisa bubuk mesiu ke arah obor yang dibawa prajurit musuh, menciptakan kilatan cahaya yang membutakan (flashbang sederhana).
"Sialan! Mataku!" teriak para pembunuh itu.
Vion memanfaatkan momen itu untuk menarik Stormbringer. Saat pedang itu keluar dari sarungnya, hawa dingin yang luar biasa mendadak memadamkan sebagian api di sekitarnya. Pedang itu seolah haus akan d**ah.
"Ayo, maju kalian semua!" teriak Vion, meski tangannya sebenarnya sedikit gemetar.
Vion berhasil menciptakan kekacauan, namun pemimpin Ordo Bayang Hitam yang berpengalaman mulai pulih dari kebutaan sesaatnya. Ia mengayunkan kapak raksasanya secara membabi buta ke arah suara Vion.
Saat kapak raksasa itu mengayun membelah asap dengan suara mendesing yang mengerikan, Vion secara insting mengangkat pedang Stormbringer untuk menangkis. Ia memejamkan mata, bersiap merasakan benturan yang mungkin akan mematahkan tulang lengannya.
KLANG!
Suara benturan itu bukan seperti besi bertemu besi, melainkan seperti guntur yang pecah di tengah malam. Vion membuka mata dan terbelalak. Pedang hitam di tangannya kini diselimuti oleh aliran cahaya biru elektrik yang berpendar terang. Hawa dingin yang mematikan menjalar dari gagang pedang ke lengannya, memberikan kekuatan yang terasa meledak-ledak.
Kapak raksasa milik pemimpin Ordo Bayang Hitam itu berhenti tepat di atas kepala Vion, tertahan oleh bilah Stormbringer yang tampak tak bergeming sedikit pun.
"Apa-apaan ini?!" geram si pemimpin pembunuh. Matanya yang merah menatap tak percaya saat melihat retakan mulai menjalar di mata kapak bajanya.
CRACK!
Dengan satu sentakan kuat dari Vion, kapak besar itu hancur berkeping-keping. Kekuatan sisa dari Stormbringer menciptakan gelombang kejut yang menghempaskan pemimpin pembunuh itu hingga terjatuh ke d**alam aliran sungai yang deras.
Para anak buahnya yang lain langsung terhenti, langkah mereka tertahan oleh rasa ngeri. Mereka melihat sang Pangeran yang biasanya dianggap lemah, kini berdiri di tengah kobaran api dan kepulan asap, dikelilingi oleh aura biru yang mengintimidasi.
Dari seberang sungai, Archduke Valerius yang menyaksikan kejadian itu dari atas kudanya mengepalkan tinju hingga zirah tangannya berderit. "Pedang itu... jadi legenda itu benar," desisnya dengan wajah pucat sekaligus penuh ambisi. "Pedang itu benar-benar memilihnya!"
Vion merasakan napasnya memburu. Ia menatap tangannya yang masih dialiri percikan cahaya biru. Ia merasa seolah-olah pedang ini memiliki detak jantungnya sendiri yang menyatu dengan nadinya.
"Pergi kalian! Atau kalian akan menyusul pemimpin kalian ke dasar sungai!" gertak Vion dengan suara yang berat dan berwibawa.
Melihat pemimpin mereka tenggelam dan pangeran yang tampak seperti dewa perang, para pembunuh bayaran itu memilih untuk mundur secara perlahan ke arah perahu mereka, ketakutan akan kekuatan sihir yang baru saja bangkit.
Vion berhasil memukul mundur lawan, namun sesaat kemudian cahaya biru di pedangnya meredup, dan ia merasakan seluruh tenaganya terkuras habis hingga ia jatuh berlutut, menggunakan Stormbringer sebagai tumpuan agar tidak pingsan.