NovelToon NovelToon
DEWA PETIR EMAS

DEWA PETIR EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Slice of Life / Misteri / Cinta setelah menikah / Pusaka Ajaib / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KETEGUHAN HATI SANG PRAJURIT

Berkali-kali Vion mengetukkan jemarinya di atas meja kayu yang kasar, menciptakan irama gelisah yang menggema di ruangan itu.

Penjelasan yang disampaikan Master Hephaestus terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Seumur hidupnya, ia sama sekali belum pernah menyentuh senjata—jangankan pedang, berkelahi di jalanan pun ia selalu mengandalkan teman-temannya. Sekarang, syarat untuk pulang ke dunianya adalah melakukan misi bunuh diri yang mustahil itu.

Ia memijat pelipisnya yang berdenyut, memejamkan mata rapat-rapat sambil membayangkan nasib mengerikan yang akan ia lalui berikutnya.

Menghadapi Archduke? Menembus jantung seseorang dengan pedang? Rasanya seperti mimpi buruk yang terlalu nyata.

Hephaestus yang memperhatikannya hanya mendengus, lalu menyandarkan tubuh di ambang pintu bengkelnya.

"Tentu saja, ada pilihan lain," ucap pria tua itu dengan nada sinis.

"Jika kau terlalu takut untuk mengangkat pedang dan tak ingin ikut dalam kancah perang, kau bisa tetap di sini. Nikmatilah hari-hari indahmu di dalam Istana Valerius yang mewah. Duduk manis di atas takhta, meminum arak gandum terbaik dengan banyak pelayan cantik yang selalu sedia memanjakanmu dan menuruti apa pun keinginanmu sebagai pangeran."

Hephaestus menjeda kalimatnya, matanya menyipit menatap Vion.

"Kau bisa hidup sebagai bangsawan hingga tua, tanpa perlu memikirkan dunia asalamu lagi. Bukankah itu hidup yang diimpikan banyak orang?"

Kata-kata Master Hephaestus kembali terngiang, membuat Vion memukul kepalanya pelan dengan pangkal telapak tangan.

Harus ia akui, hidup di istana memang terasa seperti mimpi yang jadi nyata. Bangun tidur saja sudah ada pelayan yang menyiapkan air hangat dan pakaian sutra. Tidak akan ada lagi omelan panjang lebar seperti yang selalu diteriakkan Ibunya, Bu lestari, setiap pagi. Di istana Valerius, semua keinginannya adalah titah yang tak terbantahkan.

Tapi... ini bukan dunianya. Ia merasa seperti aktor yang dipaksa memainkan peran yang salah. Jiwanya meronta; ia tidak betah di sini.

"Yang Mulia,"

Panggilan Von Gardo membuat lamunan Vion buyar seketika. Ia menoleh, menatap sang ksatria yang baru saja melangkah masuk dengan langkah kaki yang berat, zirah besinya berdenting halus.

"Archduke Valerius—pria yang harus Anda hadapi itu—memiliki kekuatan sihir kuno yang sangat hebat. Dia juga dikenal memiliki 'tangan besi' yang sanggup meremukkan perisai baja hanya dengan satu hantaman," tutur Von Gardo dengan nada rendah yang berwibawa, namun kata-katanya justru membuat nyali Vion semakin ciut.

"Selama puluhan tahun ini," lanjut Von Gardo sembari menatap Vion dengan cemas,

"belum ada satu pun ksatria di seluruh daratan ini, bahkan jenderal terbaik sekalipun, yang mampu menandingi teknik bela diri dan kegilaan sihirnya."

Vion menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang masih halus, sama sekali tidak terlihat seperti tangan seorang pembunuh naga atau penakluk Archduke.

Rasanya seperti disuruh melawan bos terakhir di tingkat tersulit dalam sebuah permainan video, padahal ia baru saja mulai di level satu.

Von Gardo mengangkat teko tembaga kecil yang masih mengepulkan uap panas, lalu menuangkan teh herbal ke dalam cangkir porselen retak.

"Saya akan tetap di sini, mendampingi Anda berlatih ilmu pedang jika Anda memang bertekad menghadapi Archduke Valerius," ucapnya dengan tangan yang terjulur, menyodorkan cangkir panas itu.

Vion menatap wajah serius Von Gardo selama beberapa detik. Ada ketulusan yang murni di mata ksatria itu. Ia mengambil cangkir tersebut, meniup permukaannya perlahan sebelum akhirnya menyesap teh pahit itu sedikit.

"Tidak perlu sampai sejauh itu, Von Gardo," bisik Vion.

"Bahkan, seperti yang kukatakan semalam... aku ini bukanlah tuanmu. Aku hanyalah jiwa asing yang tersesat di raga ini. Kau tidak berhutang kesetiaan apa pun padaku."

Von Gardo menarik napas panjang, lalu berdiri tegak dengan tangan mengepal di atas d**a.

"Yang Mulia... hubungan saya dengan Pangeran Alaric yang asli memang tidak pernah baik. Kami hampir tidak pernah bicara lebih dari satu kalimat dalam sehari. Dia adalah pria yang dingin dan tertutup."

Ia menjeda kalimatnya, menatap Vion dengan sorot mata yang tajam namun hangat.

"Tapi... ketika Yang Mulia Raja menitipkan keselamatan putranya kepada saya, memerintahkan saya untuk mendampingi dan menjaganya, saya sudah bersumpah di depan altar suci. Saya akan melindungi raga ini dan siapa pun jiwa yang menghuninya, sampai titik darah terakhir saya. Sumpah seorang ksatria tidak luntur hanya karena takdir sedang bermain gila."

Vion mengulurkan tangannya, menggenggam kedua tangan Von Gardo yang mengepal saling bertumpu di atas d**a. Ia bisa merasakan tekstur kulit ksatria itu yang kasar karena bertahun-tahun memegang hulu pedang.

Von Gardo semakin menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah seriusnya sementara matanya mulai memanas oleh emosi yang tertahan.

"Yang Mulia, saya ingin menemani Anda berjuang sampai akhir. Saya mohon, izinkan saya tetap berada di sisi Anda, Pangeran."

"Von Gardo, tapi aku ini..." Vion menggantung kalimatnya, merasa tidak pantas menerima pengabdian sebesar itu.

"Saya tahu," kini Von Gardo mengangkat wajahnya, menatap langsung ke dalam mata Vion dengan keteguhan seorang ksatria sejati.

"Tapi saya peduli dengan Anda, Tuan. Walaupun Anda bukanlah Pangeran Alaric yang asli, saya tetap menghormati Anda sebagai pemimpin saya. Jiwa Anda pantas untuk dilindungi."

Vion terdiam sejenak, tenggorokannya terasa tercekat. Ia beranjak dari duduknya dan berdiri tepat di depan Von Gardo, menghapus jarak status yang selama ini memisahkan mereka.

"Von Gardo," ucap Vion pelan namun tegas.

"Bisakah... bisakah kau menganggapku sebagai teman? Hanya sebagai teman, bukan pangeranmu?"

Kedua mata lebar Von Gardo sedikit membelalak. Ia tampak terkejut, seolah baru saja mendengar sebuah permintaan yang paling mustahil di seluruh kerajaan.

"Saya... saya tidak berani, Yang Mulia," jawabnya cepat sembari kembali menunduk dalam, bahunya menegang kaku.

"Seorang ksatria tidaklah pantas bersanding sejajar dengan garis keturunan raja, siapa pun jiwa yang ada di dalamnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!