Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Yang Hangat
Meja makan malam itu benar-benar bertransformasi, menanggalkan fungsinya sebagai altar wibawa yang kaku dan berubah menjadi panggung sandiwara yang absurd.
Di sana, garis pemisah antara reuni hangat penuh nostalgia dan persidangan masa lalu yang memalukan menjadi kabur, terkubur di bawah denting alat makan perak. Cahaya lilin yang berpendar di atas piring-piring porselen seolah menjadi saksi bisu dari atmosfer yang seharusnya sakral, namun justru penuh dengan percikan api komedi hitam yang meletup-letup.
Roland, dengan segala kharisma dengan rambut peraknya yang berkilau mistis, menarik kursi untuk Irina dengan gerakan yang begitu lembut dan penuh pengabdian, sebuah kontras yang tajam bagi siapa pun yang pernah melihat tangannya menggenggam pedang atau merapal mantra.
Jover, Calona, dan Hendrik awalnya berdiri mematung di sisi ruangan, menjaga jarak profesional seperti pilar-pilar batu yang tidak bernyawa. Namun, sebuah anomali terjadi ketika Roland dan Irina memberikan isyarat serempak agar mereka ikut duduk. Ini adalah sebuah pemandangan langka, hampir mendekati skandal protokol: pelayan setia, dan penjaga yang duduk di satu meja bundar yang sama dengan tuannya.
Di balik pintu mahoni besar yang memisahkan ruang makan dengan bagian belakang mansion, Cloudet yang sedang berada pada gendongan Calix, berada di bayang-bayang yang dingin. Mereka berdua melihat seperti dua penonton ilegal di teater aristokrat, menyaksikan para raksasa sejarah sedang menanggalkan zirah kewibawaan mereka sepotong demi sepotong.
Percakapan dimulai dengan aliran yang halus—sebuah narasi nostalgia tentang masa-masa sebelum perjanjian yang mengikat mereka semua dimulai. Mereka berbicara seperti kawan lama yang telah melintasi badai darah bersama.
Namun, suasana santai itu segera berubah menjadi medan perang verbal yang dipenuhi ranjau darat saat Roland melirik Calona dengan binar jenaka yang berbahaya di matanya.
"Kau masih saja sekaku dulu, Calona," celetuk Roland ringan, sambil memotong daging steaknya dengan presisi seperti seorang ahli bedah.
"Padahal aku ingat betul, dulu kau adalah orang yang paling sering tersesat di hutan belakang akademi hanya karena ingin mencari bunga langka yang ternyata setelah diperiksa profesor, ternyata hanyalah rumput liar yang terkena cat."
Calona meletakkan garpunya dengan denting pelan namun bergema kuat, sebuah sinyal gencatan senjata telah berakhir. Matanya menyipit, menatap Roland dengan tatapan sedingin es kutub yang sanggup membekukan kuah sup di dalam mangkuk.
"Setidaknya aku hanya tersesat di hutan karena rasa ingin tahu yang ilmiah, Roland," balas Calona dengan nada datar yang ujungnya setajam belati.
“Bukan seperti seseorang yang dengan percaya dirinya berpidato tentang kepemimpinan di depan seluruh dewan guru dengan celana yang sobek lebar di bagian belakang karena baru saja jatuh dari pagar asrama wanita. Aku masih ingat warna merah di wajahmu hari itu jauh lebih terang dan menyala daripada lampu kristal yang menggantung di atas kepala kita sekarang."
Suasana mendadak hening seketika. Jover tersedak minumannya hingga terbatuk kecil, sementara Hendrik tiba-tiba merasa sangat tertarik untuk meneliti pola jahitan pada serbetnya dengan sangat mendetail.
Roland berhenti mengunyah. Senyumnya tidak luntur, namun sudut matanya berkedut secara ritmis. Ia menatap Calona dengan senyum 'sok ramah' yang sangat menyebalkan.
"Ah, daya ingatmu sungguh luar biasa tajam untuk hal-hal yang sama sekali tidak relevan," sahut Roland dengan sarkasme yang kental.
"Tapi bukankah itu jauh lebih baik daripada pingsan secara dramatis di tengah latihan pedang?. Saat itu hanya karena kau melihat seekor katak kecil melompat ke arah sepatumu? Aku hampir mengira kau mati karena serangan jantung, padahal kau adalah seorang ratu saat itu."
Kini giliran Calona yang menegang. Ia bersedekap, punggungnya tegak lurus seolah ada pedang yang menopangnya, memancarkan aura permusuhan yang pekat hingga lilin-lilin di meja tampak sedikit meredup.
“Itu adalah reaksi biologis yang wajar terhadap hama yang menjijikkan, Tuan Grozen yang terhormat. Berbeda dengan kecerobohan mesum yang kau lakukan di masa muda."
Mereka berdua mulai saling melempar sindiran tajam tanpa henti, seolah-olah ruang makan itu telah disulap menjadi ring tinju kata-kata.
Serangan balik dan sarkasme terbang bolak-balik di atas meja makan, mulai dari insiden surat cinta yang salah kirim ke kamar profesor botak, ramuan yang meledak dan mengubah warna kulit mereka menjadi ungu selama seminggu di laboratorium, hingga kegagalan konyol saat misi pertama mereka puluhan tahun lalu yang melibatkan seekor domba dan gerobak jerami.
Tragedi lucu ini hampir menjadi bencana di dalam rumah. Namun, yang paling aneh dan memukau adalah pemandangan di sekitar mereka.
Irina, dengan perut besarnya yang anggun, terus mengunyah makanannya dengan tenang dan penuh saksama. Ia sesekali menyeka sudut bibirnya dengan sapu tangan sutra seolah suara bentakan Calona dan tawa sinis Roland hanyalah kicauan burung gereja yang merdu di pagi hari.
Hendrik dan Jover, mereka makan dengan ritme yang stabil dan teratur, saling melempar senyum lembut yang misterius satu sama lain, dan sesekali mengangguk sopan seolah-olah pertengkaran hebat antara Roland dan Calona itu hanyalah latar suara angin lalu yang tidak perlu dipusingkan.
"Mereka selalu seperti itu, kan?" bisik calix pada dirinya sendiri yang masih memperhatikan.
Dari balik bayangan pintu yang sedikit terbuka.
Calix tidak menjawab secara lisan, namun l bahunya sedikit berguncang hebat. Ia tampak sangat menikmati melihat ibu nya, sang ratu yang ditakuti oleh dunia bawah sedang dipermalukan secara intelektual dan emosional.
Di meja makan itu, sejarah tidak lagi terasa berat atau memuakkan. Di sana, mereka bukan lagi sekadar tuan dan bawahan yang terikat kontrak, atau musuh, melainkan sekumpulan orang dewasa yang terjebak dalam pusaran memori masa muda yang memalukan.
Sementara kami berdua hanya bisa menonton dengan perasaan campur aduk antara ingin tertawa terbahak-bahak atau lari bersembunyi karena merasa
"ngeri".
Suasana semakin memanas saat Roland mulai meraih gelas anggurnya, matanya berkilat nakal, seolah ia baru saja mengingat satu lagi kartu as yang sanggup membuat Calona terdiam seribu bahasa.
Di sisi lain, Calona sudah menyiapkan napas panjang untuk memberikan serangan balasan yang mungkin akan membuat Roland tersedak selamanya. Di tengah kekacauan itu, Cloudet yang sedang memperhatikan dari kejauhan bersama Calix. kepalanya ke kiri dan ke kanan seperti sedang menonton pertandingan tenis yang sangat cepat, matanya yang besar mengerjap bingung melihat dua sosok saling mencaci dengan kosa kata yang asing di telinganya.
Bersambung