⚠️⚠️ NO PLAGIAT!!
UPDATE SETIAP HARI KAMIS & MINGGU JAM 21.00 WIB
Hari-hari bahagia Silvia mendadak hancur begitu saja karena dirinya yang tiba-tiba mengandung anak dari pacarnya.
Di tengah-tengah reputasi buruknya itu, apakah Silvia dapat bertahan?
Yuk pantauin terus ceritanya! 😉
-----
Cerita ini dibuat berdasarkan imajinasi author semata. Jangan lupa untuk like, comment, dan vote ceritanya ya para readers yang budiman..
-----
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Revina Willy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Farel
GREP
"T.. Tante?"
Aku tersentak kaget karena tante yang tiba-tiba memelukku. Aku merasa bingung dan heran. Bukankah tante sedang marah padaku? Tapi kenapa tante malah memelukku?
"Silvia, ibu kangen!" Ucap tante.
"Hah?"
Tante melepaskan pelukannya dariku. Beliau menatap wajahku dengan senyumannya yang indah. Wah.. aku memang sudah tau, tapi tante memang benar-benar cantik. Wajah Farel yang indah itu pasti ia dapatkan dari ibunya.
Orang yang baru saja memelukku adalah Tante Ella. Tante Ella adalah ibu kandung Farel, sekaligus nyonya besar di rumah ini.
Sama seperti image keluarga Alerian yang terkenal tegas, Tante Ella pun juga memiliki sikap yang sama. Sorot mata Tante Ella yang tajam mampu membuat orang yang melihatnya menjadi gelisah.
"T.. Tante ga marah sama Silvi?" Tanyaku.
"Maksud kamu apa nak? Jangan begitu, ibu kan jadi sedih." Ucap tante.
Mendadak senyuman di wajah tante tampak memudar. Aku jadi merasa tidak enak padanya.
"M.. Maaf tante, Silvi ga bermaksud begitu." Bantahku.
"Ibu, jangan bercanda gitu dong! Silvi kan jadi kebingungan." Ucap Farel.
"Hahaha iya-iya, maafin ibu ya, karena kamu sih! Kenapa kemarin ga datang?" Tanya tante padaku.
"Maaf tante, Silvi kelupaan." Aku tersenyum berusaha menahan malu.
"Eh? Nak, apa ini? Kenapa tanganmu memerah begini?" Tanya tante tiba-tiba.
Kedua mata tante tampak melebar sesaat melihat lukaku yang masih belum sepenuhnya sembuh saat terkena air panas tadi.
"I.. Ini bukan apa-apa kok tante-"
"Ada orang yang sengaja nyiramin air panas ke Silvi." Potong Farel.
Farel! Apa-apaan! Kenapa dia malah mengatakannya sih! Aku spontan langsung menoleh ke arah Farel dan menatapnya dengan tajam.
Mengingat kepribadian tante, aku tak mungkin memberi tau yang sebenarnya pada beliau. jika tante sampai mengetahui masalah ini, mungkin saja masalahnya akan semakin besar.
"Apa? Siapa yang berbuat begitu pada anakku?!" Nada suara tante mulai meninggi.
Pandanganku yang sebelumnya mengarah pada Farel, kini langsung beralih ke arah tante. Ekspresi tante terlihat tidak baik. Ekspresi tante yang marah benar-benar mampu membuatku merasa takut.
"Siapa orangnya nak? Bilang aja, kamu ga perlu takut. Ibu bakal bereskan kalau kamu mau." Tanpa sadar Tante Ella mencengkeram kedua bahuku.
Suasana di sini terasa semakin aneh. Jika dibiarkan, bisa-bisa besok akan ada pengumuman duka cita di sekolah. Aduh.. Jangan melakukan hal berlebihan begini hanya karena aku dong!
"F.. Farel.."
Aku menoleh ke arah Farel dengan tampang memohon. Namun Farel malah terlihat biasa saja seakan tidak peduli.
Arrg! Kenapa tidak ada orang yang waras di sini? Apa tidak ada orang yang ingin menghentikan tante? Ah aku ini. Mana mungkin ada orang yang berani menghentikan seorang nyonya besar.
"Maaf nyonya, sepertinya itu terlalu berlebihan." Ucap Pak Sebastian tiba-tiba.
Pak Sebas! Syukurlah aku sangat berterima kasih. Jika Pak Sebas tidak ada di sini, aku tak tau harus melakukan apa.
"I.. Iya tante, cuma karna hal sepele gini doang kok." Kataku.
"Apa?! Hal sepele katamu?! Nak, tangan cantikmu jadi rusak! Ini bukan hal sepele sayang!" Jawab tante.
Tante melotot. Kini bibirnya tak lagi menunjukkan senyuman sama sekali. Gawat! Bagaimana ini? Aku sudah salah bicara. Sekarang aku benar-benar mengerti kenapa Farel sangat takut pada tante.
"Baron, cepat kau cari orang yang membuat Silvia jadi seperti ini!" Teriak Tante Ella pada salah satu penjaga.
Tante Ella masih mencengkeram bahuku hingga kini aku mulai merasakan sakit. Tante benar-benar terlihat seperti orang lain. Beliau tidak bersungguh-sungguh untuk mencari Mawar bukan?
Kulihat Pak Sebastian hanya bisa tertunduk dalam diam. Sepertinya Pak Sebas tau kalau tante kini tidak dapat dihentikan lagi. Bahkan semua pelayan yang ada di sini juga terus menunduk karena takut terkena imbasnya.
Aduh benar-benar! Meski takut, bagaimana bisa mereka semua membiarkan majikan yang akan menghilangkan nyawa orang?
"Tante! Jangan! Lebih baik kita siap-siap buat makan malam kan? Sayang banget waktu kita jadi terganggu cuma karna orang gak penting." Kataku.
Aku langsung menggandeng tangan tante yang ingin beranjak pergi dari sini. Ah aku tak tau lagi! Hanya ini harapanku satu-satunya untuk menyelamatkan nyawa orang lain.
"Hm.. benar juga kamu. Untuk apa kita ngurusin manusia gak berguna." Ucap tante dengan senyum getir.
Apa? Sungguh cara ini berhasil? Syukurlah. Maafkan aku karena telah mengatakan dirimu tidak penting Mawar. Tapi jika aku tidak melakukannya, kamu tidak akan bisa bernafas lagi besok.
"Iya, makanya ayo tante. Kapan kita makan malamnya?" Tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan.
"Sabarlah, sekarang kan masih jam 5 sore. Lagipula, kamu pasti capek karna baru pulang kan? Istirahatlah!" Perintah tante.
Aku mengangguk. Bersama Farel di sampingku, aku pergi bersamanya ke lantai atas dengan menaiki tangga.
"Duh Farel, gue deg-degan banget tau ga!" Kataku.
"Lah kenapa?" Tanyanya seakan benar-benar tidak tau.
"Nyokap lu itu nyeremin banget tau! Lu ga liat tadi? Serem banget matanya!" Kataku lagi.
"Emang biasa banget ibu begitu. Lu baru liat ya? Kaget?" Tanyanya.
"Ya iyalah! Pake nanya lagi! Kalau Mawar sampai beneran kenapa-kenapa gimana?" Tanyaku balik.
"Ngapain lu peduliin tuh cewek? Ga guna banget! Kalau lu lagi ga beruntung, luka lu bisa fatal Sil." Timpal Farel.
Aku terdiam. Yang Farel katakan memang tidak salah. Padahal Mawar itu sudah melukaiku. Jadi untuk apa aku peduli padanya?
Tapi walaupun begitu, aku tidak mungkin membiarkan orang lain terluka. Hati nuraniku menyuruhku untuk melindunginya selama aku bisa.
"Lo bener sih, tapi gue ga mau kayak keluarga lo. Emangnya bagi kalian nyawa orang semurah itu? Gue takut." Kataku.
Aku menunduk. Aku tak berani melihat wajah Farel. Dia pasti tersinggung karena kata-kataku barusan. Tapi aku benar-benar takut. Bahkan tubuhku gemetar saat mengingat ekspresi Tante Ella tadi.
Ibu Farel adalah orang yang dingin. Seperti citra keluarga Alerian yang dikenal sebagai keluarga barhati dingin, beliau juga seperti itu.
Namun, beliau tidak selamanya bersikap dingin. Bagi keluarganya, beliau adalah orang yang berkepribadian lembut. Ini adalah sosok beliau yang tidak akan bisa dilihat oleh orang lain.
"Silvi!" Panggil Farel.
"Ya?" Sahutku.
Aku menoleh ke arah Farel yang memanggilku. Sesaat aku menoleh, aku bisa melihat dirinya yang merasa bersalah dari ekspresi yang dia tunjukkan.
GREP
"Eh?"
Tanpa aba-aba Farel langsung memelukku begitu saja. Dia memelukku dengan sangat erat hingga aku tak bisa melepaskan pelukannya dariku.
Duh.. bisa gawat jika ada orang lain yang melihat kami seperti ini. Ada apa dengan Farel? Kenapa dia tiba-tiba memelukku?
Farel memelukku lama sekali. Kepalanya disandarkannya pada pundakku. Dia tidak berbicara sepatah kata pun sejak tadi.
"Lo kenapa?" Tanyaku padanya tanpa membalas pelukannya sama sekali.
"Maaf, lo jadi kaget. Ibu aslinya bukan orang yang kaya begitu kok." Jawab Farel.
Entah kenapa suara Farel terdengar lebih lembut dari biasanya. Apa sekarang Farel sedang menghawatirkan diriku? Tak kusangka aku bisa melihat sosok Farel yang seperti ini.
"Udah.. gue gapapa kok. Kok elo jadi sedih gini? Mana Farel yang biasanya nih?" Godaku agar dirinya ceria kembali.
"Apaan sih? Padahal elo emang takut kan? Jangan pura-pura gapapa dong." Farel melepaskan pelukannya dariku.
"Bohong kalo gue bilang ga takut. Tapi sekarang gue gapapa kok! Yah itu karna lo juga. Makasih." Kataku.
"Bener nih?" Tanyanya padaku.
Aku mengangguk. Aku tak ingin membuat teman baikku jadi semakin sedih. Hanya karena melihat diriku yang ketakutan, dia jadi mencemaskanku sampai segitunya.
"Bukan cuma lu doang. Gue juga takut banget sama ibu." Balas Farel.
"Hahaha nyokap lu sih, nyeremin banget." Candaku.
Aku dan Farel saling tertawa hingga suara kami menggema memenuhi lorong.
"Ekhem! Farel, barusan kamu meluk Silvia?"
DEG
Mataku terbelalak kaget. Aku benar-benar terkejut dengan kehadiran suara yang tiba-tiba muncul.
"O.. Om Ferald?" Kataku spontan.
"A.. Ayah? Kapan ayah pulang?"
Farel tampak gelagapan. Sepertinya dia panik. Aku pun juga begitu. Bagaimana jika Om Ferald jadi salah paham terhadap kami berdua?