Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.
Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.
Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.
Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.
Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.
Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.
“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”
Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29
“Apakah gadis itu punya kembaran?” tanyanya tiba-tiba.
Pertanyaan yang membuat Netta terdiam. Jari-jari tangannya gemetar dan ia semakin menunduk dalam, tidak berani
"Tidak, Tuan," jawabnya akhirnya tegas, meski suaranya nyaris tak terdengar. "Mikhasa adalah anak tunggal. Ayahnya meninggal karena suatu penyakit lalu beberapa tahun kemudian ibunya meninggal karena ke kecelakaan. Selanjutnya, Mikhasa tinggal bersama kami. Kami asuh sepenuh hati hingga ia dewasa seperti sekarang ini," lanjut Netta, berusaha terdengar setenang mungkin.
Pria berjas hitam itu menatapnya tanpa berkedip.
"Apakah kau mengatakan hal yang sebenarnya?" Kata pria berjas hitam itu, dingin. "Aku tidak segan memotong lidahmu jika kau berani berbohong."
"Ya, Tuan. Saya tidak berani berbohong kepada Anda, saya berkata yang sejujurnya." Jawab Netta. Tangannya masih gemetar tapi ia menyembunyikannya.
"Baiklah," kata Pria berjas itu. "Jangan sampai ada yang tahu jika aku datang dan menanyakan tentang keponakanmu itu." Ia melirik mereka berdua tajam. "Atau nyawa kalian taruhannya."
Netta dan Morgan saling menatap sekilas, panik, bingung, namun sama-sama paham.
"Baik, Tuan. Baik. Kmi akan menutup mulut kami dengan baik," jawab Netta segera.
Pria berjas hitam itu tidak menanggapi lagi. Ia hanya berbalik, meninggalkan udara dingin dan rasa takut yang menggantung di rumah sederhana ini.
Begitu pria berjas hitam itu pergi, Netta dan Morgan segera berdiri. Suasana di rumah sederhana itu masih dipenuhi sisa ketegangan.
Mereka saling menatap.
“Sebenarnya siapa orang itu?” tanya Morgan, suaranya masih terdengar waspada.
Netta mengangkat bahu, berusaha terlihat santai. “Kupikir orang yang datang menagih utang-utangmu yang setumpuk gunung itu.”
“Aku juga sempat berpikir begitu,” sahut Morgan pelan. “Tapi rasanya bukan. Cara bicaranya… dia seperti sedang mencari informasi.”
Pandangan Morgan mengeras saat menatap istrinya. “Tentang keponakanmu itu.”
Netta mendengus. “Anak itu memang pembawa masalah.”
Ia berbalik dan melangkah pergi.
Morgan segera mengikutinya. “Jadi… Mikhasa itu sebenarnya punya kembaran atau tidak?” tanyanya lagi, ragu.
Netta berhenti melangkah. Ia menoleh perlahan, menatap Morgan tajam.
“Pertanyaan bodoh,” ucapnya dingin.
“Bukankah kau tadi sudah mendengar sendiri jawabanku?”
Morgan mengangguk pelan. “Kupikir… kalau dia punya kembaran anak orang kaya, kita bisa memanfaatkannya.”
Netta menatap suaminya semakin tajam. Matanya melebar, dingin dan penuh peringatan.
“Apa kau pikir berhadapan dengan orang kaya itu mudah?” ucapnya rendah tapi dengan nada emosi. “Yang ada, kau akan masuk penjara dengan cara paling konyol atau mati begitu saja tanpa ada yang pernah menemukan jasadmu.”
🍀🍀
Sore hari di perusahaan. Jam kantor telah usai, dan Mikhasa bersiap pulang. Sejak pagi, Axel tidak juga kembali ke ruangan itu.
“Uh… damainya hidup tanpa bos rese,” gumamnya pelan.
Ia merapikan rambutnya sekilas, menyampirkan tas di bahu, lalu melangkah keluar ruangan. Langkahnya terasa ringan saat menuju lift karyawan, tanpa tekanan, tanpa tatapan menyebalkan, dan tanpa sikap aneh yang biasanya dengan mudah menyulut emosinya.
“Hai, Mikhasa. Kita bertemu lagi,” sapa Ernest ramah. Mia berdiri di sampingnya, ikut tersenyum.
“Hai. Jadi namamu Mikhasa ya? Salam kenal, aku Mia,” kata wanita itu ceria.
Mikhasa membalas dengan senyum sopan. “Iya, salam kenal, Kak Mia."
“Bagaimana kerja hari ini, Mikhasa?” tanya Ernest sambil berjalan berdampingan dengannya menuju lift.
“Lebih seru dari hari-hari sebelumnya,” jawab Mikhasa jujur. Dalam hati ia menambahkan, karena si pengganggu nggak ada di kantor sejak pagi dan itu menyenangkan sekali.
“Itu karena kamu sudah mulai beradaptasi dengan suasana baru di sini, Mikhasa,” ujar Mia ringan.
Mereka masuk ke dalam lift bersama. Pintu hampir menutup sempurna ketika tiba-tiba sebuah tangan menahannya.
Ding. Pintu lift kembali terbuka lebar dan memperlihatkan siapa sosok yang berdiri tegap di depan lift.
“Selamat sore, Tuan Muda,” ucap Ernest dan Mia hampir bersamaan, dengan penuh kesopanan.
Senyum Mikhasa menghilang sepersekian detik.
Yah… kedamaian memang selalu tidak bertahan lama.
ciee..yg udh mulai suka sama Axel,mulai senyum senyum walaupun kesel