Viera menikah dengan Damian selama bertahun-tahun dalam pernikahan yang terlihat sempurna. Hingga suatu hari, ia tahu suaminya berselingkuh.
Lebih kejam lagi, kehamilan yang ia perjuangkan lewat bayi tabung bukan berasal dari suaminya. Sp*rma itu milik Lucca, suami dari perempuan yang menjadi selingkuhan Damian.
Dalam kehancuran, Viera tidak memilih menangis... ia memilih berdiri tanpa goyah.
Ketika cinta baru datang tanpa paksaan, dan pembalasan berjalan tanpa teriakan... siapa yang benar-benar menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 1.
Viera selalu tahu bagaimana cara tersenyum dengan tepat, cukup untuk membuat orang lain yakin bahwa hidupnya berjalan baik-baik saja.
Di pesta ulang tahun pernikahan kelima mereka, Damian berdiri di sampingnya mengenakan setelan gelap dengan potongan mahal. Tangannya melingkar ringan di pinggang Viera, gestur yang terlihat intim, namun terasa kosong bagi Viera yang berada di dalamnya.
“Damian dan Viera pasangan ideal,” seseorang berbisik kagum.
Viera mendengarnya, Damian juga. Namun hanya Viera yang tahu, tangan itu dingin.
“Apa kamu lelah?” tanya Damian sambil tersenyum ke arah tamu lain.
“Tidak,” jawab Viera otomatis.
Ia selalu menjawab begitu.
Setelah acara selesai, mereka pulang dengan mobil yang sunyi. Tidak ada pertengkaran, tidak ada percakapan berarti. Kesunyian adalah bahasa yang paling sering mereka gunakan.
Di rumah, Damian melepas jas dan masuk ke kamar mandi tanpa berkata apa pun. Viera berdiri di depan cermin, menatap wajahnya sendiri.
Ia cantik, terawat dan mandiri. Namun ada sesuatu yang terasa… kurang. Dan kekurangan itu tidak pernah berani ia sebutkan dengan lantang, dia belum bisa memberikan anak pada suaminya.
Banyak orang yang sering bertanya, membuatnya sedikit merasa rendah diri sebagai seorang istri.
“Sudah berapa tahun menikah?”
“Kok, belum punya anak?”
Pertanyaan itu selalu datang dengan nada ramah, seolah bukan pisau kecil yang berulang kali ditusukkan ke dada Viera.
“Kami hanya belum diberi,” jawab Viera tenang.
Sementara Damian hanya mengangguk pelan, dia tidak pernah membela Viera.
Malam itu Viera membuka laptop, membaca artikel tentang fertilitas, program bayi tabung.
Ia hanya berpikir, kalau ini bisa diusahakan... kenapa tidak menjalaninya?
“Kita bisa coba IVF.”
Kalimatnya keluar dari mulut Viera di meja makan pagi itu, di antara dua piring yang nyaris tak disentuh.
Damian mengangkat kepala. “Bayi tabung?”
Viera mengangguk. “Aku sudah cek rumah sakit, reputasinya bagus.”
Damian diam cukup lama.
“Apa kamu yakin?” tanyanya akhirnya.
Viera menatap Damian dengan tatapan tegas. “Aku lelah menunggu sesuatu yang tidak datang dengan sendirinya, dan aku lelah seluruh keluargamu menekanku.”
Damian akhirnya mengangguk perlahan. “Baik.”
Di rumah sakit ruangan fertilitas, suasana selalu terasa steril dan dingin. Bau antiseptik, dinding putih, dan wajah-wajah penuh harapan yang diselimuti kecemasan. Viera duduk di ruang tunggu dengan tangan saling bertaut di pangkuannya.
Sudah dua tahun terakhir, Viera dan Damian menjalani berbagai pemeriksaan. Mulai dari terapi hormon, tes lanjutan, hingga konsultasi panjang yang sering berakhir dengan kalimat yang sama. “Kita masih bisa mencoba.”
Kalimat itu terdengar seperti harapan, tapi juga bisa berarti penantian yang tak pasti.
“Secara medis, tidak ada masalah besar,” ujar Dokter mereka, seorang wanita paruh baya dengan suara tenang. “Namun mengingat usia dan riwayat, program bayi tabung bisa menjadi pilihan terbaik.”
Viera menoleh ke Damian, ia menunggu reaksi suaminya. Dulu, Damian selalu yang paling antusias. Pria itu yang pertama kali menggenggam tangan Viera, mengatakan bahwa mereka akan melewati semuanya bersama.
Hari ini, Damian hanya mengangguk singkat. “Kalau itu yang terbaik.”
Tidak ada pelukan dan tidak ada senyum meyakinkan.
Viera memaksakan senyum. “Baiklah, kami siap.”
Dokter berbicara tentang hormon, jadwal, prosedur. Viera mencatat dengan teliti. Damian duduk di sampingnya, sesekali pria itu melihat jam.
“Kamu buru-buru?” tanya Viera.
“Ada meeting mendadak,” jawab Damian.
Meeting, selalu meeting. Viera tak mengatakan apapun lagi, untung saja proses bayi tabung pun dimulai. Suntikan, pemeriksaan. Saat selesai, tubuh Viera mulai lelah tapi hatinya justru penuh harap.
Viera masih percaya, cinta yang tenang adalah bentuk cinta paling dewasa.
Dalam perjalanan pulang, Damian lebih banyak sibuk dengan ponselnya. Jari-jarinya menari cepat di layar, wajahnya fokus. Viera sempat melirik sekilas, ada nama kontak yang muncul tidak ia kenal.
“Siapa?” tanyanya ringan.
“Rekan kerja,” jawab Damian cepat.
Viera hanya mengangguk.
Malam itu, apartemen mereka kembali sunyi.
Damian pulang hampir tengah malam, Viera terbangun saat mendengar suara pintu. Ia menoleh, melihat suaminya melepas jas dan menggantungnya dengan rapi.
“Kau belum tidur?” tanya Damian.
“Aku tertidur sebentar, kau sudah makan malam?”
“Aku sudah makan di luar.”
Dengan siapa?
Pertanyaan itu mengendap di tenggorokannya, tidak bisa keluar.
Damian masuk kamar mandi, suara air mengalir terdengar jelas di keheningan malam. Viera menatap langit-langit kamar, merasakan sesuatu yang tidak bisa ia beri nama.
Ia tidak cemburu, tidak juga curiga. Setidaknya, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini normal. Bukankah pernikahan memang berubah seiring waktu?
Namun ada malam-malam ketika Viera merindukan versi Damian yang dulu. Yang menatapnya seolah ia adalah pusat dunia, yang berbicara tentang masa depan dengan mata berbinar.
Kini, Damian lebih sering menatap layar ponsel daripada wajahnya.
Saat Damian akhirnya berbaring di sampingnya di atas ranjang, jarak di antara mereka terasa lebih lebar dari ukuran ranjang.
“Kita akan baik-baik saja,” kata Damian tiba-tiba.
Viera menoleh. “Apa?”
“Program bayi tabung itu, jangan terlalu memikirkannya.”
Viera tersenyum kecil. “Aku tidak memikirkannya berlebihan.”
Padahal ia memikirkannya setiap waktu, tentang tubuhnya yang terasa gagal. Tentang tatapan orang-orang padanya karena belum juga hamil, tentang pertanyaan yang selalu muncul di setiap jamuan makan keluarga. Kapan punya anak?
Ia memejamkan mata, Damian mematikan lampu. Gelap menyelimuti kamar, tapi pikiran Viera tetap terang.
Pagi itu, cahaya matahari menyelinap masuk melalui jendela besar apartemen mereka di pusat kota. Tirai tipis berwarna gading bergoyang pelan tertiup angin, menebarkan bayangan lembut ke lantai marmer yang mengilap. Dari dapur, aroma kopi hitam memenuhi ruangan.
Damian sudah berdiri di sana, mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung rapi. Jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangannya. Rambutnya disisir sempurna, seperti biasa. Tidak ada satu detail pun yang terlewat. Suaminya selalu begitu rapi, terkontrol, dan nyaris tanpa cela.
“Kau bangun lebih pagi,” ujar Viera sambil melangkah mendekat.
Damian menoleh, tersenyum singkat. Senyum yang tampak tulus, tapi entah mengapa terasa seperti kebiasaan. “Aku ada meeting pagi ini.”
Viera mengangguk. Ia mengambil cangkir kopi dari tangan Damian, jari mereka bersentuhan sesaat. Hangat dan familiar, namun tidak lagi menggetarkan.
Tiga tahun pertama pernikahan mereka berjalan seperti halaman majalah gaya hidup, makan malam romantis, liburan ke luar negeri, pesta-pesta elegan, dan foto-foto yang selalu terlihat bahagia. Viera pernah berpikir, jika kebahagiaan punya bentuk visual, maka hidupnya adalah representasi yang sempurna.
Namun dua tahun terakhir, ada sesuatu yang berubah. Bukan pertengkaran, bukan teriakan. Justru sebaliknya, keheningan yang terlalu rapi.
“Jangan lupa, hari ini kita ada janji dengan dokter lagi,” ujar Viera, suaranya lembut tapi mengandung harap yang disembunyikan.
Damian berhenti menuang susu ke kopinya, hanya sepersekian detik. Lalu ia kembali bergerak seolah tak terjadi apa-apa. “Tentu, aku ingat.”
Jawaban itu terdengar benar, tapi tidak meyakinkan.
Viera tidak mengatakan apa pun lagi. Ia hanya duduk di kursi makan, memperhatikan punggung suaminya. Dulu, pemandangan itu selalu membuatnya merasa aman. Sekarang, ia merasa seperti sedang melihat seseorang yang perlahan menjauh, tapi tetap berada di ruangan yang sama.
Setelah sarapan Damian mencium kening Viera, kebiasaan yang tak pernah ia lewatkan. “Aku mungkin pulang agak malam.”
“Lembur lagi?” tanya Viera.
“Bisa jadi.”
Tidak ada penjelasan lebih lanjut, tidak ada janji akan cepat pulang. Viera tersenyum dan mengangguk, seperti biasa.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti rutinitas yang tertata rapi, Damian semakin sering pulang larut. Kadang dengan alasan meeting, kadang perjalanan bisnis mendadak.
Viera berhenti bertanya terlalu banyak, ia sudah belajar membaca bahasa tubuh Damian. Nada suara pria itu saat tak ingin diganggu, dan keheningan diantara kata-kata mereka saat bicara.
Ia mulai merasa sendirian, meski statusnya seorang istri.
Suatu sore saat ia merapikan jas Damian sebelum laundry, sebuah aroma asing tercium. Bukan parfum Damian, bukan juga bau kantor.
Wangi itu manis, dan feminin.
Viera membeku sesaat, tangannya menggenggam kain jas itu lebih erat. Jantungnya berdegup tidak nyaman.
Mungkin hanya imajinasinya.
Ia memasukkan jas itu ke dalam mesin cuci, menutup pintu, lalu bersandar di dinding. Napasnya terasa berat.
Viera menertawakan dirinya sendiri, ia tidak ingin menjadi perempuan yang mencurigai suaminya tanpa bukti. Namun malam itu, Viera menangis tanpa suara di kamar mandi. Air shower menutupi isak yang ia tahan. Bukan karena perselingkuhan, melainkan karena perasaan kehilangan yang tidak bisa ia jelaskan.
Ia merasa seperti sedang hidup di dalam rumah yang indah, tapi perlahan retak. Retaknya halus nyaris tak terlihat, namun cukup untuk membuat udara di dalamnya terasa sesak.
Viera menghapus air mata, menatap pantulan dirinya di cermin.
“Aku hanya lelah,” gumamnya.
Ia belum tahu, bahwa apa yang ia rasakan bukan sekadar kelelahan. Itu adalah awal dari kehancuran yang akan mengubah seluruh hidupnya.