Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33.
Darrel terdiam sejenak, menatap mata Vira yang berbinar. Dia merasakan kehangatan dari sentuhan tangan Vira. Dan menyadari bahwa dirinya mulai merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar teman terhadap Vira.
"Sama-sama. Saya juga seneng banget bisa jalan bareng kamu," jawab Darrel dengan nada lembut. "Zayn dan Zoey juga pasti sangat senang."
Vira tersenyum mendengar jawaban Darrel. Ia merasa lega bahwa Darrel juga merasakan hal yang sama.
"Ehm... kalau gitu, saya duluan ya, Pak," ujar Vira sambil melepaskan tangannya dari tangan Darrel. "Sampai jumpa lagi."
"Kamu juga hati-hati, ya," balas Darrel.
Vira kemudian berjalan menuju motornya dan menghidupkan mesin. Namun, motor itu tidak mau menyala. "Astaga, kenapa aku lupa sih, kalau kehabisan bahan bakar?" ucapnya sambil menepuk keningnya menyadari kecerobohannya.
Darrel datang menghampiri Vira bersama si kembar. "Kenapa, Vira? Motornya nggak mau nyala? Kamu lupa ya, kalau motormu kehabisan bahan bakar?"
"Hehehe, iya, Pak." Vira tersenyum meringis.
Darrel berpikir sejenak. "Ya sudah, kamu tunggu di sini. Biar saya cari penjual eceran dulu," ujarnya.
"Jangan, Pak! Nggak usah repot-repot. Nanti saya bisa naik ojek online aja," tolak Vira.
"Nggak apa-apa, Vira. Kasihan kamu kalau harus nunggu ojek online di sini. Apalagi ini sudah mau sore," kata Darrel.
"Tapi..."
"Sudah, nggak usah khawatir. Aku nggak lama, kok," potong Darrel. "Zayn, Zoey, kalian tunggu di sini sama Kak Vira, ya. Papa cari penjual bahan bakar eceran dulu."
Zayn dan Zoey mengangguk patuh. Darrel kemudian berlari keluar dari area parkir untuk mencari penjual bahan bakar eceran.
Vira merasa terharu dengan kebaikan Darrel. Ia tidak menyangka, Darrel akan rela repot-repot untuk membantunya.
Setelah beberapa menit menunggu, Darrel kembali dengan membawa sebotol bahan bakar. Dia menuangkan bensin itu ke tangki motor Vira. Setelah selesai, Vira mencoba menyalakan motornya. Motor itu pun menyala dengan lancar. Vira tersenyum lega dan mengucapkan terima kasih pada Darrel.
"Makasih banyak ya, Pak Darrel. Saya nggak tahu deh, kalau nggak ada Bapak," ujar Vira tulus.
"Sudah, santai saja," balas Darrel dengan tersenyum canggung. "Lain kali jangan lupa isi bahan bakarnya, ya."
Vira tertawa kecil. "Iya, deh, Pak. Maaf ya, udah merepotkan."
"Nggak apa-apa, kok," kata Darrel.
Terjadi keheningan sesaat. Darrel dan Vira saling bertatapan, tetapi tidak ada yang berani memulai pembicaraan.
"Ehm... ya udah, kalau begitu saya duluan ya, Pak," kata Vira akhirnya memecah keheningan. "Dadah Zayn, Zoey! Sampai ketemu lagi, ya!"
"Oh, iya. Hati-hati di jalan," balas Darrel.
"Dadah, Kakak Vira!" jawab Zayn dan Zoey serempak.
Vira tersenyum, lalu memakai helmnya dan menaiki motornya. Ia melambaikan tangan ke arah Darrel sebelum akhirnya meninggalkan area parkir.
Darrel terpaku menatap kepergian Vira. Hingga suara Zoey membuatnya tersentak. "Papa, ayo pulang," ajak Zoey seraya menarik celananya.
"Oh iya," Darrel segera mengajak Zayn dan Zoey menuju ke tempat motornya terparkir.
Setela memastikan kedua anaknya duduk dengan nyaman, Darren lantas membawa motornya meninggalkan halaman parkir mall tersebut.
.
.
.
Suasana makan malam di kediaman Papa Barra kali ini dengan formasi lengkap. Biasanya sangat jarang keluarga itu bisa menikmati makan malam bersama. Hanya Mama Risa dan Vira yang sering makan malam bersama. Maka malam itu, ia melayani sang suami dan anak-anaknya dengan senang hati.
"Gimana tadi di kantor, Pa?" tanya Mama Risa lembut sambil meletakkan nasi di piring Papa Barra.
"Seperti biasa, Ma. Banyak kerjaan dan meeting ini itu," jawab Papa Barra sambil tersenyum. "Tapi Papa seneng, proyek baru kita berjalan lancar."
"Syukurlah kalau begitu," sahut Mama Risa.
Vino, kakak Vira, ikut menimpali. "Kasus yang Vino tangani juga makin numpuk aja, Pa. Kayaknya Vino butuh asisten baru, deh," ucapnya sambil terkekeh.
"Wah, bagus dong, kalau begitu," kata Papa Barra bangga. "Berarti Kakak makin dikenal sebagai pengacara yang hebat."
"Ya, lumayanlah, Pa, buat makan sehari-hari," jawab Vino merendah.
Mama Risa kemudian menoleh ke arah Vira. "Adik, kamu gimana? Sibuk apa aja seharian ini?"
"Hahh...?" Vira yang sedari tadi hanya diam mendengarkan, tiba-tiba merasa gugup. Pipinya merona merah. Ia tampak salah tingkah.
"E-eh... anu, Ma... biasa aja, kok," jawab Vira terbata-bata. "Nggak ada yang spesial."
"Masa sih? Mama lihat tadi Adik pulang sambil nyanyi dan senyum-senyum sendiri. Pasti ada sesuatu, ya," goda Mama Risa.
Vira semakin salah tingkah. Ia menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah.
"Jangan-jangan dia lagi kasmaran, Mah," timpal Vino sambil tersenyum jahil. "Siapa tahu saja dia lagi deket sama pengusaha muda yang sukses."
"Apaan sih, Kak Vino," elak Vira. "Nggak ada siapa-siapa, kok."
"Yakin, nih?" goda Vino lagi. "Atau jangan-jangan... sama klien Papa?" Vino tertawa menggoda.
Papa Barra yang sedari tadi hanya memperhatikan, akhirnya ikut bertanya. "Benar, Adik lagi deket sama cowok? Siapa namanya? Kenalin dong sama Papa. Siapa tahu bisa jadi partner bisnis."
Vira semakin panik. Ia tidak tahu harus menjawab Ia merasa terjebak dalam situasi yang sangat tidak nyaman. Tiba-tiba, terdengar suara ponsel berbunyi. Sebuah pesan masuk ke ponsel Vira dan tertera nama "Darrel" di layar ponselnya.
Vira segera mengambil ponselnya dengan cepat. Ia juga menghabiskan makannya dengan terburu-buru. Apa yang dilakukan Vira tak luput dari pengamatan Vino, Mama Rissa, dan Papa Barra. Dalam benak mereka bertanya-tanya ada apakah gerangan yang terjadi?
"Aku sudah selesai," ucap Vira seraya berdiri lalu membawa piring bekas ke wastafel. Setelahnya ia bergegas pergi ke kamarnya.
"Ada apa dengan putri kita, Ma?" Namun, Mama Risa hanya menggeleng seraya mengangkat bahunya tanda tak tahu.