hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘
Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.
Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.
kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 Identitas yang Tersembunyi
Setelah kilasan ingatan masa depan itu menghantamnya, Safira terdiam cukup lama di sudut kamar. Ia menatap pantulan dirinya di cermin—wajah yang tertutup riasan tebal dan pakaian minim yang sebenarnya tidak pernah ia sukai. Itu semua saran Maya, katanya agar terlihat "menarik ,padahal tujuannya hanya untuk membuat Safira terlihat seperti badut di mata orang lain.
"Cukup," bisik Safira pada dirinya sendiri. "Mulai detik ini, tidak akan ada lagi Safira yang mengemis perhatian, tidak ada lagi Safira yang haus kasih sayang. Jika kalian menganggapku tidak ada, maka aku akan menganggap kalian mati."
Saat ia sedang menyusun rencana untuk mengamankan aset-asetnya sebelum benar-benar keluar dari rumah itu, ponselnya bergetar. Nama 'Kak Andi' tertera di layar.
Telepon
"Halo, Kak Andi? Ada apa?" tanya Safira langsung.
"Halo, Fira. Syukurlah kamu angkat. Apa kabar?" suara di seberang sana terdengar sedikit cemas.
"Aku baik, Kak. Apa ada masalah di sana?"
"Begitulah. Ada sedikit kendala operasional di cabang baru. Kapan kamu punya waktu untuk mampir ke kantor pusat?"
Safira melirik kalender di meja belajarnya. "Besok sore aku ke sana. Pastikan semua laporan sudah siap di meja."
"Siap, Bos. Kakak tunggu besok. Terima kasih, Fira."
Telepon Berakhir
Tidak ada satu pun anggota keluarga Maheswara yang tahu bahwa Safira adalah pemilik dari jaringan kafe dan restoran mewah yang sedang naik daun. Bisnis itu ia rintis sejak usia 15 tahun menggunakan uang saku pemberian kakek dan neneknya dari pihak ibu.
Selama tinggal di Kota B bersama kakek-neneknya, Safira adalah cucu kesayangan yang bergelimang harta. Namun, karena merindukan ayahnya, ia memutuskan pindah ke kota J. Ia pikir dengan memberikan kasih sayang, ia akan mendapatkan hal yang sama. Ternyata, ia hanya memberikan hatinya untuk diinjak-injak.
Di Meja Makan
Suasana ruang makan keluarga Maheswara tampak hangat seperti biasa—bagi mereka, bukan bagi Safira.
"Pa, Kak Fira mana? Kok dia nggak ikut makan malam?" tanya Maya dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin, padahal matanya berkilat senang.
"Sudahlah, biarkan saja. Paling sedang bersembunyi di kamar, menunggu kita menjemputnya. Cari perhatian seperti biasa," dengus Bima sambil memotong steak-nya.
"Tapi kan kasihan, Pa. Kalau Kak Fira lapar gimana? Nanti dia sakit," ujar Maya lagi, memasang wajah memelas yang palsu.
Raga, yang mulai merasa terganggu, memanggil kepala pelayan. "Bi Asih! Panggil anak itu ke sini sekarang!"
Bi Asih segera berlari menuju kamar Safira. Namun, saat pintu diketuk, jawaban yang ia terima sungguh mengejutkan.
"Bi, bilang pada Papa, aku tidak akan ikut makan malam. Kepalaku pusing. Tolong bawakan saja makanan ke kamar," ucap Safira dari balik pintu dengan nada datar yang dingin.
Bi Asih kembali ke ruang makan dengan wajah pucat. "Maaf, Tuan... Nona Safira bilang dia kurang enak badan dan ingin makan di kamar saja."
Bima tertawa mengejek. "Tuh, kan! Baru juga diomongin langsung keluar jurus pura-pura sakitnya."
"Ya sudah, biarkan dia membusuk di kamar. Kamu kembali ke dapur, Bi," perintah Raga tanpa rasa khawatir sedikit pun. Mereka lanjut makan dengan riang, seolah-olah tidak ada satu anggota keluarga pun yang tengah menderita di atas sana.
Keesokan Harinya
Sore itu, Safira memutuskan untuk berubah total. Ia mengenakan hoodie hitam oversize dan hot pants yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Rambut panjangnya yang sering berantakan ia kuncir kuda dengan rapi. Tidak ada lagi mekap tebal yang menjijikkan; hanya wajah polos yang sebenarnya sangat cantik dan elegan.
Saat menuruni tangga menuju pintu keluar, ia mendapati Bima dan teman-temannya sedang berkumpul di ruang tengah. Di sana juga ada Nathan, pria yang selama ini dikejar-kejar Safira hingga harga dirinya jatuh ke titik terendah.
Dulu, Safira pasti akan langsung menghampiri mereka, menggelayuti lengan Nathan, dan memohon perhatian. Namun sekarang, Safira berjalan lurus melewati mereka seolah-olah mereka tak ada di sana.
Bagas, salah satu teman Bima, sampai tersedak minumannya. "Wah, ada apa nih, Bim? Nggak biasanya adik lo nggak nempel ke Nathan."
"Iya, eh... lihat tuh penampilannya. Tumben nggak kayak tante-tante atau badut pasar malam," timpal Mufti dengan nada heran.
Bima mendengus, meski dalam hati ia juga merasa aneh dengan perubahan sikap Safira yang tiba-tiba acuh. "Halah, paling itu trik baru buat narik perhatian. Dan inget ya, dia bukan adik gue."
Sementara itu, Nathan tetap diam. Matanya tidak lepas dari punggung Safira yang menghilang di balik pintu. Ada sesuatu yang berbeda. Tatapan Safira tadi saat tak sengaja beradu dengannya tidak ada lagi binar cinta yang dia liat dari mata itu. Hal itu secara aneh membuat hati Nathan merasa tidak nyaman.
...****************...
Guyssss jangan lupa like nya ya, kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti, biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas😘😘