Di ambang keruntuhan Majapahit dan fajar menyingsingnya Islam di Nusantara, seorang pemuda eksentrik bernama Satya Wanara berkelana dengan tingkah laku yang tak masuk akal. Di balik tawa jenaka dan tingkah konyolnya, ia membawa luka lama pembantaian keluarganya oleh kelompok rahasia Gagak Hitam. Dibekali ilmu dari seorang guru yang lebih gila darinya, Satya harus menavigasi dunia yang sedang berubah, di mana Senjata bertemu doa, dan pedang bertemu tawa.
Daftar Karakter Utama:
Satya Wanara (Raden Arya Gading): Protagonis yang lincah, konyol, namun mematikan.
Ki Ageng Dharmasanya: Ayah Satya, Panglima Telik Sandi Majapahit (Almarhum).
Nyai Ratna Sekar: Ibu Satya, keturunan bangsawan yang bijak (Almarhumah).
Eyang Sableng Jati: Guru Satya yang konyol dan sakti mandraguna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror Kamajaya Sungsang: Jejak Nista di Sekar Wangi part 2
Udara di dalam rumah Pak Lurah yang tadinya hangat tiba-tiba berubah menjadi sedingin es. Lampu minyak di atas meja bergetar hebat sebelum akhirnya apinya berubah warna menjadi hijau kebiruan. Dari luar rumah, terdengar suara ribuan serangga yang mendengking memekakkan telinga, disusul dengan suara benda-benda berat yang jatuh menghantam atap rumah.
"Masuk ke dalam kamar, Nyai! Cepat!" perintah Satya dengan nada tegas yang tak terbantahkan.
Ratih Gayatri yang ketakutan segera berlari masuk, sementara Satya berdiri di tengah ruangan. Dari sela-sela lantai bambu, muncul uap hitam pekat yang berbau busuk—campuran antara bangkai dan belerang. Inilah Teluh Kala Peteng yang dikirimkan oleh Ki Sabrang Bolong. Uap itu perlahan membentuk tangan-tangan hitam yang mencoba menggapai kaki Satya.
Satya tetap tenang. Ia tidak mencabut senjatanya. Ia hanya bersedekap, menutup mata, dan merapalkan sebuah Doa perlindungan diri yang diajarkan oleh gurunya.
Tiba-tiba, tubuh Satya memancarkan aura keemasan yang menyilaukan. Saat uap hitam itu menyentuh cahaya tersebut, terdengar suara jeritan melengking yang memilukan. Teluh itu hancur berantakan sebelum sempat melukai siapa pun. Di kejauhan, di dalam gua, Ki Sabrang Bolong memuntahkan darah segar karena serangan gaibnya berbalik menghantam dirinya sendiri.
Dengan tubuh yang lunglai dan penuh luka dalam, Ki Sabrang Bolong merayap menuju bagian terdalam gua yang tertutup air terjun darah. Di sana, bersemayam sosok yang sangat mengerikan: Eyang Kala Drubiksa, sesosok siluman genderuwo bermata satu yang memiliki taring mencuat dan tubuh sebesar raksasa.
"Ampun, Guru... hamba gagal," rintih Ki Sabrang sambil bersujud di kaki sang siluman. "Ada seorang pemuda... dia mematahkan teluh hamba dengan sekali kedipan mata."
Eyang Kala Drubiksa membuka matanya yang merah membara. Ia mengendus udara, mencoba merasakan sisa-sisa energi yang menempel pada tubuh muridnya. Tiba-tiba, wajah sang siluman yang tadinya penuh amarah berubah menjadi tegang, bahkan tersirat sedikit kegentaran.
"Bodoh!" guntur suara sang siluman menggetarkan seisi gua. "Kau tidak tahu siapa yang kau hadapi? Pria itu adalah Arya Gading, yang oleh para pendekar dunia bawah dijuluki sebagai Satya Wanara!"
Ki Sabrang tertegun. "Apakah dia sehebat itu, Guru?"
"Dia bukan manusia sembarangan!" raung Kala Drubiksa. "Empat tahun lalu, namanya menggetarkan seantero tanah Jawa. Dia pernah mengobrak-abrik pasukan elite Majapahit seorang diri! Puluhan pendekar pilih tanding yang diutus istana tumbang seperti dahan kering di tangannya."
Sang siluman kemudian menceritakan sejarah kelam yang menyelimuti nama Arya Gading. Empat tahun silam, Arya Gading dijadikan buronan nomor satu Majapahit atas tuduhan perampokan keji. Padahal, itu semua adalah fitnah busuk yang dirancang oleh Tumenggung Gajah Pradoto, seorang pejabat korup yang haus kekuasaan.
"Gajah Pradoto membunuh orang tua pemuda itu karena sebuah rahasia besar," lanjut Kala Drubiksa dengan suara merendah. "Ayah Arya Gading adalah Ki Ageng Dharmasanya, sang Panglima Telik Sandi (Intelijen) Majapahit. Beliau memegang gulungan rahasia tentang pengkhianatan pejabat-pejabat tinggi yang bekerja sama dengan pihak asing. Demi membungkam kejujuran itu, Dharmasanya dan istrinya, Nyai Ratna Sekar, dihabisi secara licik."
Ki Sabrang Bolong gemetar mendengar silsilah lawan yang baru saja ia tantang.
"Dan yang lebih berbahaya dari dirinya sendiri," tambah sang siluman sambil menatap ke arah Desa Sekar Wangi, "adalah bungkusan mori di punggungnya itu. Di dalamnya terdapat Toya Emas Angin Langit, senjata pusaka warisan pendekar legendaris Eyang Sableng Jati. Toya itu mampu membelah badai dan menghancurkan gunung."
Eyang Kala Drubiksa bangkit dari duduknya, membuat tanah bergetar. "Kembalilah, Sabrang. Sembunyikan auramu. Jangan pernah menampakkan diri di hadapannya sampai aku menemukan cara untuk meredam kesaktian Toya Emas itu. Jika kau nekat, bukan hanya kau yang akan musnah, tapi hutan ini pun akan terbakar oleh kesaktiannya."
Sementara itu, di Sekar Wangi, suasana perlahan kembali tenang. Satya kembali duduk di lincak kayu, namun tangannya kini mengelus lembut bungkusan kain mori di sampingnya. Ia bisa merasakan pusakanya bergetar, seolah haus akan pertarungan yang lebih besar.
Ratih Gayatri keluar dari kamar dengan langkah ragu-ragu, melihat Satya yang tampak sedang melamun menatap kegelapan.
"Kang Mas... apakah bahaya itu sudah pergi?" tanyanya lirih.
Satya menoleh, tersenyum tipis yang menyembunyikan luka masa lalunya yang mendalam. "Untuk saat ini, ya. Tapi bayangan yang sebenarnya belum benar-benar menghilang. Tidurlah, Nyai. Esok, matahari akan terbit dengan membawa cerita baru."
Satya tahu, perjalanannya di Desa Sekar Wangi bukan sekadar kebetulan. Nama Gajah Pradoto kembali terngiang di telinganya, membangkitkan ingatan akan darah dan api di masa lalu.
Keesokan harinya, Desa Sekar Wangi terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Meskipun fajar baru saja menyingsing, Satya sudah bersiap di halaman rumah Pak Lurah. Di punggungnya, kain mori putih itu terikat erat.
"Kang Mas, benarkah Anda harus pergi ke Hutan Larangan itu sekarang?" Ratih Gayatri berdiri di ambang pintu, matanya menyiratkan kecemasan yang tak bisa disembunyikan.
Satya menoleh, lalu bukannya menjawab dengan wibawa, ia justru nyengir lebar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aduh, Nyai... perut saya sebenarnya masih mau nasi jagung buatanmu. Tapi kalau bau busuk di hutan itu tidak dibersihkan, nanti wedang jahenya jadi rasa kemenyan. Kan tidak enak?"
Ratih tersenyum kecil melihat tingkah laku Satya yang tiba-tiba berubah menjadi agak slengean. Satya pun melambaikan tangan dengan santai dan melangkah ringan menuju rimbunnya hutan.
Baru saja Satya memasuki area hutan yang lebat, udara mulai terasa pengap. Langkahnya yang santai tiba-tiba terhenti. Dari balik pohon-pohon besar, muncul lima orang pria dengan wajah bengis. Mereka adalah para pengikut setia Ki Sabrang Bolong, para pendekar aliran hitam yang selama ini ikut mencuri di desa dengan bantuan ilmu hitam.
"Berhenti di situ, Bocah Bau Kencur!" gertak salah satu dari mereka yang bertubuh tambun dengan tato ular di lengannya. "Kau sudah berani melukai Gusti Ki Sabrang. Hari ini, kami akan membawa kepalamu sebagai obat lukanya!"
Satya tidak menunjukkan wajah tegang. Ia justru duduk bersila di atas akar pohon yang besar, melepaskan bungkusan kain morinya dan meletakkannya di pangkuan seolah itu adalah bantal.
"Aduh, Paman-Paman sekalian... pagi-pagi begini sudah teriak-teriak. Apa tidak takut tenggorokannya sakit?" tanya Satya sambil mengorek telinganya dengan jari kelingking. "Kepala saya ini keras, Paman. Nanti parang Paman yang patah, kan sayang, beli parang sekarang mahal."
"Jangan banyak bicara! Serang dia!" teriak si pemimpin kelompok.
Aksi "Sableng" Sang Pendekar
Kelima orang itu menerjang serentak. Namun, Satya tidak berdiri. Dengan posisi masih duduk bersila, ia melakukan gerakan yang aneh.
Jurus Wanara Seta: Saat parang pertama mengincar lehernya, Satya justru menjatuhkan tubuhnya ke belakang seperti orang terjatuh dari kursi. Parang itu menebas angin. Bukannya bangun, Satya justru memutar tubuhnya di tanah layaknya gasing, menendang mata kaki dua pengeroyok hingga mereka terjungkal bersamaan.
Seorang musuh mencoba menusuk perut Satya dengan belati. Satya dengan santai menangkap pergelangan tangan pria itu, lalu menggunakan tangan musuh tersebut untuk memukul dahi rekan di sebelahnya. Pletak!
Saat si pria tambun menerjang dengan sundulan kepala, Satya melompat salto ke belakangnya. Ia mendarat dengan jongkok tepat di depan wajah pria itu, lalu dengan sengaja mengeluarkan bunyi dari mulutnya—Preeet!—yang membuat lawannya kaget setengah mati dan terjerembap ke semak berduri.
"Hahaha! Lihat itu, Paman! Tato ularmu sekarang seperti cacing kepanasan!" seru Satya sambil tertawa terbahak-bahak.
Melihat kawan-kawannya babak belur hanya dalam hitungan detik oleh pemuda yang bertingkah seperti orang gila, si pemimpin kelompok gemetar. "Kau... kau bukan manusia! Kau iblis!"
"Lho, tadi katanya saya bocah bau kencur? Sekarang jadi iblis? Yang konsisten dong, Paman," balas Satya sambil bangkit berdiri dan merapikan kain morinya.
Tiba-tiba, wajah Satya berubah drastis. Sifat sablengnya hilang seketika, digantikan oleh tatapan sedingin es yang mampu membekukan aliran darah.
"Katakan padaku," suaranya merendah, "di mana gua tempat Eyang Kala Drubiksa bersembunyi? Jika kalian jujur, kalian pulang dengan kaki yang masih utuh. Jika tidak... kalian akan merangkak sampai ke Majapahit."
Ketakutan yang luar biasa melanda mereka. Si pemimpin menunjuk ke arah tebing curam di balik air terjun hitam di utara hutan. "Di... di sana, Den! Dekat pohon beringin yang akarnya mengeluarkan darah!"
Satya mengangguk. "Bagus. Sekarang, lari. Dan ingat, mulai hari ini cari pekerjaan yang halal. Jualan cendol lebih terhormat daripada jadi kacung dukun cabul."
Setelah para preman itu lari kocar-kacir, Satya kembali menatap ke dalam hutan yang gelap. Getaran dari Toya Emas di punggungnya semakin kuat. Ia tahu, di ujung jalan sana, ia tidak akan lagi menghadapi kroco-kroco seperti tadi. Ia akan menghadapi orang orang yang lebih Sakti.
"Eyang Kala Drubiksa... mari kita lihat, apakah matamu itu cukup tajam untuk melihat maut yang datang menjemputmu," gumam Satya.