Meski sudah menikah, Nabila Rasmini tetap menjadi aktris ternama. Filmnya laku dan dia punya banyak fans. Namun tak ada yang tahu kalau Nabila ternyata memiliki suami toxic. Semuanya tambah rumit saat Nabila syuting film bersama aktor muda naik daun, Nathan Oktaviyan.
Syuting film dilakukan di Berlin selama satu bulan. Maka selama itu cinta terlarang Nabila dan Nathan terjalin. Adegan ciuman panas mereka menjadi alasan tumbuhnya api-api cinta yang menggebu.
"Semua orang bisa merasakan cemistry kita di depan kamera. Aku yakin kau pasti juga merasakannya." Nathan.
"Nath! Kau punya tunangan, dan aku punya suami. Ini salah!" Nabila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 - Adu Mabuk
Nathan tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya sedikit agar suaranya bisa terdengar jelas. “Malam ini aku ingin melupakan semuanya. Nggak mau mikir soal besok, soal gosip, atau soal dunia yang ribut.”
"Aku setuju,” jawab Nabila pelan. Mereka terus bergoyang mengikuti alunan musik yang lembut. Tak ada jarak di antara mereka, hanya kehangatan yang mengalir alami.
Nathan memutar Nabila perlahan. Gaun navy itu berkibar ringan, dan tawa Nabila kembali pecah. “Kau tahu?” katanya setelah putaran selesai. “Aku jarang tertawa begini. Biasanya aku harus menjaga image, menjaga sikap.”
“Lucu,” sahut Nathan. “Aku juga. Semua orang pikir hidupku sempurna. Aktor muda, karier naik, punya tunangan yang ‘ideal’. Tapi jujur saja… aku sering merasa kosong.”
Nabila menatapnya lebih dalam. “Kosong itu melelahkan. Aku sudah bertahun-tahun merasakannya. Semua orang melihatku sebagai Nabila yang kuat, elegan, sukses. Tapi mereka nggak tahu rasanya pulang ke rumah dan merasa sendirian.
Nathan terdiam, lalu mengangguk pelan. “Aku takut bilang ini ke siapa pun. Takut dibilang nggak bersyukur.”
“Aku juga,” Nabila tersenyum pahit. “Makanya aku minum, menari, tertawa. Supaya lupa sebentar.”
Mereka terus menari, saling berbagi potongan rahasia kecil, tentang mimpi masa kecil, ketakutan terdalam, dan hal-hal sederhana yang membuat mereka bahagia. Nathan bercerita ingin suatu hari bermain film yang benar-benar jujur, bukan sekadar laku. Nabila mengaku ingin bangun pagi tanpa rasa sesak di dada.
Di sudut VIP, suasana jauh berbeda. Zidan sudah membuka botol kedua. Wajahnya memerah, dasinya sudah entah ke mana. “Ayo! Kalau kau berani, habiskan ini!” tantangnya sambil mendorong gelas ke arah Indy.
Indy tertawa cekikikan, matanya mulai sayu. “Kau pikir aku takut? Aku sudah minum sebotol, Zidan. SEBOTOL!” serunya sambil menepuk dada.
“Itu kebetulan!” Zidan menuangkan minuman lagi. “Sekarang adu cepat!”
Indy langsung menenggak tanpa ragu. Cairan itu tumpah sedikit ke dagunya, tapi dia tak peduli. “Lihat! Lihat! Aku masih berdiri tegak!” katanya, lalu goyah sesaat.
Zidan tertawa terbahak sampai hampir jatuh dari sofa. “Kau lucu kalau mabuk, tahu nggak?”
“Kau juga! Mulutmu makin cerewet!” Indy menunjuk wajah Zidan, lalu tertawa lagi. “Eh, Zidan… kau itu sebenarnya baik ya. Sok nyebelin aja.”
Zidan terdiam sejenak, lalu mengangkat gelasnya. “Rahasia besar. Jangan bilang siapa-siapa.”
Mereka kembali minum. Botol demi botol berganti. Musik semakin keras, tawa mereka semakin lepas. Bahkan saat pelayan datang mengingatkan batas, Zidan hanya mengibaskan tangan. “Tenang! Kami profesional!”
Beberapa saat kemudian, Nathan dan Nabila kembali ke meja, wajah mereka berseri.
“Sudah cukup. Kita pulang,” ujar Nathan sambil meraih jaketnya.
Zidan menoleh dengan mata setengah terpejam. “Pulang? Kenapa pulang? Musiknya baru enak!”
“Indy, ayo,” ajak Nabila lembut. “Kau sudah mabuk.”
Indy memeluk botolnya. “Nggak. Aku masih sadar. Lihat… satu tambah satu itu… eh… dua!” katanya bangga.
Nathan menghela napas. “Kalian berdua benar-benar keras kepala.”
“Aku belum menang!” seru Zidan. “Aduannya belum selesai!”
Nabila dan Nathan saling pandang, lalu tertawa kecil. “Baiklah,” kata Nabila. “Kita beri mereka waktu."
Zidan dan Indy bersorak seolah menang lotre. Mereka kembali menenggak, bernyanyi sumbang, dan tertawa tanpa peduli sekitar.
Nathan mencondongkan tubuh ke Nabila. “Ayo, Nath! Kita pergi duluan saja. Mereka udah dewasa, bisa urus diri sendiri," bisiknya.
"Kau yakin?" tanya Nabila.
Nathan mengangguk. Dia dan Nabila beranjak meninggalkan dua managernya yang masih beradu minum alkohol.
"Aku rasa sudah cukup... Aku mulai kehilangan kesadaran..." racau Indy.
"Sama... Eh... Ayo kita pergi. Kita saling rangkul ya," ujar Zidan. Dia dan Indy berdiri sambil saling merangkul. Kemudian melangkah sempoyongan keluar dari klub. Mereka pergi ke kamar hotel Indy. Niatnya Zidan ingin mengantar saja. Namun setibanya di kamar, Indy menariknya untuk bergabung tidur ke atas ranjang.
billa dipenjara tidak papa menyelamatkan semua korban lukman gak akan lama nanti para saksi akan muncul sendiri.
modelan lukman kalau gak dead gak akan berhenti