....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
debat
...SELAMAT MEMBACA...
Nara menutup pintu rumahnya dengan pelan. Setelah itu ia berbalik, menatap bundanya yang duduk dengan sikap tenang di sofa, seolah pembicaraan mereka barusan tak berarti apa-apa.
“Bun, bunda apa-apaan sih, kenapa harus minta uang segitu banyaknya ke Om Victor?” ucap Nara tak percaya. Rahangnya mengeras, alisnya berkerut.
Bunda Amara menatap sekilas ke arah anaknya, lalu kembali memalingkan wajah.
“Sudahlah, Nara. Kamu jangan terlalu banyak bicara. Bunda pusing dengernya. Lagipula Pak Victor nggak keberatan.”
“Bukan masalah nggak keberatannya, Bun,” balas Nara cepat. Tangannya mengepal di sisi tubuh. “Tapi nggak enak. Kita kayak morotin Pak Victor.”
Nara menarik napas panjang, dadanya naik turun tak beraturan.
“Aku malu, Bun. Dia bakal jadi mertua aku, loh.”
“Ya anggap aja itu tanda ucapan maaf anaknya,” ucap Bunda Amara dengan nada tetap tenang.
“Tapi bunda tadi waktu di kamar bilang nggak mau jadi bahan omongan orang lain." suara Nara bergetar, matanya mulai memanas. “Takut dibilang nikah sama orang kaya cuma buat morotin uang mereka.”
“KAMU BISA DIAM NGGAK?!”
Teriakan itu meledak. Bahu Nara tersentak, jantungnya berdegup keras.
“Lagi pula nih ya,” lanjut Bunda Amara, rahangnya mengeras, “ini juga gara-gara kamu.”
“Kok salah aku sih?” tanya Nara heran. Ia menatap bundanya lurus, matanya berkaca-kaca.
“Kalau aja kamu nggak hamil, mungkin kamu nggak akan nikah dan masih bisa cari uang buat bunda,” ucap Bunda Amara tanpa ragu.
Nara terkekeh kecil, pahit. Tenggorokannya terasa perih.
“Jadi bunda anggap aku alat penghasil uang?"
“Kamu harusnya biasa aja,” jawab Bunda Amara datar. “Ini juga salah satu hutang budi kamu karena bunda udah ngerawat kamu.”
Nara menelan ludah saat kalimat berikutnya meluncur tajam.
“Dan ingat, ayah kamu mati gara-gara jemput kamu, dan bunda kehilangan orang yang bunda sayang gara-gara kamu.”
Air mata Nara jatuh tanpa bisa dicegah.
“Bun… bukan cuma bunda yang kehilangan,” suaranya melemah. “Aku juga kehilangan.”
Ia mengusap pipinya kasar, berusaha tetap berdiri tegak.
“Aku tau ini salah aku. Tapi seharusnya bunda bisa jadi ibu seperti ibu-ibu di luar sana yang berusaha jadi sosok ayah pengganti.”
“Jangan suka membanding-bandingkan bunda dengan ibu-ibu di luar sana,” potong Bunda Amara. “Mereka beda sama bunda.”
Nara tersenyum getir. Dadanya terasa kosong.
“Terserah bunda. Aku kecewa sama bunda” katanya pelan. “Aku ngerasa kayak barang yang harus dibayar pakai uang.”
Tanpa menunggu jawaban, Nara berbalik dan melangkah pergi meninggalkan bundanya.
Bunda Amara menatap kepergian anaknya. Wajahnya kosong, tangannya perlahan mengepal di pangkuan.
“Ya…” gumamnya hampir tak terdengar.
“Yang bunda inginkan memang kamu membenci bunda.”
Ia menghela napas panjang.
“Dengan begitu bunda bisa pergi dengan tenang.”
“Dan maaf… karena bunda terus berbuat jahat padamu.”
BUNDA AMARA MAU PERGI KEMANA TUHH? (AUTHOR)
★★★
Brakk.
Pintu kamar itu menutup dengan sempurna. Suaranya menggema singkat sebelum menyisakan sunyi. Nara bersandar di daun pintu, dadanya naik turun, napasnya belum sepenuhnya stabil. Kepalanya masih dipenuhi kata-kata bundanya.
Ia masih tak percaya—bundanya lebih mementingkan uang daripada dirinya.
Langkah Nara terdengar pelan saat ia berjalan menuju cermin. Ia berdiri tepat di depannya, menatap pantulan tubuhnya dengan saksama, dari wajah pucat hingga perutnya yang mulai membulat. Tangannya terangkat perlahan, menyentuhnya dengan gerakan hati-hati.
“Yang dibilang Pak Victor bener,” gumamnya pelan. “Kalau aku terus nunda pernikahan ini, orang-orang bakal mencemooh aku karena hamil di luar nikah.”
Bibirnya bergetar sesaat.
“Padahal kenyataannya memang begitu.”
Usapan lembutnya berhenti di perut. Mata Nara terpejam.
Ia berdoa dalam diam—meminta Tuhan melindungi dirinya dan anaknya dari apa pun yang mengintai mereka. Ia memohon agar janin itu selalu sehat, selalu aman, jauh dari luka yang terlalu dini dikenalnya.
Drtt… drtt…
Getaran itu memecah keheningan.
Nara menoleh ke arah atas ranjang. Ponselnya bergetar tanpa henti. Ia melangkah mendekat dan mengambilnya, sempat berpikir Tasya—atau mungkin pelanggan cake-nya. Namun nama di layar membuat sudut bibirnya langsung turun.
Raviel.
Wajah Nara seketika cemberut. Ia membiarkan ponsel itu terus berdering, menatap layar tanpa niat mengangkatnya. Dari seberang, seseorang berdecak kesal.
Karena merasa bosan dengan suara yang mengganggu, Nara akhirnya menerima panggilan itu.
“Apa sih,” ucapnya ketus.
“Kenapa kamu baru mengangkatnya, baby,” suara Raviel terdengar rendah dari seberang.
Nara tidak menjawab. Ia berjalan ke arah sofa dan duduk dengan tenang. Tangannya otomatis kembali mengelus perutnya, seolah hanya itu yang ingin ia perhatikan.
“Ara, kenapa kamu nggak jawab?” tanya Raviel, nadanya datar.
“Malas,” jawab Nara singkat.
Hanya terdengar desahan lelah dari sana.
“Lalu tadi kenapa kamu nggak mau natap aku?” lanjut Raviel.
“SSA,” ucap Nara pendek.
“SSA?” Raviel terdengar bingung.
“Suka-suka aku,” jawab Nara tanpa emosi.
Di seberang, Raviel menggeram pelan. Ia tak terbiasa dengan sikap ini—gadis yang beberapa hari lalu selalu menurut, kini terasa jauh lebih nakal.
“Baby, sejak kapan kamu berubah jadi begini?” suaranya terdengar frustrasi.
“Sejak tadi,” balas Nara santai.
Raviel menghela napas panjang. Rupanya begini rasanya menghadapi ibu hamil dengan suasana hati yang berubah-ubah.
“Baiklah,” katanya akhirnya. “Kamu udah makan?”
“Belum.”
“Mau makan nggak? Nanti aku jemput ke sana.”
“Nggak mau.”
“Kenapa?”
Nara menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap langit-langit.
“Rasanya aku pengen muntah kalau lihat wajah kamu.”
“Ara, yang bener aja,” Raviel terdengar makin frustrasi. Dari sekian banyak wanita yang tergila-gila padanya, Nara justru ingin muntah—itu terasa aneh, bahkan baginya.
“Udah ah,” ucap Nara datar. “Aku tutup dulu, babay.”
“Bab—”
Belum sempat Raviel melanjutkan, Nara sudah menutup telepon itu dengan cepat.
Di seberang, Raviel menghela napas kasar, kesal. Namun bibirnya justru melengkung tipis, terkekeh miring. Gadisnya memang semakin nakal.
Sementara itu, Nara masih duduk di sofa dengan wajah memberengut. Dulu, saat awal bertemu Raviel, ia merasa sungkan—bahkan selalu menuruti pria itu. Namun entah sejak hari ini, perasaan itu berubah menjadi muak.
Ia mengusap perutnya lagi.
“Mungkin bawaan bayi,” gumamnya pelan, lebih untuk menenangkan diri sendiri.