Rheyna Aurora adalah istri dari seorang pria yang cuek dan minim perhatian yang bernama Bagas Awangga.
Bagas bekerja sebagai Manager pada perusahaan milik sepupunya, Arlo Yudhistira adalah CEO perusahaan tersebut.
Arlo menaruh hati pada Rheyna sudah sejak lama….
Tak semudah itu hubungan Arlo dan Rheyna berjalan,karena Arlo adalah sepupu dari Bagas dan Arlo telah memiliki istri dan 2 orang putri…..
Akankah Rheyna ertahan dengan Bagas? Ataukah berpaling pada Arlo? Atau ada yang lain?
Selamat membaca dan selamat menikmati karya pertama saya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhecella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vano Ku II
Setelah kembali kerumah aku segera memberikan Vano obat, menidurkannya di tempat tidur sambil ku belai-belai rambutnya, kemudian menciumnya saat dia sudah mulai terlelap tidur.
Aku keluar kamar untuk kembali memompa ASI ku, merelaxkan tubuhku agar hasil pompanya tak berkurang. Aku nyalakan televisi menonton acara memasak, hingga kegiatan memompa pun selesai setelah 30menit berlangsung.
Aku mengambil buku yang biasa aku gunakan untuk menggambar, mengambil pensilku dan mulai merautnya hingga kembali runcing. Aku letakkan buku dan perlengkapan menggambarku di atas meja makan, menarik kursinya dan menyentuhkan bokongku pada kursi yang tak empuk itu.
Aku mulai melatih jari-jari dan tanganku, karena sudah lama tak memegang pensil untuk menggambar, melemaskan kembali agar dapat menari dengan indah di atas kertas gambar, seperti dulu saat aku masih memiliki banyak waktu untuk diriku sendiri dan hobby ku.
Aku mulai melukis wajah Vano, karena wajah itu yang tengah menari dipikiranku. Garis demi garis mulai aku torehkan, mengalir begitu saja seperti air yang mengalir dari gunung terasa sejuk di pikiranku.
“Non mau saya buatkan teh hangat atau susu hangat non?” Mbak Sari mengagetkan ku dengan pertanyaannya
“Duh mbak Sari ngagetin aja deh” jawabku sambil mengelus dada
“Hehehe maaf non, habis serius banget sih non” mbak Sari menertawakan kekagetanku
“Mbak kayaknya es susu campur kopi enak nih mbak” kataku sambil tersenyum dan memainkan alisku menariknya naik-naik
“Wah mau begadang nih non?”
“Ngelatih tangan buat gambar lagi nih mbak, sapa tau bisa membuahkan hasil mbak” kataku yang kembali menatap gambarku
“Semangat non” kata mbak Sari yang berjalan menuju dapur, dan aku kembali berkutat dengan gambarku.
“Silahkan non, kalau butuh apa-apa panggil saya aja non, saya lagi lipat-lipat baju di belakang kok non” mbak Sari menyerahkan es kopi susu dan menawarkan jika butuh bantuan bisa memanggilnya
“Makasih mbak, Mbak Sari istirahat aja dulu sudah jam delapan juga ini” aku menyuruh mbak Sari untuk beristirahat saja
“Iya non, saya kebelakang dulu kalau gitu” pamit mbak Sari, yang aku jawab dengan anggukan tanpa menoleh.
Setengah sembilan malam aku sudah menyelesaikan melukis wajah putraku tersayang. Meletakkan hasil gambarku di atas meja kerja Bagas dan kembali masuk ke kamarku.
Aku menatap wajah anakku yang sedang pulas tertidur, kemudian aku masuk ke kamar mandi untuk mengganti baju ku dengan daster kesayanganku dan mencuci muka serta menggosok gigiku.
Setelah selesai melakukan ritual membersihkan diri sebelum tidur, aku menghampiri Vano dan memberikannya susu agar dia tak terbangun karena haus. Aku memegang dahinya yang ternyata mulai terasa sedikit demam, ini baru sekitar dua jam setelah dia meminum obatnya, dan dia baru bisa meminum obatnya kembali pukul sebelas nanti. Aku khawatir dan gelisah, karena takut ketiduran aku sampai memasang alarm di ponselku agar aku bisa meminumkan obat Vano tepat waktu.
Hari ini Bagas pulang lebih cepat dari biasanya, pukul sepuluh malam ini dia sudah pulang biasanya dia baru akan pulang menjelang tengah malam.
Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, Bagas duduk di pinggiran tempat tidur dan menatap Vano.
“Sakit apa Vano mah?” Tanyanya yang tetap memandang Vano, entah seperti sedang memikirkan sesuatu
“Kata dokter disuruh lihat kondisinya tiga hari ini, kalau demamnya masih dia harus di bawa ke lab untuk di chek” kataku menjelaskan
“Segera pulih ya nak” ucapnya sambil membelai kepala Vano
“Kenapa masih panas gini badannya?” Tanyanya sedikit terkejut
“Iya nanti jam sebelas baru bisa minum penurun panasnya lagi, soalnya tadi baru minum jam tujuh, kata dokternya disuruh minumin empat jam sekali jika masih demam” kataku menjelaskan,
“Ada apa pah?” Tanyaku memberanikan diri
“Apanya?” Tanyanya bingung
“Apa pekerjaanmu ada masalah? Karena suah beberapa bulan ini kamu pulang sangat larut, bahkan hri libur pun kamu lebih banyak diluar rumah dari pada bersama kami” tanyaku padanya
“Gak ada, cuma lagi banyak kerjaan aja” jawabnya
“Aku merasa kamu semakin tak perduli pada kami” kataku semakin berani
“Gak usah aneh-aneh kalau mikir” jawabnya sedikit membentak, kemudian berjalan keluar kamar dan menyalakan televisi, merebahkan badannya pada sofa disana
Aku hanya bisa menghirup nafas dalam-dalam, membiarkan oksigen mengisi paru-paruku dengan leluasa, kemudian menghembuskannya perlahan, menahan air mataku yang ingin mengalir keluar. Fokusku saat ini hanya kesembuhan Vano.
Setelah meminumkan Vano obat, kemudian aku tertidur, karena aku juga harus sehat untuk bisa selalu merawat Vano.
Aku terbangun pukul tiga pagi untuk memberikan Vano obat, karena dia demam lagi. Setelah memberikan obat dan menidurkan Vano, aku keluar untuk mengambilkan Vano susu, aku berjalan melewati ruang TV tetapi aku tak melihat Bagas disana, kemanakah Bagas? Bahkan ini belum pagi tetapi dia sudah pergi, dan tanpa berpamitan denganku. Setelah mengambil susu di kulkas, aku berjalan menuju ruang tamu untuk melihat mobil Bagas yang ternyata memang Bagas pergi, sebab mobilnya pun tak ada digarasi.
***
Ini hari kedua Vano masih tetap demam, dan mulai berkurang porsi makan dan minum susunya. Jika seperti ini terus pasti Vano akan semakin lemas. Jika masih seperti ini terus aku harus membawanya kembali ke klinik esok pagi, itulah yang aku pikirkan.
Entah apa yang terjadi pada Bagas, karena telepon dari ku tidak ada yang dia angkat. Beberapa pesan yang aku kirimkan pun tak dia baca. Aku hanya ingin berbagi ke khawatiranku dengannya, karena Vano yang tak kunjung pulih.
‘Tuhan jika ini ujian untuk membuat ku naik kelas, aku akan ikhlas menerimanya. Atau jika ini adalah petunjukMu maka perjelaslah semuanya’
Ku pasrahkan hidupku pada sang penentu hidup dan matiku.
***
Hari ini jam delapan pagi aku sudah membawa Vano ke klinik untuk melakukan pengechekan di lab, karena sampai pagi ini demam Vano masih naik turun.
Bagas? Jangan ditanya karena semalam dia tak pulang kerumah dan semua telepon dan pesan yang aku kirimkan tidak ada yang di respon.
Setelah menunggu antrian sekitar 15 menit untuk pengechekan darah, aku dan Vano masuk ke ruang pengambilan sample. Aku menidurkan Vano sesuai arahan petugas pengambilan sample, aku memegang kaki Vano dan petugas yang lain membantuku untuk memegang tangan Vano. Suara tangis Vano pecah ketika jarum suntik itu menembus kulitnya, aku tak tega melihatnya menangis menjerit-jerit. Setelah selesai pengambilan sample aku langsung menggendong Vano dan menenangkannya,
“Bu ini nanti hasilnya keluar sekitar satu jam lagi, mau ditunggu atau ditinggal bu?” Tanya petugas itu
“Saya tunggu saja mbak” jawabku yang ingin segera mengetahui hasilnya
“Baik bu, silahkan ditunggu di ruang tunggu depan bu” kata petugas mengarahkan,
“Baik, terima kasih” jawabku ramah
Bersambung…….
...Hai teman-teman readers, terima kash untuk kunjungannya di novel pertama saya,...
...boleh tinggalkan komen dan jempolnya ya, hehehehe...
...Sekian terima gaji,...
...eh terima kasih maksudnya *kiss *kiss *muach...