Kisah dua insan yang saling mencintai, namun terhalang oleh restu orang tua. Seorang pemuda nan soleh jatuh cinta kepada seorang gadis yang biasa saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Diana Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Teman Baru
Datang dan perginya seseorang dalam hidupmu
Terkadang bukanlah kehendak mu
Melainkan, Tuhan pulalah yang menginginkan hal itu
...*****...
Akhirnya, Riri memutuskan untuk pergi ke Masjid Tokyo Camii. Dimana, ia pernah berdoa di sana bersama Ryu. Sesampainya di sana, dia kembali merasakan perasaan yang sama.
Sama seperti waktu pertama kalinya, ia datang ke masjid itu. Dia segera masuk ke dalam lalu mengambil air wudhu. Kemudian melaksanakan shalat.
Ternyata, Ryu juga berada di sana. Dia juga shalat di masjid itu. Keduanya pun melaksanakan shalat dengan khusuknya dan berdoa dengan khidmat.
Ryu berdoa agar ia segera bertemu dengan Riri. Sedangkan, Riri berdoa agar ia segera bertemu ayahnya. Karena sama-sama tidak memiliki tujuan yang pasti. Mereka pun berlama-lama di dalam masjid itu.
Hingga, penjaga masjid menghampiri salah satu di antara mereka, yaitu Ryu. Ryu dan penjaga masjid itu berbincang-bincang dalam waktu yang cukup lama.
Begitu juga dengan Riri, tiba-tiba saja ada seseorang yang menghampirinya. Dia adalah seorang perempuan.
Dia menyapa Riri dengan sangat ramah. Mereka pun mengobrol, sampai pada akhirnya, ia tahu kalau Riri adalah orang Indonesia. Mengetahui hal itu dia pun ingin mengenal Riri lebih dekat lagi.
"Oh, ya sampai lupa. Namaku Karina, nama kamu siapa?" tanya dengan ramah.
Riri menjawab, "Namaku Riri." Karina pun terus bertanya pada Riri yang saat itu sedang kebingungan.
"Kalau boleh tahu, di sini kamu tinggal dimana?" tanya Karina penasaran.
"Aku juga tidak tahu akan tinggal dimana. Uangku hampir habis dan aku sangat bingung sekarang." keluh Riri pada Karina.
"Begitu, ya. Gimana kalau kamu tinggal sama aku aja, apa kamu mau?" ajak Karina dengan tulus.
Riri sempat ragu menerima ajakan Karina. Perempuan yang baru saja ia kenal, bagaimana mungkin dia menerima ajakan perempuan itu. Sementara, mereka baru saja bertemu. Rasanya tak enak hati kalau harus merepotkan Karina yang begitu baik padanya.
"Sebelumnya, terima kasih, Karina. Kamu sudah menawarkan ku tempat tinggal. Tapi, Karina kita baru saja bertemu dan aku merasa tidak ingin merepotkan mu. Apa lagi sampai menyulitkan mu." jelasnya dengan panjang lebar pada Karina.
Dengan sangat mudah, Karina menjawab semua rasa yang membuat Riri berat menerima tawarannya.
"Sudahlah, santai saja! Kita 'kan dari negara yang sama, itu berarti kamu adalah saudaraku juga 'kan?" katanya dengan ramah dan begitu lembut. Sesuai dengan penampilannya. Dia memakai gamis dan jilbab yang begitu dalam. Sosok wanita muslimah nan lembut, bisa terlihat jelas dari caranya berpakaian.
Mendadak, Karina baru ingat kalau dia harus pergi kuliah.
"Ya, ampun ...," teriak Karina.
"Kenapa aku lupa kalau aku masih ada jam kuliah? Riri, begini saja. Kamu tunggu di sini! Aku akan coba menghubungi temanku. Dia adalah teman baikku, jika dia bersedia menemui mu, maka kamu bisa pergi dengannya nanti. Bagaimana, apa kamu setuju?"
"Oke, tidak masalah. Aku setuju," jawab Riri.
"Oke, kalau gitu aku telepon dia dulu."
Karina langsung menghubungi temannya itu, dia berharap temannya akan menjawab telpon darinya.
Tut ..., tut ..., tut ...,
"Ayo, angkatlah, aku mohon!" lirih Karina, ia terus berusaha sampai pada akhirnya, temannya mengangkat juga telepon darinya.
"Halo, Assalamualaikum," jawab orang yang ada di telpon.
"Waalaikumsalam," jawab Karina.
"Ada apa, Rin?"
"Ko, kamu lagi sibuk, nggak?" tanyanya pada Riko.
"Kebetulan, nggak sih. Kenapa emangnya, Rin?" Riko pun balik bertanya.
"Ko, kamu bisa datang ke masjid Tokyo Camii, nggak?"
"Bisa sih, tapi kenapa aku harus ke sana, Rin?" tanya Riko terus pada Karina.
"Panjang ceritanya, Ko. Nanti, aku jelasin ke kamu. Sekarang kamu tolong bantu aku, ya. Kamu cari perempuan yang bawa tas ransel besar warna hitam. Kamu bisa 'kan, Ko?"
"Ya, bisa kok, Rin. Tapi, siapa namanya, Rin?"
"Namanya Riri, udah dulu, ya, Ko. Makasih, Assalamualaikum," ucapnya pada Riko.
"Waalaikumsalam," jawab Riko, telpon pun terputus.
Riko pun bersiap-siap untuk menemui perempuan yang di maksud oleh temannya itu.
Karina juga segera memberi tahukan tentang Riko kepada Riri.
"Riri, kamu tunggu disini sebentar, ya! Nanti, akan ada temanku yang menjemput mu disini. Maaf banget, ya! Aku harus buru-buru, Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam."
Setelah Karina pergi, ia baru ingat apa yang ingin ia tanyakan pada Karina.
"Aduh, aku lupa lagi menanyakan siapa nama temannya itu. Pasti karena dia buru-buru tadi, makanya aku jadi lupakan. Ya, sudahlah. Semoga saja sebentar lagi temannya itu datang."
Beberapa saat kemudian, akhirnya Riko pun sampai di depan masjid. Dia pun langsung mencari-cari perempuan yang membawa ransel hitam besar.
Riri yang saat itu tengah memegang ranselnya. Berdiri tepat di depan masjid itu. Hal itu sangat mempermudah Riko untuk menemukannya. Ia pun segera menemui Riri. Riri yang saat itu tengah mencari-cari seseorang, sontak kaget karena Riko tiba-tiba menyapanya.
"Sorry, you are Indonesian?"
"Yes, I am Indonesian."
Mendengar Riri berkata begitu, membuat Riko merasa lega sekaligus bersyukur.
"Hah, syukurlah. Apa kamu yang bernama Riri?"
"Ya, itu aku. Apa kamu temannya Karina?"
"Ya, itu benar. Maaf, kalau saya agak lama. Tadi jalanan sedikit macet," katanya sedikit malu pada Riri karen keterlambatannya itu.
Riri pun memakluminya dan berkata, "Ya, nggak apa-apa, kok. Kalau boleh tahu nama kamu siapa?"
"Oh, ya kenalin saya Riko, teman baiknya Karina," kata Riko sambil mengulurkan tangannya. Riri menyambutnya dengan menjabat tangan Riko untuk waktu yang singkat saja.
"Ya, saya tahu itu tadi Karina bilang itu pada saya," timpal Riri lagi pada Riko.
"Kalau gitu, bisa kita jalan sekarang?" tanya Riko. Riri mengangguk tanda setuju.
"Ayo, lewat sini aku akan mengantarkan mu ke rumah Karina."
Ryu yang masih di dalam masjid tak tahu menahu bahwa Riri telah pergi jauh. Jauh dan mungkin mereka tidak akan bertemu lagi. Jika pun bertemu, mungkin akan memakan waktu yang cukup lama.
Mereka pun pergi menjauh dari masjid itu. Kini, Riri akan benar-benar menjalani kehidupannya tanpa Ryu disisinya.
Bahkan, kini ia mendapat banyak teman baru yang baik yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hal itu pun, ia dapatkan di negeri yang asing pula bagi dirinya.
Jepang adalah tempat dimana setiap orangnya selalu menghargai waktu dan tak akan menyia-nyiakan waktu. Itulah yang akan di lalukan Riri di tempat ia berada saat ini.
Saat telah sampai di parkiran, Riko bertanya pada Riri.
"Kamu mau langsung ke rumah Karina atau mau jalan-jalan dulu, Ri?"
"Kamu langsung antar aku ke rumah Karina, aja." jawabnya dengan yakin.
"Oh, ya udah. Ini helmnya kamu pakai dulu! Riko menyodorkan helm yang akan di pakai Riri.
"Terima kasih," ucapnya pada Riko.
"Sama-sama," balas Riko lagi.
Di tengah perjalanan Riri merasa tidak enak dan merasa canggung serta malu. Tidak enak karena dia baru bertemu Riko dia sudah merepotkan nya. Dalam hatinya ia berkata, "Y**a, Allah. Engkau telah mempertemukan ku dengan orang-orang yang baik. Aku benar-benar tak percaya semua ini terjadi dalam hidupku. Namun, aku yakin bahwa ini semua adalah rangkaian takdir yang Engkau berikan untukku. Ini begitu indah, ya Allah ... namun, juga sulit. Tapi, tidak apa-apa. Asalkan, Engkau selalu bersamaku. Aamiin."
***
Mungkin Ryu lebih condong ke sifat ibunya
Sosoknya masih misterius, semoga dia juga orang baik
Hey kaum adam! Awas aja ya kalau kalian berani bikin Puri patah hati maka kalian akan dihajar olehnya
Gibran kamu mau tahu siapa yang ada dihati Riri? Sini aku bisikin namanya itu Ryu
Riko,Riri takut teman-teman sekolahnya digondol maling jadi dia agak ragu untuk ikut pergi sama kamu😂
Meski begitu tetap aja hati Rico hancur berkeping-keping
Tapi syukurlah, Riri ada tempat tinggal.
Daesuke kamu harus move on dan cobalah membuka hatimu kembali untuk wanita lain
Itu benar banget Gibran, kamu itu membuat Riri jadi gak fokus belajar tahu tapi Riri tak mau mengakuinya
Terus nanti Ryu gimana? Apa dia bukan jodohnya Riri?
Gibran sama Roni lucu banget sih kalian😂
Cowok kayak kamu termasuk langkah Ryu
Riri ibumu nyembunyiin kunci dipot kalau aku sih nyembunyiin kunci rumah dibawah keset yang ada didepan pintu
Jadi Riri menolak tawaran orang itu dong kalau dia mau pulang keIndonesia? Kalau Karina gimana?
Puri aku yakin Riri juga merasakan hal yang sama kaya kamu. jadi bersabarlah kalian pasti dipertemukan lagi sama Authornya ya😁
Ya ampun itu namanya ikatan batin ya Ryu, gak lihat orangnya tapi kamu bisa merasakan kehadirannya
The best deh Ryu, suka sama karakternya