"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."
Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.
Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.
Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.
Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.
Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Hukuman di Balik Hujan
Bab 9: Hukuman di Balik Hujan
Hujan turun dengan lebatnya di Desa Sukasari sejak pagi buta. Suara rintik yang menghantam atap seng dapur terdengar seperti ribuan kuku yang mencakar-cakar kesunyian. Bagi Anindya, hujan bukan lagi berkah bagi tanaman padi ayahnya, melainkan musuh yang membuat jemuran tidak kering dan lantai teras terus-menerus kotor oleh jejak kaki.
Pagi ini, suasana di rumah Tuan Wijaya terasa lebih mencekam dari biasanya. Nyonya Lastri tampak sangat gusar sejak kejadian "kertas buram" kemarin. Meskipun ia membuang kertas itu, tampaknya kecurigaan bahwa ada sesuatu yang tidak beres di bawah atapnya mulai menggerogoti pikirannya.
"Anindya! Sini kau!" Teriak Nyonya Lastri dari ruang makan.
Anindya yang sedang membantu Mbok Sum memeras santan segera mencuci tangannya dan berlari kecil menghampiri. Ia menunduk, tidak berani menatap mata majikannya.
"Kau lihat ini?" Nyonya Lastri menunjuk ke arah pot bunga di sudut ruangan yang sedikit bergeser. "Kau membersihkan ruangan ini dengan tidak niat. Dan gara-gara kau melamun kemarin, Satria jadi malas mengerjakan tugasnya karena terganggu oleh 'catatan sampah' yang kau biarkan tergeletak di meja!"
"Maaf, Bu... Nin tidak sengaja," bisik Anindya. Ia tahu, alasan apa pun hanya akan menambah api kemarahan.
"Maaf tidak akan mengeringkan teras yang becek karena jejak kaki supir tadi! Karena kau tidak becus menjaga kebersihan ruang tengah, hari ini kau dilarang makan siang. Dan sebagai gantinya, kau harus menyikat seluruh pagar besi di depan rumah, sekarang juga!"
Mbok Sum yang baru keluar dari dapur tersentak.
"Tapi Nyonya, di luar hujan sangat lebat. Anindya bisa sakit..."
"Diam kau, Sum! Jangan ikut campur atau kau mau ikut hujan-hujanan bersamanya?" Gertak Nyonya Lastri.
Anindya merasakan dadanya sesak. Menyikat pagar besi di tengah hujan lebat bukan hanya berat, tapi juga menyakitkan. Namun, ia tidak punya pilihan. Dengan kepala tertunduk, ia mengambil sikat kawat dan ember kecil, lalu melangkah keluar menuju gerbang depan.
Air hujan langsung menyapu tubuh mungilnya. Kebaya merah yang sudah kusam itu dalam sekejap melekat erat di kulitnya yang dingin. Anindya mulai menggosok besi-besi pagar yang dingin dan kasar. Setiap gerakan tangannya terasa berat. Air hujan masuk ke matanya, membuatnya perih, namun ia tidak berani berhenti.
Dari balik jendela lantai dua yang hangat, Anindya bisa melihat Satria berdiri memperhatikannya. Satria tidak tertawa. Ia hanya menatap dengan tatapan yang sulit diartikan. Di tangannya, Satria memegang buku matematika baru yang masih bersih. Ada rasa aneh yang mengusik hati Satria. Ia teringat tulisan rapi di kertas buram kemarin. Tulisan itu begitu sempurna, seolah dibuat oleh seseorang yang sangat mencintai angka-angka tersebut.
Apa benar dia yang menulisnya? Tapi dia kan cuma anak desa yang tidak sekolah, pikir Satria dalam hati.
Di luar, Anindya mulai menggigil. Giginya bergelatuk. Namun, di tengah penderitaan itu, ia justru mencoba mengalihkan rasa sakitnya dengan menghitung.
"Satu jeruji... dua jeruji... tiga..." ia berbisik di tengah deru hujan. "Kalau pagar ini panjangnya sepuluh meter dan setiap satu meter ada delapan jeruji, berarti totalnya ada delapan puluh jeruji."
Ia tersenyum tipis di tengah guyuran air.
Angka-angka itu adalah pelariannya. Angka-angka itu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa disakiti oleh Nyonya Lastri. Di saat tubuhnya disiksa oleh dingin, pikirannya justru berkelana ke ruang kelas yang hangat dalam imajinasinya.
Dua jam berlalu. Tangan Anindya mulai memucat dan keriput. Saat itulah, Satria keluar ke teras depan dengan membawa payung besar. Ia berjalan mendekati pagar, berhenti tepat di depan Anindya yang masih sibuk menggosok.
"Hei, Pelayan Kecil," panggil Satria.
Anindya mendongak, air hujan mengalir dari rambutnya ke pipinya. "Iya, Tuan Muda?"
Satria tidak langsung bicara. Ia melihat tangan Anindya yang memerah karena sikat kawat. "Soal kemarin... yang di kertas buram itu. Bagaimana kau tahu jawaban nomor tujuh adalah empat puluh delapan?"
Anindya terdiam. Ia terjebak. Jika ia mengaku pintar, hukumannya mungkin akan lebih berat. Tapi jika ia terus berbohong, ia merasa telah mengkhianati dirinya sendir.
"Nin... Nin cuma pernah dengar Pak Guru bilang kalau dikali dua belas itu sama dengan ditambah dua belas sebanyak empat kali," jawab Anindya hati-hati, memberikan alasan yang terdengar seperti "kebetulan mendengar".
Satria menyipitkan mata. "Hanya dengan mendengar? Kau bohong. Pak Guru tidak pernah menjelaskan sedetail itu kemarin."
Anindya menunduk lagi, melanjutkan gosokannya pada pagar. "Mungkin Nin hanya beruntung, Tuan Muda."
Satria mendengus kesal. "Kau aneh. Kau lebih suka dihujani begini daripada mengaku?" Satria melempar sebuah bungkusan kecil ke arah kaki Anindya. Bungkusan itu dibalut plastik rapat. "Itu roti sisa sarapanku. Jangan bilang-bilang Ibu, atau kau yang akan kusalahkan."
Setelah itu, Satria langsung berbalik masuk ke dalam rumah. Anindya menatap bungkusan roti itu. Di balik sifat sombong dan kasar Satria, ternyata masih ada sedikit celah kemanusiaan, atau mungkin itu hanya rasa bersalah yang disamarkan.
Anindya mengambil roti itu dan menyembunyikannya di balik bajunya. Kehangatan kecil dari roti itu menjalar ke dadanya. Bukan karena rotinya, tapi karena ia menyadari satu hal: Satria mulai memperhatikannya. Dan perhatian itu bisa menjadi peluang, atau justru ancaman baru.
Sore harinya, saat hujan mulai reda, Anindya kembali ke kamarnya dengan tubuh yang gemetar hebat. Mbok Sum segera datang membawa handuk kering dan segelas air jahe hangat secara sembunyi-sembunyi.
"Oh, Gusti... kau sudah seperti mayat hidup, Nak," bisik Mbok Sum cemas. "Cepat ganti bajumu. Mbok sudah siapkan baju ganti di bawah kasur."
"Terima kasih, Mbok..." suara Anindya terdengar sangat lemah.
Malam itu, Anindya terserang demam tinggi. Tubuhnya panas membara, namun ia merasa kedinginan yang luar biasa. Di dalam igauannya, ia menyebut-nyebut nama Ayahnya. Ia membayangkan Ayahnya datang dengan sepeda tuanya, menjemputnya dari rumah besar ini.
Namun, di tengah kesadarannya yang timbul tenggelam, Anindya meraih buku biru di bawah bantalnya. Ia memeluk buku itu erat-erat. "Nin tidak akan menyerah, Yah... Nin akan tunjukkan... kalau Nin bisa..."
Penderitaan fisik hari ini tidak mematahkan semangatnya. Justru, air hujan dan dinginnya besi pagar tadi seolah menanamkan satu pelajaran baru di hatinya: bahwa dunia ini sangat kejam kepada mereka yang lemah, dan satu-satunya cara untuk berhenti ditindas adalah dengan menjadi lebih pintar dan lebih kuat dari para penindasnya.
Di ruang tengah, Tuan Wijaya dan Nyonya Lastri sedang menikmati makan malam mewah, tidak tahu bahwa di sebuah kamar pengap di bawah tangga, sebuah benih perlawanan sedang tumbuh subur di dalam tubuh seorang gadis kecil yang sedang bertarung dengan demamnya. Anindya sedang menabung rasa sakitnya, mengubahnya menjadi bahan bakar untuk ambisinya di masa depan—sebuah masa depan di mana ia tidak akan pernah lagi berdiri di bawah hujan untuk menyikat pagar orang lain.