Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.
Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.
Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12.
Malam itu, di dalam mobil sedan Nathan yang melaju kencang membelah jalanan ibu kota, suasana terasa begitu mencekam. Bella benar-benar mabuk berat. Kesadarannya sudah melayang jauh akibat campuran alkohol dan obat terlarang. Ia meronta-ronta di kursi penumpang, tertawa cekikikan sendiri tanpa arah, sementara pakaiannya yang hanya mengenakan tanktop ketat dan celana pendek tampak sangat berantakan.
"Diem, Bella!" bentak Nathan dengan suara bergetar menahan amarah yang luar biasa hebat. Rahangnya mengetat kaku, buku-buku jarinya memutih mencengkeram setir mobil. Adiknya ini benar-benar sudah melampaui batas kewarasan.
Setibanya di pelataran mansion Allegra, mobil Nathan berhenti dengan decitan ban yang tajam. Tanpa membuang waktu, Nathan membuka pintu, menyambar lengan adiknya, dan menyeret Bella keluar secara kasar dari dalam mobil.
Bersamaan dengan itu, sebuah mobil mewah berwarna hitam baru saja memasuki gerbang mansion dan memarkirkan kendaraannya tepat di sebelah mobil Nathan. Pintu mobil terbuka, menampilkan sosok Christian Gerald yang turun dengan wajah kaku. Pria berjas rapi itu baru saja pulang setelah semalaman mencari keberadaan Bella yang mendadak hilang dari rumah.
Langkah Christian terhenti seketika saat melihat Nathan menyeret seorang gadis dengan pakaian minim dan penampilan yang hancur lebur. Begitu menyadari siapa gadis itu, sorot mata cokelat gelap Christian langsung menajam, memancarkan aura dingin yang membekukan.
Nathan menghentikan seretannya sejenak di dekat pintu masuk utama, napasnya memburu naik-turun.
Christian melangkah mendekat dengan langkah tegap, matanya menyapu penampilan Bella yang kacau balau dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Apa yang terjadi pada Arabella, Nathan?" tanya Christian dengan suara baritonnya yang rendah, dingin, namun sarat akan tekanan mutlak.
"Bajingan itu... Vero dan teman-temannya hampir menjual adik sialan ini di kelab!" jawab Nathan penuh geram, napasnya memburu menahan emosi. "Dia benar-benar sudah gila!"
Tanpa banyak bicara lagi, Christian dan Nathan langsung memboyong tubuh Bella yang terkulai lemas dan meronta-ronta masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di ruang tamu mewah itu, Nathan langsung melepaskan cengkeramannya, membuat Bella terdorong paksa hingga jatuh tersungkur di atas lantai marmer yang dingin.
"Bi Hani!" panggil Christian dengan suara menggelegar ke arah lantai belakang, membuat asisten rumah tangga itu bergegas lari tergopoh-gopoh keluar dari dapur. "Bawakan seember air dingin ke sini, cepat!"
"B-baik, Tuan!" balas Bibi Hani ketakutan melihat keadaan Non Bella.
Sambil menunggu Bibi Hani datang, Nathan menatap tajam ke arah pamannya, lalu menceritakan apa yang ia saksikan di kelab malam tadi. "Aku menemukannya nyaris setengah telanjang di lantai dansa, Om. Si keparat Vero itu bahkan melelangnya di hadapan banyak pria hidung belang!"
Mendengar penjelasan itu, rahang Christian mengeras sempurna. Buku-buku jarinya mengepal erat hingga memutih. Amarah yang selama ini ia redam mendadak membakar sekujur tubuhnya.
Namun, sebelum Christian sempat membuka suara, kecurigaan lain melintas di benaknya. Pria matang itu menatap tajam ke arah Bella, lalu beralih menatap Nathan. "Bukan hanya itu, Nathan. Saya dari tadi mencari anak ini karena kehilangan sejumlah uang tunai di dompet saya di kamar atas."
Nathan mengerutkan kening, bingung. "Uang? Maksud Om, dia mencuri uang Om?"
"Saya memeriksa rekaman CCTV pribadi di koridor kamar," lanjut Christian dengan nada suara yang semakin merendah namun mematikan. "Dia menyelinap masuk ke kamar saya saat saya sedang mandi, mengambil beberapa lembar uang kertas, lalu kabur keluar rumah."
"Sialan!" maki Nathan meledak-ledak. Ia kembali mencengkeram lengan Bella dengan kasar, menarik paksa adiknya untuk berdiri. "Bener-bener anak kurang ajar! Beraninya kamu mencuri dan menjual diri di luar sana, hah?!"
Namun, efek obat terlarang yang dikonsumsi Bella membuat kesadarannya benar-benar kosong. Ia sama sekali tidak mengenali siapa pria yang sedang membentak dan menarik rambutnya.
Di tengah pandangannya yang berbinar pusing dan halusinasi yang pekat, Bella mendongakkan kepala. Matanya menangkap sosok pria bertubuh tegap berjas rapi yang berdiri di hadapannya—Christian.
Karena pengaruh obat yang mengaburkan akal sehatnya, wajah tegas Christian mendadak berbayang di matanya sebagai sosok Vero.
"Vero...?" gumam Bella parau, bibirnya menyunggingkan senyuman bodoh.
Sebelum siapa pun sempat mencegah, Bella melangkah limbung menerobos pegangan Nathan. Ia langsung menghambur memeluk tubuh Christian erat-erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang pamannya, lalu dengan gerakan impulsif tanpa sadar... ia merengkuh leher Christian dan mencium bibir pria itu tepat di hadapan kakaknya sendiri.
Tubuh Christian membeku seketika. Matanya membelalak lebar. Sengatan panas langsung menjalar ke seluruh sarafnya, membangkitkan kembali memori terlarang yang sempat ia pendam mati-matian beberapa hari lalu.
Namun, reaksi Nathan jauh lebih cepat dari keterkejutan Christian.
Plak!
Sebuah tamparan keras yang nyaring menggema di penjuru ruang tamu. Nathan menarik rambut Bella dengan sangat kuat hingga kepala gadis itu terhuyung ke belakang dan terlepas dari pelukannya pada Christian.
"Bangun, Bella! Sadar kamu!" murka Nathan kehilangan seluruh kendali dirinya, wajahnya merah padam karena malu dan marah besar. "Kamu meluk siapa, hah?!"
Bella menjerit kesakitan saat kepalanya ditarik kasar. Air matanya menetes akibat rasa perih di kulit kepalanya, namun pengaruh obat membuat tawanya kembali pecah berderai-derai.
"Kamu jahat... Vero jahat..." racau Bella tidak jelas, tertawa di tengah isak tangisnya yang aneh.
"Kurang ajar!" bentak Nathan gelap mata. Kesabarannya sudah habis tak bersisa. Ia menyeret tubuh adiknya yang meronta-ronta dengan kasar menaiki tangga menuju kamar mandi tamu di lantai tersebut.
"Nathan, tahan dirimu—" suara bariton Christian mencoba menginterupsi, namun Nathan sudah terlampau dikuasai murka.
Pintu kamar mandi tamu dibuka dengan bantingannya yang keras. Nathan mendorong Bella masuk hingga gadis itu jatuh terduduk di lantai keramik kamar mandi yang basah. Tanpa belas kasihan, Nathan menyambar selang shower di dinding, lalu mengarahkan air dingin bertekanan tinggi langsung ke tubuh adiknya.
Byur!
Air dingin itu menghantam wajah dan tubuh Bella secara brutal, membuat gaun tipis dan tanktop-nya basah kuyup dalam sekejap. Bella menjerit histeris karena kaget dan kedinginan, air matanya bercampur dengan air shower yang terus mengguyur tubuhnya tanpa ampun.
"Rasakan ini supaya kamu sadar, anak sialan!" geram Nathan penuh kebencian, tangannya terus mengguyur tubuh adiknya dengan kasar. Saking muak dan marahnya, batas kesabaran Nathan runtuh seketika di hadapan Christian yang berdiri di ambang pintu kamar mandi.
Nathan menatap tajam ke arah Bella yang menggigil hebat, lalu melontarkan kalimat paling kejam yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh keluarganya.
"Asal kamu tahu ya, Bella! Kamu nggak pantes bertingkah sok merajuk dan cari perhatian!" bentak Nathan dengan suara bergetar penuh amarah, meludahi kenyataan pahit di depan wajah adiknya yang gemetar. "Kamu itu bukan siapa-siapa! Kamu bahkan bukan adik kandung ku, bukan bagian dari keluarga ini! Kamu cuma anak pungut yang dipungut dari jalanan oleh Mama dan Papa!"
*
*
*
kesel banget liat keluarga allegra
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang