💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍
Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.
Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.
Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.
Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Udara di sekitar gerbang Rosewood Academy mendadak terasa setipis kertas. Satu tarikan napas kasar saja seolah sanggup memicu ledakan.
Elvano melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka dengan gerakan pelan. Mata elangnnya menatap lekat wanita di hadapannya, berusaha menguliti setiap inci ketenangan yang Alana tampilkan. Pria itu tahu, di balik kacamata hitam dan postur anggunnya, bersembunyi seekor singa betina yang tak ragu untuk menerkam.
"Dunia ini rupanya sangat sempit, Nona Hacker," suara bariton Elvano mengalun rendah, nyaris menyerupai bisikan mematikan di tengah riuhnya para penjemput.
"Atau haruskah aku memanggilmu... pelindung kecilku?"
Alana tidak beringsut mundur barang satu sentimeter pun. Ia memiringkan kepala, membalas tatapan tajam Elvano dengan senyum tipis yang meremehkan.
"Tergantung. Apakah Tuan Muda Adhitama sedang ingin bermain teka-teki di depan gerbang sekolah dasar, atau kau sedang merencanakan penculikan di siang bolong?"
"Aku tidak perlu menculik apa yang sudah menjadi milikku," desis Elvano, rahangnya mengeras tajam.
"Milikmu?" Alana tertawa pelan. Tawa dingin yang sama sekali tidak mencapai matanya.
"Hemm! Ternyata Tuan Adhitama sangat angkuh ya?"
Sebelum Elvano sempat membuka mulut untuk membalas kata-kata tajam itu, suara riuh anak-anak mendadak pecah.
Gerbang utama otomatis terbuka lebar. Ratusan anak berseragam rapi berhamburan keluar bagai kawanan lebah.
"Paman El!"
Sebuah suara nyaring menginterupsi. Dari arah kiri, seorang gadis kecil berambut ikal dengan jepit pita merah berlari riang menembus kerumunan ke arah Elvano.
Namun, baru beberapa langkah berlari, kaki kecil gadis itu mengerem mendadak. Matanya yang bulat membelalak menatap dua anak laki-laki kembar yang baru saja keluar dari lobi utama.
"Kael! Kai!" pekik Lea kegirangan, melambaikan tangan mungilnya dengan antusias.
Kael yang sedang membetulkan tali ranselnya, dan Kai yang tengah menendang kerikil, serentak menoleh. Wajah datar dan waspada kedua bocah laki-laki itu seketika luntur, digantikan oleh binar cerah.
"Lea?" Kai berseru tak percaya.
Bocah itu langsung berlari menghampiri gadis kecil tersebut, disusul oleh Kael. Ketiga bocah itu berpelukan melingkar layaknya sahabat lama yang telah terpisah bertahun-tahun. Kedekatan mereka bukan tanpa alasan; ibunya Lea adalah sahabat baik mendiang Luna, ibu si kembar.
"Kalian ke mana saja selama ini? Aku cari-cari kalian waktu ulang tahunku kemarin!" celoteh Lea dengan bibir mengerucut, menggenggam erat tangan Kael dan Kai.
"Kami sedang dalam misi rahasia," jawab Kai santai, melirik penuh arti ke arah Alana.
Di saat ketiga anak itu sibuk melepas rindu, dunia di sekitar Elvano seakan berhenti berputar.
Mata elangnya terpaku pada sosok Kael dan Kai. Jantung sang bos mafia yang biasanya memompa darah sedingin es, kini berdegup liar dihantam gelombang kelegaan yang luar biasa.
Pemandangan di hadapannya meruntuhkan kewarasannya; si kembar selamat, mereka sehat, bahkan kini tumbuh lebih tinggi, dan dari postur tubuh mereka, memancarkan aura ketangguhan yang sama persis dengan mendiang sahabatnya, Raka.
Elvano membuang napas panjang. Bahunya yang tegang perlahan turun. Ia menoleh, menatap Alana. Kali ini, tidak ada kilat predator atau arogansi di matanya. Yang tersisa hanyalah sorot kepuasan dan sebuah rasa terima kasih yang tak terucapkan.
Mendapati perubahan drastis pada tatapan Elvano, pertahanan baja Alana sedikit goyah. Ia mendengus pelan, melepaskan cengkeramannya dari gagang belati di dalam saku.
Alana sadar, ia sudah kalah telak dalam permainan petak umpet ini. Berkelit atau memaksa membawa lari si kembar sekarang hanya akan menciptakan trauma baru bagi keponakannya yang baru saja menemukan kembali secercah kebahagiaan masa kecil mereka.
"Kita perlu bicara," putus Elvano mutlak, memecah ketegangan di antara mereka. Suaranya tak lagi bernada mengancam, melainkan menuntut penjelasan.
"Ada kafe privat di ujung jalan ini. Bawa anak-anak. Aku yang traktir."
Alana memutar bola matanya di balik lensa gelap. "Hanya lima belas menit. Tidak lebih."
___________
Sepuluh menit kemudian, mereka duduk saling berhadapan di sebuah ruang VIP kedap suara di lantai dua kafe mewah.
Di sudut ruangan, Kael, Kai, dan Lea duduk di sofa melingkar, ke-tiga nya menikmati sundae cokelat raksasa, diawasi lekat oleh dua penjaga berjas hitam yang berjaga di luar pintu kaca buram.
Di meja utama, Alana duduk menyilangkan kaki, menyesap espresso panasnya dengan ketenangan yang dibuat-buat.
Di seberangnya, Elvano menatap wanita itu dengan intensitas yang sanggup melubangi baja.
"Siapa kau sebenarnya?" Elvano membuka percakapan. Suaranya berat dan lugas.
"Kau memiliki kemampuan peretasan setara badan intelijen, tapi Kael dan Kai memanggilmu Bunda. Di mana suamimu?"
Alana meletakkan cangkirnya perlahan ke atas tatakan porselen. Bunyi denting klik terdengar di tengah keheningan.
Ia melepas kacamata hitamnya, menatap lurus tepat ke manik mata Elvano.
"Pertama, aku tidak punya suami. Aku belum pernah menikah."
Mendengar untaian kalimat itu, ada sebersit desir kelegaan asing yang tiba-tiba menyusup ke rongga dada Elvano. Namun dengan cepat menekan perasaan konyol itu dengan raut datarnya.
"Kedua," lanjut Alana. Suaranya merendah, berubah tajam dan penuh penekanan di setiap suku katanya.
"Namaku Alana Casandra. Aku adalah adik kandung dari ayah si kembar. Yang berarti... mereka adalah keponakanku."
Bagaikan dihantam godam tak kasat mata, punggung Elvano yang semula bersandar santai kini tersentak ke depan. Kedua tangannya mencengkeram tepi meja. Ia menatap wajah Alana lekat-lekat, mencari satu saja kedipan kebohongan di sana. Namun, ia hanya menemukan garis rahang yang tegas dan sorot mata sekeras batu karang—sorot mata yang benar-benar identik dengan Raka.
"Raka tidak pernah sekalipun bercerita bahwa ia punya adik perempuan," gumam Elvano parau. Otaknya bekerja keras mencerna fakta tak masuk akal ini.
"Dia bersumpah keluarganya telah habis."
"Itu karena dia sedang melindungiku," sahut Alana getir.
Tangannya tanpa sadar mengepal erat di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih.
"Sejak malam kedua orang tua kami meninggal, Kak Raka langsung menyembunyikanku ke luar negeri. Awalnya aku nggak paham kenapa dia bersikap seolah ingin membuangku. Tapi setelah malam pembantaian yang merenggut paksa nyawa Kak Raka dan Kak Luna... tahun lalu, aku baru paham."
Alana menahan napas, menekan rasa perih yang kembali mengenang mimpi buruknya selama ini.
Dengan mata berkaca-kaca Alana melanjutkan. "Aku tidak akan membiarkan darah dagingnya bernasib sama denganku. Sejak malam berdarah itu, Kael dan Kai bukan lagi keponakanku. Mereka adalah anak-anakku."
Elvano menunduk, memijat pelan pangkal hidungnya. Rasa bersalah yang selama setahun ini menggerogoti jiwanya kembali menganga. Raka mati berdiri demi melindunginya, dan kini, beban sebesar itu harus dipikul sendirian oleh adik perempuannya yang bersembunyi dalam bayang-bayang.
"Kau salah paham soal satu hal, Alana," ucap Elvano akhirnya. Ia mengangkat wajah, menatap wanita di hadapannya dengan ketulusan yang sangat jarang ia obral pada manusia mana pun.
"Raka bukan sekadar tangan kanan atau pion bawahanku. Dia adalah saudaraku. Sumpah darah klan Adhitama mengikat kami lebih dari sekadar keluarga."
Alana terdiam, menatap raut penyesalan di wajah arogan itu.
"Selama setahun lebih, aku membalikkan seisi kota, meruntuhkan puluhan sindikat untuk mencari si kembar. Bukan untuk menjadikan mereka prajuritku, melainkan untuk membawa mereka pulang," lanjut Elvano, suaranya sarat akan emosi yang ditahan.
"Sindikat Bayangan yang membunuh kakakmu mulai mencium jejak. Mereka mengincar nyawamu dan si kembar. Jika kau bersikeras terus berlari sendirian, cepat atau lambat kau akan kehabisan ruang untuk bermanuver. Kalian butuh pelindung yang nyata."
Penjelasan Elvano membuat pertahanan Alana sedikit mengendur. Fakta bahwa pria ini tidak memandangnya sebagai musuh, bahwa Sang Penguasa Adhitama secara terang-terangan menunjukkan rasa pedulinya, memberi sekeping kelegaan. Elvano bukanlah monster tak berhati seperti yang ia bayangkan.
Namun, insting serigala penyendiri di dalam diri Alana tidak bisa dimatikan begitu saja.
Alana mencondongkan tubuhnya melintasi meja, menipiskan jarak di antara wajah mereka. Matanya menantang kilat tajam milik pria itu.
"Dengar baik-baik, Tuan Adhitama," desis Alana tajam.
"Aku menghargai niat baikmu, dan aku bersyukur kau bukan musuhku. Tapi Kael dan Kai akan tetap bersamaku. Aku tidak akan pernah menyerahkan mereka untuk dibesarkan di dalam sangkar emas mafiamu yang penuh darah dan intrik. Kau boleh menjadi sekutu kami, kau boleh mengerahkan ribuan pasukanmu untuk membumihanguskan Sindikat Bayangan..."
Alana memberi jeda, memastikan setiap kata terukir di kepala pria itu.
"...tapi nyawa dan masa depan si kembar adalah tanggung jawab mutlak Bundanya. Yaitu aku. Jadi jangan pernah bermimpi kau bisa mengambil mereka dariku."
Elvano membalas tatapan membara itu tanpa berniat mundur seinci pun. Sudut bibirnya justru kembali melengkung, mengukir seringai mematikan yang entah mengapa membuat ritme jantung Alana berantakan.
"Kita lihat saja nanti," balas Elvano. Suara seraknya mengintimidasi, namun sarat akan godaan yang berbahaya.
"Untuk saat ini, kau boleh merasa memegang kendali. Tapi pastikan kau tidak lengah, Nona Alana. Karena mulai detik ini, aku tidak akan membiarkan kalian lepas dari pandanganku!"
Bersambung...
mereka yg merampok dan berperang ,,, aku yg ngos-ngosan baca nya 🤣🤣🤣
mantaaaap kak Rini ... seru banget ceritanya 👏👏👏
berasa nonton film action Mafia 👏👏👏
aku mpe Googling Loch ,, dapat nya di Negara India
berani dan tanggung jawab jg 👏🤣
gaswat nich ... skrg mlh Al yg mjd targetnya si iblis 😱😱🤦
aku setuju kok kalau Al dan El itu nikah 👏👏
benar-benar hebat si kembar 👏👏
sungguh cerdas nya si Kembar 🤣🤣
jodoh lah mereka pasti nya 🤣🤣🤣