Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.
Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.
Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.
Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.
Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.
Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Sang Mayor Part 2
Rian tidak langsung menjawab. Ia menyatukan kedua tangannya di atas meja, kemudian menatap Bima dengan serius.
"Kalau menurut saya, Komandan harus mencoba mengenal perempuan itu terlebih dahulu."
Bima mengernyit. "Maksudmu?"
"Ya, gaskeun, Komandan!"
Bima menatapnya heran.
"Gaskeun apa?"
Rian terkekeh.
"Gaskeun perjodohannya, Komandan! Jangan langsung mundur sebelum berperang."
Bima menggelengkan kepalanya.
"Kau ini memang tidak bisa serius terlalu lama."
"Bisa, dong. Dengarkan dulu, Komandan."
Rian mengubah ekspresinya menjadi lebih tenang.
"Menurut saya, pasti ada alasan mengapa Ibu dan mendiang ayah Komandan memilih perempuan itu. Mereka tentu mengenal keluarganya. Mungkin mereka melihat sesuatu yang baik dalam dirinya."
Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
"Dan siapa tahu, perempuan itu memang istimewa. Bukan berarti dia harus sempurna, tetapi mungkin dia memiliki sifat yang sesuai dengan kebutuhan keluarga Komandan."
Bima terdiam, mencerna perkataan sahabatnya.
Rian kemudian menunjuk ke arah meja, tepat di antara mereka.
"Komandan sendiri belum pernah bertemu dengannya secara resmi, bukan?"
"Belum."
"Kalau begitu, bagaimana Komandan bisa mengetahui bahwa kalian tidak cocok?"
Bima tidak menjawab. Sedangkan Rian mengangkat bahu.
"Nah, itu dia. Jangan langsung menolak. Temui dulu, ajak bicara, kenali kepribadiannya. Komandan tidak harus langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Setidaknya, berikan kesempatan kepada diri sendiri dan perempuan itu."
Bima menundukkan kepalanya, kemudian mengusap dagunya.
"Aku mengerti maksudmu."
"Bagus. Sekarang, mari kita bicara tentang Kaning."
Ekspresi Rian berubah lebih serius.
"Saya pernah mendengar dari komandan betapa besar rasa kehilangan yang dirasakan Kaning ketika harus berpisah dengan Bu Latifah. Anak sekecil itu sudah memahami rasa sayang dan rindu. Dia membutuhkan seseorang yang bisa mendampinginya ketika Komandan sedang bertugas."
Bima mengangguk pelan.
"Benar. Ibuku juga mengatakan hal yang sama."
Rian mencondongkan tubuhnya.
"Kalau begitu, pikirkan kebahagiaan Kaning juga, Pak. Jangan sampai Komandan terlalu terperangkap dalam masa lalu sampai lupa bahwa kehidupan masih berjalan."
Kalimat itu membuat Bima terdiam cukup lama.
Rian melanjutkan dengan suara yang lebih lembut.
"Saya tidak menyuruh Komandan melupakan mendiang istri Komandan. Tidak ada yang bisa menghapus kenangan itu. Beliau akan selalu menjadi bagian dari hidup Komandan dan ibu kandungnya Kaning."
Rian berhenti sejenak, membiarkan perkataannya meresap.
"Tapi memberikan tempat bagi seseorang yang baru bukan berarti mengkhianati orang yang sudah pergi. Komandan masih bisa menghormati kenangan masa lalu sekaligus membangun kebahagiaan baru."
Bima menatap sahabatnya tanpa berkata-kata.
"Dan satu lagi," tambah Rian. "Jangan menganggap menikah lagi hanya sebagai cara untuk mencari pengasuh bagi Kaning. Perempuan yang akan menjadi istri Komandan juga punya hati, perasaan, dan impiannya sendiri. Dia berhak dicintai, dihormati, dan diterima sebagai pasangan hidup."
Bima mengangguk perlahan. Perkataan itu membuatnya kembali memikirkan semua hal yang selama ini ia hindari.
Selama ini, ia selalu beralasan bahwa dirinya belum siap. Ia khawatir akan melukai perempuan lain, khawatir tidak bisa mencintai lagi, dan khawatir putrinya tidak akan menerima sosok baru dalam keluarga mereka.
Namun, apakah semua kekhawatiran itu harus membuatnya terus menutup pintu?
Bukankah ia bahkan belum mengenal perempuan yang hendak dijodohkan dengannya?
Rian menghela napas, lalu tersenyum lebar.
"Jadi, bagaimana, Komandan? Masih mau menolak mentah-mentah?"
Bima akhirnya tertawa kecil.
"Kau ini kalau berbicara memang selalu ada saja."
"Tapi benar, kan?"
Bima mengangguk.
"Iya. Kau benar."
Rian tampak puas.
"Nah! Akhirnya Komandan mengakui pendapat saya."
"Jangan besar kepala dulu."
"Siap, Komandan!"
Keduanya tertawa kecil. Setelah suasana kembali tenang, Bima menatap sahabatnya dengan tulus.
"Terima kasih, Rian."
Rian mengangkat alisnya.
"Wah, tumben sekali Komandan mengucapkan terima kasih kepada saya. Apa saya perlu mencatat tanggalnya?"
Bima menggeleng geli.
"Jangan merusak suasana."
"Baiklah, baiklah. Sama-sama, Komandan."
Rian kemudian berdiri dan merapikan seragamnya.
"Kalau begitu, saya tinggal dulu. Dokumennya jangan lupa ditandatangani. Besok Kolonel Yosudarso datang, jadi jangan sampai Komandan kembali melamun saat rapat."
Bima mengambil pena, lalu meliriknya tajam.
"Keluar kau!"
"Siap!"
Rian memberi hormat, lalu melangkah menuju pintu. Namun, sebelum keluar, ia sempat menoleh sekali lagi.
"Oh, iya, Komandan!"
"Apa lagi?"
"Kalau nanti sudah menikah, jangan lupa traktir saya!"
Bima mengambil sebuah pulpen kecil dan mengarahkannya seolah hendak melempar.
"Rian!"
Tawa Rian terdengar hingga ke luar ruangan.
"Siap, saya pergi, Komandan!"
Pintu akhirnya tertutup.
Bima kembali duduk di kursinya. Kali ini, suasana hatinya terasa sedikit lebih ringan. Ia menatap dokumen di hadapannya, kemudian mulai menandatangani berkas-berkas tersebut satu per satu.
Namun, pikirannya masih tertuju pada percakapan tadi.
Jangan menganggap menikah lagi hanya sebagai cara untuk mencari pengasuh bagi Kaning.
Perkataan Rian itu terus terngiang.
Bima mengakui bahwa sahabatnya benar. Jika ia benar-benar memutuskan untuk menikah, ia tidak boleh hanya memikirkan kebutuhan putrinya. Ia juga harus memikirkan perempuan yang kelak akan menjadi pendamping hidupnya.
Ia harus memberikan kesempatan kepada perempuan itu untuk mengenalnya, sebagaimana ia pun harus berusaha mengenal perempuan tersebut.
Bima lalu teringat pada pesan terakhir mendiang ayahnya.
Jangan menerima atau menolak seseorang hanya berdasarkan bayanganmu sendiri.
Pria itu menghembuskan napas panjang, kemudian meraih ponselnya. Ia membuka percakapan dengan sang ibu dan mulai mengetik sebuah pesan.
Bima: Bu, nanti malam Bima ingin bicara lagi tentang perjodohan itu.
Ia berhenti sejenak, membaca ulang pesannya, kemudian menambahkan kalimat berikutnya.
Bima: Bima bersedia bertemu dengan perempuan yang Ibu maksud. Bima ingin mengenalnya terlebih dahulu.
Setelah memastikan kalimat itu benar, ia menekan tombol kirim.
Tak lama kemudian, balasan dari Bu Almira muncul.
Bu Almira: Alhamdulillah. Terima kasih, Nak. Ibu senang kamu akhirnya bersedia memberikan kesempatan. Nanti malam kita bicarakan semuanya baik-baik.
Bima membaca pesan itu dengan senyum tipis.
Untuk pertama kalinya sejak ibunya kembali membicarakan perjodohan tersebut, ia tidak lagi merasa ingin menghindar.
Ia belum mengetahui siapa perempuan yang akan ditemuinya. Ia juga belum bisa memastikan apakah hatinya akan terbuka untuk perempuan itu.
Namun, setidaknya kini ia bersedia melangkah.
Bima meletakkan ponselnya, lalu menatap keluar jendela ruang kerjanya. Langit Jakarta terlihat cerah, sementara aktivitas di halaman Mabesad terus berjalan.
"Baiklah, Bu. Aku akan mencoba," gumamnya pelan. "Demi masa depanku, demi Kaning, dan demi menepati pesan Ayah."
Malam harinya, Bima akhirnya menelepon sang ibu.
"Bu, soal pertemuan dengan perempuan itu, kapan rencananya?"
Di seberang telepon, Bu Almira tersenyum lega.
"Kalau kamu bersedia, Ibu ingin mengaturnya secepat mungkin. Kita akan bertemu di Bandung, di kediaman Paman Malik."
"Paman Malik?" Bima mengerutkan keningnya.
"Iya. Kamu tahu sendiri, beliau adalah adik mendiang ayahmu. Beliau juga sudah mengetahui rencana ini sejak awal."
Bima mengangguk meskipun ibunya tidak bisa melihatnya.
"Baiklah. Kalau begitu, Bima akan mengatur jadwal. Tetapi, Bu, Bima ingin meminta satu hal."
"Apa itu, Nak?"
"Jangan terlalu berharap banyak sebelum kami bertemu. Bima bersedia mengenalnya, tetapi Bima tidak ingin siapa pun memaksakan perasaan."
Bu Almira tersenyum lembut.
"Ibu mengerti. Ibu tidak meminta kamu langsung mencintainya. Ibu hanya berharap kamu bisa membuka hati dan mengenalnya dengan baik."
"Baik, Bu."
"Kalau begitu, nanti Ibu akan memberi tahu Paman Malik. Kita atur waktu yang tepat supaya kamu bisa datang ke Bandung."
Setelah percakapan berakhir, Bima meletakkan ponselnya di atas meja.
Keputusan itu telah dibuat.
Ia akan pergi ke Bandung dan bertemu dengan perempuan yang dipilihkan oleh keluarganya. Ia akan mendengarkan, berbicara, dan mencoba mengenal sosok yang selama ini hanya menjadi bagian dari sebuah rencana perjodohan.
Namun, ada satu hal yang belum diketahui Bima.
Perempuan yang akan ditemuinya itu bukanlah sosok asing sepenuhnya dalam kehidupannya. Ia adalah Latifah.
Guru mengaji yang telah merawat dan mendidik Kaning selama setahun. Perempuan yang dengan tulus menyayangi putrinya. Perempuan yang beberapa waktu lalu ia beri sebuah Al-Qur'an, tasbih, dan mukena sebagai tanda terima kasih.
Bima bahkan masih mengingat bagaimana Latifah berdiri dengan mata berkaca-kaca ketika Kaning harus meninggalkan pesantren.
*
*
Sementara itu, di Pondok Pesantren Darussalam, Latifah sama sekali belum mengetahui bahwa pria yang selama ini ia kenal sebagai ayah dari anak kesayangannya itu adalah calon suami yang telah dipilihkan oleh kedua orang tuanya.
Ia masih menyimpan harapan kepada Ustaz Firman, tanpa menyadari bahwa takdir sedang menyiapkan pertemuan yang mungkin akan mengubah jalan hidupnya.
Dan di Bandung, Ustaz Malik akan menjadi saksi dari pertemuan dua orang yang selama ini berjalan di jalur yang berbeda, tanpa mengetahui bahwa nama mereka telah lama disatukan oleh sebuah wasiat.
Akankah Bima tetap teguh dengan keputusannya ketika mengetahui bahwa calon istrinya adalah Bu Latifah? Dan bagaimana reaksi Latifah ketika menyadari bahwa pria yang hendak dijodohkan dengannya adalah ayah dari anak yang begitu ia sayangi?
bentar lagi pasti ud nemplok aja pak mayor😂😂😂,duuuh semoga dech author buat kayak gt,biar asyik laaaa,eh maaf Thor,sok melangkahi pula aq🤭🤭🤭,lanjut ya Thor....
lah emboh lah ..AQ mumet ngerasain km Latifa gak bs tegas rugi dong AQ tadi undangan di pestamu,ud amplop q tebal lagi,🤭🤭🤭🤭
mungkin ustadz firma mau ngasih selamat x atas pernikahan km Ifah