NovelToon NovelToon
Menukar Takdir Untuk Bellona

Menukar Takdir Untuk Bellona

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:458
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.

Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.

Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

02. Devan

Bellona menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya. Ia berniat kembali tidur, berharap dengan begitu pikirannya bisa berhenti berisik untuk sementara waktu. Namun, bayangan Oma yang muncul dalam mimpinya tadi justru kembali melintas di kepala.

Pada akhirnya, ia memilih bangkit dan berjalan menuju jendela. Tirai berwarna putih gading itu disibaknya, membiarkan cahaya matahari masuk menerangi kamar yang sejak tadi terasa suram.

Hidup terus berjalan, begitu kata Sarah.

Bellona mengembuskan napas panjang. Kalau memang begitu, ia juga harus melanjutkan hidupnya, bukan?

***

Di tempat lain, suara dentuman drum terdengar memenuhi sebuah ruangan kedap suara. Petikan gitar elektrik yang berat berpadu dengan raungan distorsi, menciptakan kebisingan yang mungkin akan membuat orang awam ingin segera menutup telinga.

Namun, bagi lima pria di dalam ruangan itu, suara tersebut justru terdengar seperti sesuatu yang menenangkan.

Seorang pria berkaus hitam duduk di atas kursi, satu kakinya bertumpu pada pijakan kecil. Jari-jarinya bergerak lincah di atas senar gitar elektrik yang bertengger di pangkuannya. Rambut hitamnya sedikit berantakan, sementara beberapa helai jatuh menutupi dahinya.

Devan, pria berusia tiga puluh dua tahun itu, memetik senarnya sekali lagi sebelum mengangkat tangan, memberi isyarat kepada sang drummer untuk berhenti.

"Stop dulu!" serunya.

Suara drum pun terhenti, disusul dengungan panjang dari amplifier yang belum dimatikan.

"Apa lagi, Van?" tanya seorang pria berambut gondrong yang berdiri di dekat mikrofon. "Dari tadi bagian itu terus yang lo ulang."

Devan mengangkat wajah. "Karena permainan lo berantakan."

"Anjing, baru juga mulai!"

"Justru karena baru mulai. Kalau dari awal aja udah berantakan, gimana mau manggung?"

Pria itu mendengkus, lalu meletakkan mikrofon di dudukannya. "Gue heran, sumpah. Lo kalau ngomong bisa nggak, sih, sekali aja nggak bikin orang pengin nabok?"

Devan hanya menyeringai tipis. "Kalau lo bisa main dengan benar, gue juga nggak perlu ngomel."

"Tai!"

Tawa salah seorang anggota band pecah di sudut ruangan. Sementara itu, Devan kembali menunduk, menyetel senar gitarnya tanpa menghiraukan omelan yang masih terdengar.

Sudah bertahun-tahun mereka bermain bersama. Pertengkaran kecil seperti itu bukan hal baru, bahkan bisa dibilang sudah menjadi bagian dari rutinitas latihan mereka.

Bagi Devan, musik bukan sekadar hobi yang ia lakukan untuk mengisi waktu luang. Musik adalah bagian dari hidupnya. Ada hal-hal yang tak bisa ia ungkapkan lewat percakapan biasa, tetapi bisa ia tuangkan melalui petikan gitar dan dentuman musik yang mereka mainkan.

"Van, nanti malam jadi ke tempat biasa?" tanya sang drummer sembari mengusap keringat di lehernya.

Devan mengangkat kepala. "Tempat biasa apaan?"

"Jangan pura-pura lupa, bangsat. Kita udah janji ketemu anak-anak di sana."

"Oh." Devan kembali memetik senarnya. "Jadi."

"Jam berapa?"

"Jam delapan."

"Jangan telat lagi, lo."

Devan mendengus geli. "Gue pernah telat, emangnya?"

Keempat temannya serempak menoleh. "Pernah!"

Devan terkekeh, kemudian mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Oke, oke. Berisik banget, anjir."

Suasana kembali dipenuhi tawa. Tak lama kemudian, mereka melanjutkan latihan dengan lagu berikutnya.

Di tengah ruangan yang dipenuhi suara musik keras itu, Devan memainkan gitarnya dengan tenang. Jemarinya bergerak mengikuti irama, sementara kepalanya sesekali mengangguk mengikuti ketukan drum.

***

Latihan baru benar-benar selesai menjelang sore. Satu per satu anggota band mulai membereskan peralatan mereka, kecuali Devan yang masih duduk santai sambil memainkan gitar, seolah tak punya niat untuk pulang.

“Van, lo nggak pulang?” tanya Raka, sang drummer, sembari memasukkan stik drum ke dalam tas.

Devan menggeleng. “Nggak. Gue mau kawin sama gitar gue dulu.”

Raka terdiam, lalu menatapnya jijik. “Najis banget, anjing.”

“Cemburu bilang, Rak. Lo nggak punya gitar buat dikawinin, kan?”

“Gue punya istri, bangsat!”

“Terus kenapa masih nongkrong sama kita? Pulang sana, urus istri lo. Kasihan, punya suami nggak jelas.”

Tawa meledak di ruangan.

Raka melemparkan kain lap ke arah Devan, tetapi pria itu dengan santai menangkapnya.

“Umur lo tiga puluh dua, Van. Tiga puluh dua! Kapan otak lo mau tumbuh?”

“Kalau otak gue tumbuh, nanti kepala gue kegedean. Susah cari helm.”

“GUE SUMPAH, YA!”

Devan tertawa terbahak-bahak. Ia bahkan sampai membungkuk sambil memegangi perutnya, puas melihat Raka yang sudah kehilangan kesabaran.

Begitulah Devan. Usianya memang sudah memasuki kepala tiga, tetapi tingkah lakunya terkadang lebih mirip anak SMA yang baru mengenal dunia. Mulutnya tak punya rem, kelakuannya menyebalkan, dan keseriusan seolah menjadi sesuatu yang alergi mendekatinya.

Anehnya, di antara mereka berlima, Devan justru termasuk orang yang paling jarang membicarakan kehidupan pribadinya.

Bukan karena ia misterius atau sengaja ingin terlihat keren. Memang tidak banyak yang bisa diceritakan.

Tidak ada istri yang menunggu di rumah. Tidak ada anak yang berlari menyambutnya. Bahkan, tak ada anggota keluarga yang akan menelepon hanya untuk bertanya apakah ia sudah makan atau belum.

Devan hidup sendirian.

Dan, sejujurnya, ia sudah terlalu terbiasa dengan keadaan itu sampai terkadang lupa bahwa hidup orang lain tidak selalu sama dengannya.

“Gue duluan, ya!” seru Raka sambil mengangkat tasnya.

“Titip salam buat istri lo!”

“Bacot!”

“Buat anak lo juga! Bilangin, bapaknya ganteng!”

“Gue doain lo cepet mati kutu!”

“AMIN! BIAR BISA JADI ROCKSTAR!”

Raka menggeleng pasrah sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.

Devan kembali tertawa, lalu memasukkan gitarnya ke dalam tas. Setelah berpamitan dengan anggota band lainnya, ia keluar dari tempat latihan dengan langkah santai.

Sore itu, ia pulang dengan mengendarai motor tuanya yang suara mesinnya terdengar seperti orang batuk menahun.

Lima belas menit kemudian, sebuah motor berhenti di depan rumah bercat abu-abu kusam. Devan turun, melepas helmnya, kemudian menatap bangunan di hadapannya.

Rumah itu sebenarnya tidak terlalu besar. Hanya rumah sederhana dengan dua kamar tidur, satu ruang tamu, dapur, dan kamar mandi. Namun, entah bagaimana, penampilannya berhasil membuat orang yang baru pertama kali melihatnya berpikir bahwa bangunan tersebut sudah lama ditinggalkan penghuninya.

Cat dindingnya mengelupas di sana-sini. Beberapa bagian pagar berkarat, sementara tanaman liar tumbuh tak beraturan di sepanjang halaman. Lampu terasnya bahkan sudah mati sejak tiga bulan lalu.

Tiga bulan?

Atau empat?

Devan lupa.

Yang jelas, selama lampu itu masih bisa diketuk dan sesekali menyala sendiri, ia merasa belum perlu menggantinya.

“Selamat datang di rumah tercinta,” gumamnya sambil membuka pagar yang berderit panjang.

Kriiiiiieeet.

Devan berhenti. Ia menoleh ke arah pagar, lalu mengangguk kecil.

“Suara lo makin bagus, ya. Besok gue masukin band.”

Setelah menutup pagar, ia berjalan menuju pintu depan dan merogoh saku celananya untuk mencari kunci. Namun, begitu pintu terbuka, pemandangan di dalam rumah membuatnya terdiam sejenak. Bukan karena ada pencuri. Melainkan karena ia sendiri sudah lupa betapa berantakannya tempat itu.

Dua bungkus makanan tergeletak di atas meja. Kaleng minuman berserakan di dekat televisi. Pakaian kotor menumpuk di salah satu sudut ruangan, bercampur dengan kabel-kabel yang entah berasal dari perangkat apa. Di atas sofa, ada bantal yang sarungnya sudah kusut dan sebuah gitar akustik yang tertindih jaket kulit.

Sementara itu, di dekat dapur, tumpukan piring kotor tampak seperti sedang mengikuti audisi untuk menjadi gunung tertinggi di dunia.

Devan memandangi semuanya dengan ekspresi datar. Lalu, ia mengangguk mantap. “Wah.” Ia meletakkan tas gitarnya di lantai. “Rumah gue makin estetik.”

Tidak ada yang menjawab. Tentu saja.

“Konsepnya abandoned house, gitu. Vintage. Klasik. Penuh sejarah.”

Devan mengangkat sebuah bungkus makanan dari sofa, mengintip isinya, kemudian buru-buru menjauhkan benda itu dari wajahnya.

“ANJIR! INI APAAN?!”

Ia melemparkannya ke tempat sampah, lalu menatap sofa dengan tatapan penuh pengkhianatan.

“Lo tega banget sama gue, ya?”

Lagi-lagi, tidak ada jawaban.

Devan mendengkus. Ia berjalan menuju dapur, mengambil sebotol air mineral dari kulkas, kemudian menjatuhkan diri ke sofa. Benda itu mengeluarkan bunyi berderit yang mencurigakan.

Devan langsung bangkit. “Eh, jangan mati dulu! Gue belum punya duit buat beli sofa baru!”

Ia menepuk-nepuk dudukan sofa itu, memastikan benda tersebut masih bisa digunakan, sebelum akhirnya kembali duduk dengan hati-hati.

Beginilah hidup Devan sehari-hari.

Bangun tidur sesuka hati, makan kalau ingat, latihan band kalau ada jadwal, lalu pulang ke rumah yang bahkan lebih kacau daripada isi kepalanya sendiri.

Tidak ada yang mengatur. Tidak ada yang menegur. Tidak ada pula yang menunggunya pulang. Seharusnya menyenangkan, bukan? Bagi sebagian orang, mungkin iya.

Namun, bagi Devan, kebebasan itu terkadang terasa seperti tinggal di sebuah ruangan besar yang tidak memiliki pintu keluar. Hanya saja, ia terlalu malas memikirkan hal-hal semacam itu. Maka, seperti biasa, Devan memilih menyalakan televisi, mengambil ponselnya, lalu membuka sebuah permainan yang sudah ia mainkan selama berbulan-bulan.

Belum sampai lima menit, ia sudah mengumpat.

“BANGSAT! MASA GUE KALAH SAMA BOCAH SMP?!”

Ia menendang udara, lalu kembali menekan layar ponselnya dengan penuh ambisi.

“ULANG! ULANG! GUE BELUM TERIMA!”

Di luar, matahari perlahan tenggelam. Di dalam rumah yang berantakan itu, seorang pria berusia tiga puluh dua tahun sedang berperang melawan anak berseragam sekolah di sebuah permainan daring. Dan, untuk pertama kalinya hari itu, Devan benar-benar merasa hidupnya baik-baik saja.

Setidaknya, sampai perutnya berbunyi nyaring dan ia menyadari satu masalah besar.

Devan menatap dapur, kemudian kulkas, lalu kembali menatap dapur.

“Anjing.” Ia mengusap wajahnya. “Gue belum belanja.”

1
falea sezi
buat ini anak agak punya adab donk😒 sebel liat anak g tau aturan banyak kok anak broken home yg tau adab g kayak beloman ini sombong
falea sezi
buat belunasadar donk anak haram kok ngelunjak 😒
falea sezi
anak haram gk tau diri🤣🤣 mending usir aja emak loe aja gk mau lu ikut dia masih ada yg mau nampung loe aja alhamdulillah😒 sebel liat anak g tau Adab
falea sezi
q dpet anak g sopan uda guaa usir🤣
falea sezi
q kirim hadiah 🤭 up banyak ya moga makin bagus buat bocah nya jelas stts nya anak devan apa bukan
BUNGA LYONA: siap kak, makasih udah baca😇🌸
total 1 replies
falea sezi
moga ajaa bneran anak devan ya😓 kasian uda di buang emak nya tp lona jangan sok ya
falea sezi
ini numpang 😒 gk ada baik baiknya kayaknya belom. tentu lo anak devan🤣🤣 bisa aja emak lo🤣jalang gk tau anak siapa😒
falea sezi
ini bapak bneran kan🤣
Lisa Kusmiran07
semangat kak
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
semangat thorr,ceritanya seru lain dari yg lain
Lisa Kusmiran07
menunggu lanjutannya,
BUNGA LYONA: siapp🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!