Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 — PERTEMUAN RAHASIA DI BENGKEL TERLANTAR
Pukul 04.45 pagi, Arga Pratama sudah duduk di meja kerjanya.
Di hadapannya terdapat buku catatan ARX-9, salinan dokumen pemindahan arsip SR-04, dan tangkapan layar pesan dari seseorang yang mengaku sebagai Raka Wibisono.
Pesan itu masih sama.
Aku Raka Wibisono. Jika kamu ingin mengetahui siapa yang menahan perintah penghentian pada malam itu, datanglah sendirian ke bengkel lama di kawasan industri besok pukul enam pagi. Jangan beri tahu Nadia, Kevin, atau siapa pun.
Arga membaca kalimat terakhirnya sekali lagi.
Jangan beri tahu siapa pun.
Ia sudah cukup lama hidup dengan akibat dari keputusan yang dibuat tanpa pemeriksaan menyeluruh. Ia tidak akan mengulangi kebiasaan itu hanya karena seseorang mengaku memiliki jawaban.
Arga mengirimkan lokasi pertemuan kepada Pak Darto dan Nadia. Ia menjelaskan bahwa identitas pengirim belum terverifikasi dan meminta mereka mengetahui jadwal serta tempat yang akan ia datangi.
Ia juga menyimpan salinan pesan dan tidak membawa dokumen asli yang berkaitan dengan penyelidikan.
Setelah memastikan semua persiapan selesai, Arga meninggalkan rumah.
Udara pagi masih dingin ketika ia mengendarai sepeda motornya menuju kawasan industri di pinggiran kota.
Sepanjang perjalanan, pikirannya kembali kepada lima tahun lalu.
Ia masih mengingat ruang pengujian yang dipenuhi layar pemantau, suara alarm yang tiba-tiba muncul, dan angka-angka yang tidak sesuai dengan hasil validasi awal.
Ia juga mengingat suaranya sendiri ketika meminta pengujian dihentikan.
Namun, bagian yang paling sulit ia ingat adalah apa yang terjadi beberapa menit setelah permintaan itu ditolak.
Ada percakapan melalui interkom.
Ada instruksi yang membuat tim tetap menunggu.
Dan ada seseorang yang seharusnya memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan keselamatan.
Arga tidak pernah tahu siapa orang tersebut.
Sekarang, ia mungkin akan mendapatkan jawabannya.
Pukul 05.52, Arga tiba di lokasi.
Bengkel lama itu berdiri di ujung kawasan industri yang sudah tidak seramai dahulu. Cat pada papan namanya mengelupas. Sebagian jendela ditutup papan, sementara pintu sampingnya tampak sudah lama tidak digunakan.
Di seberang jalan terdapat sebuah warung yang baru mulai menyiapkan dagangan. Beberapa kendaraan pengangkut barang melintas sesekali.
Arga memarkirkan sepeda motornya di tempat yang terlihat dari jalan, lalu mengamati bangunan tersebut.
Tidak ada kendaraan lain di depan bengkel.
Ia memeriksa nomor bangunan dan mencocokkannya dengan lokasi yang dikirimkan melalui pesan. Tempatnya sesuai.
Namun, ia tidak langsung masuk.
Arga menghubungi Nadia untuk memberitahukan bahwa ia telah tiba. Setelah itu, ia menunggu beberapa menit sambil memperhatikan keadaan sekitar.
Ketika pukul enam tepat, pintu samping bengkel terbuka sedikit.
Seorang pria muncul dari baliknya.
Usianya sekitar empat puluh tahun. Rambutnya mulai memutih, wajahnya terlihat lelah, dan ia mengenakan jaket gelap yang sudah pudar warnanya.
Pria itu memandang Arga cukup lama.
“Arga Pratama?”
“Ya. Apakah Anda Raka Wibisono?”
Pria itu tidak langsung menjawab.
“Masuklah. Kita tidak punya banyak waktu.”
Arga tetap berdiri di tempatnya.
“Saya ingin memastikan identitas Anda terlebih dahulu.”
Pria tersebut menghela napas.
“Kamu memang tidak berubah.”
“Lima tahun lalu, saya kehilangan pekerjaan, reputasi, dan kesempatan membela diri karena mempercayai dokumen yang tidak pernah diperiksa dengan benar. Saya tidak akan melakukan kesalahan yang sama.”
Tatapan pria itu berubah.
Beberapa detik kemudian, ia mengeluarkan sebuah kartu identitas lama dari dompetnya dan menunjukkannya dari jarak yang cukup dekat untuk diperiksa tanpa menyerahkannya.
Nama yang tertera adalah Raka Wibisono.
Namun, kartu itu sudah kedaluwarsa dan tidak cukup untuk memastikan identitas pemiliknya.
“Saya mengerti,” katanya. “Kamu berhak berhati-hati.”
“Kalau begitu, beri saya sesuatu yang hanya diketahui oleh orang yang benar-benar terlibat dalam ARX-9.”
Raka memandang jalan di belakang Arga sebelum kembali berbicara.
“Pada malam pengujian, kamu meminta penghentian karena data respons aktuator tidak cocok dengan konfigurasi yang disetujui. Kamu mengatakan kepada tim bahwa kita belum bisa memastikan sistem berada dalam kondisi aman.”
Arga tidak menjawab.
Informasi itu memang relevan, tetapi bisa saja diperoleh dari laporan lama.
Raka melanjutkan.
“Kamu kemudian meminta pemeriksaan ulang terhadap riwayat perubahan konfigurasi. Tetapi sebelum pemeriksaan selesai, perintah dari ruang kendali menyatakan bahwa pengujian harus menunggu konfirmasi pengawas.”
Arga menatap pria tersebut lebih tajam.
“Apa yang terjadi setelah itu?”
Raka menunduk sejenak.
“Aku mencoba menghubungi bagian pengawasan. Tidak ada jawaban. Lalu aku melihat seseorang membuka jalur komunikasi lain dari terminal sebelah.”
“Siapa orangnya?”
“Aku tidak melihat wajahnya dengan jelas.”
Arga menahan napas.
“Jadi Anda tidak tahu siapa yang melakukannya?”
“Aku tahu siapa yang menggunakan jalur komunikasi itu. Tapi aku tidak bisa memastikan siapa yang berada di baliknya.”
“Siapa?”
Raka mengeluarkan sebuah kertas kecil dari saku jaketnya.
Pada kertas tersebut terdapat nomor referensi komunikasi internal.
COM-22:14-EW01.
Arga mengenali pola kode itu.
Nomor yang berkaitan dengan waktu ketika perintah penghentian ditahan.
“Dari mana Anda mendapatkan nomor ini?”
“Aku mencatatnya dari terminal komunikasi setelah pengujian dihentikan. Saat itu aku masih percaya bahwa penyelidikan internal akan dilakukan secara benar.”
“Lalu mengapa Anda menghilang?”
Raka mengangkat wajah.
“Karena dua hari setelah laporan final disahkan, aku diminta menandatangani pernyataan bahwa tidak pernah ada instruksi yang menunda penghentian pengujian.”
Arga terdiam.
“Siapa yang meminta Anda?”
“Aku tidak bisa membuktikan siapa yang menyusun pernyataan itu. Dokumen tersebut datang melalui bagian administrasi. Tetapi aku menolak menandatanganinya.”
“Dan setelah itu?”
“Status pekerjaanku berubah. Aksesku dicabut. Dokumen teknisku dipindahkan. Beberapa minggu kemudian, aku meninggalkan perusahaan.”
Arga memperhatikan setiap kata yang diucapkan Raka.
Cerita itu sesuai dengan beberapa catatan yang telah ditemukan, tetapi belum menjelaskan siapa yang memberikan instruksi pada malam pengujian.
“Apakah Anda punya salinan pernyataan itu?”
Raka mengangguk.
“Ada. Tapi bukan di sini.”
“Di mana?”
“Tempat yang tidak terhubung dengan arsip perusahaan.”
Arga menatapnya.
“Kalau begitu, mengapa Anda tidak menyerahkannya melalui pemeriksaan resmi?”
Raka tertawa hambar.
“Karena selama lima tahun, aku tidak tahu siapa yang masih bisa dipercaya.”
“Dan sekarang Anda mempercayai saya?”
“Tidak sepenuhnya.”
Jawaban itu membuat Arga sedikit terkejut.
Raka melanjutkan, “Aku tidak mengenalmu seperti dulu. Lima tahun bisa mengubah seseorang. Tapi aku tahu satu hal: kamu tidak akan berhenti mencari jawaban selama namamu masih tercatat sebagai orang yang bertanggung jawab.”
Arga menghela napas.
“Saya akan mencari kebenaran, bukan membalas dendam.”
“Semoga kamu tetap berpegang pada itu.”
Untuk beberapa saat, keduanya terdiam.
Kemudian Raka mengeluarkan sebuah foto kecil dari saku lainnya.
Foto itu memperlihatkan sebuah panel komunikasi yang dipasang di dinding ruang kendali. Di samping panel terdapat label dengan tulisan EW-01.
Pada bagian bawah foto tertulis waktu pengambilan gambar: 22.16.
Arga memeriksa foto itu dengan saksama.
“Apakah ini diambil pada malam pengujian?”
“Menurut catatanku, ya. Tapi aku tidak bisa memastikan jam pada kamera sama dengan jam server komunikasi. Itu sebabnya aku tidak pernah menggunakan foto ini sebagai bukti tunggal.”
Arga mengangguk.
Setidaknya, Raka memahami pentingnya memisahkan petunjuk dari kesimpulan.
“Apa sebenarnya EW-01?” tanya Arga.
Raka menarik napas panjang.
“Itu bukan nama orang. Itu kode jalur komunikasi untuk kewenangan pengawasan eksternal.”
Arga menatapnya.
“Berarti beberapa orang mungkin bisa menggunakannya?”
“Benar. Jalur tersebut tidak terikat pada satu identitas pengguna. Ia bisa dipakai untuk mengirim instruksi yang berasal dari akun berwenang, tetapi untuk mengetahui siapa yang benar-benar mengirim perintah, kita perlu catatan autentikasi yang asli.”
“Dan catatan itu ada di mana?”
Raka memandang pintu bengkel yang terbuka sedikit.
“Ada salinan catatan komunikasi yang pernah dibuat oleh tim integrasi. Namun, aku tidak tahu apakah salinan itu masih lengkap.”
“Siapa yang menyimpannya?”
Raka hendak menjawab, tetapi tiba-tiba ia berhenti.
Dari arah jalan terdengar suara kendaraan melambat.
Raka menoleh ke jendela.
Sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari pintu depan bengkel.
Wajahnya langsung berubah tegang.
“Kamu datang sendirian?” bisiknya.
“Ya, tetapi orang yang saya percaya mengetahui lokasi ini.”
Raka menatap Arga dengan ekspresi campuran antara kecewa dan lega.
“Bagus. Jangan pernah datang ke tempat seperti ini tanpa memberi tahu siapa pun.”
“Siapa mereka?”
“Aku tidak tahu.”
Mobil itu tidak langsung bergerak. Kaca depannya cukup gelap sehingga Arga tidak bisa melihat siapa yang berada di dalamnya.
Raka segera memasukkan foto dan kertas kecilnya kembali ke saku.
“Kita harus mengakhiri pertemuan ini.”
“Tunggu. Anda belum menjawab siapa yang menyimpan catatan komunikasi.”
Raka menatap Arga.
“Ada seorang mantan petugas administrasi sistem. Namanya tidak tercantum dalam laporan final. Dia pernah membantuku menyimpan salinan catatan sebelum aksesku dicabut.”
“Siapa namanya?”
Raka membuka mulut, tetapi kemudian suara pintu mobil terdengar dari luar.
Ia langsung mundur beberapa langkah.
“Arga, dengarkan aku. Jangan percaya kepada siapa pun hanya karena mereka mengaku ingin membantumu.”
“Termasuk Anda?”
“Termasuk aku.”
Jawaban itu membuat Arga terdiam.
Raka melanjutkan dengan suara rendah.
“Aku akan menghubungimu lagi setelah aku memastikan bahwa dokumen yang kusimpan masih ada. Jangan mencoba mencariku melalui alamat lama.”
“Bagaimana saya bisa memastikan bahwa Anda benar-benar Raka Wibisono?”
Raka menatapnya beberapa detik.
“Aku akan mengirimkan nomor referensi komunikasi yang hanya ada dalam catatan aslinya. Kamu bisa mencocokkannya melalui jalur audit resmi.”
Sebelum Arga sempat bertanya lebih jauh, Raka membuka pintu belakang bengkel dan pergi melalui lorong yang mengarah ke bangunan sebelah.
Arga tidak mengejarnya.
Ia tidak tahu apakah pria itu benar-benar sedang menghindari orang yang berada di dalam mobil, atau sengaja mengakhiri pertemuan sebelum menjawab pertanyaan penting.
Yang jelas, ia tidak memiliki alasan untuk mengejar seseorang yang identitasnya belum terverifikasi sepenuhnya.
Arga keluar melalui pintu samping dan kembali ke tempat sepeda motornya diparkir.
Mobil hitam itu masih berada di sana.
Ketika Arga menoleh, mobil tersebut mulai bergerak perlahan meninggalkan kawasan industri.
Ia tidak mencoba mengikutinya.
Sebaliknya, ia memotret posisi kendaraan dari jarak yang aman dan mencatat waktu kejadian. Ia kemudian mengirimkan informasi tersebut kepada Nadia, tanpa menyimpulkan siapa pemilik mobil itu atau apa tujuannya.
Pertemuan itu berlangsung kurang dari lima belas menit.
Namun, Arga membawa pulang lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Pukul delapan pagi, Arga tiba di Agung Joyo Motor.
Pak Darto sedang menerima kiriman suku cadang ketika melihatnya masuk.
“Bagaimana pertemuanmu?”
Arga meletakkan helm di meja.
“Saya bertemu dengan seorang pria yang mengaku Raka Wibisono.”
Pak Darto menghentikan pekerjaannya.
“Apakah kamu yakin itu benar-benar dia?”
“Belum. Dia mengetahui beberapa detail proyek ARX-9 dan menunjukkan foto lama, tetapi saya masih harus memverifikasi identitas serta asal dokumennya.”
“Lalu, apa yang dia katakan?”
Arga menceritakan percakapan mereka, termasuk kode COM-22:14-EW01 dan foto panel komunikasi.
Pak Darto mendengarkan dengan saksama.
“Kalau begitu, kamu sudah mendapatkan arah penyelidikan yang lebih jelas.”
“Ya, Pak. Tapi saya belum tahu siapa yang mengirim perintah malam itu.”
“Setidaknya sekarang kamu tahu apa yang perlu dicari.”
Arga mengangguk.
Ia membuka laptop dan mengirimkan catatan pertemuan kepada Nadia. Ia meminta Nadia memeriksa kode komunikasi tersebut melalui dokumen resmi yang masih tersedia, sementara ia sendiri akan mencari hubungan antara jalur EW-01 dan sistem pengawasan proyek.
Tidak lama kemudian, Nadia membalas.
Aku menemukan referensi EW-01 dalam daftar kewenangan lama. Jalur itu digunakan untuk instruksi pengawasan eksternal, tetapi daftar pengguna yang berhak mengaksesnya tidak lengkap. Ada satu dokumen yang belum kita periksa: daftar autentikasi perangkat komunikasi pada malam pengujian.
Arga segera meneleponnya.
“Apakah daftar itu masih tersedia?”
“Belum diketahui. Tetapi nomor referensinya tercantum dalam indeks arsip. Kita harus mengajukan permintaan pemeriksaan.”
“Lakukan. Pastikan mereka menyimpan dokumen aslinya dan riwayat perubahan.”
“Aku akan mengurusnya.”
Arga mengakhiri panggilan.
Untuk pertama kalinya, mereka memiliki jalur penyelidikan yang tidak hanya bergantung pada kesaksian seseorang.
Jika daftar autentikasi itu masih tersedia, mereka mungkin bisa mengetahui akun atau perangkat yang mengirim instruksi pada pukul 22.14.
Namun, sebelum Arga sempat menyusun langkah berikutnya, ponselnya berbunyi.
Pesan dari nomor tidak dikenal.
Pertemuanmu dengan Raka sudah kami ketahui. Dia mengatakan bahwa jalur EW-01 bukan milik satu orang. Itu benar. Tetapi dia tidak memberitahumu siapa yang memegang kewenangan untuk menolak perintah penghentian.
Arga menatap layar.
Pesan kedua masuk beberapa detik kemudian.
Cari dokumen delegasi kewenangan yang berlaku pada malam pengujian. Nama yang kamu cari ada di sana.
Arga segera menyimpan kedua pesan itu.
Ia tidak tahu siapa pengirimnya, dan ia tidak akan mempercayainya begitu saja.
Namun, petunjuk tersebut masuk akal untuk diperiksa.
Jika EW-01 memang merupakan jalur komunikasi bersama, maka mengetahui jalur itu saja tidak cukup. Mereka harus mencari dokumen yang menjelaskan siapa yang berwenang mengeluarkan, meneruskan, atau menolak instruksi keselamatan.
Arga membuka kembali catatan proyek ARX-9.
Di antara berbagai nomor dokumen, ia menemukan satu referensi yang belum pernah diperiksa secara mendalam.
DOA-09/ARX — DELEGATION OF AUTHORITY.
Tanggal berlakunya tepat sama dengan tanggal pengujian terakhir.
Arga merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia segera mengirimkan nomor dokumen tersebut kepada Nadia.
Beberapa menit kemudian, Nadia membalas dengan satu kalimat.
Arga, aku menemukan salinan indeks DOA-09. Ada tiga pemegang kewenangan pada malam pengujian. Dua nama sudah kita kenal. Nama ketiga telah dihapus dari salinan laporan final.
Arga berdiri dari kursinya.
“Siapa nama ketiga?” gumamnya.
Nadia mengirimkan foto indeks yang berhasil ditemukan.
Arga memperbesar gambar tersebut.
Nama pertama adalah Adrian Voss.
Nama kedua adalah Marcus Hale.
Nama ketiga hanya terlihat sebagian karena tertutup bekas koreksi pada dokumen.
Namun, beberapa huruf masih bisa dibaca.
R... W...
Arga menatap layar tanpa berkedip.
Raka Wibisono mungkin benar-benar terlibat dalam kewenangan pengawasan.
Atau seseorang sengaja membuat namanya terlihat seperti bagian dari daftar tersebut.
Apa pun jawabannya, satu hal kini jelas: mereka tidak bisa lagi mengandalkan ingatan para saksi semata.
Mereka harus menemukan dokumen delegasi kewenangan yang asli.
Sebab, jika nama ketiga itu benar-benar Raka, maka ia bukan hanya saksi yang mengetahui apa yang terjadi.
Ia mungkin juga memiliki kewenangan untuk menghentikan pengujian.
Dan jika bukan Raka, berarti seseorang telah menghapus nama orang lain lalu meninggalkan jejak yang sengaja mengarah kepada dirinya.
Arga menutup laptopnya perlahan.
Penyelidikan itu baru saja memasuki bagian paling berbahaya.
Bukan karena mereka sudah mengetahui siapa pelakunya, melainkan karena mereka mulai mendekati dokumen yang bisa menunjukkan siapa sebenarnya yang memiliki kekuasaan untuk mengambil keputusan malam itu.
Bersambung.