Sejak ibunya meninggal, hidup Bima berubah menjadi neraka setelah ayahnya membawa istri baru dan anak tirinya yang egois, membuatnya diperlakukan seperti pesuruh dan orang asing di rumahnya sendiri.
Puncaknya, ia difitnah mencuri barang berharga dan diusir begitu saja tanpa ampun, membawa luka hati yang mendalam serta sebuah kotak peninggalan misterius dari mendiang ibunya.
Tak disangka, kotak rahasia itu menjadi kunci bagi Bima untuk bangkit dari titik terendah, bermetamorfosis menjadi sosok sukses dan berpengaruh besar yang siap membuat keluarga pembuangnya bertekuk lutut memohon pengampunan.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Layar laptop di atas meja kecil itu menyala terang di tengah ruangan paviliun yang sunyi.
Bima menatap grafik penurunan harga saham perusahaan Hendra yang semakin merah menyala.
"Situasinya sudah sesuai dengan rencana kita, Tuan Bima," ucap Rian melalui sambungan telepon.
Bagus, pastikan tidak ada celah bagi mereka untuk bernapas lega, balas Bima dingin.
Rian tertawa kecil di ujung telepon mendengar ketegasan klien mudanya itu.
Mereka sekarang sedang mencari pinjaman darurat ke berbagai bank umum, tapi semuanya ditolak karena rekam jejak kredit yang buruk, lapor Rian.
Penolakan itu sudah kuduga sejak awal, ucap Bima sambil menyesap air putih.
Bank mana pun tidak akan mau memberikan pinjaman pada perusahaan yang hampir bangkrut, tambah Bima menjelaskan.
Lalu apa langkah selanjutnya yang harus kita ambil sekarang? tanya Rian penasaran.
Kita akan menyodorkan umpan baru berupa lembaga pembiayaan swasta yang siap memberikan dana cepat, jawab Bima tersenyum sinis.
Lembaga pembiayaan swasta milik kita sendiri? tanya Rian memastikan.
Tepat sekali, gunakan perusahaan lapis kedua kita agar mereka tidak curiga sama sekali, perintah Bima tegas.
Baik, Tuan, saya akan segera mengatur skenario penawaran pinjaman itu malam ini juga, jawab Rian profesional.
Bagus, kabari aku hasilnya segera, kata Bima sebelum menutup panggilan telepon.
Pip...
Sambungan telepon terputus dan layar laptop menampilkan dokumen rencana keuangan selanjutnya.
Bima bersandar di kursi plastik sambil melipat tangan di dada.
"Hendra, kesombonganmu di masa lalu akan menjadi bumerang yang menghancurkan hidupmu sendiri," batin Bima tajam.
Di tempat yang jauh berbeda, suasana kantor pusat PT Cipta Sentosa tampak sangat mencekam malam itu.
Hendra duduk di ruang kerjanya dengan kepala tertunduk lesu di atas meja.
Telepon genggam di dekatnya terus berdering menampilkan panggilan dari para penagih utang dan supplier bahan baku.
Brak!
Pintu ruang kerja terbuka dengan kasar tanpa aturan.
Edi masuk dengan napas terengah-engah dan wajah sepucat mayat hidup.
Ada apa lagi, Edi?! Jangan bilang semua bank besar menolak pengajuan pinjaman kita! bentak Hendra histeris.
Berita buruk, Pak Hendra... seluruh bank menolak mentah-mentah proposal pinjaman kita karena rasio keuangan yang sudah rusak total, jawab Edi putus asa.
Hendra mendadak berdiri dari kursinya hingga napasnya memburu tidak beraturan.
Menolak? Bagaimana bisa mereka menolak padahal kita sudah memberikan jaminan aset perusahaan? teriak Hendra murka.
Mereka bilang risiko kegagalannya terlalu tinggi, Pak, tambah Edi dengan suara gemetar ketakutan.
Hendra menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangan karena frustrasi yang sudah mencapai puncaknya.
Kalau kita tidak dapat dana segar dalam waktu tiga hari ke depan, perusahaan ini pasti akan dinyatakan pailit! maki Hendra kalap.
Rina yang masuk membawa segelas air hangat langsung meletakkannya di atas meja dengan tangan bergetar.
Sabar dulu, Ayah, mungkin masih ada cara lain untuk menyelamatkan perusahaan kita, bujuk Rina lembut.
Cara apa lagi, Rina? Semua cara sudah kita coba dan hasilnya nihil! bentak Hendra menepis gelas air itu hingga tumpah membasahi lantai.
Prang!
Pecahan kaca berhamburan ke segala arah. Rina tertegun kaget melihat suaminya mengamuk separuh gila seperti itu.
Kevin yang berdiri di ambang pintu melangkah masuk dengan wajah acuh tak acuh seperti biasanya.
Paan sih teriak-teriak terus dari tadi? Bikin pusing kepala aja, cibir Kevin malas.
Diam kamu, anak tidak tahu diuntung! Kita sebentar lagi jatuh miskin dan kamu masih bisa santai begitu? maki Hendra meluapkan emosinya pada Kevin.
Kevin mendengus kesal dan menatap ayahnya dengan pandangan tidak terima.
Kenapa jadi aku yang dimarahin? Kan emang dari dulu aku nggak ngurusin kantor! protes Kevin membela diri.
Sudahlah, jangan bertengkar di saat situasi sedang kacau begini, lerai Rina dengan mata berkaca-kaca.
Hendra terduduk lemas di lantai kerjanya dengan air mata kekalahan mengalir di pipinya.
Semua kejayaan yang ia bangun dengan cara licik belasan tahun lalu kini runtuh dalam hitungan hari.
Tiba-tiba ponsel Edi yang berada di saku jasnya berdering nyaring.
Bzzrt...
Edi segera mengangkat panggilan tersebut dengan tergesa-gesa.
Halo, siapa ini? tanya Edi ketus.
Kami dari pihak PT Mitra Dana Mandiri, mendengar bahwa perusahaan Anda sedang membutuhkan suntikan dana darurat, jawab suara asing dari ujung telepon.
Mendengar kata dana darurat, mata Edi langsung membelalak lebar penuh harapan.
Dana darurat? Berapa banyak yang bisa kalian pinjamkan kepada kami? tanya Edi cepat.
Kami bisa mencairkan dana segar sepuluh miliar tunai hari ini juga, asalkan syarat dan jaminannya terpenuhi, jawab suara itu tenang.
Hendra yang mendengar percakapan itu langsung merebut ponsel dari tangan Edi dengan kasar.
Halo! Ini Hendra, Direktur Utama PT Cipta Sentosa! Berapa suku bunga pinjaman itu? tanya Hendra mendesak.
Suku bunganya cukup tinggi, sepuluh persen per bulan dengan jaminan seluruh sisa aset pabrik utama, jawab suara di telepon tanpa ragu.
Sepuluh persen per bulan adalah angka yang sangat mencekik leher perusahaan mana pun.
Namun dalam kondisi putus asa seperti sekarang, Hendra tidak punya pilihan lain yang tersisa.
Baiklah, aku terima syarat itu! Kirimkan kontraknya sekarang juga ke kantorku! putus Hendra tanpa berpikir panjang.
Keputusan bodoh itu diambil oleh Hendra hanya untuk menyelamatkan gengsi dan perusahaannya yang sekarat.
Baik, Tuan Hendra, perwakilan kami akan datang membawa dokumen kontrak dalam waktu satu jam, jawab suara itu lalu menutup telepon.
Pip...
Sambungan terputus begitu saja.
Hendra bernapas lega sejenak sambil menyeka keringat di keningnya yang berair.
Kita dapat pinjaman sepuluh miliar, perusahaan kita aman! ucap Hendra mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Edi menelan ludah susah payah mendengar syarat bunga yang sangat tinggi dari pemberi pinjaman misterius itu.
Tapi, Pak Hendra... bunga sepuluh persen itu sangat berbahaya bagi arus kas kita ke depan, ingatkan Edi ragu-ragu.
Sudah tidak ada waktu untuk memikirkan bunga! Yang penting kita bisa bertahan hidup dulu dari krisis ini! bantah Hendra keras kepala.
Rina mengangguk setuju dengan suaminya karena tidak ingin kehilangan fasilitas kemewahan mereka.
Benar kata Ayah, yang penting masalah sekarang teratasi dulu, timpal Rina mendukung.
Hanya Kevin saja yang tetap diam berdiri di sudut ruangan tanpa peduli dengan perjanjian berbahaya yang baru saja disetujui ayahnya.
Satu jam kemudian, seorang pria berjas rapi datang membawa dokumen kontrak tebal ke ruang kerja Hendra.
Tok, tok, tok.
Pintu diketuk tiga kali dengan sopan.
Silakan masuk! seru Hendra cepat.
Pria utusan lembaga pembiayaan itu masuk membawa koper kecil berisi dokumen perjanjian.
Selamat malam, Tuan Hendra, saya utusan dari PT Mitra Dana Mandiri, sapa pria itu ramah.
Langsung saja tunjukkan di mana aku harus menandatangani kontrak pinjaman ini! perintah Hendra tidak sabar.
Pria itu membuka lembaran dokumen dan menunjuk kolom tanda tangan di bagian bawah kertas.
Silakan baca ketentuannya dan tanda tangani di sini, ucap pria itu tenang.
Tanpa membaca isi pasal-pasal kecil yang merugikan di dalamnya, Hendra langsung membubuhkan tanda tangannya di atas materai.
Tanda tangan itu adalah surat kematian finansial bagi perusahaannya sendiri.
Bagus, dana sepuluh miliar akan segera ditransfer ke rekening perusahaan Anda malam ini juga, kata utusan itu tersenyum misterius.
Terima kasih, silakan bawa salinan kontraknya dan keluar dari ruanganku, usir Hendra sombong.
Utusan itu membereskan dokumennya dan melangkah keluar ruangan tanpa berkata apa-apa lagi.
Ia tersenyum sinis di balik pintu tertutup karena misi dari Bima berjalan dengan sempurna.
Sementara itu, di kamar paviliunnya, Bima mendapat laporan instan dari Rian di laptopnya.
Bip...
Notifikasi pesan berbunyi nyaring di layar komputer Bima.
Tuan Bima, Hendra baru saja menandatangani kontrak pinjaman maut dengan suku bunga sepuluh persen, tulis Rian melaporkan.
Bagus sekali, sebarkan kabar denda dan klausul penyitaan aset itu agar mereka semakin tertekan, balas Bima mengetik cepat.
Rencana besar Bima untuk melilit musuhnya dengan utang berbunga tinggi berhasil tanpa hambatan.
Hendra mengira ia mendapat penyelamat, padahal ia baru saja melompat ke dalam jurang maut yang disiapkan anak kandungnya sendiri.
Bima menutup laptopnya dan merebahkan diri di atas kasur dengan senyum penuh kemenangan.
Malam semakin larut membawa kehancuran perlahan bagi keluarga yang pernah membuangnya tanpa belas kasihan.