Keira Azzalea datang ke Jakarta hanya demi satu hal: melunasi utang keluarga.
Menjadi pengasuh Mika di kediaman mewah keluarga Mahardika terasa bagai angin segar selain gajinya besar, tempatnya juga nyaman.
Masalahnya, rumah itu juga dihuni oleh Ian Xavier Mahardika.
Ian, putra sulung Nathaniel yang dingin dan skeptis, terang-terangan membenci Keira.
Bagi Ian, Keira hanyalah wanita parasit pemburu harta yang memanfaatkan kebaikan ayahnya. Hinaan pedas dan tatapan sinis jadi makanan Keira sehari-hari.
Namun, tinggal di bawah satu atap membuat benturan tak terelakkan.
Seiring berjalannya waktu, benci yang membakar perlahan berubah menjadi perhatian yang membingungkan.
Akankah permusuhan mereka luluh, atau justru tumbuh menjadi obsesi yang berbahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Keira Resmi Menjadi Pengasuh
Ian Xavier berdiri di ambang pintu.
Pria itu sudah rapi dengan kemeja hitam berlengan panjang yang digulung sampai siku dan celana gelap. Wajah tampannya terlihat marah. Di tangan kanannya, ia menggenggam selembar kertas yang sepertinya baru saja diambil dari mesin pencetak.
"Papi bercanda, kan?!" serunya keras.
Nathaniel menyandarkan punggung ke kursi, menatap putra sulungnya dengan tenang.
"Pagi, Ian. Bisa nggak kamu mengetuk pintu sebelum masuk?"
"Nggak perlu ketuk pintu kalau tujuannya mencegah Papi dibodohi sama cewek ini!"
Ian melangkah lebar memasuki ruangan, lalu melempar kertas di tangannya ke tengah meja.
Kertas itu jatuh tepat di dekat tangan Keira. Ia melirik sekilas dan langsung mengenali isinya. Itu rincian gaji serta tunjangan yang baru saja dibicarakan bersama Nathaniel.
Ian menunjuk wajah Keira.
"Dua belas juta per bulan?! Ada THR, bonus kinerja juga?! Pi, dia ini cuma cewek lulusan SMA dari kampung yang baru kerja SEHARI di rumah ini! Papi sudah gila, ya?!"
Dada Keira kembali panas.
Baru saja ia merasa bahagia membayangkan bisa segera melunasi utang keluarganya, sekarang cowok menyebalkan itu datang merusak suasana.
Nih cowok benar-benar nggak bisa lihat orang lain senang sedikit, apa?
"Ian, jaga suaramu," tegur Nathaniel. Suaranya tetap rendah, tetapi terdengar tegas. "Keputusan soal gaji adalah wewenang Papi sebagai pemilik rumah dan kepala keluarga. Keira sudah membuktikan kemampuannya menjaga Mika."
"Membuktikan apa?!"
Ian terkekeh sinis. Tatapannya beralih kepada Keira dengan penuh penghinaan.
"Cuma gara-gara dia bisa bikin Mika nggak menangis semalam, Papi langsung kasih gaji selevel supervisor perusahaan?! Papi nggak sadar kalau cewek ini sedang pakai trik buat memeras Papi pelan-pelan?!"
Keira langsung berdiri dari kursinya.
"Mas Ian!"
Ia menatap pria itu tajam.
"Kalau Mas punya masalah pribadi sama saya, ngomong langsung di depan muka saya! Jangan bawa-bawa status lulusan SMA atau asal kampung saya! Saya kerja halal di sini, cari uang pakai keringat sendiri!"
Ian menoleh. Sepertinya ia tidak menyangka Keira berani membentaknya di depan ayahnya sendiri.
"Kamu dengar nggak?"
Ian melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya sekitar setengah meter.
"Angka dua belas juta itu nggak masuk akal buat posisi kamu. Kamu cuma memanfaatkan kebaikan Papi yang lagi kesepian dan trauma Mika! Kamu itu nggak lebih dari parasit yang kebetulan nemu inang kaya!"
"IAN XAVIER!"
Nathaniel ikut berdiri dan memukul meja dengan telapak tangannya.
BAM!
"Cukup!"
Ruangan langsung hening.
Nathaniel menatap putra sulungnya dengan kecewa.
"Papi nggak pernah mengajarkan kamu merendahkan orang lain hanya karena status sosial atau asal-usul mereka. Keira bekerja di sini karena Papi yang menawarinya, bukan dia yang mengemis."
Ian mengepalkan tangan di samping paha. Otot lengannya menegang. Ia menatap ayahnya, kemudian kembali menatap Keira yang masih berdiri tegak dengan dagu terangkat.
"Papi terlalu percaya sama cewek ini," ucapnya dingin. "Suatu saat Papi bakal nyesel karena nggak dengar omongan Ian."
"Papi nggak akan menyesal," jawab Nathaniel tegas. "Keputusan Papi sudah final. Keira resmi menjadi pengasuh tetap Mika dengan gaji dua belas juta per bulan. Kalau kamu nggak suka, kamu boleh pindah ke apartemenmu sendiri."
Ian terkekeh pendek. Tawanya terdengar pahit. Ia menggeleng pelan sebelum kembali memandang Keira dari ujung kepala sampai kaki.
"Nggak," jawabnya lirih. "Aku nggak bakal pindah. Aku akan tetap tinggal di rumah ini. Aku mau lihat sendiri sampai sejauh mana cewek parasit ini bisa bertahan sebelum topengnya terbuka."
Tanpa menunggu jawaban, Ian berbalik dan melangkah keluar.
BRAM!
Pintu dibanting begitu keras sampai dinding di sekitarnya ikut bergetar.
Keira mengembuskan napas panjang. Dadanya masih terasa sesak oleh campuran marah, kesal, dan sedikit kepuasan karena Ian gagal membatalkan kenaikan gajinya.
Nathaniel memijat pelipisnya. Wajahnya terlihat lelah.
"Keira, saya minta maaf atas kelakuan Ian. Dia memang—"
"Nggak apa-apa, Pak Nathaniel," potong Keira cepat.
Ia kembali membetulkan posisi kursinya, lalu mengambil pulpen yang tadi terjatuh.
Tanpa ragu, Keira membubuhkan tanda tangan di lembar kontrak dua belas juta itu.
Sret! Sret!
Setelah selesai, ia meletakkan pulpen di atas meja dan menyerahkan kertas tersebut kepada Nathaniel.
"Saya sudah tanda tangan, Pak."
Keira tersenyum tipis.
"Soal Mas Ian, silakan suruh dia nonton dari dekat. Saya nggak bakal mundur cuma gara-gara ini. Justru gaji dua belas juta ini bikin semangat saya naik sepuluh kali lipat."
Nathaniel sempat tertegun sebelum akhirnya tersenyum bangga.
"Kamu memang berbeda dari pengasuh-pengasuh sebelumnya, Keira. Terima kasih."
---
Setengah jam kemudian, Keira keluar dari ruang kerja dengan langkah ringan. Di tangannya ada salinan kontrak kerja yang sudah ditandatangani.
Ia hendak naik ke lantai dua untuk mengecek Mika yang mungkin sudah bangun. Namun, saat melewati ruang tengah, langkahnya sedikit melambat.
Ian sedang berdiri dekat pilar sambil memegang secangkir kopi hitam. Punggungnya bersandar santai, tetapi tatapannya langsung mengikuti Keira.
Sepertinya pria itu memang sengaja menunggunya lewat.
"Puas?" bisik Ian saat Keira berjalan sejajar dengannya.
Keira menghentikan langkah. Ia menoleh santai, membetulkan posisi bajunya, lalu mengangkat salinan kontrak di tangannya dengan bangga.
"Puas banget, Mas."
Senyumnya mengembang lebar.
"Gaji dua belas juta per bulan, makan gratis, kamar ber-AC... mana ada orang yang nggak puas?"
Ian hanya menatapnya datar.
"Oh iya, Mas Ian. Makasih, ya, sudah bantu menguji mental saya pagi-pagi. Bikin saya makin mantap kerja di sini."
Wajah Ian kembali ditekuk. Rahangnya mengeras mendengar jawaban santai gadis itu.
"Kamu pikir ini permainan, Keira?"
"Bukan permainan, Mas. Ini namanya cari nafkah."
Keira menjawab cepat, lalu seolah baru teringat sesuatu.
"Oh iya, nanti kalau Mas Ian butuh bantuan buat ngecek kaus singletnya kebalik lagi atau nggak, panggil saya aja, ya. Saya kasih diskon. Gratis tanpa potong gaji."
Sebelum Ian sempat membalas, Keira sudah berbalik dan menaiki tangga dengan langkah riang. Bahkan, ia sengaja menghentakkan kakinya sedikit lebih keras.
Ian tetap berdiri di dekat pilar. Matanya mengikuti punggung gadis itu sampai menghilang di belokan lantai dua.
Genggamannya pada cangkir kopi semakin erat.
"Gadis gila," gumamnya pelan.
semangat Kak 💪💪