NovelToon NovelToon
Puteri Rahasia Sang Ratu

Puteri Rahasia Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Suesant SW

Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.

Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.

Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15. Akuilah!

Raja Han Quan berjalan menuju meja. Ia mengangkat surat itu, lalu menatap Wang Laoyin.

“Apakah kau masih bersikeras bahwa surat ini palsu?” pertanyaan itu terdengar menusuk, tajam dan sedikit memaksa.

“Ya, Yang Mulia.” jawab Wang Laoyin tanpa ragu.

“Apakah kau mengenal Shen Rui?” pertanyaan itu diulang lagi

“Tentu saja. Ia adalah pengawal yang bertugas menjaga keamanan Paviliun Fengyi, bukankah bertahun-tahun yang lalu Yang Mulia yang menunjuknya untuk menjadi pengawal untuk Paviliun Fengyi?" Wang Laoyin membela diri.

Raja Han Quan terdiam, dia tak begitu ingat karena banyaknya pengawal di istana itu.

“Apakah kau pernah berbicara dengannya di luar tugasnya?” Pertanyaan demi pertanyaan penuh rasa tidak percaya itu di lontarkan cepat, dia bukan lagi terlihat sebagai suami yang dikenal Wang Laoyin.

“Ya, jika berkaitan dengan keamanan paviliun, keadaan para penjaga, atau laporan yang perlu disampaikan. Hamba tidak pernah menyembunyikan percakapan itu dari pimpinan pengawal yang bertanggung jawab.”

“Apakah kau pernah mengizinkannya memasuki kamar pribadimu pada malam hari?” Suara raja Hang Quan meninggi.

Wang Laoyin menegang. Dia marah mendengar pertanyaan itu.

“Tidak.” Jawabnya dengan tegas

“Pikirkan baik-baik sebelum menjawab.” Raja Han Quan menyipitkan matanya, sarat dengan ketidakpercayaan.

“Hamba tidak perlu memikirkan sesuatu yang tidak pernah terjadi.” Sahut Wang Laoyin dengan gusar.

Raja meletakkan surat itu dengan gerakan keras. Ujung kertasnya bergeser di atas permukaan meja.

“Kalau begitu, jelaskan mengapa ia ditemukan tewas di samping ranjangmu!”

Wang Laoyin terdiam sejenak.

Pertanyaan itu telah ia dengar berkali-kali dalam pikirannya sendiri. Ia pun ingin mengetahui jawabannya. Ia ingin tahu bagaimana Shen Rui dapat masuk ke kamarnya tanpa ia sadari, siapa yang membunuhnya, dan mengapa tubuhnya diletakkan tepat di samping ranjang sang Permaisuri.

Namun, tidak mengetahui jawaban bukan berarti bersalah.

“Justru itulah yang ingin hamba ketahui, Yang Mulia,” jawabnya dengan wajah mengeras.

“Hamba terbangun dan mendapati tubuhnya telah berada di sana. Hamba tidak mengetahui siapa yang membawanya, siapa yang membunuhnya, atau bagaimana ia dapat masuk ke dalam kamar hamba tanpa hamba sadari.” Wang Laoyin membela diri.

Sesaat Raja Han Quan terdiam, hanya menatap wajah perempuan di depannya itu lekat-lekat.

"Kamu mau mengatakan kalau kau tidur tanpa terbangun sekalipun?"

"Saya sungguh tak tahu Yang Mulia, tidurku terlalu pulas sampai pagi..."

“Tidak ada yang melihat apa pun?” Raja Hang Quan menukas cepat, tak sabar dengan jawaban Wang Laoyin.

“Tidak ada seorang pun yang memberi hamba penjelasan yang dapat dipercaya.”

“Dan surat ini?”

“Palsu.”Sahut Wang Laoyin mulai gusar dengan sikap suaminya itu.

Semua hal yang memberatkanmu kau sebut palsu!” Suara Raja menggema keras di ruangan itu.

Wang Laoyin menatapnya tanpa berkedip.

“Karena memang itulah kenyataannya.”

Raja Han Quan mengembuskan napas dengan kasar. Ia berbalik, berjalan beberapa langkah, lalu berhenti di hadapan lukisan naga di dinding. Tangannya terkepal di balik lengan jubah.

Ia tidak ingin percaya bahwa perempuan yang selama ini berdiri di sisinya telah mengkhianatinya. Akan tetapi, ia juga tidak ingin menerima kemungkinan bahwa seseorang di dalam istananya telah menyusun sebuah konspirasi yang begitu rapi hingga mampu mempermainkan mata dan pikirannya.

Menerima kemungkinan kedua berarti mengakui bahwa ia tidak lagi sepenuhnya menguasai istananya sendiri.

Dan bagi seorang raja, mengakui kelemahan sering kali terasa lebih memalukan daripada menerima kebohongan. Ia berbalik kembali.

“Wang Laoyin, aku akan mengatakan sesuatu kepadamu sebagai seorang raja yang harus menjaga kestabilan kerajaan ini.”

Permaisuri tidak menjawab, dia terlihat mulai putus asa dengan perdebatan itu.

“Skandal seperti ini tidak boleh menyebar. Jika para bangsawan mengetahui bahwa seorang pengawal ditemukan tewas di kamar Permaisuri, lalu muncul surat yang mengarah pada hubungan terlarang, mereka akan mempertanyakan kehormatan keluarga kerajaan. Para pejabat akan mulai berselisih. Musuh-musuh kita akan menggunakan peristiwa ini untuk menyerang kedudukan takhta.”

Raja berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya memenuhi ruangan.

“Kerajaan Weiyang tidak boleh dipermalukan hanya karena masalah pribadi.”Wang Laoyin merasakan sesuatu yang dingin menyentuh hatinya. Masalah pribadi.

Begitu mudahnya Raja menyebut penghinaan yang sedang dialaminya sebagai masalah pribadi, seolah-olah kehormatan dirinya hanyalah kain yang dapat dibentangkan atau dilipat sesuai kebutuhan kerajaan.

“Lalu apa yang Yang Mulia inginkan dari hamba?” tanyanya lirih. Raja Han Quan memandangnya lurus-lurus.

“Akui saja.”

Dua suku kata itu jatuh seperti batu besar ke dalam sumur yang dalam.

Wang Laoyin tidak segera memahami maksudnya. Ia menatap Raja, menunggu penjelasan yang mungkin dapat mengubah arti kata tersebut menjadi sesuatu yang tidak sekejam kedengarannya.

Namun, Raja tidak menarik kembali ucapannya.

“Akuilah bahwa kau pernah menjalin hubungan yang tidak pantas dengan Shen Rui,” lanjutnya.

“Katakan bahwa kau telah melakukan kesalahan karena terbawa perasaan. Aku akan mengatur agar perkara ini tidak dibicarakan lebih jauh. Shen Rui sudah mati. Tidak ada gunanya memperpanjang masalah ini sampai seluruh istana mengetahuinya.” Suara suaminya itu terdengar seperti bahasa asing yang begitu susah untuk dia mengerti.

Wang Laoyin merasa seakan-akan lantai di bawah kakinya telah lenyap.

Ia menatap lelaki di hadapannya—lelaki yang pernah menggenggam tangannya di bawah langit musim semi, yang pernah berkata bahwa tidak seorang pun berhak menghina dirinya selama ia masih hidup.

Apakah ini lelaki yang sama?

Apakah ini Raja yang dahulu berjanji bahwa ia akan selalu mendengarkan penjelasannya sebelum menjatuhkan hukuman?

Atau apakah selama ini ia hanya mengenal wajah seorang penguasa yang pandai menyembunyikan kepentingannya di balik kata-kata cinta?

“Yang Mulia meminta hamba mengaku melakukan sesuatu yang tidak pernah hamba lakukan?” tanyanya perlahan.

“Aku meminta kau memikirkan akibat dari sikap keras kepalamu.”

“Akibat bagi siapa?”

“Bagi kerajaan!”

“Bagaimana dengan hamba? Bagaimana dengan nasib istrimu ini?”

Raja terdiam.

Wang Laoyin melangkah maju satu langkah. Matanya mulai memerah, tetapi ia menolak membiarkan air mata jatuh. Ia ingin Raja melihat seluruh lukanya, bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai bukti betapa kejamnya permintaan yang baru saja ia dengar.

“Bagaimana dengan kehormatan hamba, Yang Mulia? Bagaimana dengan nama yang telah hamba jaga selama bertahun-tahun? Bagaimana dengan kebenaran yang seharusnya menjadi dasar keadilan di kerajaan ini?”

“Jangan mempersulit keadaan!”

“Siapa yang mempersulit keadaan?” Wang Laoyin membalas dengan suara yang semakin tajam. “Hamba, yang meminta agar surat palsu diperiksa? Atau orang-orang yang membiarkan surat itu digunakan untuk menuduh hamba tanpa bukti yang jelas?”

“Cukup!”

“Belum, Yang Mulia. Hamba belum selesai!”

Untuk pertama kalinya sejak menjadi Permaisuri, Wang Laoyin meninggikan suara di hadapan Raja Han Quan tanpa segera menundukkan kepala.

(Bersambung yaaaaaah🥰)

1
Rara
apa aku kedua thor
Aisyah Suyuti
good
☪︎⃟⃝𝐇𝐅ᵐᵃᵘˡ✰͜͡𝐯𐝃W⃠
semangat terus dengan karya² barunya Thor 💪💪💪💪💪
Sri Rahmawati
ibu yg bijak 😍😍
Sri Rahmawati
pertama ☝️☝️☝️
Deandra
lanjut thorrr
Eka Burjo
huhuhu aku ikutan 😭
Sri Rahmawati
/Angry/
Rara
😔😔😔😔😔
🌼EmeLBy🌼
lanjut
🌼EmeLBy🌼: Masih OL thor hihihihii
sama
total 2 replies
Sri Rahmawati
peluk dariku Yang Mulia 🤗🤗🤗
Sri Rahmawati
ku menangis 😭😭😭
Sri Rahmawati
aku maraton bacanya baru tau hari ini dan udh hbs satu pak tisu 😭😭😭
Sri Rahmawati
hadir Thor 🥰🥰
Suesant SW: makasih Kak Sri🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Rara
sediiih
Rara
lanjut marathon
🌼EmeLBy🌼
lahir sudah putriku🤣🤣🤣
Suesant SW: iyaaaaa🤭
total 1 replies
Salsa
ratu yang di makzulkan
Salsa
panjang lagi tor💪
Li Ce
real banget sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!