NovelToon NovelToon
Pelakor Sang Mafia

Pelakor Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa Fantasi / Perjodohan
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
​Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
​Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
​Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31

Suara rekaman palsu yang diputar Sora masih berdengung hebat di dalam kepala Reza.

Pria itu berdiri kaku di halaman rumah aman, menatap foto-foto Maya yang tersebar di tanah dengan tatapan kosong yang mendadak berubah menjadi dingin bak es.

Hatinya yang sempat melunak dan dipenuhi cinta kini retak, meninggalkan kehampaan yang membakar.

​Sora memperhatikan perubahan raut wajah Reza dengan kepuasan yang teramat sangat. Senyuman tipis terukir di bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala.

​"Rian, bawa mobil," perintah Reza singkat, suaranya terdengar begitu datar dan tanpa emosi, seolah seluruh jiwanya telah mati.

​"Siap, Tuan Besar," sahut Rian cepat sambil menundukkan kepala, menyembunyikan senyuman liciknya saat membukakan pintu mobil untuk Reza.

​Mobil jip hitam itu meluncur pergi meninggalkan lokasi, meninggalkan Sora dan Tuan Burhan yang berdiri di halaman.

​Tuan Burhan tertawa terkekeh, menepuk bahu putrinya dengan bangga.

"Langkah yang sangat cerdas, Sora. Menggunakan rekaman suara tiruan berbasis teknologi dan manipulasi foto dari Rian benar-benar melumpuhkan mental Reza. Sekarang dia percaya kalau cewek itu mengkhianatinya."

​Namun, senyuman di wajah Sora perlahan memudar, berganti dengan kilatan mata yang penuh ketajaman dan kecurigaan. Ia mengibaskan mantel hitamnya, melangkah menuju sedan mewahnya.

​"Ini belum selesai, Papa," kata Sora dingin sambil menyilangkan dadanya.

"Reza itu pria yang berbahaya. Sekarang dia memang emosi dan tertipu, tapi kalau sampai dia berhasil menemukan Maya dan berbicara langsung dengannya, kebohongan ini bisa terbongkar dalam sekejap."

​Tuan Burhan berkerut keningnya. "Lalu apa rencanamu? Kita suruh orang untuk menembak cewek itu sekarang?"

​Sora terkekeh pelan, sebuah tawa halus yang terdengar sangat anggun namun beracun. Ia menggelengkan kepalanya perlahan.

​"Jangan bodoh, pa," ujar Sora santai sambil merapikan tatanan rambut mewahnya di kaca mobil.

"Kalau kita membunuh Maya secara terang-terangan, polisi atau anak buah Reza bisa menemukan jejaknya. Kalau Reza tahu aku yang membunuhnya, dia akan menjadi gila dan membalas dendam tanpa peduli hukum dewan lagi. Aku tidak mau mengotori tanganku sendiri untuk sampah seperti cewek itu."

​"Maksudmu?" tanya Tuan Burhan bingung.

​Sora menoleh, menatap ayahnya dengan sorot mata yang teramat licik. "Aku akan memakai tangan orang lain. Tangan yang sudah terbakar oleh kebencian dan keadilan."

​Satu jam kemudian, Sora tiba di sebuah kafe privat di lantai atas gedung pencakar langit pusat kota.

Ruangan itu sudah disewa sepenuhnya, menyisakan keheningan yang tenang dengan pemandangan lalu lintas kota yang padat di bawah sana.

​Di salah satu meja sudut, duduk seorang pria berjas rapi dengan lencana kepolisian pusat yang tersemat rapi di balik saku jasnya.

Namanya Komisaris Hendra, pejabat tinggi hukum yang terkenal ambisius dan haus akan panggung media.

​Sora melangkah mendekat, mengisyaratkan pengawalnya untuk menanti di luar.

"Selamat siang, Komisaris Hendra," sapa Sora anggun sambil mendudukkan dirinya di kursi seberang.

​Komisaris Hendra tersenyum tipis, meminum kopi hitamnya. "Nyonya Sora... Kejutan besar seorang putri klan Burhan meminta bertemu secara rahasia dengan kepolisian pusat."

​"Saya rasa ini bukan sekadar pertemuan rahasia, Komisaris," sahut Sora manis, merogoh tas kulit mahalnya dan mengeluarkan sebuah kilat kilat (flashdisk) berwarna perak serta sebuah amplop cokelat tebal.

"Ini adalah hadiah besar untuk karier Anda."

​Hendra menaikkan alisnya, melirik flashdisk dan amplop di atas meja. "Hadiah apa ini?"

​Sora menopang dagunya dengan jemari bermata berlian, menatap Hendra lekat-lekat.

"Di dalam flashdisk ini ada seluruh bukti transaksi gelap, lokasi tempat persembunyian, dan daftar kejahatan geng saingan lama Reza... kelompok Bram. Termasuk bukti bahwa perempuan bernama Maya adalah anggota kunci yang memicu perang dingin antar geng di kota ini."

​Hendra tertegun, matanya berbinar. "Maya? Perempuan yang dinamai buronan penculikan itu?"

​"Tepat sekali," bisik Sora dengan nada memprovokasi.

"Publik sedang menyoroti kasus ini. Masyarakat ketakutan karena perang mafia di jalanan. Bayangkan betapa besarnya nama Anda di media nasional kalau kepolisian berhasil menangkap 'otak' di balik kekacauan ini dan menembaknya di tempat jika dia berusaha melawan."

​Hendra membelalakkan matanya pelan, menangkap maksud tersembunyi di balik kata-kata Sora.

"Menembaknya di tempat? Nyonya Sora... Anda mau kepolisian menghabisi cewek itu?"

​Sora tertawa halus, menyibakkan rambutnya. "Oh, saya tidak pernah menyuruh Anda membunuhnya, Komisaris. Saya cuma memberi tahu bahwa cewek itu sangat berbahaya dan membawa senjata api tersembunyi. Jika pasukan Anda merasa terancam saat penggerebekan... bukankah prosedur standar adalah melepaskan tembakan terukur?"

​Sora mendorong amplop cokelat tebal itu ke hadapan Hendra.

"Di dalam situ ada dana operasional tak terbatas untuk pasukan Anda, serta jaminan dukungan penuh dari klan Burhan untuk kenaikan jabatan Anda menjadi Kepala Kepolisian Kota bulan depan."

​Komisaris Hendra menatap amplop tebal itu, lalu menatap Sora. Keserakahan dan ambisi jabatan seketika melumpuhkan moralitasnya.

Pria berseragam itu menyunggingkan senyuman licik lalu menarik amplop dan flashdisk tersebut ke dalam saku jasnya.

​"Informasi yang sangat berharga, Nyonya Sora," kata Hendra mantap.

"Saya pastikan buronan atas nama Maya tidak akan pernah sempat membuka mulutnya di pengadilan."

​Sora tersenyum puas. Rencana terukir sempurna di otaknya: Maya akan mati di tangan aparat hukum sebagai penjahat bertangan dingin, dan Reza tidak akan pernah bisa menyalahkan dirinya karena yang mengeksekusi adalah polisi resmi negara.

Tangannya tetap bersih, suaminya kembali ke pelukannya tanpa kekuasaan, dan sang 'pelakor' musnah selamanya.

​Sementara itu, di sebuah stasiun bus tua di pinggiran kota yang berdebu dan sepi.

​Maya duduk sendirian di bangku kayu kusam, mengenakan jaket longgar dan topi kain tipis untuk menutupi wajahnya. Tangannya meremas tali tas ransel lusuh dengan erat, sementara air matanya tak henti-hentinya menetes membasahi pangkuannya.

​Ia telah meninggalkan segala hal tentang Reza. Ia menyerahkan paspor dan kunci mobil pemberian Rian, memilih untuk naik bus biasa menuju desa terpencil di luar pulau agar tidak ada satu orang pun yang bisa menemukannya.

​Reza... maafkan aku... bisik Maya dalam hati yang hancur. Ini jalan terbaik. Tanpa aku, kamu bisa merebut kembali kerajaanmu dan hidup aman.

​Suara pengumuman keberangkatan bus jurusan luar kota berbunyi nyaring melalui pengeras suara stasiun. Maya menyapu air matanya, lalu berdiri membawa ranselnya. Ia melangkah ragu menuju pintu peron tiga.

​Namun, baru saja Maya melangkah tiga jalan, suara sirene polisi yang memekakkan telinga mendadak mengepung seluruh area stasiun bus!

​WIU... WIU... WIU...

​Puluhan mobil patroli kepolisian dan truk pasukan khusus bersenjata lengkap menerobos masuk, memblokir seluruh pintu keluar stasiun. Orang-orang di stasiun berteriak histeris, berlarian menyelamatkan diri.

​"Jangan bergerak! Seluruh area stasiun sudah dikepung!" teriak seorang petugas melalui pengeras suara.

​Maya membeku di tempat, jantungnya serasa berhenti berdetak. Ia menoleh ketakutan dan melihat belasan polisi bersenjata laras panjang membidik tepat ke arahnya.

​Dari balik barisan polisi, Komisaris Hendra melangkah maju dengan senyuman dingin, mengangkat megaponnya.

​"Maya! Kamu ditangkap atas tuduhan terorisme dan pengkhianatan negara!" seru Hendra nyaring. Lalu dengan suara rendah, Hendra memberi instruksi rahasia lewat earpiece kepada penembak jitu di atap:

"Dia membawa bom rahasia di dalam ranselnya... Tembak di dada begitu dia melangkah!"

​Maya membelalakkan matanya, mengangkat kedua tangannya yang gemetar.

"Tolong... aku tidak membawa apa-apa! Aku menyerah!"

​Namun di atas atap stasiun, seorang penembak jitu polisi sudah mengunci titik merah laser tepat di tengah dada Maya, dan jarinya perlahan menekan pelatuk!

​Bersambung.....

1
Naelong
makasi udah mampir.. jangan lupa tinggalin jejak, like dan komen agar autor tambah semangat.. makasi🙏🙏😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!