Sepuluh tahun Erlyn membangun kehidupan sempurna bersama suami dan anaknya, menyembunyikan masa lalu kelam yang sudah ia kunci rapat-rapat.
Dulu, saat usia 19 tahun, ia terjebak pada Om Hendi — pria kaya yang mengurungnya, menyiksanya, dan menyimpan ratusan foto memalukan yang dipaksa diambil. Erlyn berhasil kabur, berpikir ia sudah aman.
Hingga suatu hari, pesan dan foto lama masuk ke ponselnya. Hendi kembali.
"Datang padaku, atau semua foto dikirim ke suamimu."
Sekarang Erlyn harus memilih:
kembali ke neraka yang dulu ia tinggalkan, atau membiarkan keluarganya hancur oleh kebenaran yang menyakitkan.
Satu rahasia. Dua pilihan. Tak ada yang tidak terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Langkah kaki Erlyn terasa sangat berat, seolah setiap jengkal tanah yang dipijaknya ditarik oleh beban tak kasat mata. Setelah perjalanan panjang menggunakan angkot dan berjalan kaki memutar untuk menghindari kecurigaan, rumah kecil berpagar putih itu akhirnya tampak di ujung jalan.
Ia berdiri sejenak di depan gerbang, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan berulang kali untuk menetralkan debar jantungnya yang masih menggila. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, mengusap sisa air mata di pipinya, dan menyusun senyum, senyum palsu yang terasa begitu kaku dan berat di bibirnya.
Jangan sampai mereka tahu, batinnya berulang-ulang. Demi Rara. Demi Iqbal.
Saat ia mendorong pintu pagar, suara tawa riang Rara langsung terdengar dari arah ruang tengah. Anak perempuan itu sedang duduk di lantai karpet bersama mainannya. Begitu melihat Erlyn, Rara langsung berdiri dan berlari kecil menyambutnya.
"Ibuu...!" Rara memeluk pinggang Erlyn erat-erat. "Ibu dari mana aja? Lama banget. Ayah tadi sempat nanyain lho!"
Erlyn berlutut, menyambut pelukan hangat putrinya, lalu mengecup puncak kepala Rara dengan penuh rasa bersalah yang menusuk dada. "Maaf ya sayang, tadi di jalan agak macet, jadi Ibu pulangnya agak sore."
"Kamu sudah pulang, Lyn?"
Suara lembut Iqbal menghentikan kalimat Erlyn. Pria itu keluar dari arah dapur, masih mengenakan kemeja kerja dengan lengan digulung rapi. Senyum hangat terukir di wajahnya, senyum yang selalu membuat Erlyn merasa aman, namun hari ini justru membuat dadanya terasa sesak oleh kebohongan.
Iqbal mendekat, lalu menyentuh dahi Erlyn dengan punggung tangannya. Kerutan halus seketika muncul di dahinya. "Kamu pucat banget, Lyn. Keringat dinginnya juga banyak. Kamu beneran nggak apa-apa? Atau ada yang sakit?"
Erlyn menelan ludah, berusaha tersenyum setenang mungkin. "Nggak apa-apa, Mas. Cuma agak pusing sedikit karena masuk angin kena udara luar. Nanti istirahat sebentar juga sembuh."
Iqbal menatapnya lekat-lekat, seolah ingin mencari kebenaran di balik mata istrinya. Namun, ia tidak mendesak lebih jauh. "Ya sudah, kalau gitu bersih-bersih dulu, terus istirahat di kamar. Biar makan malam nanti aku yang siapkan sama Rara."
Malam itu, saat makan terasa begitu panjang dan menyiksa. Erlyn harus duduk di antara suami dan anaknya, mendengarkan cerita Rara tentang sekolah, menjawab pertanyaan perhatian dari Iqbal, sementara di dalam kepalanya, bayangan ancaman Hendi terus berputar tanpa henti. Setiap detik terasa seperti waktu yang berjalan pelan sebelum badai benar-benar menghancurkan hidup mereka.
***
Hari Rabu berikutnya datang lebih cepat dari yang Erlyn bayangkan.
Waktu menunjukkan pukul tiga lewat sepuluh menit saat Erlyn keluar dari rumahnya. Dengan alasan menjenguk seorang teman lama yang sedang sakit, ia melangkah pergi meninggalkan rumah. Namun, tentu saj tujuannya bukan rumah sakit, melainkan sebuah apartemen mewah di kawasan elit tempat Hendi menunggu.
Alamat yang tertulis di secarik kertas itu membawanya naik ke lantai atas. Saat ia berdiri di depan pintu unit bernomor khusus itu, tangannya sempat tergantung di udara selama beberapa detik. Ia ingin berbalik. Ia ingin berlari kembali turun ke lantai bawah dan pulang ke pelukan suaminya.
Namun, bayangan foto-foto masa lalu yang siap dikirimkan ke ponsel Iqbal langsung menghantam kesadarannya. Tidak ada pilihan lain.
Erlyn mengetuk pintu tiga kali.
Tok... tok... tok...
Belum sempat ia menarik tangan, pintu terbuka dari dalam. Hendi berdiri di sana, mengenakan kemeja gelap dengan lengan digulung, menyambutnya dengan senyum kemenangan yang membuat bulu kuduk Erlyn merinding.
"Kau tepat waktu, Erlyn. Aku suka itu," ucap Hendi pelan, lalu menggeser tubuhnya memberi jalan. "Masuklah."
Erlyn melangkah masuk dengan kaku. Begitu pintu tertutup dan bunyi klik kunci berputar di belakangnya, udara di dalam ruangan itu seketika terasa mencekam.
Hendi berjalan santai ke arah meja, sementara Erlyn berdiri kaku di dekat pintu dengan kedua tangan saling mencengkeram erat. "Katakan apa yang Om mau, lalu biarkan aku pulang. Kita sudah sepakat, aku hanya punya waktu satu jam."
Hendi berhenti melangkah. Ia berbalik, menatap Erlyn dengan sorot mata yang berubah tajam. Senyum di bibirnya perlahan memudar, digantikan oleh seringai dingin.
"Satu jam?" Hendi terkekeh pelan, tawa yang terdengar mengerikan di telinga Erlyn. Ia melangkah mendekat secara perlahan. "Kau pikir kau berada di posisi untuk membuat aturan, Erlyn? Kau datang ke sini karena kau milikku. Dan hari ini, aku nggak butuh sekadar duduk dan mengobrol."
Erlyn mundur secara insting hingga punggungnya membentur dinding keras di dekat pintu. "Jangan dekat-dekat!" bentaknya, napasnya mulai pendek-pendek.
Hendi tidak peduli. Ia menerjang maju, mencengkram pergelangan tangan Erlyn dengan kuat, lalu menarik tubuh wanita itu kasar. "Dua belas tahun aku menunggumu, Erlyn. Jangan uji kesabaranku."
"Lepaskan aku! Tolong... jangan!" rintih Erlyn, air matanya tumpah seketika. Rasa jijik dan teror masa lalu hidup kembali.
Hendi mengabaikan tangisan itu. Ia memaksa menarik Erlyn ke arah sofa besar di dekat sana, berniat mencium dan merengkuhnya secara paksa. Erlyn meronta sekuat tenaga, memalingkan wajahnya, menolak setiap sentuhan menjijikkan itu dengan seluruh sisa jiwa raganya.
Dalam kepanikan yang mencapai puncaknya, insting bertahan hidup Erlyn meledak. Ia ingat Iqbal. Ia ingat Rara. Ia tidak boleh hancur di sini.
Dengan sisa tenaga yang luar biasa, Erlyn mengangkat lututnya dengan kuat, menghantam kemaluan Hendi secara telak.
Ugh!
Hendi mengerang kesakitan, cengkeramannya terlepas seketika. Pria itu terdorong mundur sambil membungkuk memegang harta karunnya yang terancam kehilangan masa depan.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Erlyn menyambar tasnya yang terjatuh di lantai, berbalik, dan memutar gagang pintu dengan panik hingga terbuka lebar.
"Si*l*n...!" maki Hendi dengan suara tertahan, mencoba bangkit mengejarnya.
Namun Erlyn sudah melesat keluar, berlari sekencang-kencangnya menyusuri lorong karpet tebal itu menuju lift. Ia menekan tombol lift berulang kali dengan jari yang gemetar hebat.
Begitu pintu lift terbuka, ia langsung melompat masuk, menekan tombol lantai dasar, dan bernapas lega saat pintu lift perlahan menutup rapat, memisahkan dirinya dari pria iblis di dalam sana.
Erlyn merosot jatuh bersandar di dinding lift, menangis histeris dengan dada naik-turun menahan sesak. Ia berhasil lolos untuk hari ini. Tapi ia tahu, pertempuran yang sebenarnya baru saja dimulai, dan ia harus segera bertindak sebelum Hendi kehilangan kesabarannya sepenuhnya.
Dari pada malah tau dari orang lain kan...
kuat2 ya kalian menghadapi orang kayak hendi 😖
kasih pencerahan biar otaknya gak mampet ngelanjutin service berkala untuk si hendi
woy jengkel banget gua sumpah 😩
..maaf thor esmosi lihat ini erlyn