Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Debu CPO dan Hujan yang Tidak Tepat Waktu
Dengung mesin boiler di mess tadi malam ternyata cuma pembuka.
Pukul delapan pagi, Nadia berdiri di tengah Stasiun Sterilisasi, dan rasanya dunia runtuh oleh bising.
Uap panas menyembur dari pipa dengan suara mendesis memekakkan telinga. Suhunya jauh lebih panas dari AC di ruang administrasi. Nadia pakai seragam lapangan warna navy, helm safety kuning kebesaran, dan sepatu boot berat yang ukurannya satu nomor lebih besar. Rambutnya yang tadi dicepol rapi kini lembab oleh keringat, menempel di leher.
"Bu Nadia! Maju sedikit! Jangan dekat katup uap itu!" teriak Pak Bambang, mandor shift pagi. Suaranya hampir hilang ditelan deru mesin.
Nadia mengangguk, melangkah mundur sambil memeluk papan tulis di dadanya. Ia coba mencocokkan angka buah sawit yang masuk dengan kapasitas sterilizer. Di atas kertas teorinya mudah. Di lapangan, dengan lantai licin oleh minyak dan udara yang panasnya seperti masuk ke mulut naga, semua buyar.
Tiba-tiba alarm berbunyi nyaring. Lampu indikator di panel nomor tiga berkedip merah.
"Tekanan turun! Katup macet!" teriak operator.
Pak Bambang mengumpat pelan, lari ke panel. Nadia ikut mendekat, matanya menyipit baca layar monitor.
"Pak, kalau tekanan turun di bawah dua setengah bar, buah tidak matang sempurna. Kualitas minyak kita anjlok. Asam lemak bebasnya naik," ucap Nadia setengah berteriak.
Pak Bambang menoleh, wajahnya berminyak oleh keringat. "Saya tahu Bu! Tapi katupnya macet, harus dipukul manual dari luar!"
Sebelum Nadia sempat jawab, sebuah tangan besar terulur, mengambil kunci pipa berat dari tangan teknisi.
Arif.
Laki-laki itu tidak pakai helm, hanya kacamata safety yang dikalungkan di leher. Kaos polo hitamnya basah di bagian punggung, menempel sempurna di punggung dan bahunya yang lebar.
"Minggir," perintah Arif singkat. Tidak perlu teriak. Aura berkuasanya saja sudah cukup bikin orang lain menyingkir.
Arif manjat tangga besi menuju katup uap yang bermasalah. Nadia menahannya dari bawah. Matanya tidak bisa lepas dari otot lengan Arif yang menegang saat memutar kunci pipa dengan sekuat tenaga. Ada sesuatu yang primal dari cara Arif bekerja. Sesuatu yang sangat jauh dari Rizki, yang akan panik kalau cat mobilnya tergores sedikit saja.
Dengan bunyi klik keras, katup terbuka. Uap menyembur. Jarum tekanan perlahan naik lagi ke zona hijau. Semua operator bersorak lega.
Arif turun dari tangga, menyeka keringat di dahi pakai punggung tangan. Matanya langsung cari Nadia.
"Kamu tahu soal asam lemak bebas?" tanya Arif saat mereka jalan menuju area yang suhunya sedikit lebih bersahabat. Nadia bisa cium aroma Arif sekarang. Campuran keringat laki-laki, oli mesin, dan sisa samar tembakau.
"Aku lulusan agribisnis, tapi aku baca laporan rugi laba pabrik ini tiga bulan sebelum terbang ke sini," jawab Nadia, napasnya masih terengah. "Aku tidak cuma duduk di ruang ber-AC, Pak Arif"
Arif berhenti melangkah. Mereka kini di dekat tangki pengering. Suara mesin di sini lebih rendah, dengungan berat yang konstan.
Arif menatap Nadia, lalu perlahan angkat tangannya.
Nadia tahan napas. Jantungnya kembali melakukan ritme gilanya.
Arif tidak menyentuh pipinya. Ujung jarinya yang kasar dan hangat menyapu sesuatu di tulang pipi Nadia.
"Kena oli," ucap Arif pelan, matanya menatap titik di wajah Nadia sebelum naik menatap mata wanita itu. "Kamu terlalu keras kepala, Nad. Kalau tadi uapnya meleset sedikit saja, wajahmu bisa terluka."
"Tapi katupnya berhasil dibuka kan?" balas Nadia, suaranya lebih serak dari yang ia mau. Ia tidak mundur. Kakinya terasa terpaku.
Arif tersenyum miring, jemarinya masih tertahan di udara dekat pipi Nadia.
"Benar. Kamu memang tidak cengeng. Tapi ingat kesepakatan kita semalam."
"Kesepakatan apa?" tanya Nadia pura-pura tidak tahu, meski dadanya naik turun.
"Kita cuma teman," bisik Arif, langkahnya maju setengah inci. "Dan teman tidak akan menatap bibir temannya seperti kamu menatapku sekarang, Nad."
Nadia tersentak, seperti baru sadar dari hipnotis. Ia mundur selangkah, pipinya memanas bukan karena suhu pabrik.
"Aku tidak—"
Suara ponselnya memotong kalimatnya. Nadia menyambar ponsel dari saku celana lapangan, bersyukur atas interupsi yang datang tepat waktu.
Layar menampilkan nama Sayang - Rizki.
Nadia menatap layar itu, lalu menatap Arif. Arif menatap layar ponsel itu dengan tatapan yang tidak bisa dibaca, lalu menyingkir selangkah, mengembalikan jarak profesional.
"Halo, Riz," sapa Nadia, suaranya kembali datar.
"Nad, kamu di mana? Kok berisik? Kamu di pabrik?" suara Rizki terdengar jelas, kontras dengan hiruk-pikuk sekeliling.
"Iya, aku lagi di lantai produksi," jawab Nadia.
"Oh. Ya sudah, aku cuma mau bilang, Ibu sudah ke percetakan. Undangan warnanya kurang pas. Katanya kremnya terlalu kuning. Besok khan weekend Kamu pulang, tolong cari contoh warna yang lebih pastel ya. Oh iya, jangan lupa kirim foto kamu pakai kebaya kemarin, Ibu mau tunjukkan ke tante-tante."
Nadia pejamkan mata sejenak. Di sekelilingnya ada mesin miliaran rupiah, ada proses kimia rumit, ada keringat puluhan orang. Dan tunangannya minta ia urus warna undangan.
"Riz, aku sedang bekerja. Nanti malam saja kita bahas," jawab Nadia menahan frustrasi.
"Ya sudah. Assalamualaikum. Jangan lupa makan."
"Waalaikumsalam."
Nadia turunkan ponselnya. Di depan, Arif sudah bersandar di pagar pembatas tangki, melipat tangan di dada. Senyum miring itu kembali muncul, tapi kali ini ada simpati di matanya.
"Warna undangan?" tanya Arif santai.
"Krem yang terlalu kuning," gumam Nadia lelah. Ia sandarkan punggungnya di dinding besi yang hangat.
Arif tertawa kecil, suara baritonnya terdengar merdu di tengah dengungan pabrik. Ia melangkah mendekat, berdiri di samping Nadia, menatap ke langit-langit pabrik yang tinggi.
Di luar, langit Dharmasraya yang sejak pagi mendung tiba-tiba menurunkan hujan deras. Suara hujan menghantam atap seng pabrik dengan keras, menambah simfoni bising tempat itu. Air turun seperti tirai.
"Kamu tahu, Nad?" ucap Arif, suaranya kini lebih lembut, bercampur derasnya hujan. "Di sini, kita tidak peduli warna krem atau kuning. Kita peduli warna minyak yang kita hasilkan. Merah, jernih, atau gelap. Semuanya nyata. Bisa dilihat, bisa dijual."
Arif menoleh, menatap profil wajah Nadia yang terlihat lelah tapi cantik dalam cahaya temaram pabrik. Wajahnya yang kena oli tadi malah membuatnya terlihat lebih hidup.
"Tunanganmu meminta kamu memilih warna pastel untuk kertas," bisik Arif, menatap lurus ke mata Nadia. "Tapi aku bertanya-tanya... warna apa yang akan kamu pilih untuk hidupmu sendiri? Pastel yang sudah ditentukan orang lain, atau warna merah yang berani seperti minyak di sini?"
Nadia telan ludah. Hujan di luar semakin deras, seolah memisahkan mereka dari dunia luar, mengurung mereka dalam gelembung panas, debu, dan ketegangan yang tak terucap.
Ia tidak tahu warna apa yang harus ia pilih. Yang ia tahu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak ingin memilih warna yang sudah ditentukan orang lain untuknya.
Ia ingin memilih warnanya sendiri. Bahkan jika warna itu salah di mata semua orang di kampungnya.
Hujan masih deras. Lantai produksi bocor di beberapa titik. Air menetes.
Arif buka jaket safety tipisnya dan payungkan di atas kepala Nadia tanpa banyak bicara.
"Jalan licin. Pegangan saya saya," kata Arif pelan.
Nadia ragu sedetik, lalu tangannya memegang lengan Arif yang basah oleh keringat dan air hujan yang masuk dari celah atap.
Hangat.
Dan di tengah bising hujan dan mesin itu, Nadia sadar, batas antara teman dan sesuatu yang lain sudah mulai kabur.
Sudah sangat kabur.
Bersambung