Anindya Maheswari, menikah dengan Raditya Wicaksono tanpa restu dari orang tua Radit karena Anindya hanya seorang yatim piatu dan besar di panti asuhan.
Cinta tulus dari Radit membuat Anindya bertahan, berjuang bersama, banting tulang, memeras otak dan keringat. Memulai segalanya dari nol hingga akhirnya sukses.
Namun, siapa sangka setelah sukses Radit malah berkhianat? Menjalin hubungan dengan gadis yang lebih muda, memiliki seorang anak, dan bahkan selingkuhan itu sedang hamil lagi.
Membawa amarahnya yang membara, Anindya bertekad mengembalikan Radit dan keluarga nya ke keadaan semula.
“Kamu lupa satu hal. Jika aku bisa membuatmu sukses, aku juga bisa membuatnu hancur!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06
.
“Ya, Ros… ?” jawab Anindya sambil masih menatap tajam ke arah Raditya yang kini mulai terlihat gelisah.
“[Bu, saya sudah mendapatkan semua data yang Ibu minta tadi siang. Saya sudah memeriksa satu per satu, semuanya lengkap dan sudah saya susun rapi sesuai urutan yang Ibu inginkan,]” Suara Rosita terdengar jelas dari seberang telepon.
Anindya mengangkat alisnya sedikit, “Apa yang kamu dapatkan?” tanyanya tenang,
“Semua sudah saya kirimkan ke alamat email Ibu. Silakan Ibu periksa untuk lebih jelasnya,” jawab Rosita lagi.
Jantung Raditya seakan berhenti berdetak, saat Anin bicara dengan telepon tapi matanya menyorot padanya. Perasaannya tidak menentu, keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Tatapan Anindya seolah-olah sedang menembus jantungnya.
“Apa yang sebenarnya dilaporkan Rosita? Data apa yang dimaksud Anindya? Apakah menyelidiki sesuatu yang tidak seharusnya dia ketahui?’ Berbagai pertanyaan berputar-putar di kepala Raditya.
“Baiklah, aku mengerti. Aku akan memeriksa semuanya nanti. Terima kasih, Ros,” ucap Anindya, lalu langsung menutup panggilan.
Wanita itu memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas, lalu kembali menatap wajah Raditya dengan tatapan yang sama dinginnya.
“Jangan sekali-kali lagi berteriak padaku,” ucapnya tegas.
Raditya mengangguk cepat dan berusaha tersenyum. “Iya, Sayang… Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud berteriak padamu, aku hanya panik karena masalah perusahaan. Aku tidak berpikir jernih tadi. Maafkan aku, ya?” ucapnya, berharap istrinya akan luluh seperti biasanya.
Namun, Anindya sama sekali tidak menggubris setiap kata yang keluar dari mulut suaminya.
“Aku lelah. Aku ingin beristirahat. Kamu tetap tidur di ruang tamu. Jangan ganggu aku,” ucap Anindya datar, lalu ia berbalik badan dan berjalan menuju kamar.
Raditya menatap kepergian istrinya dengan rahang semakin mengeras dan kedua tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa kesal dan amarah kembali menyelimuti hatinya.
“Kurang ajar! Wanita itu sudah berani melawanku. Tunggu saja, aku akan ajari dia sopan santun,” geramnya dalam hati.
*
Malam semakin larut, suasana rumah mulai hening. Namun, Anindya masih berada di ruang kerjanya, duduk di depan meja dengan latar laptop yang menyala. Matanya meneliti setiap angka dan catatan yang tadi dikirimkan oleh Rosita.
Di depan pintu ruang kerja itu, Raditya berjalan mondar-mandir gelisah. Ia ragu-ragu apakah harus masuk atau tidak. Di satu sisi, ia masih kesal dengan sikap Anindya yang berani menentangnya, namun di sisi lain ia sadar akan satu hal. ia masih sangat membutuhkan Anindya. Tanpa wanita itu, perusahaan yang mereka bangun bersama akan hancur dan kehidupannya pun akan terancam.
“Belum saatnya aku melawan dia. Aku harus bersabar. Sikapnya yang berubah-ubah ini pasti ada alasannya, tapi aku tidak boleh membiarkan hubungan kami renggang. Setidaknya sampai aku mendapatkan semua yang aku inginkan,” pikirnya berusaha menenangkan diri sendiri.
Setelah cukup lama berpikir, Raditya akhirnya memberanikan diri untuk masuk.
“Sayang? Kamu masih sibuk?” tanyanya sambil melangkah mendekat. Wajahnya kembali dipasang senyum lembut. “Ini sudah malam sekali, lho. Kenapa masih bekerja saja? Nanti kamu sakit, Sayang.”
Anindya sama sekali tidak menoleh. Baginya, data-data yang ada di layar laptopnya jauh lebih berharga dibandingkan kata-kata manis yang keluar dari mulut suami pengkhianat nya.
Melihat istrinya diam saja, Raditya mendekat dan berdiri tepat di samping meja kerja Anindya. Sedikit membungkuk dengan dua tangan bertumpu di tepi meja.
“Sayang… Apa aku melakukan kesalahan? Kenapa belakangan ini aku merasa kamu menjauh dan menghindar dariku? Ada apa sebenarnya? Ceritakan saja padaku, kita selesaikan bersama-sama, ya?” tanyanya. Suaranya ia buat begitu sedih dan penuh perhatian.
Anindya akhirnya mengangkat wajahnya, menatap suaminya dengan tatapan yang datar dan kosong.
“Kamu merasa kamu melakukan kesalahan?” tanya Anindya balik. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Raditya tergagap. “Ti… tidak. Tentu saja tidak,” jawabnya cepat. “Maksudku… Maaf kalau aku terlalu emosi tadi. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Kamu tahu kan kalau aku sayang sekali padamu?”
Anindya tersenyum miring sambil menatap lekat dua mata Raditya. “Ada masalah di perusahaan belakangan ini,” ucap Anindya, suaranya terdengar tenang namun penuh makna. “Ada banyak transaksi yang jumlahnya cukup besar, tapi tidak sesuai dengan data yang ada. Banyak catatan yang hilang, banyak rincian yang tidak jelas ke mana perginya. Dan aku sedang menyelidiki semuanya.”
Raditya seketika membeku. Darah di tubuhnya seakan berhenti mengalir, wajahnya yang tadi masih terlihat berwarna seketika menjadi pucat pasi. Jantungnya berdegup kencang, ketakutan yang selama ini ia sembunyikan kini mulai merayap masuk ke dalam hatinya.
Anindya yang melihat perubahan wajah suaminya itu, tersenyum sinis di dalam hatinya.
“Tentu saja aku tahu ke mana perginya semua uang itu dan siapa yang menerimanya serta untuk apa uang itu digunakan. Siapa lagi kalau bukan selingkuhan dan anak haram kalian? Kamu pikir aku akan diam saja melihat hasil keringatku dihabiskan? Kamu belum pernah melihat bagaimana aku bergerak!”
“Aku… aku yang memakai uang itu,” ucap Raditya tiba-tiba.
“Dia mengakuinya?” Anindya mengerutkan keningnya. “Luar biasa! Kupikir dia akan berusaha menyembunyikannya selamanya,” pikir Anin.
Namun…
“Aku sedang berinvestasi kecil-kecilan bersama teman lamaku. Aku takut kalau aku ceritakan padamu, kamu akan khawatir atau menolak karena menurutmu mungkin terlalu berisiko. Makanya aku tidak memberitahumu dulu. Aku berencana memberitahumu setelah semuanya berjalan lancar dan menghasilkan keuntungan,” jelas Radit terdengar tulus, meski jelas-jelas itu hanyalah rekayasa.
“Pengkhianat tetaplah pengkhianat. Satu kebohongan ditutupi dengan kebohongan lain. Kapan kamu akan berhenti bohong padaku, Radit?’ gumam Anindya dalam hati. Rasa muaknya semakin menumpuk.
Raditya mendekat, lalu dengan lembut meletakkan kedua tangannya di atas bahu Anindya dan mulai memijatnya perlahan, terlihat penuh kasih sayang.
“Sayang… Kita sudah bersama-sama selama bertahun-tahun. Dulu, apapun kesalahan ku, kamu selalu memaafkanku. Kali ini kamu juga akan memaafkanku, kan?” bujuknya dengan suara selembut sutra.
Padahal dalam hatinya, pikiran-pikiran busuk bermunculan.
“Dia sangat mencintaiku. Bahkan jika dia tahu aku berselingkuh, dan punya anak di luar sana, dia akan tetap memaafkan aku, bahkan mungkin dia rela hidup bersama dengan Sofia asal tidak aku ceraikan. Bukankah itu sangat bagus? Punya dua wanita, yang satu hebat di ranjang, yang satu lagi hebat cari uang.”
Namun, semua harapan itu hancur dalam waktu beberapa detik.Anindya tiba-tiba berdiri dari duduknya, lalu menatap wajah suaminya dengan tatapan yang begitu tajam.
“Kesalahan seperti apa dulu yang kamu maksud? Aku bisa memaafkan semua kesalahan kecuali… pengkhianatan!”
GLEK!!!
Radit menelan ludahnya kasar. Sorot mata Anin tiba-tiba terlihat begitu mengerikan.
“Kamu tidak akan mengkhianati aku, kan?”
apa lgi yg lbih mnyedihkn slain nsibnya s pcundang....udh pd tngkat dewa bkln dpt tender,taunya zonk...😛😛😛....
smntra anin,dia udh bngkit plus dpt dkungn dr bnyak orng yg pduli sm dia....ga sbr nunggu s pcundang hncur.....