NovelToon NovelToon
Datang Untuk Membayar

Datang Untuk Membayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Iblis
Popularitas:295
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

DATANG UNTUK MEMBAYAR

(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)

"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."

Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.

Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.

Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.

Siapa yang baru saja membayar?



Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: TANDA DI BAWAH JENDELA

Srok... srok...

Suara seretan benda basah yang berat itu menggema halus, merayap kaku di atas ubin semen lorong samping tepat di balik dinding kamar tidurku.

Aku berdiri membeku di dekat tirai jendela, memegang lipatan kain krem dengan telapak tangan kanan yang mendadak dingin membeku.

Bau tanah merah basah yang pekat berhembus makin tajam menerobos masuk melintasi celah ventilasi di atas kepala.

Bau itu datang begitu pekat, menusuk hidung dan membuat rongga dadaku terasa sesak seketika.

Jantungku berdegup kencang, menghantam dinding dada di balik kemeja tidur yang kukenakan.

Aku menahan napas dalam-dalam, mencoba mendengarkan setiap getaran bunyi di balik dinding papan tempat tidurku.

Namun, beberapa detik kemudian, suara gesekan basah itu mendadak terhenti total.

Keheningan tebal dan berat kembali mengendap membisu di lorong gang samping rumah kami.

Perlahan-lahan, hembusan bau tanah merah yang pekat ikut memudar terhalau angin malam Kota Malang yang dingin.

Aku melangkah mundur dua tapak, menjauh dari celah jendela depan yang gelap.

Tanganku terulur memeriksa kait selot jendela kayu, memastikan besi pengunci itu terpasang rapat pada tempatnya.

Klek!

Bunyi selot besi yang terkunci mantap memberi sedikit rasa aman bagi jiwaku yang gelisah.

Aku mematikan lampu tidur temaram, lalu melangkah menuju ranjang kayu jati di sudut ruangan.

Malam itu, aku berbaring miring di atas kasur kapuk tanpa bisa memejamkan mata dengan tenang.

Setiap kali keheningan malam melingkupi kamar, ingatan pada potongan kain perca basah di laci dan bunyi seretan di balik dinding terus berputar di kepala.

Bagaimana mungkin ada suara gesekan benda basah melintas di lorong samping, sementara pagar rumah Maya digembok rapat dari luar?

Siapa atau apa yang menyeret sesuatu di atas ubin semen yang seharusnya kosong itu?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggantung kaku, menuntut kejelasan rasional yang belum juga terurai.

Suara azan Subuh yang berkumandang nyaring dari pengeras suara mushola gang membangunkan tidurku yang tidak tenang sekitar pukul lima pagi.

Aku segera bangkit duduk di tepi ranjang, menyapu peluh dingin yang mengembun di dahi.

Setelah menunaikan salat Subuh dan merapikan mukena putih di lemari, aku melangkah keluar menuju ruang tengah.

Udara pagi hari Sabtu terasa sangat dingin dan segar, menyusup dari balik celah jendela dan pintu depan rumah kami.

Ranti dan Dini sudah lebih dulu berada di dekat meja makan porselen.

"Selamat pagi, Bu. Tidurnya nyenyak semalam?"

Sapa Dini lembut sembari menyunggingkan senyum hangat dari dekat rak piring.

"Selamat pagi, Din, Ran. Lumayan nyenyak, cuma agak dingin anginnya semalam,"

Sahutku pelan sembari menarik kursi kayu jati.

"Iya, Bu, semalam anginnya kencang banget. Ranti sampai harus tambah selimut tebal,"

Timpal Ranti sembari menyeduhkan cangkir teh hangat.

"Ayo diunjuk dulu teh hangatnya, Bu, biar badannya hangat,"

Tambah Ranti sembari mengangsurkan cangkir porselen ke mejaku.

"Matur nuwun nggih, Ran. Kamu selalu perhatian sekali sama Ibu,"

Balasku tersenyum tulus.

Aku meminum beberapa teguk teh manis hangat itu, merasakan cairan hangatnya mengalir basah membasahi kerongkonganku.

Kehangatan rasa manis itu memberi sedikit kesegaran pada otot-otot leherku yang terasa kaku sejak semalam.

Dini duduk di kursi seberang meja, meraih sepotong kue bolu kukus di atas piring.

"Bu, sesuai janji kemarin, habis sarapan Dini bantu bersih-bersih halaman depan sama gang samping ya,"

Ujar Dini mengingatkan.

"Boleh, Din. Nanti Ibu yang sapu lorong samping, kamu bersihkan bagian teras depan saja,"

Jawabku cepat.

Aku sengaja membagi tugas itu agar Dini tidak perlu berlama-lama berada di lorong samping rumah Maya.

Kecemasan dan rasa ingin tahuku tentang suara seretan semalam harus tetap berada di bawah kendaliku sendiri.

Selesai menikmati sarapan pagi bersama kedua putriku, aku meraih sapu lidi dari sudut dapur.

Pukul enam lewat tiga puluh menit pagi, aku mengulurkan tangan memutar selot pintu samping rumah.

Klek!

Daun pintu kayu kudorong perlahan ke arah luar.

Sinar matahari pagi membentang tipis di atas lorong semen sempit yang memisahkan dinding rumahku dengan tembok rumah Maya.

Hawa dingin fajar menyapu kulit wajahku saat langkah kakiku yang beralas sandal kain mengayunkan sapu lidi di atas ubin semen.

Srek! Srek! Srek!

Suara sabetan lidi berirama teratur memecah sepinya lorong gang samping.

Sembari mengumpulkan guguran daun mangga kering dan serakan pasir halus, mataku mencermati permukaan ubin semen dengan amat teliti.

Ubin semen di lorong samping tampak bersih dari sisa pasir kering.

Namun, saat sapu lidiku menyapu area di bawah celah jendela samping rumah Maya, langkah kakiku mendadak terhenti kaku.

Di atas permukaan ubin semen tepat di bawah jendela kayu Maya, terdapat sebaris goresan kaku yang masih baru.

Goresan itu tampak seperti bekas seretan benda berat berujung kasar yang mengikis tipis permukaan ubin semen.

Panjang goresan kaku itu sekitar satu meter, membentang lurus menuju ke arah sudut pekarangan belakang.

Bukan hanya itu, di dekat garis goresan kaku tersebut, tampak sisa kerak tanah merah kusam yang mengering tipis di sela ubin.

Aku membungkukkan badan, menyentuh tepi goresan itu dengan ujung jari telunjuk tangan kananku.

Bekas goresan itu terasa agak kasar dan meninggalkan bekas debu halus di kulit jariku.

Goresan ini mungkin berkaitan dengan suara seretan berat yang kudengar tepat dari balik jendela kamar tidurku semalam.

Ganjalan di dalam dadaku kian mengeras, menuntut penjelasan rasional yang makin rumit.

Siapa yang menyeret benda berat di lorong samping ini pada pukul delapan malam lewat, di saat seluruh gang sedang sepi?

"Bu, ada apa kok membungkuk di situ?"

Tegur Dini dari arah pintu samping sembari memegang pengki plastik.

Aku segera menegakkan badan, merapikan posisi sapu lidi di tangan kiriku.

"Mboten ada apa-apa, Din. Cuma kotoran pasir agak menempel di lantai,"

Sahutku tenang, menyembunyikan getaran heran dan kecemasan di dalam dada.

Dini melangkah mendekati lorong samping, memandangi pintu pagar besi hijau rumah Maya yang masih terkunci gembok.

"Rumah Tante Maya masih sepi banget ya, Bu. Gemboknya juga mboten berubah sama sekali,"

Gumam Dini sembari memiringkan kepala memandangi teras sebelah.

"Iya, Din. Mungkin Tante Maya sama Mas Rian masih ada urusan di luar kota,"

Sahutku pelan sembari melanjutkan ayunan sapu lidi.

"Tapi aneh ya, Bu. Masa pergi berhari-hari tapi mboten titip pesan sama Bu RT atau sama Ibu?"

Tanya Dini dengan raut wajah heran.

Pertanyaan Dini mengutarakan hal yang sama persis dengan apa yang mengganggu pikiranku sejak dua hari lalu.

Kepergian Maya dan Rian tanpa pesan, rumah yang digembok rapat dari luar, serta anomali fisik yang bermunculan secara bertahap terus membayangi pikiran.

"Ya sudah, yuk kita selesaikan nyapunya biar bisa nyiram tanaman Ranti,"

Ajakku mengalihkan perhatian Dini.

"Iya, Bu, mari Dini bantu tampung sampah daunnya,"

Balas Dini ramah sembari menyodorkan pengki plastik.

Saat kami sedang menyapu halaman depan rumah, langkah kaki seorang wanita paruh baya terdengar mendekat dari arah gang.

Bu RT berjalan melangkah santai membawa kantong plastik berisi sayuran segar dari pasar depan.

Wanita berusia lima puluh tiga tahun yang ramah itu menghentikan langkahnya tepat di depan pagar rumah kami.

"Sugeng enjang, Bu Sari. Lagi bersih-bersih sama Dini nggih?"

Sapa Bu RT dengan senyum mengembang di wajahnya.

"Sugeng enjang, Bu RT. Nggih, mumpung hari Sabtu anak-anak libur kuliah,"

Sahutku membalas senyumnya dengan ramah.

Bu RT melirik sejenak ke arah pintu rumah Maya yang terkunci gembok, lalu mendesah pelan.

"Iki lho, Bu Sari, kemarin Pak RT cerita kalau HP-ne Mas Rian masih mboten bisa dihubungi sama sekali,"

Ujar Bu RT memulai obrolan.

"Sama sekali mboten aktif nggih, Bu RT?"

Tanyaku mengejar kepastian.

"Nggih, Bu. Kemarin Pak RT sampai telepon teman pemborongnya Mas Rian yang di Tidar, katanya Mas Rian juga sudah tiga hari mboten kelihatan di lokasi proyek,"

Beber Bu RT dengan raut wajah prihatin.

Informasi dari Bu RT mencatat fakta baru mengenai ketidakberadaan Rian.

Rian bukan hanya menghilang dari rumah gang kami, tetapi juga tidak pernah muncul di lokasi proyek bangunannya di Tidar selama tiga hari terakhir.

"Mboten biasanya Mas Rian menghilang tanpa kabar begini nggih, Bu RT?"

Tanyaku pelan sembari memegang gagang sapu lidi.

"Lha nggih, Bu Sari. Wong kemarin penagih utang material dari toko bangunan sampai datang ke rumah Pak RT tanya alamat keluarganya Mas Rian,"

Tambah Bu RT.

"Terus Pak RT jawab apa, Bu?"

"Pak RT cuma bilang mboten ngertos alamat pastinya di luar kota. Lagian Pak RT juga mboten berani kasih informasi sembarangan,"

Jawab Bu RT.

Penjelasan Bu RT memperjelas situasi finansial yang sedang membelenggu Rian saat ini.

Desakan utang material proyek dan hilangnya kontak Rian kini telah menjadi perhatian serius pengurus RT di lingkungan kami.

Namun di mana keberadaan Maya dan Rian saat ini tetap tidak diketahui oleh siapa pun di lingkungan permukiman ini.

"Yo wis nggih, Bu Sari, saya mau masak dulu di rumah. Nanti kalau ada kabar dari Mas Rian, tolong kabari Pak RT nggih,"

Pesan Bu RT sebelum berpamitan melangkah pergi.

"Nggih, Bu RT, siap pasti saya kabari,"

Balasku mengangguk.

Bu RT melangkah pergi menyusuri lorong gang depan, meninggalkan aku dan Dini yang berdiri di depan pekarangan.

Aku membawa pengki dan sapu lidi kembali ke dalam rumah, lalu mengunci pintu depan rapat-rapat.

Klek!

Di dalam kamar tidur utamaku yang tenang, aku melangkah mendekati meja rias kayu di dekat lemari pakaian.

Tanganku mengambil kunci kecil dari saku baju, lalu memutarnya pada lubang kunci laci bagian atas.

Klek!

Laci kayu itu terbuka pelan.

Di dalam laci tersimpan lipatan nota kelontong berangka 8 tebal, buku catatan alamat Mbak Yuni, dan potongan kain perca basah berbau tanah basah.

Tiga benda penting itu tersimpan rapi di dalam laci kamar pribadiku.

Belasan tahun bekerja di balik meja teller bank mengajarkanku untuk selalu menghubungkan fakta-fakta yang tercatat secara cermat.

Masalah utang proyek Rian, telepon Mbak Yuni di desa, janji tanggal 8 dari Maya, serta bukti-bukti fisik di rumah sebelah mulai terasa seperti potongan-potongan yang mungkin berhubungan.

Namun pola besar di balik seluruh rangkaian kejadian ini belum sepenuhnya terbuka terang di hadapanku.

Aku mendorong laci meja rias hingga rapat, lalu memutar kuncinya sampai berbunyi klak.

Klek!

Aku melangkah mendekati kalender dinding yang tergantung di dekat lemari pakaian.

Angka 8 yang dilingkari spidol hitam tebal di lembaran kalender itu seakan berdiri menatapku dengan kaku.

Hari ini adalah hari Sabtu tanggal 7.

Artinya, besok pagi adalah hari Minggu tanggal 8—tanggal yang disebut Maya ketika berjanji akan membayar pinjamannya dua hari lalu.

Dada di balik bajuku terasa makin sesak oleh firasat yang kian berat dan menekan jiwaku.

Menjelang pukul setengah sebelas siang, suasana gang mulai kembali sepi.

Klek!

Suara selot pintu pagar besi dari arah pekarangan luar mendadak berderit pelan di tengah kesunyian siang.

Aku tersentak pelan, berjalan mendekati jendela kamar depan sembari menyibak sedikit tirai krem.

Di luar sana, seorang pria berjaket kulit hitam dengan helm terpasang rapat berdiri mematung di depan pagar rumah Maya yang tergembok.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!