Hazella Adeline, atau Hazel, adalah gadis 19 tahun yang dikenal sebagai bad girl. Meski keras kepala dan berani, Hazel sebenarnya memiliki hati yang sangat baik. Saat pindah sekolah, Hazel harus tinggal di rumah kakaknya, Cateline, yang ternyata sudah menikah selama dua tahun dengan seorang pria bernama Sagara. Namun, Sagara jauh dari bayangan Hazel tentang seorang suami. Ia terlihat penakut, mudah menangis, selalu mengalah, dan sering menjadi sasaran amarah Cateline. Hazel pun selalu membelanya hingga tanpa sadar mulai menyukai pria itu. Hazel tahu perasaannya salah karena Sagara adalah suami kakaknya. Ia berusaha menahannya. Hingga sebuah rahasia perlahan terbongkar. Sagara ternyata mengalami amnesia dan tidak mengingat siapa dirinya sebelum kecelakaan. Tak ada yang tahu bahwa sebelum kehilangan ingatan, Sagara adalah mafia paling kejam sekaligus salah satu pria terkaya di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amnesia
Malam hari pun tiba. Suasana di dalam mansion mewah itu terasa makin sunyi dan dingin. Hazel terbangun dari tidur nyenyaknya saat perutnya menyuarakan rasa lapar yang tak bisa ditahan lagi. Efek jet lag dan belum menyentuh makanan sejak mendarat membuat tubuhnya terasa lemas.
Gadis itu beranjak dari tempat tidur, mengganti pakaiannya dengan baju tidur santai sebuah pajama set berbahan sutra tipis yang nyaman. Tanpa menyisir rambutnya yang sedikit berantakan, Hazel membuka pintu kamar dan melangkah keluar.
Suasana lorong lantai dua sangat sepi, hanya diterangi lampu-lampu dinding berdesain hangat. Namun, begitu Hazel menuruni tangga menuju lantai dasar, samar-samar hidungnya menangkap aroma harum masakan yang sangat menggugah selera. Rasa penasarannya terpacu, menuntun langkah kakinya kembali menuju area dapur utama.
Di sana, di bawah sorotan lampu gantung dapur yang terang, berdiri sosok pria tinggi yang tadi siang ditemuinya. Sagara tampak sibuk membelakangi pintu masuk, mengenakan celemek sederhana di atas kaos santainya. Tangan jangkungnya cekatan mengaduk masakan di dalam wajan, sementara beberapa bahan makanan yang sudah terpotong rapi tersusun di atas meja konter.
Hazel menyandarkan tubuhnya pada bingkai pintu, menatap pemandangan itu dengan kening berkerut.
"Kenapa Kau yang masak?" tanya Hazel akhirnya, memecah keheningan dapur dengan nada penuh rasa ingin tahu.
Sagara tersentak pelan, hampir menjatuhkan sotil kayu di tangannya. Pria itu menoleh pendek ke arah Hazel, lalu menghembuskan napas lega begitu menyadari siapa yang datang.
Berbeda dengan tadi siang saat ia tampak begitu panik dan ketakutan, kini Sagara menjawab dengan raut wajah yang jauh lebih tenang. "E-eh... kau sudah bangun? Aku selalu memasak di rumah ini. Setiap hari," ucapnya polos sambil kembali fokus membalikkan masakan di wajan.
Hazel melangkah masuk lebih dalam ke area dapur. Matanya yang tajam mengedar ke sekeliling ruangan yang amat luas itu. Tidak ada tanda-tanda keberadaan asisten rumah tangga satu pun. Peralatan memasak yang kotor tertumpuk di wastafel, dan beberapa sudut dapur menunjukkan tanda-tanda bahwa hanya ada satu orang yang mengerjakannya.
"Di mana para pelayan rumah ini?" desak Hazel, melipat tangannya di dada. "Mansion seluas ini tidak mungkin tidak punya asisten rumah tangga, kan?"
Sagara menggelengkan kepalanya polos, mematikan kompor gas sebelum berbalik menghadap Hazel sepenuhnya. "Nona Cateline tidak menggunakan pelayan di rumah ini. Beliau... menyuruhku mengerjakan semuanya. Mulai dari memasak, membersihkan rumah, sampai mencuci baju."
Mendengar penuturan itu, Hazel membelalakkan matanya. Amarah halus mulai merayapi dadanya. Sungguh tidak masuk akal! Seorang suami sah diperlakukan tak ubahnya seorang pelayan tanpa gaji di rumahnya sendiri?
"Sekarang jelaskan padaku... kenapa kau mau disuruh-suruh seperti itu olehnya?!" tanya Hazel dengan suara yang tertahan, berusaha keras menekan kekesalan yang hampir meledak. "Kau ini suaminya, bukan pembantu!"
Sagara menatap Hazel dengan pandangan jujur dan polos yang membuat siapa saja bisa merasa gemas sekaligus kasihan. Pria itu menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.
"Ya... karena aku suaminya," jawab Sagara tanpa beban. "Dan itu juga perintah dari Nona Cateline. Kata Nona, aku harus berguna di rumah ini."
Hazel menepuk dahi, benar-benar gemas dengan kepolosan pria di depannya ini. Ia menarik napas panjang untuk menetralkan emosinya, lalu memajukan langkah.
"Dari mana kau mengenal kakakku? Bagaimana bisa pria seperti kau menikah dengan wanita seperti Cateline?" desak Hazel lagi, mengejar jawaban yang masuk akal.
Sagara kembali menggelengkan kepalanya pelan. "Aku... tidak begitu ingat," bisiknya ragu.
"Tidak ingat maksudmu?"
Sagara menunduk sebentar, meremas jarinya sendiri. "Dua tahun lalu, kata Nona Cateline aku mengalami kecelakaan hebat. Aku terbangun di rumah sakit tanpa mengingat siapa diriku, dari mana asalku, atau siapa keluargaku. Nona Cateline bilang, beliaulah yang menyelamatkan hidupku dari kecelakaan itu..."
Sagara mendongak, menatap Hazel dengan senyum tipis yang tulus namun menyedihkan. "Nona bilang aku tidak punya siapa-siapa lagi. Jadi, beliau membawaku kemari dan menikahiku."
Mulut Hazel melongo seketika. Matanya terpaku pada Sagara tanpa mampu berkedip selama beberapa detik.
Amnesia? Kecelakaan?
Seketika itu juga, potongan puzzle di kepala Hazel terpasang dengan sempurna. Rasa herannya sejak tadi siang mendadak terjawab sudah. Hazel akhirnya paham kenapa Sagara bisa pasrah disuruh-suruh, diperlakukan seperti pelayan, dan dipanggil dengan sebutan 'Nona' tanpa pernah melawan. Pria ini telah dimanipulasi sepenuhnya! Cateline memanfaatkan hilang ingatannya Sagara untuk menjadikannya pria penurut yang bergantung hidup padanya.
Hazel menatap Sagara dari atas sampai bawah dengan pandangan yang kini dipenuhi rasa iba sekaligus curiga mendalam pada niat tersembunyi kakaknya.
"Jadi begitu..." gumam Hazel pelan.
Gadis itu menghela napas panjang, mencoba mencerna segala kejanggalan yang baru saja ia dengar. Matanya lantas bergulir ke dinding dapur, menatap jarum jam dinding berdesain minimalis yang berdetak konstan.
"Lihat sekarang jam berapa, Kakak Ipar," ucap Hazel sambil menunjuk jam tersebut dengan dagunya. "Sudah jam 10 malam. Dan percaya padaku, aku sangat tahu tabiat kakakku. Dia tidak akan pulang jam segini. Jadi... mari kita makan tanpa dia."
Tanpa menunggu persetujuan dari Sagara, Hazel langsung mengambil piring kosong di atas konter. Ia mengambil porsi nasi yang lumayan banyak dan menyendokkan lauk pauk hasil olahan Sagara ke atasnya. Aroma sedap dari masakan itu benar-benar mengikis sisa-sisa kesabarannya menghadapi rasa lapar.
Hazel duduk di salah satu kursi bar yang tinggi, mengambil sendok, dan langsung melahap suapan pertamanya. Begitu rasa masakan itu menyapa lidahnya, mata Hazel melebar seketika. Sensasi gurih, manis, dan rempah yang pas meledak di dalam mulutnya.
"Sumpah, demi apa?!" seru Hazel dengan gaya khas anak muda umur 19 tahun, suaranya spontan meninggi karena terkejut. Ia mengunyah cepat lalu menunjuk Sagara dengan ujung sendoknya. "Ini enaknya parah banget, Kak! Gila, masakan resto mahal lewat, sih!"
Sagara yang tadinya berdiri canggung mendadak mematung. Senyuman tipis dan amat tulus perlahan terbit di bibirnya. Lesung pipit tipis mengintip di balik pipinya, dan matanya berbinar lembut. Wajah lugu yang biasanya terlihat ketakutan itu mendadak terpancar hangat, membuat parasnya terlihat jauh lebih tampan dari sebelumnya.
DEG.
Dada Hazel mendadak berdesir aneh. Jantungnya merosot serasa melompat satu ketukan hanya karena melihat senyuman polos pria di depannya itu.
Hazel tersentak pelan. Sadar akan reaksi tubuhnya yang tak wajar, gadis itu buru-buru mengalihkan pandangannya kembali ke piring, berpura-pura sibuk mengaduk nasinya demi menyembunyikan semburat hangat yang mendadak muncul di kedua pipinya.
"Ehem!" Hazel berdehem keras untuk menetralkan suasana. Dengan nada galak yang dibuat-buat, ia menunjuk kursi di seberangnya. "Kenapa malah berdiri seperti patung begitu? Ambil piringmu dan ikut makan sekarang! Makanan sebanyak ini tidak mungkin kuhabiskan sendiri."
double up y thor 😄🙏
kasihan si hazel ...