Rasa yang tidak seharusnya ada itu kian tumbuh pada Carol, dari sebuah kekaguman berubah menjadi cinta. Carol mengubur semua itu dalam-dalam karena cinta itu tidak akan pernah bisa dia gapai. Sampai suatu hari dimana ternyata semesta seperti memberinya sebuah kesempatan. Dan Carol tidak mau menyia-nyiakannya, dia berjuang mendapatkan sesuatu yang sebelumnya terasa sangat mustahil itu. Dia mengambilnya meski harus menghadapi banyaknya sudut pandang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeNickname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Andrew menatap punggung Carol yang menghilang dibalik pintu, dia yakin Carol sedang dalam kondisi yang tidak nyaman setelah mendengarkan percakapan tadi.
Tapi Andrew juga tidak bisa tiba-tiba menolak begitu saja. Dia takut Gerald tersinggung.
Ponsel Gerald berdering membuatnya terpaksa berdiri lalu meninggalkan Andrew dan Rose berdua.
"Maaf ya, Papa malah bikin kamu gak nyaman."
"Tidak apa-apa." balas Andrew datar.
"Aku tahu arti ekspresimu, Andrew. Meski kita sudah sama-sama tidak muda lagi ingatanku masih bagus kok."
"Ya, aku percaya itu."
Rose tertawa kecil, "Aku dengar kamu juga gagal dengan pernikahanmu."
"Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan."
"Kau benar sekali."
...----------------...
"Nona Car.."
"Carol. Namaku Carol." sahut Carol yang sedang berjalan beriringan dengan Gabriel, mereka baru saja melewati lorong pertama.
"Ah iya, maaf saya lupa."
"Tidak apa-apa, itu biasa."
Gabriel tersenyum tipis, "Ke sebelah sini, Nona." tunjuknya.
"Sebenarnya aku tidak ingin ke toilet."
Langkah Gabriel terhenti dia terlihat bingung, "Maksudnya Nona?"
"Rasanya seperti tidak sopan saja berada disana."
Mendengar itu Gabriel mulai paham, "Lalu kita akan pergi kemana, Nona?"
"Emm.. Apa disini ada kantin?"
"Ya, tentu saja ada."
"Kalau begitu kita kesana saja, lagipula memang sudah hampir jam makan siang kan?"
"Baiklah, mari saya antar Nona."
Carol dan Gabriel memutar arah, mereka masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai sembilan dimana kantin berada. Dan Carol nampak mengekor saja.
Saat masuk kesana Carol terlihat takjub, tempat yang katanya kantin ini malah lebih terlihat seperti restoran mewah.
"Silahkan dipilih, Nona."
Gabriel menyodorkan buku menunya dan Carol langsung menuliskan pesanannya. Ada banyak pilihan disana yang bisa disesuaikan dengan selera.
Tidak membutuhkan waktu lama, makanan yang dipesan kini sudah mendarat di atas meja. Dan semuanya hampir menutupi seluruh bagian mejanya.
"Anda memesan sebanyak ini?"
"Ya, semuanya terlihat enak."
Dasar laki-laki, tidak tahu saja kalau perempuan sudah seperti ini itu tandanya dia sedang sedih dan melampiaskannya pada makanan.
"Oh iya, bisakah kita berbicara non formal? Tidak ada atasan kita disini. Jujur saja aku merasa kurang nyaman."
"Tapi.."
"Panggil aku Carol saja, oke?"
Gabriel terlihat ragu tapi akhirnya dia mengangguk, "Baiklah, Carol."
"Nah, itu lebih enak di dengar. Kalau begitu ayo kita makan, ambil saja apa yang kamu suka."
"Tidak Nona, em maksudku Carol aku masih kenyang."
"Jadi kamu mau nonton aja?"
"Y-ya aku nonton saja."
"Baiklah aku tidak akan memaksa, takutnya kamu sedang diet." celetuk Carol yang malah terdengar lucu di telinga Gabriel. Pria itu sampai tersenyum tipis.
...----------------...
"Terima kasih sudah berbagi ilmu denganku." ucap Rose saat mengantar Andrew ke mobil.
"Oh iya, jangan lupa nanti malam datanglah ke rumah kami. Kita makan malam bersama."
"Uhukk..uhukk.." suara batuk terdengar dari dalam mobil. Ternyata Carol yang dicari-cari Andrew sudah duduk manis di dalam sana.
Andrew tentu terkejut, dia yakin Carol akan lebih salah paham apalagi gadis itu tidak membalas pesannya sedari tadi.
"Terima kasih atas undangannya, tapi tolong sampaikan ke Uncle karena sepertinya aku tidak bisa."
"Oh, why?"
"Kebetulan malam ini aku ada janji dengan beberapa rekan bisnisku yang ada disini. Kami sudah merencanakannya dari sebelum berangkat kemarin."
"Oh, begitu. Kalau besok bagaimana? Kamu tahu kan Papaku pasti memaksa."
"Ku usahakan." balas Andrew ragu.
Sesekali dia melirik Carol yang kali ini duduk di samping sopir sambil mengotak-ngatik ponsel. Tapi dia yakin Carol mendengar semua percakapannya dengan Rose.
"Nanti kita berkabar ya, nomormu masih yang dulu kan. Aku masih menyimpannya."
Demi apapun rasanya keringat dingin mulai membasahi pelipis Andrew.
"Aku pergi dulu."
Rose pun tersenyum, "Oke, sampai jumpa besok."
Andrew masuk ke dalam mobil dan menutup pintu tanpa menjawab Rose sama sekali. Di luar sana Rose terlihat melambaikan tangan saat mobil yang ditumpangi Andrew meninggalkan area perusahaan.
Di dalam mobil sampai tiba di lobi hotel, Carol sama sekali tidak bersuara. Bahkan saat mobil berhenti gadis itu turun secepat kilat dan pergi begitu saja.
Sementara Andrew nampak menghela nafas sambil menatap langkah Carol yang mulai menjauh.
"Dia pasti marah."
Dengan langkah lebarnya Andrew pun segera menyusul, namun telat karena ternyata Carol sudah dibawa naik oleh lift dan pasti gadis itu akan sampai lebih dulu di dalam kamar.
Saat masuk, Andrew langsung mendengar suara lemari yang dibuka. Dia bergegas mencari sumber suara itu.
"Carl.." panggilnya.
Tapi Carol sama sekali tidak menggubrisnya. Dia malah sibuk mencari pakaian yang akan dia pakai setelah ini.
"Carl, aku tau kamu marah." Andrew kembali bersuara.
Dan Carol juga tetap diam.
"Carl, bicara! Kumohon jangan seperti ini." lirihnya lagi.
Namun Carol yang sudah terlanjur kesal terlihat sangat tidak peduli. Dia menutup pintu lemari dengan cukup keras, kemudian melenggang pergi menuju kamar mandi.
"Carol!!"
Langkah Carol terhenti, setelah sekian lama sejak terakhir kali mereka memutuskan untuk menjalin hubungan, Andrew tidak pernah lagi berbicara dengan nada tinggi apalagi menyentak seperti itu.
Air mata menggenang di pelupuk mata. Dia marah, kesal dan sedih disaat yang bersamaan.
Carol membalik badan dan mengambil koper, dia memasukan semua baju dan barang yang sempat dia keluarkan ke dalam koper.
Namun tiba-tiba tangan besar Andrew menangkap tangannya. Membuat Carol terpaksa berhenti.
"Lepas!"
"Tidak."
"Ku bilang lepas!"
"Tidak akan!"
Mata Carol memicing, dia ingin menghempaskan tangan Andrew namun sayang genggamannya begitu kuat.
"Kamu mau bawa koper ini kemana?"
"Aku mau pindah kamar." balas Carol sarkas.
"Aku tau kamu marah, tapi gak perlu kaya gini Carl. Ayo duduk biar aku jelasin."
"Gak perlu, minggir! Aku mau keluar!"
"Carl, iya aku salah, aku minta maaf karena gak cerita dari awal kalau sebenarnya aku dan klien ini sudah saling kenal. Aku tahu kamu bingung disana. Dan perihal masalah Rose, aku tidak bisa menolaknya begitu saja. Itu cukup sensitif. Apalagi ini menyangkut pekerjaan. Aku yakin kamu cukup paham maksudku kan?"
Nafas Carol memburu tanda amarah yang belum mereda, apalagi Andrew malah membahas masalah pekerjaan yang lebih penting daripada perasaan dirinya. Egonya sebagai perempuan sangat tersentil.
"Bukannya kita sepakat jika saat waktu kerja, kita akan tetap professional? Jadi plis, aku mohon. Jangan berlebihan seperti ini ya?"
Apa? Berlebihan katanya?
"Lepas, Andrew!!" suaranya tertahan, wajahnya merah padam.
Seketika Andrew melepaskan genggamannya dan Carol langsung menggeret kopernya tanpa menoleh lagi.
Sebelah tangannya membuka pintu, namun sebelum melanjutkan langkahnya Carol memberi peringatan terlebih dahulu, "Jangan cari aku dan jangan ganggu aku malam ini!"
Andrew mematung, sebenarnya apa yang salah dengan dirinya? Dia sudah minta maaf dan menjelaskan semuanya lalu kenapa Carol malah terlihat lebih marah dari sebelumnya?
Pria itu menyugar rambutnya ke belakang benar-benar seperti orang yang sedang frustasi.
"Sh!iiit!"