Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.
Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.
Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.
Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.
Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?
Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malu
Ponsel Zea tiba-tiba berdering di tengah suasana ruang kerja yang tenang. Begitu melihat nama yang muncul di layar, Zea menghela napas pendek sebelum mengangkat panggilan tersebut dan menyalakan pengeras suara.
“Ada apa, Tante?” tanyanya datar. Dari seberang terdengar suara Lestari yang langsung mengadu dengan nada tinggi.
“Zea! Tante ini sedang ditindas di toko furniture dan toko elektronikmu!” seru Lestari. “Pegawai-pegawaimu ini kurang ajar sekali, mereka semena-mena memperlakukan Tante!”
Zea mengangkat alis. “Semena-mena bagaimana?”
“Mereka menyuruh Tante membayar semua belanjaan!” jawab Lestari kesal. “Cepat pecat mereka semua, Zea!”
Zea justru mendengus pelan. “Kalau Tante membeli barang, ya memang harus bayar. Kenapa saya harus memecat orang yang tidak melakukan kesalahan?”
Lestari langsung terdiam beberapa detik. Nada suaranya yang sebelumnya tinggi perlahan berubah menjadi lebih lembut.
“Zea ... kita ini sebentar lagi akan menjadi keluarga, kan?” bujuknya. “Kenapa sekarang jadi perhitungan sekali kepada keluarga sendiri?”
Zea menyandarkan punggungnya ke kursi. “Keluarga?”
“Iya.” Lestari tertawa kecil. “Masa cuma uang tiga ratus juta saja kamu begitu pelit? Tante kira kamu orang yang royal.”
Intan yang duduk di sebelah Zea langsung tersedak. “Tiga ratus juta dibilang cuma?!”
Zea melirik Intan sekilas sebelum kembali fokus pada panggilan. “Tante, maaf, ya. Kalau Tante mengambil barang, Tante wajib membayarnya.”
“Tapi Zea—”
“Barang-barang itu juga punya harga beli, Tante,” potong Zea dengan tenang. “Pegawai saya tidak mungkin memberikan barang secara gratis hanya karena seseorang mengaku sebagai calon keluarga saya.”
Lestari mulai kehilangan kesabarannya. “Kenapa untuk uang sebanyak itu kamu kaku sekali? Tante cuma mengambil beberapa barang untuk teman-teman arisan!”
“Justru karena jumlahnya besar, pembayarannya harus jelas.”
“Tante ini calon ibu mertuamu!”
“Calon,” ulang Zea datar. “Belum tentu dan tidak akan pernah.”
Lestari terdiam.
“Dan kalaupun suatu hari menjadi keluarga, bukan berarti semua barang di toko saya bisa diambil gratis.”
Nada suara Zea tetap tenang, tetapi setiap katanya terdengar tegas. Ia sudah tidak memiliki alasan untuk menjaga perasaan Lestari setelah mengetahui bagaimana keluarga tersebut memperlakukannya.
Lestari kemudian mendengus keras. “Baik! Kalau begitu, Tante akan telepon Reno!”
“Silakan.”
“Tante akan tegur dia karena kamu sudah berubah!”
“Silakan.”
“Bahkan Tante akan suruh Reno membatalkan rencana melamarmu!” ancam Lestari. “Kalau perlu, Tante suruh dia menikahi Citra saja!”
Intan langsung menoleh kepada Zea. Namun, Zea justru tersenyum tipis.
“Ya sudah.”
“Hah?”
“Suruh saja.”
Lestari terdiam karena tidak menyangka Zea akan menjawab seperti itu.
“Sekalian suruh anak dan calon menantu Tante membayar belanjaannya,” lanjut Zea. “Katanya tiga ratus juta itu sedikit, kan?”
Lestari mulai gugup. “Zea, Tante sebenarnya—”
“Bayar saja. Gampang, kan?”
“Bukan begitu maksud Tante—”
“Kalau begitu, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.”
Zea langsung memutuskan panggilan sebelum Lestari sempat melanjutkan perkataannya. Ruangan itu mendadak hening beberapa detik.
Intan akhirnya mengembuskan napas panjang. “Nah, lihat, kan? Sudah kelihatan sifat aslinya.”
Zea meletakkan ponselnya di atas meja. “Aku juga baru sadar.”
“Awalnya aku kira Reno itu cuma laki-laki yang tidak peka tapi tanggung jawab. Apalagi di depan sering bersikap sok mandiri.” Intan mendengus kesal. “Ternyata satu keluarga parasit.”
Sagara yang sejak tadi diam hanya berkata singkat, “Setidaknya sekarang Anda sudah tahu.”
Intan memgangguk.
Zea kembali membuka laporan di hadapannya. “Aku tidak akan membiarkan mereka memanfaatkan namaku lagi.”
“Bagus.” Intan mengangguk puas. “Kalau mereka mau hidup mewah, pakai uang sendiri.”
Zea mengangguk kecil. “Aku juga sudah memberikan instruksi kepada semua toko agar tidak ada lagi barang yang keluar tanpa pembayaran.”
“Kalau mereka datang lagi?”
“Bayar.”
“Kalau mengaku keluarga?”
“Bayar.”
“Kalau mengancam?”
“Panggil polisi.”
Intan tersenyum lebar. “Nah, begitu dong Gubernur Zea yang aku kenal.”
Di sisi lain, di toko furniture, Lestari masih berdiri dengan wajah panik. Ia kembali mengeluarkan ponselnya dan buru-buru mencari nomor Reno.
“Angkat, Ren ....” gumamnya gelisah. “Cepat angkat!”
Panggilan pertama tidak dijawab. Lestari mencoba lagi. Tetap tidak ada jawaban.
“Kenapa anak ini tidak mengangkat telepon?”
Ia kemudian menghubungi Citra, tetapi panggilan itu juga tidak segera tersambung. Ketujuh teman arisannya mulai saling pandang karena suasana yang sebelumnya penuh kegembiraan kini berubah canggung.
“Jeng ....” salah seorang temannya akhirnya berkata pelan. “Kalau memang harus bayar, bagaimana?”
Lestari menatapnya tajam. “Tunggu dulu! Reno pasti akan menyelesaikan semuanya.”
“Totalnya tigaa ratus juta lebih, Jeng.”
“Ya, aku tahu!”
Lestari kembali menatap nota di tangannya. Dadanya mulai terasa sesak karena baru sekarang ia menyadari bahwa semua barang yang tadi dengan percaya diri dipilihnya ternyata tidak bisa dibawa pulang begitu saja.
Salah seorang pegawai mendekat dengan sopan. “Bu, mohon maaf, kami perlu kepastian. Apakah barang-barang ini jadi dibeli?”
Lestari menelan ludah. “Tunggu!”
Ia kembali menekan nama Reno di layar ponselnya. Kali ini, panggilan tersambung.
“Ren! Kamu di mana?” suara Lestari langsung terdengar panik. “Cepat datang ke toko sekarang!”
Dari seberang terdengar suara Reno yang bingung. “Ada apa, Bu?”
“Zea!”
Reno langsung terdiam.
“Zea menyuruh toko-tokonya meminta kita membayar semua barang!” Lestari mengadu. “Dia juga tidak mau memecat pegawainya dan malah menyuruh kita bayar!”
Reno menggertakkan gigi. “Ibu tenang dulu.”
“Bagaimana Ibu bisa tenang? Teman-teman Ibu sudah memilih barang semuanya! Cepat ke sini!”
Reno terdiam beberapa saat. “Aku akan ke sana.”
***
“Ini semua gara-gara Zea! Ibu dibuat malu di depan semua orang. Zea itu kenapa, sih? Biasanya dia langsung mengiyakan semua permintaan Ibu!” omel Lestari sepanjang perjalanan meninggalkan toko furnitur milik keluarga Zea.
Wajah wanita paruh baya itu masih merah padam menahan malu. Bagaimana tidak, tadi ia sudah sesumbar di hadapan tujuh teman arisannya bahwa semua barang yang mereka pilih akan dibayar oleh calon menantunya, tetapi kenyataannya ia justru harus meninggalkan toko tanpa membawa satu pun barang.
Reno yang duduk di sampingnya hanya diam sambil menatap jalanan dari balik jendela mobil. Ia tahu ibunya sedang marah besar, tetapi untuk saat ini ia sendiri tidak tahu harus berkata apa, apalagi gajinya sebagai karyawan perusahaan tidak akan sanggup menutupi tagihan ratusan juta rupiah tersebut.
“Reno! Ibu sedang bicara, kamu dengar tidak?” bentak Lestari sambil menoleh tajam.
“Iya, Bu. Reno dengar.”
“Lantas, kenapa Zea tiba-tiba berubah begitu? Apa kamu bertengkar dengannya? Atau ada orang yang menghasutnya?”
Lestari menyipitkan mata, mencoba mencari tahu penyebab sikap Zea yang mendadak tidak lagi menuruti keinginannya.
Reno mengembuskan napas kasar sebelum menjawab dengan wajah sinis, “Kemarin aku kedapatan sedang bersama Citra. Sepertinya Zea marah karena melihat kami berdua.”
“Apa?!” Mata Lestari langsung melotot. “Kamu ini benar-benar anak bodoh!”
“Bu, jangan langsung menyalahkan Reno. Aku juga tidak menyangka Zea akan bereaksi seperti itu.”
“Tidak menyangka bagaimana? Ibu sudah berkali-kali bilang, jauhi Citra dulu!” Lestari menepuk pahanya dengan kesal. “Setidaknya tunggu sampai kamu menikah dengan Zea, baru jadikan Citra istri kedua.”
Reno mengerutkan kening. “Aku jga gak tahu akan begini, Bu.”
“Lalu kenapa? Apa kamu pikir Ibu tidak tahu?” Lestari mendengus, seolah perkataan putranya sama sekali tidak masuk akal. “Ibu tidak melarang kamu menyukai Citra, tetapi kamu harus tahu waktu dan keadaan. Setelah menikah dengan Zea, kalau memang kalian sepakat, urusan rumah tangga itu bisa dibicarakan.”
Reno terdiam, sementara Lestari semakin kesal melihat putranya tidak segera memahami maksudnya. Dalam pikirannya, kesempatan mendapatkan menantu seorang gubernur dari keluarga kaya tidak boleh terlepas hanya karena Reno tidak mampu mengendalikan hubungan pribadinya.
“Sekarang siapa yang rugi? Kita, Reno! Kamu pikir mudah mendapatkan perempuan seperti Zea?” lanjut Lestari. “Selama ini dia selalu memberikan apa yang kamu minta. Ponsel, jam tangan, pakaian mahal, bahkan barang-barang untuk Ibu pun dia tidak pernah banyak bertanya.”
“Reno tahu, Bu. Tapi Zea juga tidak bisa seenaknya mempermalukan kita.”
“Justru kamu yang mempermalukan Ibu!” balas Lestari cepat. “Coba pikirkan, tadi teman-teman arisan Ibu sudah memilih barang. Mereka pasti akan menertawakan Ibu karena ternyata semua omongan Ibu hanya bualan!”
Reno mengusap wajahnya. Ia juga tidak menyangka Zea akan berubah sedrastis itu, terlebih setelah perempuan tersebut mengetahui hubungannya dengan Citra. Selama ini, ia mengira Zea akan selalu memaafkannya karena sudah terlalu lama menyimpan perasaan kepadanya.
“Sudahlah, Ibu tidak mau mendengar alasanmu lagi!” Lestari menunjuk putranya dengan telunjuk gemetar. “Pokoknya kamu harus pergi menemui Zea dan meminta maaf. Kalau perlu, langsung lamar dia!”
Reno menoleh cepat. “Melamar? Sekarang?”
“Iya! Memangnya kenapa? Bukankah selama ini kamu bilang Zea menyukaimu?” Lestari mendengus. “Perempuan itu pasti akan luluh kalau kamu datang dengan sikap manis dan mengatakan ingin menikahinya.”
“Tapi, Bu, Zea kemarin sudah bilang tidak mau lagi berhubungan dengan Reno.”
“Ah, itu hanya karena sedang emosi!” potong Lestari tidak sabar. “Kamu rayu saja. Bilang kamu menyesal, bilang kamu tidak bisa hidup tanpa dia, atau apa pun yang bisa membuatnya kembali percaya.”
Reno terdiam cukup lama. Ada sedikit keraguan di wajahnya, tetapi bayangan kemewahan yang selama ini ia nikmati melalui kemurahan hati Zea membuatnya kembali mempertimbangkan perkataan sang ibu.
“Kalau Zea tetap menolak bagaimana?” tanyanya pelan.
“Jangan berpikir negatif dulu! Kamu itu laki-laki, harus punya cara untuk mendapatkan hati perempuan.” Lestari menyandarkan punggungnya dengan wajah penuh keyakinan. “Ibu yakin dia masih menyukaimu. Perasaan yang sudah bertahun-tahun tidak mungkin hilang hanya dalam semalam.”
tp psti malu nya luar biasa kan setealh terllu pwrcaya diri ahahahaA🤣🤣🤣
SOOOOOKOOOR
mau tanding apa lagi bel diri gas ken zea
jangan di kira bukan dari militer zea tak tau apa2 justru karna itu dia di latih sedemiaknrup untk melindungi diri nya s dri sudah tajir dari orok kali 🤣🤣🤣🤣
mlh ini pura2 polos
hadeh mboh lah rumit wis asli
piye terusan jal
kyo2 arep meledug kompore 🤣🤣🤣🤣
aaaahhh kira2 apa lagi ya
Zea atau kau Soraya? 😏