Up di jam yang sama 12.00 WIB
Martha Giorgiana, gadis asal London yang hobi traveling, memutuskan menjelajahi Indonesia. Setibanya di Bali, di tengah kekagumannya pada keindahan pulau tersebut, ia tak sengaja menabrak seorang pemuda misterius berbusana adat Jawa.
Kejadian canggung itu kian berkesan saat sang pemuda menunduk sopan dan berujar lembut, "Luput kulo nggeh, mbak." Suara dan tatapan teduh itu sukses membuat Martha tertegun sesaat. Pertemuan tak terduga ini menjadi awal mula perjalanan penuh warna, di mana pesona budaya lokal perlahan-lahan mencuri hatinya dan menuntunnya pada kisah cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Saksikan kisah Cinta mereka yang beda negara, beda agama, beda adat!!! semoga kalian suka🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menembus Batas Bahasa dan Aksara
Sore berganti minggu, dan tanpa disadari oleh Martha, jadwal perjalanannya di Bali telah melenceng jauh dari rencana awal. Buku catatan kecil yang tadinya penuh dengan daftar pura, museum seni, dan kafe populer kini lebih sering dibiarkan tertutup di atas meja kamar. Sebagai gantinya, hari-hari Martha diisi dengan langkah-langkah kaki yang menuntunnya kembali ke galeri seni tradisional di sudut Ubud, atau ke teras joglo tempat Adnan biasa menghabiskan waktu sorenya untuk merancang pola ukiran kayu.
Hubungan mereka tumbuh dengan cara yang tenang, mengalir bagai air sungai pedesaan—tidak terburu-buru, namun pasti meresap ke dalam sela-sela kesadaran. Tidak ada gombalan murahan atau pendekatan agresif yang biasa ditemui Martha di kota-kota besar Eropa. Adnan adalah pria yang menghargai jeda. Ia lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, namun setiap kali ia membuka suara, kalimat-kalimatnya selalu menyisipkan kedalaman makna yang membuat Martha merenung lama setelah mereka berpisah.
Hari itu, awan kelabu menggantung rendah di atas langit Ubud, menumpahkan rintik hujan gerimis yang membuat hawa terasa semakin syahdu. Martha duduk di beranda kayu galeri, menyesap teh hijau hangat yang baru saja diseduh oleh penjaga galeri. Di sampingnya, Adnan tengah serius menggoreskan pensil di atas selembar kertas sketsa besar, merancang detail motif dedaunan dan bunga teratai untuk pesanan panel pintu kayu.
"Kau tahu, Adnan," ucap Martha memecah keheningan, matanya menatap lurus ke arah tirai air hujan yang jatuh di halaman luar. "Semakin lama aku di sini, semakin aku merasa hidupku di London seperti sebuah kebohongan yang bergerak cepat. Semuanya terburu-buru. Kami merencanakan hidup bertahun-tahun ke depan, tapi sering kali lupa menikmati detik di mana kita sedang bernapas."
Adnan menghentikan goresan pensilnya. Ia mendongak, menatap sisi wajah Martha yang diterpa cahaya temaram sore hari. Ada garis-garis kelelahan yang samar di bawah mata wanita itu—sisa dari tahun-tahun panjang yang dihabiskannya sebagai jurnalis independen yang selalu mengejar tenggat waktu demi sebuah pengakuan.
"Urip iku urup," ucap Adnan pelan, mengutip sebuah filosofi Jawa kuno yang kerap ia pegang.
Martha menoleh, alisnya terangkat sebelah. "Urip iku urup?" ulangnya, mencoba menirukan pelafalan bahasa Jawa dengan aksen British yang khas. "Apa artinya?"
Adnan tersenyum kecil, meletakkan pensilnya di atas meja. "Secara harfiah, artinya hidup itu menyala. Maksud filosofisnya adalah, hidup kita hendaknya memberi manfaat bagi sesama di sekitar kita, sekecil apa pun itu. Seperti lilin yang merelakan dirinya meleleh agar kegelapan di sekitarnya menjadi terang."
Martha tertegun. Kalimat itu meresap ke dalam hatinya, membawa gelombang kehangatan yang kontras dengan udara dingin sehabis hujan. "Filosofi yang indah," bisiknya tulus. "Di duniamu, semuanya terasa terhubung dengan alam dan makna yang lebih dalam. Rasanya... menenangkan."
"Karena nenek moyang kami percaya bahwa manusia tidak hidup terpisah dari alam, Mbak Martha," jelas Adnan lebih lanjut, suaranya terdengar begitu berwibawa namun menenangkan. "Pohon, tanah, air, angin—semuanya memiliki energi. Ketika kita memperlakukan alam dan sesama manusia dengan welas asih, hidup pun akan mengalir tanpa harus dilawan."
Obrolan mereka kerap diselingi oleh momen-momen hening yang sama sekali tidak terasa canggung. Bagi Martha, keheningan bersama Adnan justru menjadi tempat peristirahatan paling nyaman yang pernah ia temukan seumur hidupnya. Selama ini, ia selalu merasa harus selalu berbicara, selalu tampil pintar, dan selalu membuktikan eksistensinya di hadapan dunia. Namun di hadapan Adnan, ia merasa diizinkan untuk menjadi rapuh, untuk menjadi seseorang yang tidak tahu apa-apa, dan diterima apa adanya.
Namun, di balik kenyamanan itu, ada suara-suara kecil di kepala Martha yang mulai mengingatkannya pada kenyataan.
Beberapa hari lalu, ia sempat melakukan panggilan video dengan orang tuanya di London. Ibunya mengingatkan bahwa kontrak kerjanya dengan majalah perjalanan internasional akan segera berakhir tiga bulan lagi, dan ia harus segera kembali untuk memproses proyek penulisan buku baru di Eropa. Mendengar kata "kembali ke London", dada Martha tiba-tiba terasa sesak—sebuah reaksi fisik yang langsung membuatnya panik jika mengingat durasi perjalanannya di Bali yang baru seumur jagung.
Dan bukan hanya masalah jarak geografis. Semakin ia mengenal Adnan, semakin ia menyadari betapa berbedanya dunia asal mereka. Adnan adalah seorang pemuda Jawa yang memegang teguh akar tradisi, nilai-nilai ketimuran, serta keyakinan yang menjadi fondasi hidupnya. Sementara Martha adalah seorang perempuan kosmopolitan berdarah Eropa yang tumbuh dengan kebebasan tanpa batas, tanpa aturan adat yang mengikat cara pandangnya terhadap masa depan.
Beda negara. Beda adat. Dan yang paling menguji keteguhan hati mereka ke depan—beda keyakinan.
Sore itu, seolah bisa membaca badai pikiran yang sedang berkecamuk di balik mata biru-kehijauan Martha, Adnan bergeser sedikit duduknya. Ia mengambil secangkir teh miliknya, lalu menatap Martha dengan sorot mata yang penuh pengertian.
"Ada sesuatu yang mengusik pikiran Anda, Mbak Martha?" tanya Adnan lembut. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh suara gemercik air hujan di genting tanah liat. "Sejak tadi, tatapan Anda tidak ada di sini. Anda sedang memikirkan kepulangan ke London?"
Martha menelan ludah. Ia tidak menyangka kepekaan Adnan begitu tajam. Wanita itu menghela napas perlahan, lalu menatap lurus ke dalam bola mata hitam Adnan yang jujur.
"Aku takut, Adnan," akui Martha tanpa pelindung diri, suaranya bergetar tipis. "Aku takut pada waktu. Waktu liburanku di sini ada batasnya. Sebentar lagi, aku harus kembali ke duniaku yang bising, ke kehidupanku di London. Dan ketika aku melihatmu... melihat bagaimana caramu hidup di sini dengan begitu damai... aku merasa seperti sedang meminjam dunia orang lain yang suatu saat harus ku kembalikannya."
Adnan tidak langsung memotong ucapannya. Ia mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari bibir Martha dengan kesabaran tingkat tinggi, menghargai setiap tetes kejujuran wanita itu. Setelah beberapa detik keheningan yang sarat makna, Adnan mengangkat pandangannya menatap langit sore yang perlahan mulai terang kembali.
"Waktu memang berjalan maju, Mbak Martha," kata Adnan tenang, suaranya menghadirkan keteduhan yang meredakan gemuruh di dada Martha. "Tetapi pertemuan tidak pernah terjadi karena kebetulan. Apa pun yang datang ke dalam hidup kita—entah untuk singgah sebentar atau menetap selamanya—pasti membawa cerita dan pelajarannya sendiri."
Adnan menoleh, menatap Martha tepat di kedua matanya dengan senyuman tipis yang sarat akan ketulusan mutlak.
"Jangan takut pada jarak atau waktu yang akan datang," lanjut Adnan dengan nada suara yang begitu meyakinkan. "Nikmati saja setiap detik cerita yang sedang kita tulis bersama sekarang. Karena halaman buku yang indah tidak pernah ditulis dengan kecemasan tentang bagaimana bab terakhirnya akan berakhir."
Kata-kata itu bekerja bagai mantra penenang di jiwa Martha. Ia merasa seolah ditarik kembali ke masa kini, menghapus segala kekhawatiran masa depan yang belum waktunya tiba. Di bawah naungan langit Ubud yang basah, Martha mengangguk pelan, membiarkan hatinya semakin jauh terhanyut ke dalam pesona sang mas-mas Jawa yang perlahan-lahan telah mengunci pintu gerbang hatinya.
baru bab awal ,ceritanya udah penuh dgn kata2 bijak n keren...mbak autor 👍
kebetulan kita tetangga kabupaten
saya dari jombang ,tp sudah menetap di samarinda
author nulisnya menggunakan adat jawa juga karena author berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung.
Salam paseduluran rek❤️❤️