Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Siang itu, terik matahari kemarau memantulkan cahaya menyilaukan di atas aspal Jalan Melati. Di teras depan kos-kosan, Bu Yanti tampak sibuk menyiram beberapa pot tanaman lidah mertua sambil mengibas-ngibaskan ujung daster batiknya untuk mengusir gerah. Sesekali perempuan paruh baya itu menyapa tukang paket yang melintas membawa setumpuk kardus belanjaan online.
"Cari siapa, Mas? Paket Bu Rina? Oh, kamar nomor empat di belakang, ya!" seru Bu Yanti ramah kepada kurir berseragam jingga yang tampak kebingungan mencari alamat.
Suara keributan kecil di luar itu terdengar samar hingga ke dalam kamar Keira. Di dalam ruangan berukuran tiga kali tiga meter tersebut, udara terasa agak pengap meskipun jendela kecil di dekat meja sudah dibuka selebar-selebarnya. Keira sedang duduk bersila di atas lantai karpet, memegang sehelai kain lap untuk membersihkan debu tipis yang menempel di permukaan meja plastik.
Namun, gerakan tangannya terhenti ketika ia tidak sengaja melirik ke arah tumpukan buku di sudut meja.
Di sanalah, terselip di balik tumpukan kertas catatan lama, kartu nama Galeri Senja Bimantara masih berada.
Sudah beberapa hari berlalu sejak pesan wawancara itu masuk ke ponselnya. Keira tidak pernah membalasnya, tidak pula menolak secara resmi. Pesan singkat dari pihak galeri itu kini sudah tertimbun puluhan notifikasi lain, tetapi bayangannya tidak pernah benar-benar hilang dari kepala Keira. Ada rasa bersalah yang mengganjal setiap kali ia melihat ponselnya sendiri sebuah rasa bersalah ganda: karena ia mengabaikan kesempatan kecil untuk mandiri, dan karena ia merasa telah menyembunyikan rahasia besar dari lelaki yang selama ini merawatnya.
Kalau saja aku waktu itu berani datang... batin Keira pelan, sebelum langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengusir pikiran tersebut. Enggak. Buat apa mikirin itu lagi? Davin benar, aku gak perlu pusing cari kerja. Hidupku sudah diurus.
Untuk meyakinkan diri sendiri, ia bangkit dari lantai, merapikan kerudungnya, lalu memutuskan keluar kamar sebentar untuk membeli air galon isi ulang di warung depan gang. Ia butuh sedikit udara segar setelah berjam-jam berkutat dengan pikiran-pikirannya sendiri.
Keluar dari lorong kos, suasana gang tampak cukup hidup. Anak-anak kecil berlarian mengejar kucing jalanan, sementara di warung kelontong Bu Darmi, beberapa ibu rumah tangga sedang tawar-menawar harga cabai sambil bergosip soal kenaikan harga sembako. Keira berjalan pelan, menyapa Bu Darmi dengan senyuman sopan saat mengambil satu galon kecil air mineral.
"Wah, Nak Keira tumben keluar sendiri. Biasanya ditemenin mas-mas ganteng yang naik motor itu, ya?" sapa Bu Darmi ramah sambil menghitung kembalian uang.
Keira tersenyum simpul, merapikan letak uang kembalian di genggamannya.
"Iya, Bu. Davin lagi sibuk di kantor, jadi saya beli sendiri yang ringan-ringan aja."
"Namanya anak muda, sibuk cari duit buat masa depan," timpal seorang ibu tetangga sebelah warung sambil tertawa kecil.
"Untung dapat pacar yang tanggung jawab begitu. Jaman sekarang jarang loh cowok mau repot-repot beliin galon atau anter makanan tiap hari."
Pernyataan itu meluncur begitu saja tanpa beban, tetapi di telinga Keira, kata-kata tersebut beresonansi kuat dengan keyakinan yang selama ini ia bangun. Ya, benar.
Davin memang bertanggung jawab. Lelaki itu tidak pernah menuntut macam-macam selain memintanya untuk tinggal dengan tenang dan menjaga diri. Segala rasa ragu yang sempat muncul di kepalanya mendadak surut, digantikan oleh kelegaan bahwa orang-orang di sekitarnya pun memandang hubungan mereka sebagai sesuatu yang ideal.
Sore harinya, sekitar pukul lima lewat, suara deru motor matic yang familiar terdengar memasuki halaman kos.
Keira yang sedang merebus air di dekat pintu segera menoleh. Davin datang lebih awal dari biasanya. Lelaki itu mengenakan kemeja kantor yang lengannya sudah dilipat hingga siku, memperlihatkan otot lengan bawahnya yang kokoh. Tidak ada raut wajah lelah seperti beberapa hari lalu; sebaliknya, senyuman tipis menghiasi bibirnya saat ia melangkah masuk ke teras kos dan mengetik pesan singkat di ponselnya.
"Udah matang airnya?" tanya Davin begitu membuka pintu kamar dan mendapati Keira berdiri dekat kompor portabel.
"Dikit lagi mendidih, Vin," jawab Keira tersenyum, menyambut kedatangan Davin dengan mengambilkan tas kerjanya dan meletakkannya di atas meja.
"Kok tumben jam segini udah sampai kos? Katanya hari ini ada evaluasi mingguan sampai malam?"
Davin melepaskan jam tangan hitam dari pergelangan tangannya, meletakkannya di sebelah ponsel Keira di atas meja, lalu merebahkan tubuhnya di kasur busa dengan helaan napas lega.
"Evaluasinya selesai lebih cepat dari perkiraan karena bos besar mendadak harus dinas luar kota. Jadi aku bisa langsung cabut."
Lelaki itu merentangkan tangan, menarik Keira untuk duduk di tepi kasur di dekatnya. Keira menurut, membiarkan Davin merebahkan kepala di pangkuannya sementara jemari lentiknya secara otomatis mulai memijat pelipis Davin yang tampak sedikit tegang.
"Enak banget..." gumam Davin memejamkan mata, menikmati pijatan lembut di kepalanya. "Cuma sama kamu badanku bisa bener-bener santai begini, Kei. Di kantor seharian rasanya tegang terus ngurusin angka dan target klien."
"Makanya jangan terlalu diforsir kerjanya," sahut Keira lembut, tersenyum simpul melihat sisi rapuh dari lelaki yang selama ini selalu tampak tangguh di hadapannya.
"Kalau capek, istirahat. Jangan dipaksa."
Suasana di dalam kamar mendadak terasa begitu hangat dan intim. Tidak ada tuntutan, tidak ada ketegangan. Di mata Keira, momen-momen seperti inilah yang membuktikan bahwa seluruh kepatuhan dan batasan yang ia jalani selama ini adalah harga yang sangat pantas untuk mendapatkan perlindungan dan ketulusan seorang Davin.
Tiba-tiba, di tengah keheningan sore itu, suara getaran pendek berasal dari meja plastik kecil.
Ponsel Davin yang tadi diletakkan begitu saja di sebelah jam tangan bergetar dua kali menandakan sebuah pesan masuk. Layar ponsel yang menghadap ke atas itu menyala terang di ruangan yang mulai meredup.
Keira, yang posisinya duduk tepat menghadap meja, tidak sengaja melirik ke arah layar ponsel tersebut.
Sebuah notifikasi pesan singkat muncul di atas wallpaper gelap:
Nadia: Vin, dokumen laporan keuangan cabang Bandung sudah kutinggal di meja kerjamu ya. Besok pagi jangan lupa dicek ulang sebelum meeting.
Nama itu terpampang jelas dengan huruf-huruf putih bersih.
Nadia.
Keira mengerjap sejenak. Alisnya berkedut tipis, sebuah rasa asing yang samar tiba-tiba melintas di benaknya.
Selama berbulan-bulan ia mengenal Davin, lelaki itu tidak pernah sekalipun menyebut nama perempuan lain di luar rekan kerja umumnya, apalagi menerima pesan langsung ke ponsel pribadi di luar jam kantor dengan nada yang begitu santai dan akrab.
Davin, yang merasakan gerakan tangan Keira di kepalanya berhenti mendadak, membuka matanya.
Lelaki itu mengikuti arah pandangan Keira yang terpaku pada layar ponselnya yang menyala.
Tanpa panik, tanpa gestur tergesa-gesa yang mencurigakan, Davin mengangkat sedikit tubuhnya dari pangkuan Keira. Dengan tenang, ia meraih ponselnya sendiri, melirik layarnya sekilas, lalu mengetik balasan singkat dengan satu tangan.
"Oh, itu si Nadia," ucap Davin santai tanpa beban, seolah ia sedang membicarakan cuaca atau hal sepele lainnya.
Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana kemejanya.
"Nadia...?" tanya Keira pelan, suaranya terdengar ragu meskipun ia berusaha menutupinya.
"Rekan kerja kamu di kantor, Vin?"
"Iya, staf keuangan yang baru dipindah ke divisi kita bulan lalu," jawab Davin menjelaskan dengan nada wajar, sambil kembali menyandarkan kepalanya ke pangkuan Keira seolah tidak ada hal penting yang sedang terjadi.
"Anaknya memang agak ribet kalau urusan laporan, hobi banget ngingetin soal dokumen kantor padahal jam kerja sudah habis. Maklum, anak baru yang lagi semangat nyari muka sama atasan."
Penjelasan itu mengalir begitu lancar, logis, dan masuk akal. Tidak ada nada suara yang bergetar, tidak ada gelagat menyembunyikan sesuatu. Di dunia korporat tempat Davin bekerja, lembur dan komunikasi malam hari tentu adalah hal yang biasa terjadi antara rekan sekantor.
Keira menelan ludah kecil, merasakan debar aneh di dadanya perlahan mereda. Ia kembali menggerakkan jemarinya untuk memijat pelipis Davin, meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak ada alasan apa pun untuk merasa curiga.
"Oh... gitu," balas Keira pelan. "Ya ampun, kirain siapa. Semangat banget ya malam-malam masih ngurusin kantor."
Davin tertawa kecil mendengar tanggapan Keira, suara tawa yang renyah dan menenangkan.
"Makanya, untung aku punya kamu di sini, Kei. Kalau enggak, isi kepalaku di luar jam kantor pasti bakal penuh terus sama urusan kantor yang gak ada habisnya."
Mendengar pujian itu, seluruh keraguan kecil yang sempat mampir di benak Keira seketika menguap begitu saja. Ia tersenyum manis, mengabaikan sensasi menggelitik yang tertinggal di sudut hatinya.
Di luar kamar, azan magrib mulai berkumandang dari surau terdekat, membawa ketenangan senja yang menutup hari itu. Namun, di balik senyuman patuh Keira, nama asing itu Nadia untuk pertama kalinya telah terukir di kepala Keira, meninggalkan sebuah benih kecil rasa ingin tahu yang diam-diam mulai bersemi di dalam keheningan malam Kota Bimantara.