NovelToon NovelToon
THE PRIDE BETWEEN US

THE PRIDE BETWEEN US

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:166
Nilai: 5
Nama Author: Aravienne

Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.

Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.

Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Anindya sudah menyiapkan alasan sebelum tubuhnya sempat benar-benar jatuh sakit.

Sudah sepuluh hari ia bekerja di Waroeng Reyhan, dan sarung tangan kuning itu perlahan mulai terasa seperti miliknya sendiri. Justru karena itulah ia tidak boleh jatuh sekarang.

Ia bangun dengan kepala yang terasa diisi pasir, hidung tersumbat, dan tenggorokan seperti ditempeli amplas. Ketika berdiri, lantai kamar kos bergoyang pelan. Ia duduk lagi di pinggir kasur, menatap dinding bercak lembap yang sama, dan kalimat itu langsung muncul di kepalanya, dingin dan hafal seperti doa yang tidak ia minta.

*Kalau sakit, jangan masuk. Banyak yang antre gantiin.*

Di meja kecil ada sisa parasetamol dua butir. Ia menelan keduanya dengan air keran, mandi air hangat, lalu memakai jaket tebal di atas seragam kerja. Tubuhnya berkata ia harus rebah. Pikirannya berkata, jauh lebih keras, bahwa belum genap dua minggu ia bekerja, dan tidak ada tempat untuk orang yang sakit di minggu kedua.

Ia sudah pernah belajar pelajaran itu dengan cara yang paling mahal.

---

"Kamu sakit?"

Mbak Sari bertanya tanpa pembukaan, begitu Anindya melangkah masuk dapur. Matanya menyipit.

"Nggak, Mbak. Cuma kurang tidur."

"Muka kamu kayak kertas."

"Beneran nggak apa-apa."

Mbak Sari menatapnya satu detik lebih lama dari yang nyaman, lalu kembali ke bawangnya. Tapi sepanjang pagi, Anindya merasa diawasi dari sudut mata.

Sampai jam sepuluh, ia masih bertahan. Piring datang, piring dicuci, piring masuk rak. Ia bekerja dengan gerakan yang dihemat, seperti orang yang menyimpan tenaga untuk sesuatu yang belum ia tahu apa. Keringat dingin muncul di pelipis walau air yang mengalir panas. Suara dapur terdengar makin jauh, seperti ada kaca tebal di antara dirinya dan orang-orang itu.

Jam sebelas lewat sedikit, sebuah mangkuk lepas dari tangannya.

Bukan pecah, karena sebuah tangan lain lebih dulu menangkapnya. Bayu, yang entah kapan sudah berdiri di sampingnya, menahan mangkuk itu di udara dengan refleks yang tidak masuk akal untuk orang sependiam dia.

"Nin."

"Maaf, Mas, saya..."

Teh Lilis sudah ada di sisi satunya. Telapak tangannya menempel di dahi Anindya, dan ekspresinya berubah dalam sekejap dari heboh menjadi serius. "Ya Allah, Nin, kamu panas banget!"

"Cuma sedikit, Teh."

"Sedikit apanya, ini mah demam!"

Di belakang mereka, Mbak Sari sudah berhenti memotong. Dimas dan rekannya menoleh dari penggorengan. Dapur yang tadi ribut mendadak sunyi, dan Anindya paling benci kesunyian semacam itu, ketika semua orang menatap dirinya yang sedang lemah. Dadanya terasa sesak. Bukan karena demam, tapi karena ia sudah bisa membayangkan kalimat berikutnya.

*Nggak usah masuk lagi.*

"Ada apa?"

Suara itu datang dari pintu dapur. Reyhan berdiri di sana, entah sejak kapan. Wajahnya datar, tapi matanya langsung mencari satu titik di ruangan itu.

"Anin demam, Mas," lapor Teh Lilis. "Dari tadi dia maksa."

Reyhan melangkah mendekat. Ia tidak menyentuh Anindya, tidak memegang dahinya, tidak berbuat apa pun selain memperhatikan wajahnya. Dan Anindya, yang tadi merasa dunia berputar, mendadak sadar betul betapa dekat jarak mereka berdiri.

"Pulang," kata Reyhan.

Anindya menutup mata sebentar. Ini dia. Ini kalimat yang ia tunggu sejak pagi. "Iya, Mas. Saya ngerti. Saya ambil tas..."

"Bukan begitu."

Ia membuka mata. Reyhan menatapnya dengan alis sedikit berkerut, seolah baru menyadari kalimatnya bisa diartikan lain.

"Kamu demam." Nada suaranya datar, nyaris seperti membaca peraturan. "Nanti nularin dapur. Kalau semua tumbang, siapa yang masak?"

Alasannya masuk akal. Sangat masuk akal. Itulah yang membuat Mbak Sari mengangkat alis tinggi-tinggi.

"Mas," kata Mbak Sari pelan, "bulan lalu salah satu pelayan flu, Mas cuma kasih masker."

"Itu flu. Ini demam."

"Bedanya apa?"

"Suhunya."

Teh Lilis menahan tawa sampai bahunya berguncang. Dimas mendadak sangat tertarik pada wajannya.

Reyhan tidak menanggapi. Ia berpaling kepada Anindya lagi. "Istirahat dua hari. Gaji tetap."

Anindya menatapnya, dan untuk beberapa detik ia tidak yakin telinganya bekerja dengan benar. "Dua hari, Mas?"

"Peraturan baru."

"Tapi saya baru masuk, nggak enak..."

"Sejak kapan ada peraturan baru, Mas?" tanya Teh Lilis polos.

"Sejak sekarang." Reyhan menoleh pada seorang pelayan yang kebetulan lewat membawa nampan. "Pesankan ojek online. Biar dari kas operasional."

"Siap, Mas!"

Begitu saja, sebelum Anindya sempat membantah, urusannya selesai. Ia dibimbing Teh Lilis mengambil tas di loker, didudukkan di bangku sampai ojeknya datang, dan diselimuti sejumlah wejangan: minum air hangat, jangan makan es, jangan lupa obat.

Tapi yang tidak bisa berhenti berputar di kepalanya adalah satu kalimat pendek yang tidak ia duga akan pernah ia dengar di tempat kerja.

*Gaji tetap.*

Dulu, di toko roti, sakit berarti kehilangan segalanya. Sekarang, seseorang yang bahkan tidak pernah tersenyum padanya baru saja memberinya dua hari untuk sembuh, dan menyebutnya peraturan.

Saat motor ojek itu menjauh, Anindya sempat menoleh ke belakang. Di pintu warung, Reyhan berdiri dengan tangan di saku, wajahnya sedatar biasanya, dan sedetik kemudian ia sudah menghilang ke dalam.

---

Anindya tidur hampir sepanjang siang.

Ia terbangun menjelang sore dengan badan basah keringat dan kepala yang jauh lebih ringan. Ponselnya bergetar di bawah bantal. Ada pesan dari Teh Lilis.

*Nin udah makan belum? Jangan lupa minum obat ya. Kata Mas Reyhan istirahatnya dua hari, tapi jangan kebanyakan tidur juga haha.*

Disusul satu pesan lagi, sepuluh menit kemudian.

*Eh Nin, tadi Mas Reyhan nanya kamu udah nyampe kos atau belum. Aneh banget, padahal pelayan yang mesenin ojek. Hehehe.*

Anindya membaca pesan itu dua kali. Lalu ia meletakkan ponselnya di dada dan menatap langit-langit kamar kos yang bercak lembapnya sudah ia hafal. Matanya terasa panas, dan kali ini bukan karena demam.

Ia tidak tahu kenapa seorang laki-laki yang begitu dingin bisa memikirkan hal sekecil itu. Dan ia tidak berani menebak.

---

Di Waroeng Reyhan, jam sembilan malam, dapur sudah bersih dan hampir semua orang sudah pulang.

Mbak Sari menyapu terakhir. Reyhan duduk di ruang kerjanya, pintu terbuka sedikit. Di depannya ada map pegawai dengan tulisan tangan rapi di sampulnya: *Anindya.* Foto tiga kali empat di sudut kanan atas, wajah yang menatap lurus ke kamera dengan sedikit gugup. Di kolom alamat tertulis sebuah gang yang bahkan belum pernah ia lewati.

"Mas."

Mbak Sari berdiri di ambang pintu, sapu masih di tangan.

"Ada apa, Mbak?"

"Tadi kok baik banget?"

Reyhan menutup map itu perlahan, seolah isinya tidak penting. "Saya cuma jaga dapur."

"Hm."

"Beneran, Mbak. Kalau satu orang tumbang, semua kerepotan."

"Hm," kata Mbak Sari lagi. Satu kata, dengan nada yang sama, tapi sekarang terdengar seperti seribu kalimat.

Ia mengangguk pendek dan pergi. Reyhan duduk sendirian dengan map yang sudah tertutup di depannya, dan menyadari bahwa selama satu hari penuh, ia tidak bisa berhenti memikirkan satu pertanyaan sederhana yang tidak berani ia tanyakan langsung ke siapa pun.

*Sudah baikan belum?*

Dan satu pertanyaan lain, yang jauh lebih sulit ia akui.

*Kenapa jawaban terlalu cepat itu terus menghantuiku?*

Bersambung ke Bab 4...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!