Mereka tumbuh bersama sebagai sahabat kecil, hingga takdir memisahkan langkah mereka. Bertahun-tahun kemudian, Alya Nadira Adhitama kembali ke Indonesia dan tanpa sengaja bertemu lagi dengan sahabat masa kecilnya, Arga Fernansyah, di sekolah yang sama. Mereka menjadi teman sekelas, tetapi tak ada satu pun yang menyadari bahwa mereka pernah saling mengenal.
Di tengah hari-hari yang dipenuhi tawa, mimpi, dan kebersamaan, perlahan muncul rasa yang tak pernah mereka duga. Hingga suatu petunjuk dari masa kecil mengungkap sebuah rahasia—bahwa orang yang selalu ada di samping mereka selama ini adalah sahabat yang pernah mereka kehilangan. Sebuah kisah tentang pertemuan kembali, persahabatan, dan takdir yang selalu menemukan jalannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irdyna Aira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 16: Sekali lagi ribut, saya pindahkan barisan"
Upacara bendera akhirnya dimulai.
Seluruh peserta berdiri tegak memadati lapangan utama SMAN 1 Yogyakarta. Langit pagi Kota Gudeg tampak benderang nan cerah. Hembusan angin sepoi-sepoi bertiup pelan, membelai lembut lipatan bendera Merah Putih yang siap dikibarkan di puncak tiang.
Formasi barisan sudah tersusun presisi. Di sebelah kanan lapangan berdiri seluruh rombongan kelas X. Di bagian tengah diisi oleh angkatan kelas XI. Sedangkan di sebelah kiri, kelas XII berbaris rapi berhadapan langsung dengan jajaran guru dan staf sekolah.
Di depan podium, tim petugas upacara mulai mengambil posisi siap. Pemimpin upacara mengambil napas dalam-dalam, bersiap menggelegarkan aba-aba pertama.
Sementara itu... di balik ketertiban itu, Nadira dan Cantika masih bersiap di pos garda belakang barisan kelas X. Walau protokol upacara sudah mengalir, tugas pengurus OSIS sama sekali belum usai. Mereka harus menjamin seluruh peserta menjalani upacara dengan khidmat hingga bel pembubaran berbunyi.
Nadira berdiri tegap dengan kedua tangan bersedakap di belakang punggung. Tatapan matanya yang jeli menyapu setiap sudut barisan, menyisir satu demi satu siswa. Ia mengamati jika ada murid yang kasak-kusuk, saling sikut, atau tidak memasang sikap sempurna.
Beberapa menit awal... suasana lapangan terbilang kondusif.
Namun, ketika pembina upacara melangkah naik ke mimbar dan mulai menyampaikan amanat...
desas-desus tawa kecil mendadak pecah di barisan tengah kelas X-8.
Nadira otomatis memutar kepalanya. Dua siswa laki-laki terlihat asyik berbisik-bisik seraya menahan gigitan tawa.
Tanpa membuat kegaduhan, Nadira melangkah mendekati sumber suara. Langkah kakinya begitu tenang dan terukur, tetapi raut wajah lembutnya seketika berganti menjadi raut tegas nan penuh wibawa.
Kedua siswa itu bahkan belum menyadari kalau sang Ketua OSIS sudah berdiri mematung tepat di belakang punggung mereka. Barulah ketika salah satu dari mereka berniat berbalik... napasnya tertahan dan wajahnya mendadak pucat pasi.
"K-Kak Al-.." bisik siswa itu tercekat.
Nadira memajukan tubuhnya sedikit, berbisik dengan nada amat pelan namun sarat ketegasan yang menusuk. "Volume suaranya dikecilkan."
Kedua siswa itu refleks menundukkan kepala sejajar dada. "Iya, Kak... Maaf..."
Nadira menatap mereka datar selama beberapa detik, menyuntikkan efek jera. "Lagi upacara bendera. Hargai pembina yang lagi bicara di depan."
"Iya, Kak..."
"Sekali lagi saya dengar ada suara ribut dari barisan ini..." Nadira jeda sejenak, menatap keduanya intens. "...saya geser kalian berdua berdiri terpisah di barisan depan."
Meski nada bicaranya tetap terkontrol dan tenang, ancaman halus itu sukses membuat kedua siswa tersebut langsung menegakkan punggungnya kaku laksana patung.
"Siap, Kak! Enggak lagi!" sahut mereka berjanji.
Nadira mengangguk tipis. "Bagus."
Gadis itu membalikkan badan, kembali menuju pos belakang. Cantika yang mengamati interaksi singkat itu dari jarak dua meter mendekat sambil menahan senyum giginya.
"Kak Dira..." bisik Cantika geli.
"Hm? Kenapa, Can?"
"Anak kelas X-8 lagi ya?"
Nadira menghembuskan napas panjang, mengulas senyum pasrah. "Iya, Can. Biasa... pelanggan setia."
Cantika meledakkan tawa tertahannya. "Dari tadi pagi emang berulah terus ya mereka."
"Iya," kekeh Nadira pelan. "Pas sebelum upacara... barisan X-8 yang paling bikin riweuh. Pas sweeping atribut... topinya ada yang ketinggalan. Sekarang pas amanat... malah asyik komedi."
Cantika menggeleng-gelengkan kepala. "Paket komplit banget, Kak!"
Nadira tersenyum maklum. "Yah, namanya juga masih anak kelas sepuluh. Masih proses adaptasi dari SMP ke SMA."
"Iya sih, Kak. Tapi energinya melimpah banget, mungkin masih terbawa euphoria MPLS minggu lalu."
"Iya, makanya harus telaten kita ingatkan terus," jawab Nadira bijak.
Baru saja kalimat itu rampung, suara gelak tawa kecil kembali membalas dari arah barisan lain.
"Heh... lihat tuh, sepatu si Dimas—"
Ucapkan Nadira terhenti seketika. Pelan-pelan ia menolehkan kepalanya ke sisi kiri.
Kali ini bukan X-8, melainkan barisan X-10. Empat siswa cowok tampak saling dorong bahu seraya menyembunyikan tawa di balik punggung teman depan mereka.
Nadira memejamkan mata sejenak, lalu berjalan menghampiri mereka. Cantika di belakang hanya bisa mengelus dada. "Mulai lagi babak kedua..."
Setibanya di belakang rombongan X-10, Nadira tidak langsung menegur atau memotong pembicaraan mereka. Ia hanya berdiri mematung, menatap punggung keempat siswa itu dalam hening selama lima detik.
Satu per satu dari keempat siswa itu mulai merasa ada hawa dingin yang mengintai. Begitu menyadari bayangan tinggi beralmamater OSIS berdiri tepat di samping mereka, tubuh mereka seketika mengeras kaku. Mereka langsung menegakkan badan serentak.
Nadira mencondongkan wajahnya ramah, namun suaranya amat dingin. "Masih semangat ngobrolnya?"
Keempatnya kompak menggeleng patah-patah. "N-nggak, Kak..."
"Dengar amanat yang disampaikan Bapak Pembina di depan?"
"Dengar, Kak..."
"Yakin?" tanya Nadira memicingkan mata. "Kalau habis upacara nanti saya tes tanya isi amanatnya satu-satu, bisa jawab?"
Mereka bertukar pandang panik. Tak ada satu pun yang berani membuka suara.
Nadira menghela napas halus. "Lain kali... kalau lagi upacara, fokus. Jangan sibuk bercanda sendiri. Teman-teman kalian yang lain bisa tertib dan menghargai, kalian juga harus bisa."
"Iya, Kak... Maaf..."
"Kalau sekali lagi saya lihat ada yang bercanda..." Nadira menggantungkan kalimatnya. "...saya pindahkan kalian berempat baris paling depan tepat di bawah tiang bendera."
Mendengar eksekusi mengerikan itu, keempat siswa X-10 langsung mengangguk cepat laksana mesin. "Siap, Kak! Janji enggak lagi!"
Nadira akhirnya memutar tumit kembali ke pos awal. Cantika menatapnya dengan binar geli.
"Kak Dira..."
"Kenapa lagi?"
"Aku kok malah jadi kasihan ya sama anak-anak kelas sepuluh..."
Nadira menaikkan sebelah alisnya. "Kasihan kenapa?"
"Tiap lima menit ditegur terus sama Bu Ketos," kekeh Cantika.
Nadira terkekeh pelan dari balik kerudung putihnya. "Mau gimana lagi, Can. Kalau nggak langsung ditegur, nanti yang lain malah ikutan hilang fokus."
"Iya juga sih, bener banget."
Di sisi lain lapangan, tak jauh dari barisan guru, Bu Sinta dan Pak Toni berdiri mengamati ketegasan Nadira dari kejauhan. Bu Sinta menyunggingkan senyum bangga pada rekan mengajarnya.
"Masih sabar dan telaten banget ya Nadira ngadapi anak-anak kelas sepuluh," puji Bu Sinta pelan.
Pak Toni mengangguk setuju. "Iya, Bu. Coba kalau saya yang turun tangan negur tadi... mungkin anak-anak X-8 sama X-10 itu sudah saya suruh push-up atau lari keliling lapangan habis upacara."
Bu Sinta tertawa renyah. "Untungnya Nadira paham betul cara menegur adik kelasnya. Tetap tegas, berwibawa, tapi teratur dan sopan. Makanya anak-anak OSIS sama siswa seangkatan hormat banget sama dia."
Sementara itu, di barisan paling depan kelas XII IPA 1...
Arga yang berdiri gagah memimpin barisan kelasnya, diam-diam melirikkan mata ke arah sisi kanan lapangan. Dari kejauhan, sudut matanya menangkap sosok Nadira yang baru saja selesai menertibkan barisan kelas sepuluh.
Senyum tipis dan hangat mengembang di wajah Arga.
Bima, teman sekelas sekaligus rekan tim basketnya yang berdiri tepat di samping Arga, ikut mengarahkan pandangannya ke titik yang sama.
"Buset, itu Ketua OSIS kita lagi marahin anak kelas sepuluh ya, Ga?" panggil Bima berbisik
.
Arga terkekeh pelan tanpa mengubah sikap sempurnanya. "Bukan marah. Ngingetin doang."
Bima mengangguk-angguk paham. "Tapi gokil sih... aura Nadira kalau lagi mode Ketos mengendalikan lapangan beda banget ya. Sekali berdiri di belakang barisan, anak-anak kelas sepuluh langsung anteng kayak patung."
Arga menyunggingkan senyum tipisnya yang penuh arti. Cowok itu sangat paham. Bagi orang lain, ketegasan Nadira di lapangan mungkin tampak mengejutkan. Tapi bagi Arga... sosok tegas, bertanggung jawab, dan mengayomi itu adalah sisi dari Alya