NovelToon NovelToon
Ogah Jadi Madu, Pilih Jadi Mantu

Ogah Jadi Madu, Pilih Jadi Mantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: gadis bucin

Ogah jadi istri kedua aki-aki tapi tak mau rugi, Elara (22) memutar otak saat hendak dijadikan istri muda oleh Pak Broto (65). Di tengah acara lamaran yang tegang, dengan nekat dia menunjuk pria berjas hitam di seberang meja.

"Maaf Pak, saya nolak jadi istri kedua Bapak. Tapi kalau nikah sama anak Bapak yang itu... saya mau."

​Arka (30), CEO sekaligus anak tunggal Pak Broto, mendadak tersedak dan langsung mengiyakan tawaran gila itu, demi menyelamatkan perasaan ibunya. Namun, niat Arka menyelamatkan rumah tangga orang tuanya justru menjadi awal dari bencana di rumah mewahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pasang Badan

Layar ponsel di genggaman Arka membiaskan cahaya dingin, menerangi raut wajahnya yang mendadak mengeras bak batu karang. Foto dokumen kepolisian berstempel merah dengan nama "Elara Paramita" tertera jelas di sana. Bersanding dengan foto-foto Elara beberapa tahun lalu yang tampak pucat dan pasrah di depan ruang penyidik.

Elara yang menyadari perubahan atmosfer drastis dari suaminya menghentikan jemarinya di atas layar ponsel. Kehangatan di kamar itu menguap dalam sekejap, berganti aura tegang yang merayapi sekujur tubuhnya.

"Mas Arka, ada apa?" tanya Elara pelan, menyentuh lengan Arka. "Siapa yang telepon tadi?"

Arka tidak menjawab secara lisan. Pria itu menghembuskan napas berat, lalu perlahan menyerahkan ponselnya ke tangan Elara.

Mata Elara membelalak lebar saat membaca pesan gambar tersebut. Tubuhnya seketika bergetar hebat, dan rona wajahnya pudar menjadi pucat pasi. HP yang dipegangnya hampir saja terlepas, jika Arka tidak dengan sigap menahannya.

"M-Mas, dari mana Mas dapat foto ini?" suara Elara bergetar, napasnya memburu panik. Memori kelam yang sudah lama ia kubur rapat-rapat mendadak mencengkeram dadanya hingga terasa sesak.

Arka menggenggam kedua bahu Elara, menatap lurus ke dalam manik mata istrinya dengan pandangan menenangkan. "Tenang, Elara. Tatap mata saya. Katakan sama saya dengan jujur, apa yang sebenarnya terjadi saat itu?"

Elara meremas jemarinya sendiri, air mata ketakutan mulai menetes di pipinya. "Demi Allah, Mas. Ara nggak pernah menjual barang selundupan. Tiga tahun lalu, Ara cuma diajak kerja sama sama mantan rekan bisnis Ara, buat buka lapak baju impor. Ara nggak tahu kalau seluruh isi kontainer itu ternyata barang ilegal tanpa dokumen resmi. Waktu polisi datang, teman Ara kabur bawa semua uang hasil penjualan dan menumbalkan nama Ara sebagai pemilik lapak."

Elara menunduk dalam, tangisnya pecah. "Ara dipanggil jadi tersangka cuma karena nama Ara yang tertera di surat sewa tempat. Tapi setelah penyelidikan dan bukti-bukti terkumpul, Ara terbukti cuma korban penipuan dan kasusnya dihentikan. Nama Ara sudah dibersihkan, Mas. Tapi kenapa? Kenapa foto-foto itu bisa ada di orang lain?"

Mendengar penjelasan Elara yang jujur, pertahanan Arka makin tebal. Rasa percaya Arka pada istrinya tidak goyah sedikit pun. Pria itu menarik Elara ke dalam pelukannya, mengusap punggung wanita itu dengan lembut.

"Cukup. Kamu tidak bersalah," bisik Arka di telinga Elara. "Jangan takut. Ada saya di sini. Siapa pun yang mencoba memakai masa lalu kamu untuk menghancurkan hidup kamu, dia harus berhadapan dengan saya dulu."

Arka melepaskan pelukannya, lalu mengambil kembali ponselnya. Tanpa membuang waktu, pria itu langsung menekan nomor ponsel sekretaris pribadinya.

"Doni," panggil Arka dengan nada dingin yang siap mengeksekusi musuh saat sambungan terhubung. "Saya butuh kamu dan tim hukum Valora Group bergerak sekarang juga. Lacak nomor tidak dikenal yang baru saja mengirim pesan ke saya. Selain itu, sewa tim keamanan sipil untuk menjaga ketat rumah saya dan pastikan tidak ada wartawan atau orang tak dikenal mendekati Elara."

"Baik, Pak Arka! Ada masalah besar apa, Pak?" sahut Doni, sedikit kaget mendengar perintah darurat di tengah malam.

"Ada orang yang mencoba memeras saya menggunakan dokumen manipulatif masa lalu Elara," jawab Arka singkat dan tajam. "Saya beri kamu waktu sampai subuh untuk menemukan dari mana kebocoran data ini berasal."

Sementara itu, di sebuah ruang kerja tersembunyi, Pak Broto dan Clarissa sedang merayakan kemenangan awal mereka. Gelas berisi minuman mewah berdenting berdampingan dengan tawa puas Clarissa.

"Rencana Om benar-benar jenius!" puji Clarissa dengan mata berbinar licik. "Dengan foto kasus hukum itu, Arka tidak akan punya pilihan selain menuruti kemauan kita. Dia pasti takut reputasi Valora Group hancur karena punya istri mantan tersangka."

Pak Broto tersenyum membusungkan dada. "Bukan Broto namanya kalau tidak bisa memanfaatkan celah. Tapi menyandera Arka hanya dengan gertakan telepon tidaklah cukup, Clarissa. Arka itu terlalu tangguh jika kita beri waktu untuk berpikir."

"Maksud Om?"

Pak Broto menyipitkan matanya penuh kearifan iblis. "Kita tidak akan menunggu Arka membayar tebusan atau memohon. Kita akan langsung menyerang dari dalam. Detektif saya sudah berhasil menyusun kembali 80 persen serpihan surat perjanjian nikah kontrak yang disobek Arka tadi pagi. Bukti itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa pernikahan mereka adalah penipuan publik."

Clarissa tertawa renyah, menutup mulutnya dengan jemari berkuku merahnya. "Habislah kamu kali ini, Arka!"

Jam menunjukkan pukul empat pagi di rumah Arka.

Arka masih terduduk di sofa kamar kerja, membolak-balik berkas hukum lama Elara yang baru saja dikirimkan oleh pengacara pribadinya via email. Semuanya valid: Elara memang murni korban penipuan yang namanya dicatut, dan surat SP3 (Surat Penghentian Penyidikan) dari kepolisian sudah terbit sejak dua tahun lalu.

Secara hukum, Elara bersih total.

Namun, sebelum Arka sempat bernapas lega, ponselnya kembali berdering nyaring. Deringan kali ini berasal dari Doni.

Arka mengangkatnya cepat. "Bagaimana, Doni?"

Di seberang telepon, suara Doni tidak lagi terdengar tenang seperti biasa. Suaranya panik dan memburu.

"Pak Arka! Kita terlambat, Pak!" seru Doni tegang.

Dahi Arka berkerut dalam. "Maksud kamu apa?"

"Sepuluh menit yang lalu, seseorang baru saja mengirimkan email massal dari akun anonim ke seluruh jajaran Dewan Direksi, Komisaris Utama, dan mitra investor Valora Group!" terangnya cepat. "Email itu berisi salinan rekonstruksi Surat Perjanjian Nikah Kontrak Bapak bersama lampiran foto status tersangka Mbak Elara!"

Arka berdiri seketika dari kursinya, matanya berkilat murka.

"Dan bukan cuma itu, Pak," lanjut Doni dengan suara bergetar. "Pak Broto baru saja mengeluarkan surat panggilan resmi. Rapat Luar Biasa Dewan Direksi akan digelar pagi ini pukul delapan tepat, dengan agenda tunggal, pencopotan Bapak dari jabatan CEO Valora Group atas tuduhan kebohongan publik dan pencemaran nama baik perusahaan."

1
Adinda
🤣🤣🤣🤣🤣
gadis bucin: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Rian Moontero
lanjooott👍😍
gadis bucin: pantengin terus updatenya, ya, kak. 🤗❤️
total 1 replies
Putry Chan
untung dia masih waras ya walaupun kaya raya tapi dia udh tua punya bini lagi , ogah lah 🤣
gadis bucin: iyaa bener 🤣🤣🤣
total 1 replies
Putry Chan
buset pria kaya tua bangka pengen nikah
gadis bucin: nikah lagi tepatnya, kak 🤭
total 1 replies
gadis bucin
Kalau suka jangan lupa like dan komen, ya. Terima kasih untuk dukungannya. 🤗❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!