Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Bayangan di Luar Garis
Senin pagi di lantai 28 Gedung Dirgantara Tower dipenuhi riuh rendah tepuk tangan. Di tengah ruang rapat studio arsitektur, seluruh anggota tim desain berdiri mengelilingi meja maket utama.
Sebuah surat elektronik resmi dari Global Architectural Heritage Foundation yang berbasis di Tokyo baru saja masuk satu jam lalu. Draf desain atrium bernuansa ramah lingkungan untuk Grand Dirgantara Tower yang dirancang oleh Dania secara resmi masuk dalam tiga besar nominasi Asian Sustainable Architecture Award.
"Luar biasa, Dania!" puji Maya, arsitek senior, dengan mata berbinar bangga. "Desainmu berhasil mengalahkan puluhan firma arsitektur raksasa dari Singapura dan Korea. Nama studio kita mendadak melambung di liputan media bisnis pagi ini!"
Erlangga yang berdiri di sebelah Dania tersenyum lebar seraya menyodorkan cangkir kopi kesukaan Dania. "Aku sudah duga dari awal. Konsep pencahayaan alami yang kamu susun malam-malam di studio itu memang genius, Dania. Kamu berhak merayakannya."
Dania menyunggingkan senyum tipis yang tulus, menerima cangkir kopi itu. "Ini kerja keras seluruh tim, Erlangga. Tanpa hitungan struktur dari kalian, draf itu tidak akan pernah selesai tepat waktu."
Di tengah suasana penuh suka cita itu, pintu kaca studio mendadak terbuka secara otomatis.
Rian melangkah masuk dengan gaya formalnya yang kaku dan terukur. Suasana riuh di studio seketika mereda, para arsitek kembali berdiri tegak dengan sikap hormat.
"Selamat pagi, Nyonya Dania," sapa Rian resmi. "Pak Arvin meminta Anda menghadap ke ruang kerja beliau di lantai 30 sekarang. Ada hal penting terkait dokumen nominasi internasional ini yang perlu didiskusikan secara internal."
Maya menyikut lengan Dania pelan seraya berbisik. "Wah, Pak CEO langsung panggil sang konseptor. Pasti mau kasih apresiasi resmi dari jajaran direksi, nih."
Dania mengangguk pelan pada Rian. "Baik, Pak Rian. Saya segera ke atas."
Lantai 30 selalu memancarkan aura yang berbeda. Suasana koridor eksekutif yang hening dengan karpet tebal kedap suara makin menegaskan jarak hierarki di gedung ini.
Dania mengetuk pintu ruang kerja Arvin dua kali sebelum melangkah masuk.
Arvin berdiri di balik meja kerja raksasanya, menatap pemandangan cakrawala Jakarta dari balik dinding kaca tebal. Jas hitam mewahnya terpasang rapi, menciptakan siluet tegap yang intimidatif. Di atas meja kerjanya, koran bisnis harian dan tablet yang menampilkan berita kemenangan draf Dania sudah terbuka.
Arvin berbalik perlahan begitu mendengar langkah kaki Dania. Raut wajahnya tampak sangat tenang, namun manik matanya yang pekat memancarkan kedalaman tatapan yang sulit dibaca.
"Anda memanggil saya, Tuan Arvin?" tanya Dania formal, berdiri dua langkah di depan meja kerja.
Arvin berjalan mendekati meja, menyandarkan pinggulnya di tepi meja kayu mahoni tersebut seraya menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Selamat atas nominasinya, Dania," kata Arvin, suara baritonnya merendah. "Tim direksi sangat puas dengan publikasi positif ini. Saham Dirgantara Group naik dua koma empat persen pagi ini akibat berita nominasi tersebut."
"Terima kasih, Tuan Arvin," sahut Dania tenang. "Saya senang karya tim kami bisa memberikan dampak positif bagi reputasi perusahaan."
Arvin diam sejenak, matanya meneliti wajah Dania yang anggun. Namun, alih-alih melanjutkan pujian profesionalnya, Arvin meraih sebuah berkas tipis di samping laptopnya dan menggesernya ke arah Dania.
"Ini draf undangan resmi dari panitia penyelenggara di Tokyo untuk acara penganugerahan bulan depan," ujar Arvin datar. "Mereka meminta perwakilan utama tim desain dan jajaran eksekutif hadir."
Dania membuka berkas tersebut, membaca deretan nama yang tertera di lembar konfirmasi kehadiran. Dahinya mendadak berkerut halus.
"Kenapa nama Erlangga tercantum sebagai pendamping utama saya di acara penganugerahan ini, sementara nama Anda berada di daftar terpisah sebagai tamu kehormatan?" tanya Dania bingung.
Arvin menatap Dania lurus-lurus. Sebuah sentilan dingin melintas di sudut matanya.
"Erlangga adalah arsitek senior pendamping di timmu, bukan?" sahut Arvin kaku. "Secara protokol pers, sangat wajar jika konseptor utama terbang bersama rekan satu timnya untuk sesi wawancara media."
Dania menyipitkan matanya, merasakan ketidakwajaran dari nada bicara Arvin yang terkesan 'membuang diri'. "Arvin... Anda adalah CEO yang memimpin seluruh proyek ini. Kenapa Anda memisahkan rombongan eksekutif dengan tim desain?"
Arvin berdiri tegak dari tepi mejanya, mengikis jarak hingga berdiri sangat dekat di depan Dania.
"Karena di depan media internasional nanti, keberadaan kita yang terlalu dekat hanya akan memicu rumor yang tidak perlu," desis Arvin dingin, alasan profesionalisme meluncur tajam dari bibirnya. "Aku tidak ingin ada wartawan yang menggalik identitas pribadimu atau mencari tahu kenapa seorang CEO memberikan porsi sorotan begitu besar pada seorang arsitek eksternal."
Dania menghembuskan napas pendek. Ia mengepalkan jemarinya di atas lembaran kertas itu, menatap mata Arvin dengan kejengkelan yang mendalam.
"Anda bertindak seolah-olah keberadaan saya di samping Anda adalah sebuah risiko yang memalukan, Arvin," bisik Dania, suaranya mengandung kekecewaan halus yang tak mampu disembunyikannya.
Arvin tertegun sesaat. Rahagnya berkedut kencang mendengarkan kalimat tersebut. "Aku tidak pernah mengatakan hal itu memalukan, Dania."
"Tapi tindakan Anda mencerminkan hal itu!" potong Dania tegas, menaikkan pandangannya tanpa gentar. "Sejak awal, Anda selalu memagari semuanya dengan alasan 'risiko' dan 'keamanan'. Kalau Anda memang risih atau takut keberadaan saya mengganggu citra Anda sebagai CEO independen di Tokyo nanti, Anda tidak perlu repot-repot mengatur rombongan saya. Saya bisa mengurus tim saya sendiri tanpa bantuan protokol Anda!"
Dania meletakkan kembali berkas itu di meja dengan ketukan keras, lalu berbalik melangkah menuju pintu keluar tanpa menunggu tanggapan atau izin dari Arvin.
"Dania, tunggu," panggil Arvin dengan suara rendah yang tegas.
Dania menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu, namun ia tidak berbalik menatap Arvin.
"Saya menghormati batasan profesional kita di gedung ini, Tuan Arvin," kata Dania kaku tanpa menoleh. "Tapi jangan pernah meremehkan dedikasi atau nama baik saya di depan tim saya sendiri."
KLAK.
Dania menutup pintu ruang kerja eksekutif itu dengan rapat, meninggalkan Arvin sendirian di dalam ruangan yang luas dan dingin.
Arvin mematung di tengah ruang kerjanya. Pria tegap itu mengepalkan tangannya kencang di samping tubuhnya, menatap pintu yang baru saja tertutup. Untuk pertama kalinya, alasan-alasan rasional yang selalu ia jadikan perisai keselamatan justru terasa bagai senjata yang melukai wanita yang ingin dilindunginya.
Di balik gengsi tingginya, ada rasa sesak yang tak terjelaskan saat menyadari bahwa Dania salah mengartikan niat protektifnya sebagai bentuk penolakan.