Kenanga mengabdikan hidupnya pada sang suami dan anak sambungnya, tapi pada akhirnya dia dihianati juga. Suami yang dia kira mencintainya dengan tulus nyatanya hanya kebohongan. Di dalam hatinya ternyata masih tersimpan nama sang mantan yang kini telah kembali dari luar negeri.
Rahasia yang selama ini ditutupi sang suami dan keluarga pun terbongkar. Kenanga memilih mundur dan memulai kehidupan yang baru meskipun semua itu terasa sulit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
"Sampai perusahaan benar-benar kuat dan tidak membutuhkan bantuan dana lagi dari keluarga Kenanga," ujar Sophia dengan memandang ke depan.
Dia tidak akan membiarkan sesuatu terjadi hingga membuat perusahaan keluarganya goyah. Sophia tidak ingin hidup susah lagi seperti dulu. Sudah cukup usahanya selama ini hingga sampai di titik ini. Apa pun akan dia lakukan agar usaha keluarga lebih berkembang.
Meskipun dalam hati Sophia merasa bersalah pada Kenanga, tapi mau bagaimana lagi jika keadaan sudah memaksanya untuk mengambil jalan seperti ini. Semoga menantunya itu mau mengerti jika pada akhirnya semua terbongkar.
"Ma, bukankah perusahaan kita sudah kuat? Sudah tidak ada masalah lagi. Masalah dana juga sudah teratasi," ucap Bima.
"Tidak. Perusahaan kita masih perlu dukungan. Mama lebih mengerti daripada kamu."
"Benar apa yang dikatakan mamamu. Meskipun Papa tidak setuju dengan rencana ini, tapi mau bagaimana lagi ... keluarga Kenanga memang satu-satunya harapan kita. Apalagi bulan depan ada tender besar dan kamu harus memenangkannya. Kamu juga masih butuh dana untuk itu," ujar Rudi.
Bima memandang sang papa. Dia hampir lupa dengan tender tersebut. Kali ini Bima kembali harus menahan keinginannya untuk berpisah dengan Kenanga. Entah butuh berapa lama lagi dirinya harus menahan perasaannya.
Bima yakin tender yang akan dikerjakan kali ini pasti akan memakan waktu, mengingat seberapa besar tender tersebut. Apalagi saingan dalam bisnis kali ini perusahaan besar. Kalau dia tidak mendapatkan dana yang besar, sudah pasti akan kalah.
Bima menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Baiklah, kali ini aku akan mengalah, tapi setelah proyek ini selesai aku akan menceraikan Kenanga. Aku tidak bisa menunggu lagi."
"Berdoa saja semoga kamu memenangkan tender itu. Jika tidak sudah pasti kamu harus menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama dengan Kenanga. Itu hanya untuk membuat perusahaan lebih kuat lagi karena hanya proyek itu jalan satu-satunya untuk memperkuat perusahaan kita. Ingatlah jika nilai proyek itu tidak main-main. Jumlahnya sangat besar dan hasilnya pun juga luar biasa."
"Papa tenang saja, kali ini aku tidak akan mengecewakan Papa."
"Semoga saja."
Bima membulatkan tekadnya jika tender kali ini dirinya harus menang agar perusahaannya lebih kuat. Ini nantinya juga menjadi jalan bagi dirinya untuk berpisah dengan Kenanga. Tanpa Bima tahu jika rencananya mungkin tidak akan berjalan dengan lancar. Itu karena orang yang menjadi alasan di balik rencana itu telah mengetahui semuanya.
Dalam hati Kenanga berjanji tidak akan membiarkan sang suami menang tender kali ini. Awalnya tadi Kenanga masih ingin mempertahankan rumah tangganya, tapi mengingat jika keluarga ini tidak ada satu pun orang yang menginginkan keberadaannya di sini, maka dari itu dia lebih memilih pergi.
Namun, Kenanga tidak mungkin pergi begitu saja. Pasti keluarga Bima akan mempersulit dirinya karena itu dia butuh bukti kecurangan keluarga Bima serta perselingkuhan sang suami untuk gugatan cerainya nanti.
Sebelum keluarga itu mengetahui keberadaannya, Kenanga segera pergi dari sana. Dia pergi ke toilet yang tidak jauh dari dapur, hanya tempat itu yang bisa dijadikan alasannya untuk bersembunyi saat ini. Kenanga butuh rencana yang matang agar bisa bebas dari keluarga ini dan tidak lagi dibod*hi.
Sementara itu, Bima dan kedua orang tuanya kembali masuk dan berjalan menuju ruang makan. Di sana ada pembantu yang sudah mulai menyiapkan makanan di meja. Sophia merasa heran karena di meja cukup banyak makanan. Biasanya hanya Sophia sendiri yang makan saat siang hari, tapi kini ada suami dan anaknya, hanya saja tidak seharusnya sebanyak ini juga.
"Bibi masak lauknya banyak sekali?" tanya Sophia saat melihat hidangan di meja makan ada beberapa macam.
"Oh, yang itu dibawakan sama Bu Kenanga, Nyonya."
"Kenanga! Terus sekarang orangnya ada di mana?" tanya Sophia sambil melihat ke sekelilingnya.
"Hah ... bukannya tadi nyusulin ke belakang? Tadi saya lihat Bu Kenanga ke sana."
Sophia terkejut mendengarnya, begitu juga dengan suami dan anaknya. Mereka bertiga saling berpandangan, seolah mengatakan kekhawatiran yang sama-sama mereka rasakan.
"Kapan Kenanga datang?" tanya Sophia lagi, kali ini dengan suara bergetar, menunjukkan perasaannya saat ini.
"Sudah cukup lama, Nyonya. Sekitar satu jam yang lalu."
"Sekarang Kenanga ada di mana?"
"Itu dia yang saya tidak tahu. Saya pikir Bu Kenanga lagi ngobrol sama Tuan dan Nyonya di belakang."
Sofia mendekat ke arah sang suami dan berkata dengan pelan. "Pa, apa Kenanga mendengar pembicaraan kita tadi dan dia pergi begitu saja? Bagaimana dong, Pa?"
"Papa juga tidak tahu."
Bima hanya terdiam, dia pun juga sama khawatirnya dengan kedua orang tuanya. Kalau Kenanga benar-benar tahu apa yang mereka bicarakan, sudah pasti kehidupannya ke depan akan sangat sulit. Belum lagi ada beberapa orang yang memandang keluarga mereka dengan sebelah mata dan menganggap sebagai benalu.
"Bima kenapa kamu diam saja? Cari cara dong! Paling tidak kamu hubungi Kenanga dan tanyakan dia ada di mana," ujar Sophia dengan kesal karena Bima lamban sekali tanggapannya.
"I–iya, Ma," jawab Bima dengan tergagap.
Pria itu pun mengeluarkan ponselnya dan mencoba untuk menghubungi nomor Kenanga. Mereka dibuat terkejut saat mendengar suara dering ponsel berada di rumah tersebut. Meskipun volumenya tidak keras, tapi cukup terdengar di telinga semua orang yang ada di sana. Hingga tatapan mereka tertuju pada sebuah tas yang berada di atas meja di dekat dapur.
Kenanga tadi memang sempat meletakkan tasnya di sana. Dia tidak ingin menimbulkan kecurigaan jadilah meletakkan tas sembarangan begitu saja. Ternyata memang benar bisa menyelamatkan dirinya.
"Bukannya ini tas Kenanga? Terus orangnya ada di mana kok tasnya ada di sini?"
Disaat bersamaan pintu toilet di samping dapur pun terbuka. Terlihat Kenanga keluar dari sana dengan keringat bercucuran. Lebih tepatnya itu hanyalah air yang sengaja dua cipratkan ke arah wajahnya. Wajah Kenanga juga dibuat semenderita mungkin.
"Kenanga, kamu di situ ngapain?" tanya Sofia dengan tubuh kaku.
Jika Kenanga tadi tidak mendengar pembicaraan mereka, sudah pasti saat ini wanita itu akan khawatir dengan keadaan mertuanya, tapi sekarang tidak. Dalam hati dia tersenyum sinis. Mertuanya benar-benar pintar sekali menutupi sebuah pembohongan. Seharusnya mereka jadi artis aja kenapa memilih jadi seorang pengusaha.
"Mama ini aneh-aneh saja pertanyaannya. Aku 'kan dari toilet, tentu saja aku habis buang air. Tadi perutku tiba-tiba mules waktu aku mau pergi ke belakang nemuin Mama, jadinya aku masuk ke toilet di sini saja karena lebih dekat, daripada jauh pergi ke kamar. Sudah nggak tahan juga," jawab Kenanga sambil tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
semoga iya dan berjodoh dan bisa punya baby sekarang banyak bngt usia puber ke dua pada tekdung
tapi jaman sekarang yg kepala 4 tuh lagi wow kaya umur 25 th ga kelihatan tuir
ayo kenangan do something temui tuh wanita yg di cintai suamimu