Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.
Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.
Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 — Pertengkaran Pertama
Puncak masalah dengan Sandra akhirnya meledak dua minggu setelah Kirana mulai bekerja, dalam bentuk yang sama sekali tidak Kirana duga.
Hari itu, tim marketing harus menyerahkan laporan evaluasi kampanye produk terbaru langsung kepada Rangga, untuk dibahas dalam rapat direksi keesokan harinya. Sandra, seperti biasa, melimpahkan sebagian besar pekerjaan penyusunan laporan itu ke Kirana, dengan embel-embel "kamu kan lebih teliti, aku serahin ke kamu ya" yang sebenarnya hanya kedok kemalasan.
Kirana mengerjakan laporan itu dengan sungguh-sungguh, bahkan lembur sampai pukul sembilan malam di kantor untuk memastikan setiap data akurat dan analisisnya tajam. Ia menyerahkan hasil kerjanya ke Sandra keesokan paginya, lega karena berhasil menyelesaikannya tepat waktu meski dengan mata yang masih terasa berat karena kurang tidur.
Namun siang harinya, badai datang tanpa peringatan.
"KIRANA!" suara Sandra menggelegar dari mejanya, membuat seisi ruangan menoleh serentak. "Ke sini kamu, sekarang!"
Kirana yang sedang mengerjakan tugas lain, terkejut dan segera menghampiri meja Sandra. "Ada apa, Kak?"
"Ini apa-apaan?!" Sandra menyodorkan print-out laporan itu dengan kasar, wajahnya merah padam. "Angka penjualan region Jawa Timur salah total! Aku udah kirim laporan ini ke Pak Rangga tadi pagi, dan sekarang beliau nyuruh aku ke ruangannya buat jelasin kesalahan ini! Kamu tahu nggak sih ini bisa bikin aku dimarahin habis-habisan?!"
Kirana terkejut, buru-buru memeriksa laporan itu. Ia yakin betul sudah memasukkan angka yang benar—ia bahkan mengecek ulang tiga kali sebelum menyerahkannya. "Tapi Kak, saya sudah cek berkali-kali sebelum saya kasih ke Kakak. Angkanya harusnya sudah benar—"
"Terus kenapa sekarang salah?!" potong Sandra tajam, suaranya masih meninggi, menarik perhatian lebih banyak orang di ruangan. "Kamu kerja asal-asalan ya? Aku udah percaya sama kamu, eh malah kamu bikin aku malu di depan CEO!"
Kirana menatap angka-angka di laporan itu dengan bingung. Memang benar, ada beberapa angka di kolom Jawa Timur yang terlihat janggal, jauh berbeda dari data mentah yang ia olah semalam. Tapi ia yakin seyakin-yakinnya bahwa file yang ia serahkan tidak seperti itu.
"Kak, saya rasa ada yang salah di sini. Saya nggak inget nulis angka segini di laporan saya—"
"Alasan aja terus!" Sandra membentak, kesabarannya sudah habis. "Sekarang ikut aku ke ruangan Pak Rangga, jelasin sendiri kesalahan kamu ke beliau!"
Dengan hati berdebar dan pikiran kalut, Kirana mengikuti Sandra menuju lantai eksekutif, kembali menghadap pintu kaca besar bertuliskan nama Rangga—ruangan yang sama tempat ia dipanggil dua minggu lalu karena insiden laptop.
Kali ini, Rangga sudah duduk dengan ekspresi tidak sabar, laporan yang bermasalah tergeletak di mejanya. "Jelaskan," katanya tegas, tanpa basa-basi, menatap keduanya bergantian.
"Pak, saya benar-benar minta maaf atas kesalahan ini," Sandra buru-buru bicara duluan, suaranya berubah drastis jadi lembut dan penuh sesal di hadapan Rangga—kontras jauh dari nada membentaknya beberapa menit lalu. "Saya terlalu percaya sama Kirana untuk mengerjakan bagian ini, dan ternyata dia ceroboh."
Kirana menahan napas, terkejut dengan cara Sandra memutarbalikkan situasi secepat itu di depan atasan mereka.
Rangga mengalihkan pandangannya ke Kirana. "Benar begitu?"
Kirana menggigit bibir sejenak, menimbang-nimbang. Ia bisa saja diam, menerima kesalahan yang dituduhkan meski ia yakin bukan dirinya yang salah, demi menghindari konflik lebih besar di hari-hari awal kerjanya. Tapi sesuatu dalam dirinya menolak untuk berbohong, bahkan pada dirinya sendiri.
"Pak, saya memang yang mengerjakan laporan ini atas permintaan Kak Sandra," Kirana mulai bicara, suaranya bergetar tapi ia berusaha tetap tegas. "Tapi saya sudah mengecek data itu tiga kali sebelum saya serahkan, dan saya yakin angka-angkanya benar saat itu. Saya nggak tahu kenapa sekarang jadi berbeda."
"Kamu nuduh saya yang mengubah datanya?!" Sandra langsung menyahut tajam, wajahnya memerah antara marah dan panik.
"Saya nggak nuduh siapa-siapa, Kak," jawab Kirana tenang meski dadanya bergemuruh. "Saya cuma bilang apa yang saya tahu."
Rangga mengangkat tangan, memberi isyarat agar keduanya diam. Ia menatap laporan itu lagi, lalu menatap Kirana lama, seperti sedang menilai kejujuran di balik kata-katanya. "Kirana, kamu simpan file asli yang kamu kerjakan sebelum diserahkan ke Sandra?"
"Iya, Pak. Saya masih simpan di email saya, saya kirim juga ke email Kak Sandra kemarin malam sebagai bukti."
"Kirim ke saya sekarang," perintah Rangga singkat.
Dengan tangan sedikit gemetar, Kirana mengeluarkan ponselnya, membuka email, dan meneruskan file asli itu ke alamat email Rangga yang sempat ia catat dari kartu nama Bu Marlina. Beberapa saat kemudian, notifikasi masuk di laptop Rangga.
Rangga membuka file itu, membandingkannya dengan laporan yang ada di mejanya, matanya teliti menyisir setiap baris angka. Ruangan itu hening, hanya suara detak jam dinding yang terdengar, sementara Sandra berdiri kaku dengan wajah yang mulai pucat.
"Angka di file asli ini benar," kata Rangga akhirnya, menutup laptopnya pelan. "Yang salah adalah versi yang dikirim ke saya tadi pagi—versi yang dikirim dari email Sandra, bukan email Kirana."
Sandra terdiam, tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Aku nggak tahu apa yang terjadi di antara kalian berdua sebelum masuk ke ruangan ini," lanjut Rangga, suaranya dingin dan tegas, menatap Sandra lekat-lekat, "tapi aku nggak suka kalau ada yang mencoba melempar kesalahan ke orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri. Terutama kalau itu dilakukan pada karyawan baru yang bahkan belum genap sebulan kerja di sini."
"P-Pak, saya bisa jelasin—" Sandra mencoba membela diri, suaranya bergetar.
"Nggak perlu sekarang," potong Rangga. "Kamu kembali ke meja kerjamu. Kita bicarakan lebih lanjut soal ini nanti dengan HRD."
Sandra keluar ruangan dengan wajah pucat pasi, melirik sekilas ke arah Kirana dengan tatapan yang sulit diartikan—antara benci dan takut.
Kirana masih berdiri di tempatnya, tidak yakin harus bereaksi bagaimana. Rangga menatapnya sejenak, ekspresinya sedikit melunak dari yang biasa. "Kamu boleh kembali kerja."
"Pak, terima kasih sudah... percaya sama penjelasan saya," ucap Kirana pelan, masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
"Aku nggak percaya penjelasan siapa pun tanpa bukti," jawab Rangga datar, meski ada sesuatu dalam nada suaranya yang terasa berbeda. "Kamu kebetulan yang punya bukti. Itu aja."
Kirana mengangguk, meski dalam hati ia tahu itu bukan sekadar soal bukti—ada sesuatu dalam cara Rangga membelanya tadi yang terasa lebih personal dari yang mau ia akui. "Baik, Pak. Saya permisi."
Saat Kirana berbalik menuju pintu, Rangga tiba-tiba berkata lagi, "Kirana."
Kirana menoleh. "Iya, Pak?"
"Lain kali kalau ada masalah kayak gini, langsung lapor ke saya atau HRD. Jangan dipendam sendiri sampai jadi runyam begini."
Kirana terdiam sejenak, sedikit tersentuh dengan perhatian yang tersembunyi di balik kalimat setegas itu. "Baik, Pak. Terima kasih."
Ia keluar dari ruangan itu dengan perasaan campur aduk—lega karena namanya bersih, tapi juga bingung dengan detak jantungnya yang tidak juga mereda, bahkan lama setelah pintu kaca itu tertutup di belakangnya.
ini novel saya pertama🥰🥰