Time travel seorang gadis yang terpeleset di acara festival lampion kampus.
Karya Fantasi kedua setelah Petualangan Mayanza, semoga berkenan di baca tiap episode nya... 🤍😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Permaisuri
Seminggu berlalu,
Aku melakukan berbagai ritual menyambut pernikahan,
mandi bunga, rempah-rempah, membersihkan wajah dan di pingit.
Tiba waktunya hari pernikahan,
Pangeran Fang datang dengan rombongan dari Istana mengenakan baju merah dengan warna yang sama yang aku pakai.
Walaupun aku tau semua ini adalah perjodohan, berbeda dengan cerita yang aku baca di perpustakaan.
Aku menjalaninya dan aku siap kembali ke masa depan.
Upacara pernikahan selesai, jamuan makan juga sudah selesai.
Aku dan Pangeran Fang masuk ke kamar.
Aku menuangkan minuman ke cangkirnya,
"Jangan diminum" pintanya.
Aku tetap menuangkan air ke cangkirku sendiri, cangkir hampir menyentuh bibirku Pangeran Fang menangkisnya hingga jatuh dan gelas pecah.
"kenapa kau lakukan itu" kataku.
"Stttstt...." kata Pangeran Fang.
Pengawal Ziu menerobos masuk dari jendela belakang, aku terkejut.
Menyerahkan Panah ke Pangeran Fang.
Benar saja kamar itu di dobrak dan dikepung, aku dengar teriakan di luar.
Kebakaran, kediaman kami diserang, pasukan Pangeran Hugo yang masih mendendam.
Aku menarik pedang dari pengawal yang tumbang, berlari ke arah kediaman Ayah dan Ibu.
Ayah dan Ibu dilindungi pengawal, keadaan sangat kacau, aku ikut melawan, aku di pojokan mengayunkan pedang.
Pangeran Fang memanah dari Kursi Rodanya menyelamatkan aku.
Aku berdiri lemas, dengan pakaian jubah pengantin.
Berjalan menyeret pedang dnegan sisa tenaga, kuambil Busur dan Panah dari kamar Ayah Xiu Ren,
Ayah Xiu Ren terluka, "Xiu Ren jangan...." Ibu Xiu Ren menahanku berjalan ke depan.
Kobaran api mulai membesar.
Aku menarik busur dan melepaskannya tepat di kepala Pangeran Hugo yang berlari ingin menebas Pangeran Fang yang pasrah di Kursi Roda.
Semuanya tercengang padaku, aku membidikan panah menyerang satu persatu pengawal yang ada sampai bahuku terasa sakit dan tanganku berdarah.
Pasukan bantuan dari istana baru datang, semua sudah di lumpuhkan dan bangunan rumah utama terbakar.
Dayang berlari ke arahku, memeluku dengan pakaian pengantin yang sudah ternodai darah, jariku mengalir darah karena menarik busur panah.
Aku berjalan ke arah Pangeran Fang dan Pengawal Ziu.
Pangeran Fang di papah Pengawal Ziu mendekat,
"Apa yang baru saja kau lakukan" kata Pangeran Fang memelukku.
Aku menangis terisak dalam pelukannya.
**
Api sudah padam, namun kami masih duduk di tanah depan rumah, hari mulai pagi.
"Sudahlah, rumah bisa kita bangun kembali" kata Ayah Xiu Ren,
Aku juga tau Ayah sangat kaya, dia bisa membangun rumah yang banyak.
Ibu dan Ayah Xiu Ren memeluku.
Pangeran Fang duduk di kursi roda menatap kosong ke bangunan yang terbakar.
Pangeran Fang dan aku di jemput ke Istana sementara Ayah dan Ibu Xiu Ren, masih bisa tinggal di bangunan rumah lainnya.
"Aku akan sering pulang" kataku pada Ayah dan Ibu Xiu Ren.
"Tentu saja, kau harus sering pulang anak manis" kata Ibu memelukku memegang kedua pipiku.
Aku mengangguk menuju kereta, membantu Pangeran Fang yang masih belum kuat berjalan masuk ke dalam kereta duluan.
Pangeran Fang menggengam tanganku, tangan kiriku masih terluka dan di perban.
Kami hanya diam sampai Istana dengan pikiran masing-masing,
"Syukurlah kalian selamat" kata Raja
"Kami mau istirahat" kata Pangeran Fang.
Kami berpamitan dari Kediaman Raja, menuju ke Istana Pangeran Fang.
"Kakimu masih sakit?" tanyaku
Pangeran Fang menggeleng, Pengawal Ziu memapahnya ke tempat tidur.
Rasanya sangat asing, terakhir aku dipingit seminggu, tidak ada yang berubah selain kejadian tadi malam.
**
Aku berbaring duluan, sementara Pangeran Fang berbicara dengan Pengawal Ziu di luar.
Aku kelelahan dan tertidur hingga pagi.
"Sudah bangun" kata Pangeran Fang.
Aku terbangun dalam pelukan Pangeran Fang pantas tadi malam aku tidak terbangun.
Aku langsung duduk, "tidurmu nyenyak" kata Pangeran Fang.
"Kau sudah bangun dari tadi? akan kubantu bangun" kataku.
"tidak perlu...tanganmu masih terluka" kata Pangeran Fang meraih tanganku.
"Hanya luka kecil" kataku
"Kau masih marah?" tanya Pangeran Fang.
"Untuk apa aku marah, memang keadaannya seperti itu. Lagipula aku juga tau kau tidak menyukaiku, aku hanya dianggap gadis yang patuh, sayangnya aku sangat mengecewakan, aku bukan gadis yang patuh" kataku.
"Dari mana kau belajar bela diri? aku tidak pernah melihat gadis yang berani sepertimu sebelumnya" kata Pangeran Fang.
"Aku hanya sering melihat orang melakukannya" kataku berbohong.
"Kalau kau memanah Pangeran Hugo meleset sedikit saja, kau juga membunuhku" kata Pangeran Fang tersenyum, pertama kali kulihat senyumnya namun perkataanya menyakitkan.
"Jadi itu yang kau khawatirkan" aku bangkit dari kasur.
"Aku mengkhawatirkanmu Xiu Ren, kau terlihat menjadi orang lain malam itu" kata Pangeran Fang
"Aku akan menyiapkan air mandimu" kataku.
Semuanya terasa dingin, aku sudah menikah dengan Pangeran Fang namun aku belum bisa kembali ke duniaku dan menyakitkan menjadi Xiu Ren.
**
Pangeran Fang sudah bisa berjalan pelan dengan tongkat.
"Kuharap bisa menemanimu di malam Festival Lentera" kata Pangeran Fang.
"Ya, kupikir itu awal kita bertemu" kataku.
"Kau terlihat bingung di taman monumen" kata Pangeran Fang.
"Taman monumen? dimana?" tanyaku.
"Kau lupa, kita menyelenggarakan Festival Lampion di taman monumen kota arah utara" kata Pangeran Fang.
"Benarkah, kau mau mengantarku kesana lagi?" kataku sambil menatap bintang di langit.
"Akan kutemani kalau kakiku membaik" kata Pangeran Fang.
"Yang penting kau bisa berjalan, semua masalah selesai dan kita aman" kataku.
Tiba-tiba Pangeran Fang memelukku dan mencium keningku.
"Kita masuk, udaranya dingin" kata Pangeran Fang.
**
"Putri, Permaisuri mengirim undangan untuk minum teh bersama" kata Pengawal Ziu
"Kapan?" tanyaku
"Nanti sore di Aula istana, Putri juga yang akan menyajikan teh untuk tamu yang hadir" Pengawal melihat tanganku masih di perban.
Aku menoleh ke Pangeran Fang, aku bingung apa yang kulakukan nanti.
"Berlatihlah dengan dayang di belakang, dia akan membantumu menyajikan teh" kata Pangeran Fang yang tidak melihatku tapi fokus membaca buku.
**
"Maafkan aku, tanganku masih terluka..." kataku.
"Tidak masalah, dayang bisa membantumu. Apalagi kalau Pangeran Fang sudah memilih selir kau akan minta bantuan mereka" kata Permaisuri Raja
Semuanya tersenyum, kalimat itu bermakna aku harus siap menyambut selir yang baru.
Aku kembali ke Istana Pangeran Fang.
"Kenapa wajahmu murung sejak pulang dari aula istana" kata Pangeran Fang.
"Tidak apa-apa" kataku.
"Katakan..." Pangeran Fang menatapku memaksa untuk bercerita.
"Mereka bilang segera memilihkanmu selir" kataku sambil menyusun perlengkapan makan menyerahkan pada Dayang.
"Mereka selalu turut campur dalam hidupku, janga dipikirkan tidak da yang mau dengan pria lumpuh sepertiku sat ini" kata Pangeran Fang.
"Kau salah mengira, mereka perhatian padamu...semakin banyak yang membantumu semakin baik" kataku
"Kau mau terus mengalah lagi?" tanyanya.
"Mengalah?" aku tersenyum.
Mendorong kursi roda mendekat ke tempat tidur.
"Kau pernah melihatku memegang panah, tentunya kau tau aku orang seperti apa Pangeran Fang" kataku.
Pangeran Fang berdiri duduk di kasur, aku duduk di sampingnya.
"Baiklah kita tidur" kata Pangeran Fang.
Lilin menerangi kamar malam ini, udaranya dingin.
**
Perayaan festival lentera, lampu warna warni.
Aku memegang lentera, Pangeran Fang di sampingku berjalan dengan tongkatnya.
Kakinya sebenarnya sudah kuat tapi kubilang kau bawa tongkat untuk jaga-jaga.
Lampion-lampion di terbangkan ada juga yang meletakan lampu berbentuk bunga teratai.
Pengawal Ziu menemani Pangeran Fang di belakang, aku berjalan berkeliling dengan lenteraku.
"Angelie lee...." kata kedua temanku.
"Kau kemana saja, kami mencarimu kemana-mana" kata kedua temanku berada satu rombongan.
"Kapan kau berganti baju"
Aku berhenti sejenak.
Aku menoleh ke belakang.
Pangeran Fang, Pengawal Ziu?
Aku kembali sebagai Angelie Lee...
**Bersambung...