NovelToon NovelToon
TERGODA SUAMI SAHABATKU

TERGODA SUAMI SAHABATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Pelakor / Disfungsi Ereksi / Saling selingkuh
Popularitas:606
Nilai: 5
Nama Author: Yovan Gunardio Darmawan

Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3 — Tunjukkan Ponselmu

Maya mengirim pesan ketika Nara sedang melepas anting di depan cermin.

Na, lo kenapa? Tadi perut gue sakit banget. Kata Adrian, Dimas datang terus bawa lo pulang?

Dari kamar mandi terdengar Dimas berdeham.

Nara mengecilkan suara ponsel.

Dia sekalian jemput. Perut lo gimana?

Udah mendingan. Kalian ribut?

Ia membaca pertanyaan itu sambil mengusap bekas merah di sikunya.

Besok jadi jam sepuluh, kan? Yang dipilih berapa lukisan?

Balasan Maya tidak langsung datang.

Jadi. Datang aja dulu.

Lalu, beberapa detik kemudian:

Kalau ada apa-apa, cerita sama gue.

Nara menaruh ponsel ketika pintu kamar mandi terbuka. Dimas mengenakan kaus tidur, mengeringkan rambut dengan handuk.

“Siapa?”

“Maya.”

“Bilang apa?”

“Nanya sudah sampai.”

Dimas menjulurkan tangan. Nara menyerahkan ponselnya sebelum disuruh lagi.

Ia membaca percakapan mereka, lalu mengembalikannya.

“Bagus. Urusan rumah jangan diumbar.”

Nara menunggu ia berbaring sebelum melanjutkan melepas anting. Kait yang kedua tersangkut. Ia menariknya terlalu keras, sampai ujung telinganya perih.

* * *

Esok pagi, Adrian menyambutnya di ruang rapat bersama dua orang staf.

“Selamat pagi, Bu Nara.”

Nara bersyukur ia menggunakan sapaan itu.

Tidak ada pertanyaan tentang semalam. Tidak ada tatapan iba. Stafnya mempersilakan Nara membuka presentasi. Selama hampir satu jam, mereka mendengarkan penjelasannya dan bertanya tentang karya-karyanya. Nara mulai lebih tenang; untuk urusan ini, ia tahu apa yang harus dikatakan.

Ketika salah seorang meminta warna dominan sebuah lukisan diganti, Nara menolak.

“Kalau diganti, itu sudah karya lain. Saya punya alternatif yang lebih cocok untuk dinding depan.”

Ia menunjukkan susunan baru. Adrian mendengarkan sampai selesai sebelum bertanya tentang ukuran.

Empat karya dipilih. Harga, pengiriman dari rumah Maya, dan pemasangan dicatat. Dua karya yang tidak terpilih akan ia ambil sendiri setelah pengangkutan selesai.

Seorang staf menyerahkan lembar data pembayaran. Nara menulis rekening atas namanya sendiri.

“Nomor yang bisa dihubungi langsung?” tanya Adrian.

Nara menyebutkannya. Selama ini mereka selalu melewati Maya. Melihat Adrian menyimpan nomornya, ia mendadak gugup: setelah ini, mereka bisa saling menghubungi tanpa perantara.

Panggilan singkat masuk. Ia menolaknya dan menyimpan nama lengkap laki-laki itu.

Adrian Mahendra.

Ia memandangi nama itu sambil merapikan berkas.

“Terima kasih sudah tetap datang,” kata Adrian ketika staf keluar untuk menyalin kontrak.

Nara mengangkat kepala.

“Ini pekerjaanku.”

“Iya.” Adrian mendorong salinan penawaran ke arahnya. “Karena itu kami pakai harga yang kamu ajukan.”

Ia hanya mengangguk. Adrian menghargai pekerjaannya, dan Nara malu menyadari betapa mudahnya hal itu membuatnya terharu.

Di lift, ponselnya bergetar.

Adrian: Stafku akan menghubungi kurir. Kamu tidak perlu angkat semuanya sendiri.

Nara tersenyum.

Aku masih bisa angkat lukisan.

Enam sekaligus?

Kalau bayarnya cukup.

Ia menunggu sampai tanda sedang mengetik muncul, lalu memarahi dirinya sendiri karena menunggu.

* * *

Selama dua minggu berikutnya, mereka hampir setiap hari bertukar pesan. Awalnya hanya urusan lukisan, lalu obrolan mereka mulai melebar.

Jadwal kurir. Foto dinding. Label karya. Adrian mengirim foto kopi yang tumpah di dekat berkas penawaran, mengeluh bahwa mejanya kini ikut menjadi lukisan abstrak. Nara membalas bahwa komposisinya buruk.

Ia mulai mengenali jam istirahat laki-laki itu.

Kadang ia sengaja menunggu lima menit sebelum membalas, tetapi selama itu pula ia terus menatap layar. Pada hari lain, ia mengirim jawaban terlalu cepat dan berharap Adrian tidak menyadarinya.

Maya mengabarkan pengambilan dua lukisan yang tidak terjual. Nara menjemputnya sore hari saat Adrian masih bekerja. Ia lega, lalu pulang dengan kecewa yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapa pun.

Malam itu, Adrian mengirim foto salah satu karya yang baru terpasang. Bahunya terlihat samar dalam pantulan kaca.

Nara memperbesar foto.

Pintu studio terbuka.

“Lucu sekali?”

Ia menurunkan ponsel. Dimas berdiri di ambang pintu.

“Foto pemasangan.”

“Coba lihat.”

Nara menyerahkan ponsel. Ia sudah hafal bahwa menolak akan membuat pemeriksaan berlangsung lebih lama.

Dimas menarik kursi, duduk, lalu menggeser percakapan ke atas.

“Dua minggu buat pasang empat lukisan?”

“Besok pengecekan terakhir. Setelah itu selesai.”

Dimas menggulir lagi. Ibu jarinya berhenti pada foto kopi, lalu ia membaca balasan Nara keras-keras dengan nada dibuat manis.

“Komposisinya buruk.” Ia melirik istrinya. “Ini juga dibayar kantor?”

Nara merasa wajahnya panas. Lelucon kecil yang tadi membuatnya senang terdengar memalukan di mulut Dimas.

“Itu cuma bercanda. Tolong jangan baca dengan suara begitu.”

“Oh, aku yang merusak suasana?” Dimas kembali menatap layar. “Sama dia sempat-sempatnya membalas lelucon. Aku pulang, ditanya sedikit mukamu sudah begini.”

Nara mengulurkan tangan.

“Aku masih kerja. Kembalikan kalau sudah selesai.”

Dimas menarik ponsel menjauh sebelum ia menyentuhnya.

“Kalau kamu nggak buru-buru merebut, aku juga nggak akan curiga.”

Tangannya membuka daftar panggilan. Ia menunjuk nomor yang belum disimpan.

“Yang ini siapa? Tiga menit.”

“Kurir. Dia salah alamat, aku kasih petunjuk.”

Dimas menekan nomor itu. Nara maju, panik mendengar nada sambung.

“Sudah malam, Dim. Orangnya bisa sedang tidur!”

“Sebentar saja. Kalau benar kurir, selesai. Kamu bisa kembali senyum-senyum lihat foto tadi.”

Telepon diangkat pada dering keempat. Dimas bertanya dengan suara ramah apakah ini jasa pengiriman lukisan, lalu mengaku salah pencet setelah mendapat jawaban.

Ia meletakkan ponsel di meja, tetapi telapak tangannya masih menutupinya.

“Lihat? Tinggal dijelaskan.”

Nara memandangnya. Dimas tampak puas, seolah yang baru saja merepotkan mereka berdua adalah Nara, bukan kecurigaannya sendiri.

Pernah, jauh sebelum Adrian mengirim pesan, Nara mengganti sandi setelah ponselnya dipinjam pegawai galeri. Dimas membangunkannya pukul dua pagi, menyalakan seluruh lampu kamar, dan terus bertanya sampai ia memberikan sandi baru. Paginya ia membeli bubur kesukaan Nara, menyuruhnya tidur lagi karena wajahnya pucat.

Nara tidak pernah mengganti sandi tanpa memberitahunya sejak itu.

“Besok aku bisa sekalian jemput,” kata Dimas.

“Nggak perlu.”

“Kenapa?”

“Aku naik taksi. Kamu kerja.”

Dimas memiringkan kepala.

Nara mendengar dirinya cepat-cepat menambahkan, “Aku kabari sebelum pulang.”

Barulah tangannya terangkat dari ponsel.

* * *

Sesudah Dimas tidur, Nara duduk di tepi ranjang dengan layar menyala.

Foto lukisannya masih terbuka. Ia mengecilkan kembali bagian yang tadi diperbesar.

Adrian tidak tahu bahwa nomor kurir pun bisa dijadikan perkara di rumah ini. Ia tidak tahu Nara perlu memikirkan berapa lama boleh tersenyum pada layar.

Ia membayangkan laki-laki itu membaca pesan di rumahnya sendiri. Mungkin Maya duduk di sebelahnya, mengambil makanan dari piringnya. Tidak ada yang perlu dijelaskan, tidak ada lampu kamar dinyalakan untuk pemeriksaan tengah malam.

Untuk apa ia memasukkan dirinya ke sana?

Nara melihat Dimas yang tertidur membelakanginya.

Ia bahkan tidak sanggup mempertahankan sandi ponselnya sendiri. Apa yang ia bayangkan bisa ia tawarkan kepada Adrian selain masalah yang tidak selesai-selesai?

Ia mengetik terima kasih untuk fotonya. Menghapus emotikon di akhir. Mengirim.

Pesan selanjutnya tentang posisi label ia teruskan kepada staf.

* * *

Pengecekan akhir berlangsung keesokan sore. Nara memastikan empat karya terpasang dengan baik, menandatangani penerimaan, lalu memasukkan pena ke tas.

Adrian datang ketika ia sedang berpamitan kepada staf.

“Sudah mau pulang?”

“Sudah selesai, Pak.”

Sapaan itu membuatnya berhenti sebentar.

“Ada yang kurang?”

“Nggak. Semuanya sesuai.”

Nara tidak melihat wajahnya ketika mengatakannya. Jika ia melihat, ia mungkin akan tersenyum seperti biasa, dan semua usaha sejak semalam menjadi sia-sia.

Ia pamit, mengatakan sudah memesan taksi lewat aplikasi.

Di bawah, hujan turun deras. Ia berdiri sebentar di lobi, lalu melihat taksi kosong melambat dekat halte di ujung halaman. Nara berlari kecil, menutupi kepalanya dengan tas.

Orang lain lebih dulu masuk.

Ia berhenti di bawah atap halte. Air menetes dari ujung roknya. Aplikasi masih mencari pengemudi, dan ia tidak mau kembali ke lobi.

“Nara!”

Ia mengenali suara itu bahkan sebelum menoleh.

Adrian sedang berjalan cepat menembus hujan ke arahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!