Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.
Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".
Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.
Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.
Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Lorong-Lorong Waktu
Mulut gua tersembunyi di balik tirai tanaman merambat tebal, seolah dijaga sejak ratusan tahun lalu. Udara yang keluar dari sana terasa sejuk, berbau tanah basah dan sesuatu yang tua—seperti kenangan yang tak pernah pudar. Ling Yue meraba kelopak bunga di dadanya; ia berdenyut hangat, seolah menyambut tempat ini.
"Siap?" bisik Li An, tangannya mencengkeram erat gagang pedang.
Ling Yue mengangguk. "Ayo."
Mereka melangkah masuk. Cahaya dari luar perlahan memudar, digantikan oleh pendaran samar dari dinding batu—urat-urat kristal yang bersinar pucat kebiruan, menerangi lorong yang menurun perlahan ke kedalaman bumi. Di bawah kaki mereka, lantai batu licin terukir pola yang sama berulang-ulang: bunga bermekaran, kelima kelopaknya menunjuk ke arah berbeda.
"Lihat pola ini..." Ling Yue berhenti di sebuah persimpangan. "Jalan ke kanan melengkung, ke kiri lurus. Tapi bunga ini menunjuk ke arah yang berbeda."
Li An berjongkok, menyentuh ukiran itu. "Ini bukan sekadar hiasan. Ini kompas kuno. Arah kelopak yang paling terang adalah jalan yang benar." Ia menunjuk ke jalur lurus di sebelah kiri. "Di sana cahayanya paling kuat."
Mereka melanjutkan perjalanan. Semakin dalam, semakin terasa bahwa tempat ini bukan sekadar terowongan—melainkan lorong yang melintasi masa lalu. Di dinding batu, lukisan-lukisan kisah terbentang: ribuan orang mengenakan jubah berwarna kabut, membangun kota-kota di lembah tersembunyi, menjaga api yang tak pernah padam, hidup damai selama berabad-abad.
Namun di bagian paling dalam, kisah itu berubah. Gambar-gambar berikutnya menunjukkan bayangan yang merayap, pertikaian, perpisahan, dan akhirnya sebagian besar klan pergi, bersembunyi di tempat yang tak diketahui.
"Mereka tidak semua musnah," gumam Ling Yue, matanya tak lepas dari dinding. "Mereka terpecah. Sebagian tetap menjaga gerbang, sebagian lain pergi mencari tempat aman."
"Dan kita sedang menuju ke tempat mereka pergi," jawab Li An pelan.
Tiba-tiba, cahaya di dinding berkedip pelan. Suara langkah kaki terdengar dari kejauhan—bukan satu atau dua, melainkan banyak, mendekat dengan cepat.
"Mereka menyusul!" Li An menarik Ling Yue ke balik pilar batu besar.
Beberapa detik kemudian, sepasang prajurit berjubah gelap lewat di depan mereka. Di tangan salah satunya bercahaya batu retak yang sama milik Penasihat Jubah Ungu—bersinar terang saat menunjuk ke arah yang salah, lalu meredup.
"Mereka tersesat," bisik Ling Yue, menyadari sesuatu. "Batu itu menuntun mereka, tapi tidak selalu benar."
Li An tersenyum tipis. "Klan Bunga Kabut membangun tempat ini. Mereka tahu cara menyesatkan pencuri. Batu itu hanya menunjukkan jalan yang diinginkan penjaga, bukan jalan yang dicari musuh."
Setelah prajurit itu hilang, mereka melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, lorong itu melebar menjadi sebuah ruangan besar berbentuk kubah. Di tengahnya berdiri sebuah altar batu dengan tangga melingkar. Dan di atas altar itu—bukan harta, melainkan sebuah cermin besar yang terbuat dari kristal bening, memancarkan cahaya lembut yang menyelimuti seluruh ruangan.
Ling Yue mendekat perlahan. Di permukaan cermin itu, bayangannya bukan dirinya saat ini. Ia melihat sosok gadis kecil yang berdiri di halaman istana kecil, memegang bunga kabut yang sama, diapit oleh dua orang yang wajahnya penuh kasih sayang—ayah dan ibunya, yang tak pernah ia ingat dengan jelas.
"Ini..." napasnya tercekat.
"Kau melihatnya?" suara Li An terdengar pelan dari samping. Ia juga menatap cermin itu, namun apa yang dilihatnya berbeda. Ia melihat sosok anak laki-laki yang berdiri sendirian di halaman militer yang luas, diperintah oleh pria berwajah tegas—pria yang ia panggil paman, yang mengajarinya pedang, yang memperlakukannya seperti anak sendiri. Pria yang kini mengenakan jubah ungu dan berdiri di pihak musuh.
Ling Yue menoleh padanya. "Itu dia... Penasihat itu?"
Li An mengangguk perlahan, rahangnya mengeras. "Pamanku. Orang yang paling kupercaya selain ayahku. Dialah yang mengirimku ke pernikahan itu. Dialah yang menyuruhku menjagamu." Ia menarik napas panjang, suaranya bergetar. "Dan sepanjang waktu ini... ia tahu siapa kau sebenarnya."
Cermin itu perlahan meredup, seolah menyembunyikan rahasia yang terlalu berat.
"Kenapa?" gumam Ling Yue. "Jika dia tahu, kenapa dia tidak memberitahumu? Kenapa dia mengincar kekuatan klanku?"
Li An menatap cermin yang kini gelap itu. "Karena dia tidak menginginkan kedamaian. Dia menginginkan kekuatan itu untuk dirinya sendiri. Pernikahan kita... rencana kita... semuanya mungkin hanya bagian dari rencananya yang lebih besar."
Angin berhembus pelan dari lorong di seberang, membawa suara samar orang-orang berbicara—suara yang hidup, bukan bayangan masa lalu.
"Lihat itu..." Ling Yue menunjuk ke arah cahaya yang muncul di ujung lorong lain.
Mereka berjalan menuju cahaya itu, melintasi gerbang batu yang terbuka sebagian. Dan saat melangkah keluar, keduanya tertegun.
Di bawah langit yang dilapisi kabut tipis, di lembah tersembunyi yang dikelilingi pegunungan tinggi, berdiri sebuah pemukiman. Rumah-rumah dibangun dari batu dan kayu, menyatu dengan tebing. Di ladang-ladang kecil, orang-orang bekerja—berpakaian sederhana, namun wajah mereka tenang, dan di antara mereka, banyak yang memiliki mata bercahaya lembut yang sama seperti milik Rouran.
Mereka sampai. Ini dia—tempat persembunyian terakhir Klan Bunga Kabut.
Namun di kebahagiaan itu terselip kegelisahan. Di tengah pemukiman, di atas menara pengawas, terpasang tanda peringatan—bunga kabut yang kelopaknya satu patah. Tanda bahwa bahaya sudah dekat, dan seseorang sudah menunggu kedatangan mereka.